Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Siapa yang salah?


__ADS_3

Zahra terkesiap saat Ken berhasil membuat tubuh mereka menyatu. Airmatanya sampai keluar dari sudut mata.


Ken menghapus lembut sisi matanya yang berair. "Aku berharap ini adalah terakhir kalinya aku membuat kamu menangis karena ulahku," ucap Ken lembut.


Ia tersenyum simpul, mulai berusaha menikmati kegiatan yang baru dimulai ini.


"Ken..." Ia pun memanggil nama pria itu.


"Kenapa? Gak nyaman, ya?" tebak Ken dengan raut khawatir, seketika Ken berhenti bergerak.


"Iya, tapi..."


"Kenapa sayang? Bilang dong! Kalau kamu gak bilang aku gak akan tahu," ucap Ken masih dalam posisi yang sama, diam dan tak bergerak.


Ia menggeleng. "Memang kurang nyaman, tapi aku sudah janji gak akan menghentikan kamu."


Ken menggeleng, bersiap melepaskan diri.


Ia pun menarik tangan sang suami dengan sigap. "Kenapa?" tanyanya.


"Aku gak bisa lanjutin kalau kamu merasa gak nyaman, aku gak bisa jika ini menyakiti kamu. Aku mau kita sama - sama menginginkannya."


"Aku sudah bilang tadi, kalau aku... juga... ingin." Ia menggigitt bibir. Mungkin wajahnya sudah memerah sekarang.


"Tapi kamu gak nyaman, kita bisa lakuin lagi nanti."


Kenapa suaminya ini? Apa Ken benar - benar tak mau menyakitinya? Hingga rela menunda hal yang sudah terlanjur. Mana mungkin ia tega melihat sang suami meredam has-srat seperti itu.


"Ken, aku mau kamu melanjutkannya!" ucapnya tegas.


"Kalau begitu, bantu aku melanjutkannya!"


"Hah?"


"Sentuhh aku, aku suka sentuhann kamu!" titah Ken sembari mengarahkan tangannya ke arah da da bidang pria itu.


(Inikan ya... bab yang kalian tungguin? Ya sudah, sudahin sampai distu aja ya😂 Selanjutnya bertraveling sendiri yaaaa 😏😅😅😅)


_______


Satu hal yang paling Zahra rasakan saat ini, ialah bahagia. Ia bahagia telah menjadi seorang istri yang seutuhnya untuk Ken.


Ia memutuskan untuk mandi besar lebih dulu, karena waktu ashar akan segera tiba.


Namun, harus ia akui jika rasa sakit dan perih di bawah sana masih mendominasinya, membuatnya sulit bergerak sekarang. Terasa serba salah.


Tapi tunggu, sepertinya ada yang ia lupakan. Ia tak merasakan hal yang sama saat pertama kali Ken melakukannya padanya dulu. Tiba-tiba pandangan matanya melihat sedikit bercak merah di sprei dan itu menyadarkannya akan sesuatu hal.


Ia menatap Ken yang tertidur pulas disebelahnya.


"Apa selama ini dia berbohong?" batinnya sembari menatap wajah Ken dengan ekspresi terkejut.


Secara spontan, ia membekap mulutnya agar tidak menjerit karena keadaan yang baru disadarinya. Ia mulai menyadari sesuatu.

__ADS_1


Ia telah melakukan satu kesalahan. Ya, ia yang salah. Selama ini ia salah sangka pada pria disampingnya. Ia menuduh Ken, bahkan telah menghukum pria itu dengan kepergiannya dulu.


Ia mengingat, saat itu ia langsung menghakimi Ken tanpa meminta penjelasan pada pria itu. Ia langsung menyimpulkan suatu kejadian telah terjadi dan ia lah yang menjadi korban dari seorang Kendra Winarya, menyebabkannya sempat membenci pria itu.


Meski pada akhirnya ia dan Ken tetap menikah sekarang, tapi tetap saja selama ini ia telah salah menduga tentang apa yang telah diperbuat Ken padanya.


"Tapi, kenapa kamu tidak menyangkal tuduhanku, Ken? Kenapa kamu seolah mengakui semua itu?" gumamnya pelan.


Ia masih mencerna situasi yang terjadi pada dirinya. Selama ini ia merasa tak suci lagi, karena Ken. Namun, nyatanya ia masih bisa menjaga kesucian itu sampai ia dan Ken resmi menikah. Tidak, Ken yang juga ikut berperan dan menjaga kesuciannya.


Suara dering ponsel terdengar, ia segera menerima panggilan itu.


"Assalamu'alaikum, Ma..." jawabnya dengan suara bergetar karena baru mengetahui satu fakta tentang dirinya sendiri.


"Wa'alaikumsalam, Han. Gimana? Sudah tiba dirumah barunya?"


"Sudah, Ma. Maaf tadi belum sempat mengabari Mama kalau kami sudah tiba disini."


"Iya, gak apa-apa. Kalian menginap disana?"


"Mungkin iya, Ma. Ken mengajak menginap disini beberapa hari, katanya sekalian ingin mengurus pembukaan bengkel."


Ia menjawab sembari melirik ke arah Ken yang mulai bergerak disebelahnya.


"Oh ya sudah, baik - baik kalian disana, ya. Insya Allah nanti Mama akan main kesana, Mama mau melihat rumah yang dipilih Ken untuk kamu."


"Iya, Ma..."


Telepon itu pun terputus. Ken sudah duduk bersandar diheadboard ranjangg--sama seperti dirinya sekarang.


Ia mengangguk dan menatap Ken dengan serius.


"Kenapa? Ada masalah?" tanya sang suami lagi.


"Mandilah, biar aku mengganti sprei ini..." ucapnya sengaja memancing kejujuran Ken.


Ken mengangguk, mencium sekilas dahinya. Ken beranjak, memunguti pakaian mereka yang terserak di lantai.


"Pakaian dulu, baru ganti sprei." Ken tersenyum kecil sembari menyerahkan baju miliknya.


Ia mengambil baju itu. Namun matanya menyoroti Ken lekat - lekat.


"Kamu... gak mau jujur sama aku?" ucapnya memberanikan diri, karena Ken tidak peka dengan maksudnya yang ingin segera mengganti sprei.


"Aku tahu... aku salah!" jawab Ken pelan seolah paham kearah mana pembicaraan ini.


Ia membuang pandangan ke arah lain, karena baru sadar jika Ken yang sudah berdiri-- masih tak mengenakan apapun disana. Tentu memandang tubuh polos pria itu, masih belum terbiasa untuk dilihatnya.


"Maka dari itu aku berulang kali minta maaf sama kamu, karena aku tahu kesalahanku. Kesalahanku adalah tidak memperjelas semuanya dan membiarkan kamu menduga yang tidak - tidak!" Ken menjawab dengan tenang, sembari mengambil sebuah handuk dari dalam lemari, lalu melilitkan itu di pinggang.


"Ken... bukan kamu yang salah! Aku yang sudah menyimpulkan sesuatu dari sudut pandangku sendiri, aku yang salah sangka sama kamu."


"Ya, kamu memang salah. Tapi bukan berarti aku gak salah. Dengan aku gak memperjelas semuanya, membiarkan saja semua prasangka kamu, itu artinya aku juga bersalah." Ken mulai berjongkok dihadapannya yang masih berada diatas ranjaang.

__ADS_1


"Kenapa kamu melakukan ini, Ken? Kenapa kamu membiarkan aku merasa bahwa diriku amat hina?"


"Sayang, berkali - kali aku minta maaf untuk itu... aku melakukan itu karena aku takut kehilangan kamu. Aku membiarkan kamu berfikir demikian untuk mengikat kamu secara tak langsung. Maaf sayang, aku terlalu mencintai kamu. Aku tidak bisa jika kamu menikah dengan orang lain. Memikirkannya saja rasanya aku hampir gila!"


"Tapi aku nyaris bunuh diri waktu itu!" ucapnya mulai menangis.


Ken terperangah mendengar itu. "Ya Allah, Sayang maafin aku," Ken merengkuh tubuhnya dan membawanya masuk kedalam pelukan.


"...aku gak nyangka efeknya sampai seperti itu. Aku gak memikirkan sampai kesana karena aku yakin iman kamu lebih kuat untuk meredam niat seburuk itu. Maaf sayang... jangan menangis karena hal ini..tolong! Aku sudah janji gak buat kamu menangis lagi." Ken melepas pelukan dan menggenggam tangannya. Wajah Ken tampak sangat memohon kepadanya, membuatnya merasa semakin jahat pada pria ini--pria yang sudah ia tuduh tanpa bukti selama ini.


"Aku juga minta maaf, Ken!" lirihnya.


Ken mengadah padanya. Lalu menggeleng pelan.


"Enggak Sayang, kamu gak salah! Wajar jika kamu mengira waktu itu telah terjadi sesuatu diantara kita. Aku yang banyak salah disini. Aku yang gak berusaha menjelaskan. Aku terlalu egois hanya untuk mengikat kamu."


"...waktu itu aku juga gak sepenuhnya benar, aku sudah berani melihat aurat yang kamu tutupi. Aku bahkan menggerai rambut kamu dan juga..."


"Dan juga apa?" sergapnya.


"Aku mencium kamu. Aku mencuri ciuman di bibir kamu!" ucap Ken lemah sembari membuang pandangan ke arah lain.


Ia menghela nafas dalam - dalam. Semuanya telah terjadi, mau apapun yang ia lakukan sekarang, Ken tetaplah sudah menjadi suaminya.


"Baiklah, karena kita sama - sama salah dan sudah meminta maaf, aku anggap semua ini clear. Tapi, bisakah dilain waktu kamu terbuka padaku? Tentang hal apapun?" pintanya, ia pun memberanikan diri menangkup wajah sang suami.


Ken tersenyum kecil, mengelus jemarinya yang masih berada di pipi pria itu. "Iya Sayang, aku janji akan mengatakan apapun pada kamu. Aku gak akan mengecewakan kamu lagi. Aku... sangat mencintai kamu, Hana."


"Hmmm..." Ia hanya bergumam.


"Aku ingin dengar kalimat itu juga dari kamu!" celetuk Ken.


"Kalimat apa?"


"Kalimat yang menyatakan jika kamu cinta sama aku!"


Ia tersenyum kecut. "Aku nunggu kamu bertahun - tahun untuk dengar kalimat itu terucap dari bibir kamu ini." Ia menyentuh bibir Ken dengan jarinya. "Tapi, kamu mengatakannya sangat lama, sampai aku lelah menunggunya. Jadi jangan harap kalimat itu akan mudah aku ucapkan lagi didepan kamu!" tegasnya.


"Kok gitu? Apa kamu sudah gak cinta sama aku?" protes Ken.


Ia mengangkat bahu, seperti kebiasaan suaminya itu.


"Kan, kamu mau balas aku nih ceritanya?"


"Bisa iya, bisa enggak."


"Ayo dong, Sayang." Ken memelas.


"... atau kamu panggil aku dengan sebutan mesra aja, ya?" Ken menatapnya dengan puppy eyes yang penuh harap.


"Gak! Udah sana buruan mandi, aku mau ganti sprei. Ada kan sprei cadangannya?" Sengaja ia mengalihkan topik.


Namun, Ken tiba - tiba merangsek kedepannya. Mengangkat tubuhnya begitu saja tanpa menghiraukan protes yang keluar dari bibirnya.

__ADS_1


"Bukan aku saja yang mandi. Kamu juga harus mandi! Kita mandi!" tegas Ken sembari membawa tubuhnya masuk ke area kamar mandi.


*****


__ADS_2