Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Mendapat bukti


__ADS_3

"Jujurlah, Jen... aku memberimu kesempatan untuk berkata yang sebenarnya sekarang. Tapi, apabila suatu saat nanti aku tahu kau membohongiku, jangan salahkan aku jika aku menuntutmu."


Ken berujar pada Jenar yang sejak tadi hanya diam dan tak berani menatap ke wajahnya. Ken memaksa agar wanita itu mau bicara padanya, walau Jenar selalu berkelit tapi akhirnya Ken berhasil membawanya ke sebuah kursi besi yang ada di bawah pohon dekat pekarangan gedung pengadilan.


"Aku..." Jenar tampak ragu mengucapkan kata, namun akhirnya wanita itu berujar kembali. "Ini memang anak Frans, Ken!" ucapnya sembari memegang perutnya sendiri.


Ken merasa amat lega, ternyata dugaannya selama ini tidak salah.


"Lalu, kenapa kau mengatakan bahwa itu anakku?" tanya Ken lagi.


"Aku meminta pertanggungjawaban pada Frans, tapi dia tidak mau. Dia justru menyuruhku mengejarmu karena dia berniat merebut Zahra darimu. Tapi ternyata hubunganmu dan Zahra semakin membaik dan dia amat kesal waktu kau membawa Zahra berkunjung kerumah Papa kalian," terang Jenar akhirnya.


"Kenapa kau mau saja diperalat oleh Frans!" marah Ken.


"Dia bukan memperalatku, aku melakukan itu karena aku merasa saran Frans memang lebih baik. Aku mengejarmu karena aku cinta kamu, Ken! Dan Frans... dia juga mencintai Zahra, jadi ku rasa semuanya akan impas!"


Ken tertawa sumbang mendengar penuturan Jenar yang sangat tidak sesuai dengan yang seharusnya.


"Hahaha, Jen... dengar aku, mungkin kenyataan ini akan sangat menyakitkan untuk kau dengar, sekalipun kau mengejarku sampai ke ujung dunia, sekalipun nantinya kau bisa memiliki aku dengan rencana itu, sekalipun Hana akan meninggalkan aku karena kecewa tentang anak dalam kandunganmu yang kau cap sebagai darah dagingku, itu semua tetap tidak akan merubah kenyataan bahwa wanita yang ku cintai didunia ini tetaplah hanya istriku, Zahra Alhana."


Ucapan Ken bagai tamparan keras bagi Jenar, ia terhenyak mendengar semua kenyataan yang menyakitkan dari bibir Ken.


"Aku tahu, Ken! Dia wanita yang kau cintai sejak lama, tapi apa salah jika aku juga ingin memilikimu?" Jenar pun menangis tersedu-sedu.


Namun, Ken tidak berempati sedikitpun pada wanita itu.


"Jelas salah! Sejak awal aku sudah mengatakan bahwa kau bisa mendapat lelaki yang lebih baik dari aku. Nyatanya kau malah bermain-main dengan Frans, kau tidak mendengarkan ucapanku sama sekali, Jen!"


"Aku tahu aku salah," ucap Jenar diantara tangisannya.


"Sekarang ku tanya padamu, seandainya sejak awal Frans ingin bertanggung jawab... apa kau tidak akan mengejarku lagi?"


"Ya, bagaimanapun ini anak Frans. Aku lebih memikirkan nasib anakku ketimbang perasaanku padamu, jika dia mau bertanggung jawab tentu aku lebih memilih dia. Tapi, karena Frans tak mau bertanggung jawab, jadilah aku mengambil kesempatan ini untuk melempar tanggung jawab kepadamu! Seperti saran yang diutarakan Frans kepadaku, makanya kami sepakat."


Ken menggeleng lemah, habis sudah kata yang ingin dia pertanyakan pada Jenar, kemudian dia mengambil ponsel yang sejak tadi ia sembunyikan di saku jaketnya, menekan tombol off untuk menghentikan kegiatan merekam suara.

__ADS_1


Jenar menatap Ken dengan tatapan bertanya-tanya, sedetik kemudian ia sadar apa yang telah Ken perbuat padanya.


"Kau merekam pembicaraan kita, Ken?" tanyanya.


"Menurutmu?"


"Kau benar-benar merekamnya?" protes Jenar.


"Ya, untuk melengkapi bukti yang sudah ku kumpulkan."


Jenar terperangah tak percaya dengan siasat yang Ken lakukan, setelah Ken mengintimidasinya dan ia sudah berkata jujur, ternyata Ken justru merekam pembicaraan mereka untuk meninggalkan bukti.


"Baiklah, setelah ini aku akan memintamu menandatangani surat yang berisi pernyataan bahwa itu benar bukan anakku," kata Ken tenang.


"Ken, kau tidak bisa melakukan hal ini kepadaku!"


"Kenapa tak bisa? Buktinya sudah ku lakukan, kan?" Ken tersenyum miring.


Jenar tak terima dengan hal ini, dia kira dia hanya akan berkata jujur tanpa meninggalkan bukti untuk Ken. Jadi, jikapun Ken berucap yang sebenarnya tentang anak yang Jenar kandung, tidak akan ada yang percaya pada pria itu. Tapi, sekarang Ken mempunyai bukti yang berasal dari suara Jenar sendiri. Sekarang ia harus bagaimana? Apa yang harus diperbuatnya?


Ken tertawa pelan melihat sikap diam Jenar itu.


"Kenapa? Kau menyesal sudah jujur padaku?" sarkas Ken.


Jenar tetap diam, dalam dirinya memang amat menyesal sekarang. Ternyata Jenar salah telah menyepelekan seorang Ken.


"Kau bodoh, Jen! Kau lupa! Harus kau tahu, jika yang kau lawan sekarang adalah seorang Kendra Winarya," batin Jenar merutuki dirinya sendiri. Sejak ia mengenal Frans, ia jadi mencari tahu siapa sosok Ken sebenarnya, padahal, sejak berhubungan dengan Ken, ia tak pernah mencari tahu jati diri pria itu. Sekarang ia menyadari ke-pandir-an-nya dalam menghadapi seorang Kendra Winarya yang sulit ditebak.


"Aku pulang ya, waktu untuk menemuimu sudah habis. Aku sudah punya oleh-oleh untuk membuktikan pada istriku. Kita bertemu lagi nanti saat surat perjanjiannya sudah siap." Ken berucap sembari memamerkan ponselnya didepan wajah Jenar dengan senyum penuh kemenangan.


Kemudian, Ken pun berlalu setelah memastikan wajah Jenar yang sudah benar-benar pias. Ken pergi dengan seringaian puas diwajah tenangnya.


____


Dilain sisi, Cira terdiam mencerna ucapan Rasta.

__ADS_1


"Menikah?" tanyanya pelan. Rasta mengangguk demi menjawab pertanyaan Cira.


"Mana mungkin aku menikah di umur 17 tahun. Belum lagi aku gak punya calon!" celetuk Cira dengan suara kecilnya.


"Ya gitu, abisnya orang tua angkat lo pasti punya surat adopsi, itu lumayan kuat dimata hukum. Jadi, cara biar lepas dari mereka ya lo harus ngelapor ke polisi ataupun menikah," terang Rasta panjang lebar.


Cira menggeleng, ia tidak mungkin melaporkan pejabat kepada aparat karena keselamatan hidupnya yang akan jadi taruhannya. Belum tentu laporannya akan di proses, karena ia hanya orang kecil yang tak punya uang dan kedudukan, berbeda dengan orangtua angkatnya yang bisa melakukan apa saja termasuk memutar balikkan fakta.


Akan lebih baik jika ia memilih menikah daripada melawan orang yang berpengaruh-- didepan hukum.


Tiba-tiba, Cira menatap Rasta yang melihat kearah jalanan, ia langsung memiliki ide yang benar-benar gila.


"Om..."


"Hmm," gumam Rasta.


"Om bantuin aku, yah!"


"Ya ini gue lagi bantuin lo kabur!"


"Bukan itu!"


"Terus?"


"Tiga bulan lagi, saat umur aku udah 17 tahun... Om aja yang nikahin aku!" ucap Cira hati-hati.


"What?" Rasta menatap Cira dengan mata membulat. Mana mungkin ia menikahi Cira yang masih seorang bocah. Bisa rusak reputasinya selama ini jika menikahi seorang gadis kecil seperti Cira.


*****


Aku kasi bonus visualnya Rasta ya, aku selalu ngebayangin dia yang jadi Om Rasta nya Cira.



__ADS_1


__ADS_2