
Devia menunggu Ken kembali masuk kedalam rumah untuk memberitahukan perihal siapa tamu yang datang untuk menemuinya dan Ken. Namun sayang, Ken tak kunjung masuk.
"Han, kamu ke kamar saja, ya. Mama takut yang datang ini berkaitan dengan Frans. Lebih baik kamu gak usah menemuinya dulu." Devia menatap Zahra dengan tatapan cemas.
"Frans?"
"Ya, jadi kemarin Frans sempat datang dan mencari keberadaan kamu dikantor. Mama takut ini ada hubungannya dengan dia. Mama takut, kamu mengerti kan ketakutan Mama?"
"Tapi, bagaimana dengan Ken, Ma? Dia sudah didepan?"
"Kamu tenang, ya. Ken bisa menjaga dirunya sendiri. Yang penting kamu naik saja ke kamar. Jangan keluar dulu sebelum semuanya tenang."
"Baik, Ma..."
Setelah memastikan Zahra naik ke lantai atas, Devia mulai berjalan perlahan menuju pintu utama rumah. Sayup - sayup ia mendengar suara Ken yang tengah mengobrol dengan orang lain.
"Apa hal yang lebih penting itu?" Suara Ken terdengar bertanya pada lawan bicaranya.
"Nyawa..." jawab orang itu.
Devia terdetak, perasaannya langsung tak enak, namun ia merasa familiar dan cukup mengenali pemilik suara yang menjawab pertanyaan Ken barusan.
Devia memberanikan diri untuk keluar dari rumahnya sendiri dan ia melihat sosok itu. Sosok yang paling malas ia temui didunia ini. Sosok yang membuatnya trauma dalam hubungan berkomitmen dan sosok itu adalah Bagas, mantan suaminya.
Mau apa dia kesini?
"Dev..." Rupanya Bagas menyadari kehadiran Devia dan pria baya itu menyapa sang mantan begitu saja, seolah tak pernah ada perang dingin diantara mereka selama ini.
"Kebetulan, aku juga mau bicara lkaj hal ini agar kamu juga mendengarnya!" Bagas tersenyum kecil.
Devia menatap Bagas dengan sinis. "Masalah apa yang kau bawa kerumahku? Ini terlihat seperti bukan kau, Bagas! Kau punya harga diri yang tinggi, seharusnya kakimu akan tetap berat untuk melangkah ke rumahku," sarkas Devia menunjukkan sikap tak sukanya yang terang - terangan.
"Aku tentu akan mengutamakan keselamatan nyawa anakku ketimbang harga diriku sendiri!" jawab Bagas.
"Oh ya? Punya kuasa apa kau bicara - bicara tentang nyawa anakmu?"
Ken yang berada ditengah - tengah kedua orangtua kandungnya itupun merasa jengah dengan perdebatan yang tak akan ada habisnya ini.
"Ma, duduk dulu. Kita dengarkan dulu maksud dan tujuan Papa kesini. Dari kesimpulan yang ku ambil, Papa menghawatirkan keselamatanku."
Devia terdiam saat Ken memaksanya untuk duduk bergabung dengan sang mantan.
__ADS_1
"Apa ini ada kaitannya dengan Frans, Pa?" tanya Ken memulai setelah keadaan cukup kondusif.
Bagas menggeleng. "Bukan Frans? Tapi ini mengenai Zahra, istrimu."
"Hana? Ada apa dengan Hana?" Devia mengernyit.
"Kenapa, Pa? Apa Papa ingin bertemu dengannya?"
"Bukan, Papa sudah tahu identitas asli Zahra Alhana, istrimu."
Devia dan Ken saling menatap satu sama lain, mereka terdiam, belum memahami maksud Bagas dalam pembicaraan ini.
"Ken, Papa tahu kamu dan Zahra saling mencintai. Papa yakin, kamu bahagia dengan pernikahan ini. Begitupun Papa, Papa bahagia melihat kamu sudah berani berkomitmen dengan menikahi gadis yang kamu cintai."
"...tapi, sejak Papa tahu jika Zahra adalah Zeevana anak kandung Yuda dan Charista, perasaan cemas melingkupi diri Papa, Ken!"
"Apa maksudmu?" Devia menatap Bagas lekat - lekat.
"Dev, aku tidak menyalahkanmu atas perniakahan Ken dan Zahra. Akupun akan melakukan hal sama untuk menyatukan mereka. Tapi, kau lupa satu hal, Dev! Ken dalam masalah saat ini! Ken sudah terlanjur memasuki kehidupan Zeevana dan resiko besar sedang mengintainya sekarang!"
Devia terdiam, ucapan Bagas menyadarkannya akan suatu hal yang memang akan membahayakan nyawa Ken.
Bagas berdecak lidah. "Ken! Dengar Papa, Nak. Yang kamu hadapi ini bukanlah musuh dari kalangan orang biasa, bahkan Yuda dulu punya pengawal pribadi untuk dirinya, istri dan juga anak - anaknya. Tapi nyatanya apa? Yuda tetap terbunuh, begitupun Charista!"
"...mereka punya senjata, mereka punya uang dan kekuasaan. Bahkan mereka bisa membeli kepalamu jika mereka menginginkannya!" Bagas berucap dengan wajah memerah.
Ken tahu hal ini, sedikit banyak pertemanannya dengan Rasta selama ini membuatnya tahu orang - orangacam apa yang selama ini dihadapi oleh Rasta dan hal inilah yang membuat Rasta menyamarkan identitas aslinya.
"Seharusnya kau bisa memperkirakan hal ini, Dev!" Bagas beralih menatap Devia dan Devia hanya bisa terdiam sembari meremass jemarinya sendiri dipangkuan.
Selama ini, Devia merasa kebahagiaan Ken adalah hal utama, kebahagiaan yang tak bisa ia berikan pada sang anak sejak lama. Sehingga ia memutuskan untuk mempertemukan Ken dan Zahra dalam ikatan suci pernikahan. Namun, ia lupa, disaat proses menyatukan Ken dan Zahra itu, ia mendapat satu info mengejutkan tentang identitas asli Zahra.
Kemarin Devia amat senang, akhirnya Ken menikah dengan Zahra yang notabene-nya adalah anal dari Almarhum Charista, sahabatnya. Tapi sekarang, kecemasan yang dirasakan oleh Bagas--pum membuatnya merasakan hal serupa.
"Apa aku harus membawa istriku pergi jauh?" tanya Ken memberi usul.
Bagas menggeleng keras. "Tetaplah di negara ini dan jangan pergi kemanapun! Cepat atau lambat mereka akan tahu siapa Zahra sebenarnya."
"Lalu? Kami akan tetap berdiam diri disini, begitu?"
"Ken, Papa memang takut hal buruk terjadi pada kamu dan Zahra. Tapi, sebagai seorang lelaki kamu pasti tahu bahwa masalah yang datang harus kamu hadapi bukan malah berlari menghindar!" ucap Bagas bijak.
__ADS_1
"Ya, Ken. Kali ini Mama setuju dengan Papamu. Perjalanan kalian ke luar negara justru akan membuat mereka mudah untuk mengintai. Mama takut, Ken... di luar Negara kalian gak akan punya perlindungan dan mereka semakin berkuasa. Tetaplah disini dan jalani kehidupan biasa tanpa membuat orang lain curiga."
Ken terdiam, ia memikirkan ucapan dan usul kedua orangtuanya. Ia akan memilah yang mana yang terbaik untuknya dan sang istri karena ia tak mau salah mengambil keputusan.
Orangtua Ken benar, musuh mereka kali ini bukan seperti musuh kacangan. Buktinya mereka masih ada dan tetap memburu keturunan Prayuda Dirgantara meski puluhan tahun sudah berlalu.
"Papa harap kamu berhati - hati, Ken! Jaga diri dan istrimu baik - baik. Papa datang kesini hanya untuk mengingatkan, Papa merasa kalian telah lengah!" Bagas melirik ke arah Devia dan Devia sadar ucapan Bagas itu tengah menyindirnya.
"Baiklah, Papa pulang dulu?" Bagas berdiri dari duduknya dan bersiap untuk pergi.
"Terima kasih, Pa!" ucap Ken tulus dan sang Papa menepuk pundak Ken secara berulang dengan perasaan campur aduk.
"Selamat atas pernikahanmu, Nak. Sampaikan salam Papa pada Zahra!"
Ken mengangguk.
"Aku pulang, Dev!" kata Bagas menatap Devia.
Devia hanya mengangguk pelan dan kembali masuk ke dalam rumah.
Ken mengantarkan Bagas sampai ke ambang pintu mobil. Ken membukakan pintu mobil bagian jok belakang untuk dinaiki sang Ayah, karena Bagas diantar oleh sopirnya.
Sebelum Bagas benar - benar masuk kedalam mobil, Ken kembali bersuara.
"Apa Frans tahu jika aku sudah menikah dengan Hana?"
Bagas mengangguk. "Ya, berhati - hatilah dengannya juga!" jawabnya memperingati Ken.
Ken terdiam, ucapan Papanya membuatnya mengerti tentang satu hal, bahwa sang Papa tampak lebih mendukungnya daripada Frans, itu membuat Ken merasa heran karena selama ini Ken selalu merasa Bagas lebih berpihak pada saudara tirinya itu.
"Bagaimanapun dan sampai kapanpun, kamu tetap anak Papa, darah daging Papa, Papa melihat jati diri papa ada pada kamu. Tapi Papa tahu kamu lebih baik daripada Papa!" Bagas pun memasuki mobilnya sembari menutup pintu.
Ken masih tertegun dengan ucapan sang Ayah. Sampai kaca jendela mobil Bagas kembali diturunkan.
"Papa harap setelah kamu menikah, kamu bisa berpikir lebih luas, Ken! Tentang apa yang papa lakukan selama ini pada kamu bukan semata - mata Papa mendukung dan berpihak pada Frans, tapi Papa ingin kamu bertanggung jawab dengan kelakuanmu sendiri. Agar kamu tidak seperti Papa yang pernah melepas tanggung jawab begitu saja!' Bagas tampak menatap lekat ke arah netra Ken. Ken jadi memahami bahwa ada banyak penyesalan dalam hidup lelaki baya itu.
"Papa pulang ya, Nak! Kapanpun kamu mau pulang kerumah, pulanglah! Papa tidak pernah benar - benar mencoret nama kamu dari hak waris!"
Ken terdiam, ia hanya menatap nanar pada mobil sang Ayah yang perlahan mulai bergerak menjauh.
******
__ADS_1