
"Jujur ya, Han... kamu mau menikah denganku, kan?"
Kenapa Ken harus mengatakan hal seperti ini didepan Tante Devia, sih? Apa urat malunya sudah putus? Kalau aku tolak dia pasti akan sangat malu!? Zahra merasa dilema, satu sisi ia tidak tega menolak Ken. Tapi, disisi lain ia juga memikirkan nasib dirinya sendiri.
Ia memang mencintai Ken, tapi cintanya yang sebelah pihak yang menjadi pertimbangannya. Ia tidak mau menikah dengan pria yang tidak memiliki rasa apapun padanya selain rasa tanggung jawab. Itulah yang membuatnya bimbang, walau ia tahu keadaan dirinya yang tak sama lagi akibat ulah Ken. Namun, satu - satunya kandidat yang paling mutlak dan berada dihatinya tetaplah seorang Kendra Winarya, sampai kapanpun itu.
"Udah, Han... jangan kelamaan mikir! Terima aja!" celetuk Devia memberi saran sembari menyikut lengan Zahra sekilas.
Zahra tersentak, lalu tanpa sadar ia pun menjawab dengan spontan. "I-iya, aku terima kamu," ucapnya kebablasan, karena yang ada dipikirannya hanya jawaban itu sehingga kalimat itulah yang tercetus begitu saja dari bibirnya.
"Hah? Makasih Han! Makasih ya, Allah..." seru Ken bersorak senang.
Euforia kesenangan yang Ken tunjukkan justru membuat pria itu bertingkah seperti bocah yang tengah kegirangan akibat dikasi permen, Ken tampak melonjak girang sembari melayangkan kepalan tangannya ke udara.
Zahra semakin malu dihadapan Devia karena ulah absurd yang Ken lakukan itu. Sementara Devia terkikik geli disamping Zahra.
"Ya sudah, berarti kamu gak perlu cari jodoh lagi pas acara pertunangan anak tante nanti, kan sudah ada pasangannya!" gurau Devia sambil mengulumm senyum.
"Eh?" Zahra seakan baru menyadari jika ia sudah menerima pinangan Ken begitu saja.
Apa tadi ia terhipnotis ya? Kok bisa?
"Ya sudah, karena udah diterima... nanti diurus acara lamaran resminya dong!" kata Devia mulai berdiri dari duduknya.
Ken mengangguk cepat demi menyahuti saran yang diberikan Devia.
"Han, kamu mau disini dulu atau ikut kembali bersama Tante ke kantor?" tanya Devia.
"Hana disini dulu bersamaku, Ma!" jawab Ken cepat.
"Ma?" Lagi - lagi Zahra terperangah, lalu memandang Ken dan Devia secara bergantian dengan tatapan cengo--seolah meminta penjelasan tentang hal ini.
"Iya, beliau ini Mamaku." Ken tertunduk sehabis mengucapkan kalimat itu.
"Hah?" Zahra melongo. Bukankah selama ini ia terlalu polos atau... bodoh?
"Ya sudah, Mama kembali ke kantor dulu ya, Ken! Nanti antarkan Hana kembali, kami masih ada sedikit pekerjaan," kata Devia tersenyum hangat pada Ken dan Zahra.
"Siap, Bos!" jawab Ken patuh.
Sementara Zahra masih mematung dan mencerna keadaan yang sesungguhnya.
"Jika pembahasannya sudah selesai, langsung balik, ya! Ingat... pamali kalau calon pengantin banyak kesana - kemari lagi," kata Devia mewanti - wanti.
"Iya, Ma..." kata Ken dengan raut kesenangannya yang belum surut.
Seperginya Devia, Zahra terduduk di sofa sembari menghela nafas panjang.
"Kamu ngerjain aku, kan!" kata Zahra tak bisa lagi meredam kekesalannya.
"Ngerjain apa?" Ken mengernyit kebingungan.
__ADS_1
"Ya kamu sama Tante Devia ngerjain aku!"
"Kalau Mama ngerjain kamu, mungkin iya... tapi aku enggak ikut sama sekali dengan rencana Mama!" jawab Ken jujur.
Zahra menunduk, menyangga kepalanya dengan kedua tangan. Ia merasa jika selama ini terlalu naif untuk mencerna situasi dan keadaan.
"Sumpah, Han! Aku juga baru tahu tadi kalau kamu bekerja di kantor Mama dan jadi sekretaris Mama. Aku dipaksa Mama terjun dan mempelajari bisnisnya, ya udah aku ikuti saja dan aku disuruh kesini untuk dengar penjelasan dari sekretaris Mama, cuma aku gak nyangka kalau itu kamu!" terang Ken.
Hana mengembuskan nafas, tidak menyahuti Ken sama - sekali, rasanya ia butuh pasokan oksigen yang banyak untuk saat ini.
"...aku juga terkejut tadi pas nyampek disini ngeliat kamu sama Mama. Ini benar - benar surprise buat aku. Seriusan, Han! Aku benar - benar gak tahu rencana Mama selama ini dan dari mana dia tahu soal kamu, karena aku juga baru seminggu ini ketemu dan tinggal bareng Mama," imbuh Ken lagi secara panjang - lebar.
Zahra menoleh sekilas pada Ken yang kini mengambil posisi duduk disebelahnya.
"Tapi kamu tadi berlagak gak mengenali aku!" protes Zahra.
"Ya kalau itu, aku akui iya... tapi aku gak berniat membohongi kamu. Aku merasa, kamu yang gak mengenali aku, jadi yaudah... aku juga berlagak profesional dengan sikap biasa aja!" ucap Ken cuek.
"Aku kira itu tadi beneran bukan kamu!"
"Ya mana aku tahu perkiraan kamu begitu, Han!" jawab Ken cepat.
"Sudahlah... aku mau kembali ke kantor!" kata Zahra dan ia bangkit seketika itu juga.
"Tunggu..." Ken mencegah kepergian Zahra dengan berdiri menghalangi langkah gadis itu.
"Apa lagi?" kata Zahra jutek. Ia belum bisa menerima kenyataan yang ada, bahwa selama ini yang menolongnya adalah Ibu kandung Ken.
Zahra tak menjawab, namun rona merah sudah menyebar dipermukaan pipinya. Ken tak tahan untuk tidak terkekeh melihat itu.
"Ayo... mobilnya aku parkir disana," ucap Ken mengajak Zahra.
____
Ken mengantar Zahra sampai di kantor Devia. Momen ini sekaligus menjadi kunjungan pertamanya menyambangi kantor sang Mama.
Tidak disangka, kedatangan Ken menjadi pusat perhatian beberapa pekerja di gedung itu, khususnya hampir seluruh staff yang ada dilantai 21--lantai tempat kantor Devia berada.
Zahra hanya bisa diam, melihat mata - mata wanita yang menatap Ken seolah memujanya adalah hal biasa bagi Zahra, karena sejak dulu Ken sudah memiliki pesona tersendiri bagi kaum hawa. Bahkan Zahra yang tak tertarik berpacaran saja sampai mengharapkan Ken yang akan menjadi calon imamnya. Meski harapan itu sempat ia enyahkan saat tahu Ken telah merusaknya waktu itu.
"Ken, apa Mama kamu tahu apa yang udah kamu perbuat sama aku sehingga dia mendukung kita?" tanya Zahra pelan saat Ken baru memasuki ruangan milik Zahra.
"Hah?" Ken menatap Zahra sekilas, kemudian mulai mencerna pertanyaan gadis itu. "Soal itu... aku rasa Mama gak tahu! Aku gak cerita sih," sambungnya.
"Terus, kenapa Tante Devia terlihat mendukung? Aku pikir karena dia menyuruh kamu untuk bertanggung jawab!" kata Zahra.
"Ya, karena mungkin Mama tahu kalau aku---" Ken tak melanjutkan kalimat itu, ucapannya menggantung.
"Kalau kamu, apa Ken?"
"Nggak ada," jawabnya cepat.
__ADS_1
Zahra berdecak. "Ya udah, aku mau balik kerja. Kamu boleh pulang!" usir Zahra terang - terangan.
Ken justru terkekeh nyaring. "Bukannya ini kantor Mamaku? Suka - suka aku dong mau disini sampai berapa lama!" katanya pongah.
"Tapi aku mau kerja!"
"Ya kerja aja!" jawab Ken cuek.
"Aku terganggu dengan adanya kamu!"
"Aku gak ganggu kamu, aku cuma duduk disini, Han!"
Zahra menghela nafas dalam. Berdebat dengan Ken tidak akan ada habisnya dan hanya buang - buang waktu saja.
Sampai pintu ruangan Zahra diketuk dan terbuka dari luar.
"Han, aku mau kasi konsep desain baru nih... mau tanya pendapat kam---" Zaki terdiam tak melanjutkan kalimat karena mendapati Ken berada diruangan Zahra saat ini.
Ken tersenyum kecil pada Zaki, sementara Zaki tampak tertawa pelan.
"Mana desainnya, Zak?" tanya Zahra pada Zaki, berusaha mengabaikan kehadiran Ken disudut sana.
Namun, Zaki tidak memberikan desain yang dipegangnya pada Zahra. Ia justru berucap hal yang tidak ada sangkut - pautnya dengan pekerjaan.
"Jadi ... ini calon suami yang kamu bilang waktu itu?" tanya Zaki pada Zahra dengan sikapnya yang berlagak bodoh.
Zahra berdecak. "Jangan bilang kalian gak saling kenal, ya!" jawabnya mencebik kesal.
Zaki dan Ken saling berpandangan, kemudian. "Huahahahahaa...." mereka tertawa serentak.
"Kalian bener - bener ngerjain aku! Aku kayak orang bodoh kalian tertawakan seperti itu!" kata Zahra pelan dengan helaan nafas berat.
Seketika itu juga Ken dan Zaki menghentikan tawa mereka, suasana ruangan pun berubah senyap.
"Han, Ken gak tahu apa - apa... kalian jangan bertengkar karena hal ini, oke!" kata Zaki.
Ken diam sembari bersedekap santai di sofa, ia seolah ingin mendengar juga penjelasan dari Zaki.
"Sebenarnya ini rencana Mama, nanti kalian denger ceritanya dari Mama saja!" kata Zaki.
"Coba cerita aja, Bang... aku mau dengar juga, apa sih rencana kalian selama ini. Kok aku gak tahu apa - apa, ya?" ucap Ken ikut ingin tahu.
"Intinya, sejak awal Mama tahu siapa Hana. Itu sih yang aku tahu... aku juga tahu kalau Hana adalah cewek yang mau kamu lamar, Ken! Yaudah, aku ikut rencana Mama aja. Aku ngetes perasaan Hana dengan mencoba mendekatinya, ternyata dia malah jawab udah punya calon suami, dong!" kekeh Zaki.
"Oh, jadi kamu udah ngakuin aku sebagai calon suami kamu didepan Bang Zaki?" tanya Ken pada Zahra.
"Gak lah! Pede banget! Yang aku maksud belum tentu kamu!" jawab Zahra yang sengaja menatap arah lain, tak berani menatap Ken maupun Zaki di sofa.
"Ah masa? Padahal Hana baru nerima lamaran aku hari ini loh, Bang!" kata Ken mengulumm senyuman.
"Terserah kalian saja! Udah sana... aku masih banyak pekerjaan! Kalau mau ghibahin aku, sekalian sewa tempat aja sana!" usir Zahra kesal. Rasanya ia mau marah tapi entah kenapa ia tidak bisa melakukannya.
__ADS_1
...Bersambung ......