
"Dia pulang bersamaku!" kata Ken serius.
"Apa maksudmu?" tanya Frans dengan intonasi marah.
"Dia ..." Ken menunjuk Zahra dengan dagunya. "Punya janji denganku! Jadi sekarang dia harus ikut denganku lalu pulang bersamaku!" sambungnya dengan tenang.
Bagas dan Irene saling bertatapan karena tak paham dengan perseteruan yang baru dimulai oleh anak-anak mereka, Ken dan Frans.
"Janji? Janji apa?" Frans menatap Ken dan Zahra bergantian.
"Kau tanyakan saja padanya!" ucap Ken enteng.
"Ra, maksudnya apa? Kamu punya janji apa sama dia?" tanya Frans pada Zahra.
Zahra terdiam, ucapan Ken benar-benar diluar dugaannya. Kenapa Ken harus seterus-terang ini? Ya, Zahra memang mengatakan akan menjelaskan dan bicara pada Ken tentang semuanya, tapi bukan dengan cara begini juga.
Zahra akan membicarakan ini nanti dengan Ken, bukan sekarang dan di saat seperti ini.
"Kalian saling mengenal?" tuntut Frans lagi, yang melihat Zahra tak kunjung buka suara.
Zahra mengangguk dan Ken mengendikkan bahu sembari tersenyum mencibir kearah Frans.
"Sudahlah, sekarang kau tanyakan saja padanya! Mau pulang denganmu atau menepati janjinya denganku!" cetus Ken.
Frans menatap Zahra penuh tanya, sementara Zahra memejamkan matanya sejenak sebab mendengar ucapan Ken yang lagi-lagi tak tertebak itu, ucapan yang cukup membuat Zahra frustrasi karena enggan menjelaskan pada Frans.
"Frans, aku pulang naik Taxi saja!" kata Zahra akhirnya.
Ken terkekeh pelan, lebih tepatnya menertawai adik tirinya itu.
Sementara Frans, ia mendengkus keras. Dalam pikiran Frans, justru mengatakan bahwa Zahra sebenarnya menghindari diantar olehnya karena ingin menepati janji--yang entah apa--pada Ken.
"Sebenarnya ada apa ini, Ken? Frans?" tanya Bagas berusaha menengahi.
"Pa! Ken mengatakan bahwa Zahra memiliki janji dengannya, tapi aku tidak yakin akan hal itu. Ini pasti akal-akalan Ken saja!" kata Frans marah.
"Frans, kecilkan suaramu! Kita jadi tontonan orang lain sekarang!" kata Irene memperingatkan, dia memikirkan reputasi suami dan anaknya itu, karena pasti banyak orang yang akan mengenali sosok mereka. Jika hanya Ken, Irene tak akan peduli dengan berandal itu.
"Ken, papa sudah bilang, hentikan hal semacam ini! Jangan ganggu Zahra, Ken!" ucap Bagas pelan.
Ken lagi-lagi terkekeh. "Kami saling mengenal, Pa!" ucapnya mengingatkan sang Ayah.
"Papa tahu, tapi Zahra dan Frans memiliki hubungan saat ini dan kamu jangan mengganggu mereka!"
"Tidak seperti itu, Om..." sanggah Zahra cepat.
"Zahra, Om paham... kamu tahu kan, jika Ken memang keras dari dulu ..." ucap Bagas pada Zahra dengan perasaan tak enak hati. "Frans, sekarang kamu antar saja Zahra pulang..." sambung Bagas pada Frans.
Ken memutar bola matanya malas, Ayahnya tidak akan mendengar alasannya karena dipikiran Bagas sekarang pasti sudah mengira-- jika Ken memang sengaja menghancurkan pertemuan malam ini karena tak menyukai Frans.
Zahra segera undur diri dengan tergesa, diikuti Frans yang mengejar langkahnya. Frans ingin menanyakan pada Zahra tentang kejelasan ucapan dan janji apa yang dimaksudkan Ken itu.
"Frans, aku pulang sendiri saja!" tegas Zahra saat sudah berada didepan Restoran.
__ADS_1
"Gak! Kalau aku biarkan kamu pulang sendiri. Ken pasti akan mengejar kamu!" kata Frans bersikeras, ia tahu watak Ken luar dalam.
Zahra menggeleng. "Apa kalian punya hubungan yang tidak baik? Bukankah kalian bersaudara?" tanyanya tak habis pikir.
"Iya, tapi kami saudara tiri!" ucap Frans.
"Baiklah, aku paham sekarang. Aku ingin pulang sendiri, Frans! Ku mohon hargai keputusanku..." ucap Zahra.
Frans menghela nafas panjang. "Oke, tapi berjanjilah padaku jangan temui Ken."
"Kenapa?"
"Aku takut, Ra..." ujar Frans jujur.
"Takut apa?" tuntut Zahra.
"Aku takut dia nekat, karena Ken sudah tahu kalau kamu adalah gadis yang ku pilih untuk menjadi calon istriku."
Zahra terdiam sejenak, mencerna ucapan Frans.
"Hubungan kami tidak begitu baik, Ra!" ucap Frans lagi, ia jadi menyesal memperkenalkan Zahra pada Ken, tapi nyatanya Ken sudah mengenal Zahra-- entah sejak kapan.
"Frans, kamu harus menjelaskan pada keluargamu bahwa aku sudah menolak lamaran itu!" tegas Zahra.
"Aku gak bisa, Ra!"
"Kenapa?"
"Tapi, Frans... aku pikir penolakanku sudah jelas!" Kata Zahra akhirnya.
Frans menghela nafas kecewa, ucapan Zahra benar-benar melukainya, apa tidak ada kesempatan lain untuknya agar bisa memiliki gadis ini dalam ikatan halal?
"Ra, beri aku kesempatan..." Frans tidak percaya, demi Zahra ia rela menurunkan harga dirinya dengan mengemis cinta seperti saat ini.
"Frans, jangan seperti ini. Kamu bisa mendapatkan gadis lain dengan semua yang kamu miliki. Aku bukanlah apa-apa, Frans..." jawab Zahra pelan.
"Tapi yang aku mau ... kamu, Ra!"
Zahra menggeleng. "Maaf, Frans. Aku menganggapmu hanya sebatas teman, tidak lebih." Walau tahu Frans akan sakit hati dengan penolakannya lagi, tapi Zahra harus melakukannya. Ia tidak mau membohongi diri sendiri serta tak ingin memberi Frans harapan palsu yang akan berakhir lebih menyakitkan nanti.
Zahra menyetop taxi yang lewat, taxi berhenti dan Frans menahan pintu Taxi yang akan dibuka oleh Zahra.
"Aku cinta kamu, Ra..." ucap Frans menatap Zahra serius, membuat Zahra pun terdiam sejenak.
Bukan ini yang Zahra inginkan! Lebih tepatnya, bukan Frans yang Zahra tunggu untuk mengucapkan kalimat itu.
"Aku harus pulang, Frans... Maaf!" Zahra langsung merangsek masuk kedalam jok belakang taxi itu, ia meminta sang supir segera berlalu dari depan gedung Restoran, meninggalkan Frans yang pastinya sudah patah hati.
___
Belum jauh taxi yang ditumpangi Zahra meninggalkan Restoran tempatnya makan malam tadi. Tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah nomor asing yang menghubunginya.
"Assala--" Bahkan ucapan salam Zahra itu harus terhenti secara mendadak karena sahutan langsung dari seberang teleponnya.
__ADS_1
"Dimana lo?"
Dan Zahra sudah tahu siapa penelepon itu tanpa meminta konfirmasi dari si empunya.
"Di jalan," jawab Zahra.
"Lo sama Frans? Bilang lokasi lo dimana! Gue jemput sekarang!"
"Aku naik Taxi Ken ... kapan-kapan aja aku jelasin sama kamu. Ini sudah malam dan gerimis."
"Gue butuh penjelasan lo sekarang!"
"Aku capek, Ken..." ucap Zahra akhirnya, semua yang terjadi malam ini sungguh membuatnya lelah hati dan pikiran.
"Alamat rumah lo kirim ke gue!"
"Besok saja! Sekarang aku mau istirahat!" Zahra memutus panggilan teleponnya secara sebelah pihak.
Untuk apa Ken menuntut penjelasan darinya secepat mungkin? Masih ada hari esok dan Ken harus bersabar.
Zahra tak mempunyai kewajiban untuk melaporkan segala yang terjadi pada Ken. Walau ia sudah mengatakan akan menjelaskan semua pada pria itu, tapi tetap saja tak ada alasan untuknya menuruti semua keinginan Ken, apalagi penjelasan sesegera mungkin.
_____
Ken memukul kemudi mobilnya, tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Apalagi Zahra tak mau menemuinya langsung saat ini.
Kepalanya seperti dipenuhi kabut amarah. Kesal bersatupadu dengan kejengkelan.
Satu hal yang membuat Ken paling murka adalah kenapa harus Zahra yang dipilih Frans untuk jadi istri adik tirinya itu.
Ken memutar kemudi mobilnya, sekarang yang terbersit dibenaknya hanyalah Frans. Jika Zahra tak bisa memberinya penjelasan malam ini, maka Frans harus memberitahunya segalanya.
Ken kembali ke Restoran dan dengan langkah lebar menuju meja tempat dimana tadi ia meninggalkan Bagas dan Irene disana, berharap Frans juga telah kembali ke meja itu karena ia sudah tahu jika Zahra pulang dengan Taxi.
Ternyata, keadaan meja itu sudah kosong. Bagas, Irene serta Frans tak ada disana.
Ken berpikir cepat, apa Frans kembali ke rumah? Sepertinya tidak mungkin.
Kemana kira-kira adik tirinya itu pergi? Ken sangat ingin bertemu dengan Frans sekarang. Bicara empat mata dan membuat perhitungan dengannya.
"Haissshh ..." Ken menyugar rambutnya frustrasi.
Dengan pemikirannya yang buntu, Ken akhirnya menelepon Rasta.
"Dimana lo?"
"Tempat biasa, ***!" jawab Rasta agak memekik.
Ken berdecak, sudah tahu dengan sendirinya tempat tongkrongan pria berjambang itu. Bagaimana tidak, suara dari seberang sana sangat berisik dengan musik yang khas. Dimana lagi posisi Rasta jika bukan di Club Malam.
"Tunggu gue!" kata Ken akhirnya, ia menutup panggilannya dan menuju Club yang biasa didatanginya bersama teman-teman sependosanya.
...Bersambung ......
__ADS_1