
Sudah setengah harian ini Ken dan Rasta bergerak mencari keberadaan Zahra. Namun, mereka tak menemukan gadis itu dimanapun.
"Kalo kita cari secara manual gini, gue yakin sampek seminggu kedepan pun kita gak bakal bisa nemuin Hana," gerutu Rasta sambil mengemudikan mobilnya.
"Maksud lo?"
"Pake ini, Men!" Rasta menunjuk kepalanya sendiri sebagai isyarat agar Ken berpikir keras.
"Gue gak bisa mikir sekarang! Kalo gue bisa mikir, gue gak butuh lo!" dengkus Ken.
Rasta berdecak beberapa kali melihat kebodohan Ken karena kepergian Hana, padahal biasanya otak Ken yang paling encer untuk berpikir dalam sikap kakunya itu.
"Payah emang kalo udah bucin!" sindir Rasta mengejek.
"Berisik lo!" kata Ken tak senang.
Rasta terkekeh pelan. "Lo minta tolong bokap lo aja, Bro! celetuknya.
Ken menggeleng keras. "Gak!"
"Kenapa?"
"Bokap pasti nanya alasan kenapa Hana pergi dan gue gak mau jelasin yang terjadi sama bokap, dia pasti gak percaya gue, dia pasti lebih percaya dengan kesimpulan Hana."
"Lagian elo ... ngapain juga lo biarin Hana berpikiran jelek ke lo! Jadi ribet kan!"
"Biarin aja, Cuuk! Biar Hana gak nikah sama orang lain dan cuma mau nikah sama gue aja!"
Rasta semakin terkekeh. "Pede gila lo! Kalo dia gak mau gimana?"
"Ya gue paksa biar mau!"
"Kebelet nikah lo sekarang?" cibir Rasta.
Ken hanya tersenyum smirk lalu menyulut rokok dijemarinya.
"Cuuk! Gue inget sesuatu!" kata Ken tiba-tiba.
"Apa? Udah bisa mikir lo sekarang?"
"Mungkin Hana pulang ke panti. Puter arah sekarang, ke Jalan Anggrek!"
Ken baru teringat bahwa dia belum mengunjungi panti asuhan tempat Zahra dibesarkan. Astaga, kenapa dia bisa lupa?
Dua puluh menit kemudian, mereka telah sampai dibangunan tua dengan plang putih bertuliskan Panti Asuhan Kasih Ibu.
"Assalamu'alaikum ... ada yang bisa dibantu?" seorang wanita yang tak terlalu tua-- menyapa Ken dan Rasta yang baru saja memasuki gerbang panti.
"Wa-wa'alaikumsalam," jawab Ken tergagap. Entah kapan terakhir kalinya ia menyahuti salam seperti itu. Sampai Rasta saja mengulumm senyum mendengarnya.
"Ada keperluan apa, Mas?" tanya wanita itu.
"Em... bisa bertemu Bu Nurma?" tanya Ken pelan. Ia mengingat Bu Nurma sanking seringnya dulu dia bermain dan mengunjungi panti ini saat masih SMA.
Wanita itu tersenyum dan mengangguk.
"Dengan Mas siapa? Biar saya panggilkan Ibu untuk menemui Mas."
"Ken ..."
"Baik, ditunggu sebentar ya, Mas."
Ken mengangguk dan sang wanita berlalu, Ken tidak mengenal wanita itu, mungkin pekerja baru di panti--entahlah.
Sebenarnya, sejak Ken memiliki penghasilan sendiri, selain memberi uang pada yayasannya, ia juga menyalurkan dana secara diam-diam ke panti asuhan tempat Zahra dibesarkan ini karena panti ini memiliki kenangan tersendiri untuknya.
"Abang Ken ..." Ken melirik sekilas pada seorang gadis remaja berkulit kuning langsat yang menyapanya, ia mencoba mengenali gadis kecil yang mengetahui namanya ini.
__ADS_1
"Ci--ra?" tebak Ken hanya mengingat satu nama yang mungkin benar atau salah?
Gadis remaja itu mengangguk antusias sambil tersenyum malu-malu.
"Kamu beneran Cira?" tanya Ken memastikan.
Gadis itu mengangguk lalu menyalami tangan Ken.
"Lo kenal?" Rasta menyikut Ken sekilas dan Ken mengangguk.
"Om ini temannya Abang Ken?" tanya Cira.
"Om?" tanya Ken dan Rasta bersamaan.
"Iya, Om ini..." kata Cira dengan polos sambil menunjuk Rasta dengan telunjuknya.
Rasta dan Ken saling memandang satu sama lain sampai akhirnya Ken tergelak menyadari panggilan Cira terhadap Rasta.
"Hai gadis kecil, aku temannya Ken. Kamu panggil Ken Abang... kenapa kamu panggil aku Om?" protes Rasta tak terima.
Cira tertawa kecil, membuat Rasta garuk-garuk kepala sementara Ken masih terkekeh saja.
"Panggilan itu cocok buat lo!" kata Ken akhirnya.
Rasta mendengus sebal dan membuang pandangan ke arah lain.
"Kamu sudah besar Cira," kata Ken tersenyum.
"Ya iyalah, lo aja udah tua!" celetuk Rasta mengejek.
"Lo lebih tua, Om!" balas Ken.
Rasta geleng-geleng kepala, tak habis pikir kenapa dia terkesan seperti Om-Om di mata gadis remaja ini.
"Haisss!" gerutu Rasta.
Ken menyalami tangan Bu Nurma dengan takzim lalu Bu Nurma mengajak mereka masuk ke ruang tamu panti.
"Cira, buatkan Abang Ken dan temannya minum ya," kata Bu Nurma pada Cira.
"Iya, Bu..." Cira mengangguk. "Abang ... Om ... mau minum apa?" tanya Cira sopan.
"Astaga Om lagi," gerutu Rasta. "Apa aja asal jangan racun," katanya pada Cira.
Ken tepuk jidat, sementara Cira terkikik geli dengan ucapan Rasta itu sebelum akhirnya gadis itu berlalu menuju dapur panti.
Rasta segera bangkit dan membiarkan Ken berbicara empat mata dengan Bu Nurma yang tersenyum sedari tadi.
"Kamu sehat, Ken? Sudah lama sekali kamu gak kesini. Mungkin sejak ... tamat SMA ya," kata Bu Nurma memulai percakapan.
Ken mengangguk. "Sehat Bu, bagaimana dengan Ibu?" tanyanya.
"Beginilah Ken, alhamdulillah ibu sehat. Apa ada hal penting Ken?" tanya Bu Nurma lembut.
Ken bingung menjelaskannya pada Bu Nurma, ia terdiam beberapa saat sampai akhirnya Bu Nurma kembali bicara.
"Apa ini ada kaitannya dengan kepulangan Hana seminggu yang lalu?" terka Bu Nurma.
Ken mengangguk cepat. "Apa Hana ada kemari, Bu?" tanyanya.
Bu Nurma tersenyum kecil. "Kalian bertengkar?" tebaknya.
"Bisa dibilang begitu, Bu!" jawab Ken lesu.
"Kemarin memang Hana sempat kesini sebentar... untuk berpamitan."
"Dia bilang mau kemana, Bu?"
__ADS_1
Bu Nurma menggeleng. "Gak bilang kemana tujuannya, dia bilang ada pekerjaan di luar kota. Apa dia bohong ya, Ken?"
"Dia menghindariku, Bu."
"Kenapa? Ada apa ini sebenarnya, Ken?"
"Sebenarnya aku berniat menikahi Hana, Bu!" kata Ken.
Bu Nurma tersenyum. "Ibu senang dengan niat baikmu, Ken. Tapi kenapa Hana pergi?"
"Karena aku tidak layak untuk dia, Bu. Aku juga sudah menyakiti dia."
Bu Nurma menghela nafas panjang sejenak. "Ibu tidak tahu ada masalah apa diantara kalian. Hana tidak bercerita tentang hal itu. Tapi, kamu jangan pernah merasa tak layak untuk Hana, karena menurut ibu ... cuma kamu yang dia tunggu selama ini."
"Benarkah, Bu?" tanya Ken serius.
Bu Nurma mengangguk. "Ibu bisa melihat cara kalian saat saling menatap. Ibu rasa itu sudah lama sekali dan kalau kamu memang tulus mau menikahinya, ibu pasti mendukung, Ken."
Ken terdiam, orang lain saja bisa melihat jika Zahra memiliki perasaan terhadapnya, kenapa selama ini dia tak menyadari hal itu?
"Aku sangat serius, Bu! Tapi ibu lihat kan, jika aku sudah banyak berubah sekarang." Ken tersenyum kecut, pembicaraannya mengarah pada penampilannya yang berandalan sekarang.
"Terkadang perasaan yang tulus akan tetap sama, walau bagaimanapun penampilan seseorang yang kita cintai. Itu tidak terlalu berpengaruh," kata Bu Nurma bijak.
Ken menunduk, ingin rasanya ia memantaskan diri untuk Hana-nya.
"Ken, menurut Ibu Hana tidak akan pergi jauh." kata Bu Nurma kembali ke topik kepergian Hana.
"Apa ibu yakin?"
"Sangat yakin. Ibu mengenal Hana dari kecil. Dia gadis yang introvert. Kepergiannya yang terjauh adalah saat kuliah itupun karena mendapat beasiswa, selebihnya dia tidak pernah pergi meninggalkan panti."
"Aku bingung mau mencarinya kemana lagi, Bu." jawab Ken pesimis.
"Jangan menyerah, kamu harus segera menemukan dia, Ken. Ibu takut terjadi apa-apa. Hana tidak punya tujuan lain. Ibu jadi khawatir..." Wajah Bu Nurma tampak cemas.
"Kalau memang menurut ibu dia tak akan pergi jauh, aku akan mencarinya lagi di kota ini."
Percakapan mereka terhenti saat Cira datang membawa nampan berisi teh dan cemilan. Setelah menyajikan itu, Cira keluar dari ruangan dimana Ken dan Bu Nurma tengah berbincang.
"Ayo diminum, Ken..." kata Bu Nurma tersenyum.
Ken mengangguk dan menenggak minumannya. Sedikit banyak, ia merasa lega sudah menceritakan problemnya pada Bu Nurma.
____
"Hei...."
Cira menoleh pada seseorang yang mungkin memanggilnya.
"Siapa yang Om panggil 'Hei'?"
Rasta berdecak. "Anak kecil ini...selalu memanggilku Om!" gerutunya kesal.
"Om sendiri menganggapku anak kecil, ya tidak salah jika aku memanggil Om dengan sebutan itu!" balas Cira tak mau kalah.
"Kau memang masih kecil!" kata Rasta sambil matanya memindai tubuh Cira dengan tatapan meremehkan.
"Hei Om! Jangan memandangku seperti itu ya! Itu namanya pelecehan dengan pandangan!" kata Cira berani.
Rasta terkekeh sambil menggeleng samar.
"Bagaimana mungkin aku melakukan pelecehan pada gadis kecil? Aku ini masih normal bukan ped*f*l..." kekeh Rasta.
"Aku sudah 16 tahun! Bukan gadis kecil lagi! Aku juga punya nama dan namaku bukan 'Hei'!" jawab Cira bersikukuh.
"Sudahlah... buang-buang waktu berdebat dengan gadis kecil. Sekolah saja yang benar!" kata Rasta dan beranjak meninggalkan Cira yang tak henti menggerutu padanya.
__ADS_1
...Bersambung ......