Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Kesalahan masa lalu


__ADS_3

Begitu Ken keluar dari ruangan itu, ia terkesiap saat melihat Zahra berada dihadapannya dan Zahra tampak menangis.


"Sayang..." Ken menebak jika Zahra mendengar semuanya. Ya, semua yang ia bicarakan dengan Jenar.


"Jadi ini yang membuat kamu memintaku untuk tetap diruangan? Kamu ingin menutupi kenyataan ini dariku, Ken?" tanya Zahra yang tampak sesekali menyeka airmatanya.


"Sayang, ini semua gak gitu... yang dikandung Jenar bukan anakku. Aku sangat yakin!"


Zahra menggeleng. "Jangan bicara lagi, Ken!" katanya segera berbalik badan.


Ken mencegat Zahra yang ingin beranjak, namun Zahra menepis jemari Ken yang melingkari lengannya.


"Jangan sentuh aku, sebelum kamu menyelesaikan masalah ini, Ken!" tegas Zahra.


Tak berapa lama, Jenar juga keluar dari ruangan tadi.


"Kau mendengarnya? Baguslah, jadi Ken tak perlu menjelaskan lagi padamu bahwa aku sedang mengandung darah dagingnya!" kata Jenar.


"JENAR!!!" Ken emosi mendengar ucapan Jenar itu. "Jangan memperkeruh suasana! Ini semua belum jelas sebelum tes DNA nya keluar!" tegas Ken.


Jenar tersenyum sinis menatap Zahra yang telah berurai airmata. Zahra membuang muka dan berlalu meninggalkan Bengkel dengan langkah tergesa.


Ken mengejar Zahra, namun ucapan Zahra membuat Ken menghentikan langkah.


"Kamu mungkin bisa mengelak jika anak itu bukan anakmu, Ken! Tapi secara tidak langsung kamu sudah mengakui kalau sebelumnya kamu memang berhubungan sejauh itu dengan Jenar!"


Ken terdiam dengan ucapan sang istri yang sangat menohok. Semua itu memang benar, itu adalah dosa masa lalu Ken, dosa yang baru diketahui Zahra sekarang karena dia memang tak mau membuka hal itu dalam rumah tangganya. Bagi Ken itu adalah masa lalu, namun Ken tidak menyangka jika masa lalu itu kembali mengejar dan menuntutnya dimasa sekarang.


Ken menatap nanar ke arah Zahra yang mulai berjalan menjauh dengan tergesa untuk menuju pintu keluar Bengkel. Ken tak bisa mencegah istrinya karena ia sadar bahwa ia memang salah.


"Dia pergi? Baguslah... dia bukan sainganku, Ken!" kata Jenar dari belakang tubuh Ken dengan sikap percaya dirinya.


"Ya, dia bukan sainganmu karena kau telah kalah darinya... pergilah secepatnya, sebelum aku menghabisimu!" ancam Ken pelan dengan rasa putus asa.


Jenar terkekeh akhirnya, mendengar ancaman Ken justru membuatnya senang.


"Aku tunggu itikad baikmu, Ken! Kau harus bertanggung jawab padaku."

__ADS_1


"Apa maksudmu? Bukankah kau tidak menuntut apapun dariku?"


"Awalnya begitu, aku hanya ingin kau tahu jika aku sedang mengandung. Tapi setelah melihat sikap istrimu itu, aku jadi ingin kalian segera berpisah saja," kata Jenar enteng.


"Itu tidak akan terjadi," kata Ken segera beranjak namun langkahnya kembali terhenti kala mendengar ucapan Jenar yang selanjutnya.


"Ku lihat dari cara istrimu, sepertinya dia sangat membenci masa lalumu, Ken. Dia mungkin akan menuntut perpisahan dan aku sangat menunggu momen itu. Kau bisa mempertanggung jawabkan anak kita dengan cara menikahi aku."


Ken tersenyum miring dalam posisinya yang membelakangi Jenar. "Itu hanya akan terjadi didalam mimpimu, Jen!" ucap Ken menekankan kata.


____


Zahra kembali ke rumah dengan menggunakan taxi. Ia tidak habis pikir kenapa cobaan dalam rumah tangganya harus datang ketika ia merasa hubungannya dengan Ken sangat baik-baik saja.


Zahra dan Ken bahkan baru ingin membuka usaha baru. Ia juga tengah mengandung buah cinta mereka, tapi kenapa masalah yang sekarang ada didepan mata sangatlah berat untuk ia hadapi.


"Ya Rabb, apa aku akan kuat menghadapi masalah ini? Apa aku bisa menerima kesalahan suamiku? Aku tahu itu adalah masa lalunya, tapi jika anak itu benar adalah anak dari suamiku, aku harus bagaimana, Ya Allah?"


Zahra menangis sembari mengelus perutnya sendiri yang masih tampapk rata. Ia termenung beberapa saat sampai ia tiba pada sebuah keputusan.


Zahra mengemasi barang-barangnya, menumpuknya didalam satu travel bag. Zahra ingin pergi, menjauh dari Ken. Rasa cintanya yang begitu besar terhadap pria itu, tidak bisa menerima semua kesakitan yang harus dihadapinya ini. Ini terlalu sakit, bagaimana bisa disaat ia mengandung anak Ken, justru ada wanita lain mengaku juga tengah mengandung anak dari suaminya.


Zahra merasa dirinya terlalu naif, mungkin benar ia adalah gadis pertama yang Ken cintai. Namun bukan berarti ia pula yang pertama memiliki diri Ken, jauh sebelum ia memiliki pria itu, Ken lebih dulu dimiliki oleh Jenar.


Tidak ada kesakitan lain yang melebihi rasa sakitnya saat ini. Haruskah ia mempercayai Ken lagi? Ia bahkan mendengar ucapan Jenar yang mengatakan bahwa mereka sering melakukannya dulu dan Ken pun tidak menampik hal itu. Astaga...


Zahra telah siap berkemas, ia ingin segera meninggalkan kediaman ini walau rumah ini adalah atas namanya namun ia belum bisa berada disisi Ken lagi sekarang. Entah hanya untuk sementara atau untuk selamanya, ia belum tahu. Tapi yang jelas ia ingin menjauh sampai Ken menyelesaikan masalah ini sampai tuntas.


"Bu, mau kemana?" tanya Mbak Ira yang melihat Zahra menenteng travel bag yang cukup besar.


Zahra menyeka airmatanya sekilas sebelum berbalik melihat pada Mbak Ira.


"Mbak, aku titip pesan jika Ken pulang tolong bilang jika aku pergi ke rumah kakakku," kata Zahra memaksakan memasang senyuman.


Mbak Ira menatap Zahra dengan kernyitan heran. Walau ia yakin telah terjadi suatu masalah, namun enggan menanyakan lebih lanjut karena rasa sungkan terhadap samg majikan.


"Baik, Non..." jawab Mbak Ira akhirnya.

__ADS_1


______


Ken tiba dirumah tak lama dari kepergian Zahra, ia sengaja menyusul setengah jam kemudian karena ia ingin memberi istrinya ruang dan waktu untuk berpikir secara lebih tenang. Ken merasa tak mau merongrong Zahra karena disini dialah yang memang banyak bersalah.


"Pak..." Mbak Ira menyapa kedatangan Ken.


"Mbak, mana Hana?" Perasaan Ken mulai tak enak melihat rumah dalam keadaan lengang.


"Anuu... Pak, tadi Ibu bilang kalau beliau pergi ke rumah kakaknya."


Ken mendengkus kesal. Tapi ia tahu ini semua memang karena kesalahannya sendiri.


"Ibu bawa tas besar, Pak!" kata Mbak Ira menambahkan, membuat hati Ken semakin nelangsa saja.


"Hmm..." Akhirnya Ken hanya bisa bergumam, tak tahu harus menjawab apa pada sang ART yang memberinya info.


Ken mengambil ponselnya, setidaknya jika Zahra benar-benar ke rumah Rasta saat ini, akan lebih baik. Ia ingin memastikan dulu keberadaan istrinya itu.


Namun, belum juga Ken sempat menelepon Rasta, ternyata ponselnya lebih dulu dihubungi oleh kakak iparnya itu.


"Lo berantem sama Hana?" cecar Rasta begitu Ken menerima panggilannya.


"Hmm..."


"Ada masalah apa? Bukannya semua baik-baik aja?"


"Hana gak cerita ke lo?"


"Gak, dari tadi diam terus pas gue tanyain. Lo apain sih adek gue?" tanya Rasta yang ikut putus asa melihat tingkah sang adik yang hanya diam sejak kedatangannya.


"Jenar...."


"Kenapa dengan Jenar? Hana cemburu sama itu cewek?"


"Bukan, Jenar... hamil."


"Apa?"

__ADS_1


******


__ADS_2