Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Cinta yang menyesatkan


__ADS_3

Terkadang, tanpa disadari cinta justru mengarahkan kita pada jalan buntu yang tak bisa membawa kita kemanapun selain tetap berada dijalan yang sama. Atau pilihan satu - satunya hanyalah kembali ke jalan awal. Ada kalanya pula cinta itu juga dapat menyesatkan, membuat kita kehilangan arah dan lupa bagaimana cara pulang.


Itulah yang kini Frans rasakan, cintanya pada Zahra membuatnya hilang arah, menemukan jalan buntu dan ia tak bisa kembali karena ia sadar bahwa ia telah tersesat dan terjebak dijalan yang tak bisa mengantarkannya pulang.


Ia sudah berusaha melepas Zahra, melupakan gadis itu dan menikmati setiap hari dengan perasaan terbelenggu.


Ia yang tak pernah gagal mendapatkan apapun yang ingin ia raih, harus hancur karena satu alasan klise yaitu cinta.


Ia juga tak menyangka bahwa ternyata ia begitu mencintai gadis seperti Zahra, perasaan itu tumbuh menyubur begitu saja tanpa bisa ia kendalikan dan parahnya ini adalah kekalahan terbesarnya dari Ken karena saudara tirinya itu yang berhasil mengambil Zahra dari hidupnya.


Ia tak bisa menerima kekalahannya ini, entah kenapa jika menyangkut Ken, selalu membuatnya tersulut emosi. Apalagi sejak ia tahu bahwa posisi Ken tak bisa ia lengserkan dengan mudah dari kehidupannya.


"Frans..."


Ia menoleh demi melihat siapa yang menyapanya malam ini. Ia tersenyum kecut saat mengenali seorang wanita yang menyebut namanya.


"Jenar...." ucapnya setengah mabuk.


"Kau disini lagi? Jangan bilang setiap malam kau menghabiskan waktu di club ini!" Jenar terkekeh kecil.


"Ya, ya... kita bertemu lagi disini. Apa kau ingin bersenang - senang lagi seperti waktu itu? Aku pikir lebih baik denganmu ketimbang aku bersama dengan wanita tak jelas diluar sana."


Jenar kembali terkekeh mendengar ulasan yang ia berikan.


"Sorry, Frans... yang kemarin itu tidak bisa kita ulangi kembali. Just one night stand..." ucap Jenar menipiskan bibir.


"Haha, aku tahu waktu itu kau mau karena sedang patah hati kan, karena Ken sudah menikah makanya kau mau menghabiskan malam denganku?" kekehnya diantara sadar dan mabuknya.


"Hmm, ya... sepertinya malam itu aku sudah berbicara terlalu banyak padamu."


"Tak apa, aku jadi tahu info baru darimu." kekehnya miris.


Jenar mengangguk samar.


"Jenar, bagaimana jika sekarang aku yang sedang patah hati? Maukah kau menemaniku malam ini sebagai bayaranku malam itu?" tawarnya.


"Ternyata kau meminta bayaran? Hahaha... kau perhitungan sekali rupanya. Tapi baiklah, sekali ini saja ya," kata Jenar.


"Hem, kau tahu... setelah kau mengatakan padaku jika Ken telah menikah waktu itu... aku langsung mengecek kebenarannya. Kau bilang istrinya yang berhijab itu, kan?"


Jenar mengangguk. "Ya... yang dia cari - cari! Aku tidak tahu apa istimewanya gadis itu!" keluh Jenar.

__ADS_1


"Zahra memang istimewa," batinnya memuja Zahra dalam hati.


"Aku sudah mencari tahu lebih lanjut tentang info yang kau berikan itu, dan ternyata gadis itu adalah gadis yang kucintai. Ya, ya... yang menikah dengan Ken adalah gadis yang aku inginkan. Bukankah ini terlalu kejam untuk kita berdua?"


Jenar tersenyum kecut mendengar hal ini.


"Jadi kau mengenal istri Ken? Dan wanita itu adalah gadis yang kau cintai juga? Haha, ini... bukankah ini berarti kita senasib?" Jenar tertawa sumbang.


"Hmm, bagaimana? Kau tertarik dengan tawaranku malam ini?"


"Baiklah, kali ini biarkan aku menghiburmu juga!" kata Jenar.


#####


Beberapa minggu berlalu, tak terasa pernikahan Ken dan Zahra sudah berjalan dua bulan. Mereka juga sudah kembali ke kediaman mereka yang ada di pusat kota.


Sejauh ini keadaan baik - baik saja, tidak ada orang yang mencari identitas asli Zahra. Entahlah, sampai sekarang keadaan masih berjalan tenang sejak peringatan yang diberikan Bagas pada Ken.


Ken belum mengatakan pada Zahra tentang masalah yang kini ia pikirkan, namun ia sudah membayar beberapa bodyguard untuk menjaga Zahra dan rumah mereka dari jarak jauh. Tidak terang - terangan agar istrinya tidak banyak bertanya mengenai orang - orang itu.


Saat ini Ken tengah sibuk dengan pembukaan bengkel yang akan dilakukan esok hari, ia dan Zahra sangat antusias untuk mengatur acara grand opening itu.


Zahra bahkan membuat banyak kue sejak malam hari untuk pelengkap panganan yang ada di bengkel besok.


Hingga akhirnya, acara grand opening bengkel itupun tiba. Dimana Zahra menjadi sesi sibuk disana dengan beberapa kali keluar masuk dapur untuk memastikan hidangan dan panganan tidak kurang satu apapun.


Semua hadir dalam acara grand opening itu. Termasuk beberapa anak dari Yayasan yang diundang oleh Ken.


Devia, Zaki, Lala juga datang dan hadir disana. Rasta dan Chandra juga tak mau ketinggalan, bahkan mereka yang meramaikan suasana dengan sikap Akward keduanya.


Bagas juga turut serta, dia datang bersama Irene. Ayah Ken itu bangga melihat kesuksesan yang akan Ken mulai meski sebenarnya ia lebih menginginkan jika Ken turut andil di perusahaannya saja-- namun ia menghargai keputusan Ken ini.


Dalam keramaian yang tercipta disana, Ken tiba - tiba teringat Zahra yang belum datang keruang utama tempat acara grand opening berlangsung.


"Fan, Hana masih di dapur, kan?" Ken bertanya pada Irfan--salah satu pekerjanya di bengkel nanti, Irfan tadi sempat membantu Zahra menyajikan banyak panganan ke prasmanan yang ada didepan.


"Masih di dapur deh kayaknya, coba bentar gue liat, ya?" Irfan segera beranjak, dan Ken merasa perasaannya tak enak seketika, entah kenapa.


"Ken, sebentar lagi gunting pita didepan!" ucap Desta sang rekan lainnya-- yang melihat Ken ingin menuju dapur mengikuti jejak Irfan.


"Eh, Des... lo liat Hana gak?"

__ADS_1


"Oh Hana, dia tadi keluar... mau ke mini market depan katanya!" ucap Desta tenang.


"Untuk apa?" tanya Ken heran dan perasaan tak enak tadi semakin meliputinya sekarang.


"Katanya mau beli bahan kue, kue bolu nya habis. Hana bilang akan membuatnya lagi di dapur yang ada dibengkel."


Ken memang melengkapi dapur bengkel dengan perlengkapan lengkap karena bengkel ini akan ditempati oleh Darma nantinya untuk sekalian menjaga bengkel.


"Baiklah, thanks..." Ken segera beranjak menuju pintu depan untuk menjemput Zahra di mini market yang memang berada diseberang jalan.


Ken sedikit was - was membiarkan Zahra berada sedikit jauh darinya, dan kepergian Zahra ini membuatnya cemas bukan main, padahal sang istri hanya pergi ke mini market depan. Ken berpikir ada Bodyguard yang menjaga Zahra, jadi dia bisa sedikit tenang sekarang.


Namun, ketenangan itu hanya sementara, karena didepan bengkel ia bisa melihat keramaian yang menjadi atensi orang - orang sekitar yang berlalu - lalang.


"Hana..." Hati Ken terdetak dan segera berlari menuju pusat keramaian itu.


Namun disana ia tak mendapat apapun selain mendengar perbincangan orang - orang yang sedang menceritakan kejadian yang baru saja terjadi dijalan utama itu.


"Ada apa, Mas?" tanya Ken pada salah seorang yang ada disana.


"Ada kecelakaan tadi, Mas. Barusan!"


"Si-siapa korbannya? Apa itu seorang perempuan?" Ken terbata, namun ia tahu perasaan takut kini melingkupinya.


"Ya, wanita berhijab!"


"A-apa dia mengenakan jilbab hijau?" tebak Ken dan orang yang ditanyainya itu mengangguk.


Seketika itu juga Ken terduduk lemas, kemudian ponselnya terdengar berdering.


"Bos, sorry ... kejadiannya tiba-tiba dan jarak antara kami dan istri bos membuat semuanya terlambat. Kami tidak bisa menyelamatkannya, istri bos tertabrak mobil yang melaju sangat kencang!"


"Bang sat!!! Lo semua gak bisa diandalkan! Breng sek! Baji ngan kepa rat!" Ken mengumpatt habis orang suruhannya yang bertugas menjaga Zahra.


Namun, ia langsung sadar akan keadaan, seperti apapun ia memakii dan mengumpatt, tidak ada yang bisa mengulang kejadian itu agar tak terjadi dan mencegahnya.


"Tadi orang yang menabrak langsung membawa wanita itu, Mas!" kata orang - orang sekitar yang memahami jika Ken adalah kerabat atau orang yang pasti mengenali korban tabrak mobil tadi.


Ken bangkit, tatapannya kosong. Yang dipikirkannya sekarang adalah kondisi Zahra dan satu hal lagi yang ia pikirkan, yaitu siapa yang menabrak Zahra? Ia berharap istrinya tetap dalam keadaan baik - baik saja dan kecelakaan ini tak ada hubungannya dengan mafia yang tengah mencari keturunan Dirgantara. Ken takut semua ini adalah unsur kesengajaan.


Ken harus mencari tahu keberadaan Zahra di Rumah Sakit terdekat.

__ADS_1


******


__ADS_2