
Hari ini Ken dan Zahra sudah kembali ke rumah Devia.
Devia menyambut hangat sepasang pengantin baru itu. Ia juga menyuruh Ken dan Zahra untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum nanti mereka akan makan siang bersama.
Rencananya hari ini mereka akan mengambil semua barang yang masih tertinggal dirumah Devia sekaligus pamit kepada sang Mama untuk meninggalkan kediaman sang Mama, karena walau bagaimanapun mereka sudah memiliki rumah sendiri.
Mereka akan kembali ke rumah mereka dua hari kedepan sembari menyelesaikan pekerjaan Zahra yang masih terbengkalai di kantor sebab pernikahan dadakannya tempo hari.
Sebenarnya Devia tidak mempermasalahkan hal itu, ia masih bisa menghandle segala sesuatunya, namun Zahra ingin bertanggung jawab dengan tugas yang sempat ia tinggalkan beberapa waktu lalu.
Zahra juga sudah mengatakan pada Ibu mertuanya itu tentang keputusannya untuk resign dari pekerjaam dan Devia tak masalah dengan hal itu.
Beberapa saat bersantai dikamar, kini Ken tengah memainkan ponsel sembari membelai rambut Zahra yang ada di pangkuannya. Jika Ken fokus pada ponsel, berbeda dengan Zahra yang sibuk membaca novel dalam posisi nyamannya --sebab sentuhan lembut dari jemari Ken dirambutnya.
Tok tok tok
Pintu kamar Ken yang ada dirumah sang Mama-- terdengar diketuk.
"Ken..." menyusul suara sang Mama yang memanggilnya.
Ken pun mengadahkan wajah ke arah pintu kamar yang tertutup.
"Iya, Ma..." sahut Ken. Kemudian ia menatap Zahra yang masih diposisi yang sama. "Sebentar ya," ucapnya dan mengecup dahi Zahra sekilas.
Zahra pun mengiyakan sambil menyunggingkan sebuah senyuman.
Ken meletakkan kepala Zahra dengan perlahan ke atas bantal sofa yang ia ambil, barulah ia bangkit untuk membuka pintu kamar.
Ken melihat sang Mama yang ada diambang pintu kamarnya. Ia merasa raut wajah Mamanya tampak lain dari biasanya.
"Ada apa, Ma?" tanya Ken heran.
"Mama mau bicara empat mata sama kamu!"
"Penting?"
"Ya, sekarang!"
Ken menoleh kepada Zahra didalam kamar, tampak istrinya yang masih asyik membaca novel disana.
"Oke, kita ketemu diruang kerja aja, Ma!" ucap Ken tenang meski ia bisa menebak jika sesuatu yang tidak beres telah terjadi.
Devia mengangguk dan beringsut menuju ruangan yang dimaksud oleh sang Anak, sementara Ken kembali ke kamar dan berbicara pelan pada sang istri.
__ADS_1
"Sayang, aku bicara sama Mama sebentar ya."
"Ada apa, Ken?" Zahra menutup novel yang sedari tadi menjadi atensinya, kemudian terduduk untuk menatap suaminya itu. "Apa ada masalah?" selidiknya.
"Gak, Mama cuma mau bicara soal saham dan hal semacam itulah," jawab Ken menipiskan bibir.
Zahra mengangguk dan Ken pun keluar dari kamar mereka.
Sesampainya diruang kerja, Ken menatap sang Mama yang semakin menunjukkan wajah khawatirnya.
"Ma? Bisa mama bilang ada apa sekarang?"
"Ken, Mama mendapat laporan dari karyawan Mama bahwa Frans kembali datang ke gedung perkantoran kami. Tentu dia mencari Hana dan dia sudah tau kabar tentang Hana yang telah menikah. Dia tahu dari orang - orang yang ditanyainya disana!"
"Apa yang Mama khawatirkan? Hana memang sudah menikah, kan?"
"Bukan itu, cepat atau lambat Frans akan tahu jika kamu yang jadi suami Hana!"
"Aku gak peduli mau dia tahu atau enggak, Ma!" sahut Ken cuek.
"Tapi, Mama takut dia melukai kalian."
"Tenanglah, Ma. Aku sudah menyiapkan hadiah istimewa untuk saudaraku yang satu itu!" ucap Ken santai.
####
Namun, lelaki baya itu membiarkan saja karena ia tahu Ken telah dewasa dan ini semua terjadi berkat campur tangannya juga yang telah mencabut nama Ken dari hak waris.
Bagas juga telah mengantongi informasi bahwa sang Anak telah menikah dengan Zahra yang ia kenal. Namun, dari berkas - berkas pernikahan yang didapatkan oleh orang - orang suruhannya, ia jadi mengetahui nama asli Zahra, yang sangat membuatnya terkejut.
Zeevana Ayudia Dirgantara, putri bungsu dari Prayuda Dirgantara. Ya, tentu dia tahu siapa Yuda. Sebagaimana Devia mengenal kedua orangtua kandung Zahra itu, iapun tentu mengenal Yuda dan Charista.
Dalam lubuk hatinya, ia bersyukur jika Ken akhirnya menikah dengan Zahra yang Ken cintai. Ia juga bersyukur karena latar belakang gadis yang menjadi menantunya adalah gadis dari keluarga terhormat.
Namun, satu yang paling Bagas takuti setelah Ken dan Zahra resmi menikah. Yakni musuh orangtua kandung Zahra yang masih mengintai keturunan Yuda sampai saat ini.
Bagas takut, pernikahan ini membuat Ken tersangkut - paut dan membahayakan nyawa anak semata wayangnya, Ken. Ia masih terbayang - bayang saat Charista ditembak mati dan akhirnya meregang nyawa begitu saja beberapa tahun silam. Bandit - bandit mafia yang kejam, tak punya hati dan rela mempertaruhkan nyawa orang lain hanya demi tahta dan kekuasaan.
"Tidak, aku tidak boleh paranoid. Negara ini punya hukum dan para mafia itu tak mungkin melakukan kesalahan yang sama dengan melakukan pembunuhann lagi dinegara ini lagi. Cukup Charista saja yang meregang nyawa," batin Bagas berusaha meyakinkan diri dengan pemikiran positif.
Bagas tahu semua orang yang terkait dengan pembunuhan Charista sudah ditangkap saat itu juga, hanya saja ia masih ragu apakah semua orang itu adalah 'mafia' yang sebenarnya atau hanyalah orang - orang suruhan.
"Aku harus menemui Ken!" tekatnya.
__ADS_1
####
Makan siang dirumah Devia berlangsung tenang, Zahra dan Ken tampak sangat bahagia menjalani kehidupan rumah tangga baru mereka dan Devia sangat senang melihat hal ini.
"Kalian harus bisa melewati setiap problem bersama - sama. Jangan seperti Mama dan Papa yang menyerah dengan pernikahan kami!" Nasehat Devia pada sepasang manusia didepannya.
"Iya, Ma. Inshaa Allah kita bisa dewasa menyikapi setiap masalah!" sahut Ken.
"Bu, ada tamu didepan..." ucap Mbak Warsih yang membuat ketiga orang di meja makan itu menghentikan aktivitas ngobrolnya sejenak.
"Siapa, Mbak?" tanya Devia pelan.
"Seorang pria, katanya mau ketemu Ibu dan Mas Ken."
"Pria? Bagaimana penampilannya?" Devia takut yang berkunjung ke rumahnya adalah Frans yang mencari keberadaan Zahra. Sikap Frans cukup membuatnya ketar - ketir.
"Lumayan tua... dan parlente," kata Mbak Warsih tertunduk.
"Biar aku menemuinya, Ma! Mama dan Hana tunggulah disini, aku akan melihatnya lebih dulu." Ken tahu saat ini sang Mama dalam mode khawatir sebab percakapan mereka yang sempat membahas tentang Frans tadi. Namun, Ken memiliki pemikiran lain tentang siapa yang datang ini. Ken seperti bisa menebaknya.
"Ya sudah, suruh tunggu didepan, ya, Mbak! Sebentar lagi kita selesai makan."
Seusai makan, Ken langsung menuju beranda rumah dan tak terkejut dengan siapa yang mengunjungi kediaman sang Mama.
"Papa?" Ken duduk disebelah Papanya dengan santai, kemudian ia ingat akan sesuatu hal. Ken buru - buru bangkit dan menyalami tangan sang Ayah dengan takzim.
"Wah, begini perubahan kamu sejak tinggal disini? Atau, ini sejak kamu menikah?" kelakar Bagas mengenai sikap Ken yang tampak sopan.
Ken memutar bola mata malas. "Ada apa Papa kesini? Papa sudah tahu soal pernikahanku? Atau, setelah Papa mencabut namaku dari hak waris, sekarang Papa malah mau memecat namaku dari kantor juga?" sarkas Ken.
"Gak, ini gak ada kaitannya dengan hal kantor atau warisan. Ini lebih penting!"
"Hah? Apa ada hal yang lebih penting daripada harta, tahta dan wanita bagi Papa?" sindir Ken lagi.
"Papa pikir kau sudah berubah, ternyata masih sama." Bagas tersenyum santai menanggapi sindiran sang anak.
"Apa hal yang lebih penting itu?" tanya Ken to the point.
"Nyawa..." jawab Bagas singkat namun membuat Ken menipiskan bibir.
******
Ini akan memasuki konflik ya guys... siapkan hati kalianπ πππ
__ADS_1