
Ken tiba di Club sedikit lama karena ia harus mengganti kendaraannya dulu, ia tak mau menjadi pusat perhatian karena datang kesana menggunakan mobil sportnya.
Ken memarkirkan motor yang kini ia gunakan, tubuhnya sedikit basah karena diluar memang tengah gerimis sejak tadi.
Malam semakin larut saat Ken memasuki ruangan dengan nuansa remang-remang itu. Suasana Club memang selalu ramai dan nyaris tak pernah sepi pengunjung, apalagi Club ini adalah salah satu yang memiliki fasilitas terlengkap dan terbesar di pusat kota, sehingga bisa dipastikan peminatnya pun semakin banyak.
"Ken ..." Beberapa teman yang mengenali Ken-- menyapa kedatangannya lalu merekapun ber 'high five' ria.
Ken melihat Rasta yang duduk di pojokan sofa VVIP itu tengah mengembuskan asap nikotinnya didampingi oleh seorang wanita.
Melihat kedatangan Ken, Rasta meminta wanita itu agar segera pergi dari sana.
"Napa lo?" tanya Rasta pada Ken yang sudah mendudukkan diri di sofa.
Ken mengusap wajahnya dengan kasar. Rasta melemparkan sekotak rokok ke atas meja dihadapan pria gondrong itu. Namun, Ken hanya menatap dan tak menyentuhnya sama sekali.
"Muka kayak orang patah hati aja, lo!" ejek Rasta terkekeh.
Ken masih diam namun tatapannya tajam menyoroti kawan sejolinya itu.
"Kemaren gue ketemu Hana ..." ujar Ken pelan.
"Apa?" tanya Rasta memekik--Suara Ken terlalu pelan diruangan yang bising ini.
"Kemaren sore gue ketemu Hana! Barusan juga gue ketemu dia!" jawab Ken balas memekik dengan intonasi marah.
Rasta menciut, ia tahu jika Ken sekarang tak sedang baik-baik saja. Tapi, jika Ken bertemu dengan gadis masa lalunya itu, kenapa Ken harus marah seperti ini?
"Harusnya lo senang, dong!" celetuk Rasta akhirnya.
Ken mendengkus keras, menggertakkan giginya karena perasaan jengkel yang belum terlampiaskan. Meneguk satu sloki minuman yang baru ia tuangkan diatas meja.
"Jangan bilang kalau tebakan gue bener!" ucap Rasta lagi.
"Tebakan apa?" dengkus Ken.
"Lo ... lagi patah hati!" ujar Rasta hati-hati.
Ken berdecak lidah. "Dia mau nikah sama Frans..." ucapnya.
Byur....
Rasta menyemburkan minuman yang baru saja diteguknya.
"Frans, adek lo?" tanya Rasta memastikan.
Ken menatap tajam pada Rasta.
__ADS_1
"Iye, iye, maksud gue ... Frans adek tiri lo?" ralat Rasta akhirnya.
Ken mengangguk lesu sembari kembali membasahi kerongkongannya dengan minuman yang sama.
Rasta menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Dunia emang sempit, Bro! Atau, Frans emang sengaja?" terka Rasta.
"Sengaja apanya?"
"Ya dia tahu tentang lo dan Hana, jadi dia mau nikahin Hana dengan tujuan membalas lo!"
Ken menggeleng. "Darimana dia tahu, Be-go! Hana aja gak tahu perasaan gue! Yang tahu cuma gue dan lo!" ucapnya.
Rasta tertawa. "Ya cocok kalo gitu!"
"Cocok apanya?"
"Cocoklah Hana diambil orang! Ya, Lo aja gak berusaha nyatain perasaan lo!"
Ken terdiam mendengar ucapan Rasta yang tumben terdengar bijak itu.
"Kalo pun bukan Frans yang nikahin dia, ya pasti dia bisa dinikahin orang lain! Atau mungkin diambil sama gue!" celetuk Rasta kelewatan.
Bugh!
"Makanya lo bilang sama dia, biar dia tahu, Cuuk!"
"Gue gak bisa!"
"Why?"
"Hana itu malaikat, Ta! Mana mungkin malaikat bersanding sama gue yang jelmaan iblis!" aku Ken akhirnya.
Rasta terkekeh kencang.
"Tawa aja terus lo!" dengkus Ken.
"Ya habisnya ada iblis yang baru ngakuin jati dirinya..."
"Gue sadar diri! Gak kayak lo yang gak sadar-sadar, padahal lo juga iblis!" ejek Ken.
"Gue bukan iblis, Cuuk! Gue ini dedemit!" kekehnya dan Ken jadi ikut tersenyum karena mendengar ucapan absurd kawannya itu.
"Terus? Lo biarin aja dia nikah sama Frans?" tanya Rasta.
Ken mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Kalo sekali ini lo kalah lagi dari dia, gue mending gak usah jadi kawan lo lagi, Bro!" ancam Rasta.
"Bang-sat Lo!" umpat Ken terkekeh.
____
Tak jauh berbeda dari Ken, Frans juga menghabiskan sisa-sisa patah hatinya di Club malam yang lain. Sebenarnya sudah beberapa bulan ini ia sudah tak pernah menyambangi tempat maksiat seperti ini, tapi karena penolakan Zahra, akhirnya Frans melampiaskannya dengan ritual mabuk-mabukan.
Seseorang tampak mengenali Frans, dan mendekat padanya.
"Frans ..." sapa seseorang itu.
Frans mengadah, meski mabuk ia cukup bisa mengenali siapa orang yang menyapanya.
"Bram? Ayo sini temani aku!" kata Frans melambaikan tangannya agar sang kawan menghampirinya. Ia belum terlalu mabuk walau tingkahnya mulai sempoyongan.
Kawan Frans yang bernama Bram itu pun duduk di kursi yang ada disebelah Frans, didepan counter bar yang memperlihatkan seorang barista tengah meracik minuman-minumannya.
"Sudah lama kau tidak kelihatan, Frans!" kata Bram.
"Hemm, aku sudah 6 bulan ini di Singapore."
"Jadi kau baru tiba disini?"
Frans mengangguk.
"Kau ada masalah, ya?" tebak Bram.
"Begitulah," jawab Frans.
"Apa ada masalah dengan pekerjaan? Atau jangan-jangan karena wanita?"
Karena Frans memang sudah mabuk, ia tak memikirkan apapun kata untuk disaring, lalu dengan mudahnya ia menceritakan problemnya pada Bram begitu saja.
"Oke, aku paham sekarang. Jika kau benar-benar menginginkan gadis itu, aku punya tips dan trik agar kau bisa memilikinya," ujar Bram tertawa pelan.
"Benarkah? Apa itu?" tanya Frans antusias.
Bram membisikkan sesuatu pada Frans dan Frans terkekeh mendengar saran yang Bram berikan padanya.
"Caramu pasaran sekali!" kata Frans tersenyum miring.
"Jika itu bisa membuatnya menjadi milikmu, kenapa tidak?" Bram tertawa lagi dan Frans mengangguki ucapan kawannya itu.
"Aku akan membuatmu jadi istriku, Zahra! Jika dengan cara baik-baik tidak bisa, maka aku terpaksa menggunakan cara licik ini. Maafkan aku, aku terlalu menginginkanmu dan aku tidak mau Ken mengganggu sesuatu yang akan menjadi milikku!" Batin Frans membuat tekad.
...Bersambung ......
__ADS_1