
Pagi harinya, Zahra terbangun untuk menunaikan shalat subuh. Ia mendapati tengah berada seorang diri didalam kamar tamu yang ada dirumah sang Kakak.
"Ternyata tadi malam itu beneran cuma khayalanku saja," gumam Zahra sembari menghela nafas panjang.
Zahra bangkit dari posisinya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Kemudian ia melaksanakan kewajibannya untuk melakukan shalat subuh.
Usai dengan kegiatan itu, Zahra membaca Al-qur'an untuk menenangkan pikirannya yang terasa semraut.
Beberapa lama larut dalam bacaannya, pintu kamar Zahra diketuk dari arah luar. Gegas Zahra membukakan pintu.
"Ada apa, Kak?" tanya Zahra pada Rasta.
"Kakak mau berangkat kerja, mau cek laporan. Kamu sama Ken kalau mau sarapan udah disiapin sama Mbak Darmi, ya...." Mbak Darmi adalah pekerja yang bertugas memasak dan mencuci dirumah Rasta, dia akan datang setelah subuh dan akan pulang jam 3 sore.
Zahra mengernyit. "Ken?" tanyanya.
"Iya, mana dia? Apa dia masih tidur?" Pandangan Rasta menyelidik kearah dalam kamar yang ditempati sang Adik.
"Kak, Ken mana ada disini. Kakak ngawur, deh!" kekeh Zahra, ia merasa Rasta tengah menggodanya sekarang padahal Rasta serius menanyakan keberadaan Ken.
"Tadi malam Ken kesini, dek!" kata Rasta bersikukuh karena dia sendirilah yang membukakan pintu untuk adik iparnya itu.
"Nggak ada, Kak!"
"Mungkin pas dia dateng kamu udah tidur, aku yang bukain pintunya kok!"
"Aku bangun juga sendirian, mana ada Ken!" jawab Zahra yakin.
Tak berapa lama, mulai terdengar suara-suara yang tak asing diindera pendengaran Zahra dan Rasta, mereka melihat ke arah pintu depan dan disanaa melihat Ken beserta Paman Sapta yang sedang bercerita satu sama lain.
"Ken..." lirih Zahra. Matanya mengerjap beberapa kali menyadari sosok pria yang kini tengah ia tatapi lekat.
Ken menoleh pada Zahra, kemudian tersenyum kecil.
"Paman, aku ke Hana dulu, ya..." kata Ken pada Paman Sapta.
Kemudian Rasta langsung memghampiri Paman Sapta untuk menanyakan Pamannya itu.
"Paman sama Ken darimana?" tanya Rasta masih terdengar dipendengaran Zahra.
Sementara itu, Ken menarik pelan tangan istrinya untuk menuju kamar yang mereka tempati dirumah ini.
__ADS_1
"Kamu sejak kapan datang kesini?" tanya Zahra menatap Ken yang terus memasang senyuman.
"Sejak kamu mengira bahwa aku hanya khayalan kamu aja," jawab Ken tertawa pelan.
"Ken.... kenapa gak bilang itu beneran kamu!"
"Gak apa-apa, aku seneng aja bisa denger keluh kesah kamu secara langsung kayak gitu." Ken mencubit gemas kedua pipi istrinya yang masih mengenakan mukena lengkap-- karena tadi Zahra memang belum membukanya saat melakukan kegiatan baca Al-qur'an.
"Terus ini kamu darimana? Kalau memang tadi malam kesini, kamu tidur dimana? Kok gak ada pas aku bangun?"
"Aku ya tidur sama kamu, Sayang. Gak ngerasa ya? Pasti karena tidurnya lelap banget dalam pelukan aku..." goda Ken.
Zahra bukan tak merasakan jika dia tidur dalam pelukan Ken, ia merasakannya tapi ia mengira itu hanyalah khayalannya saja. Khayalan yang terasa nyata dan rupanya memanglah kenyataan bahwa ia tidur dalam dekapan suami tampannya itu.
"Kamu belum jawab, kamu dari mana? Aku bangun kamu udah gak ada, kenapa gak bangunin aku?"
"Aku tadi dari Masjid, Sayang. Shalat subuh berjama'ah disana bersama Paman Sapta juga, terus dengerin ceramah subuh makanya baru balik sekarang," kata Ken menjelaskan.
"Harusnya kamu bangunin aku dulu sebelum pergi, minimal bilang dulu!" kata Zahra mencebik.
"Iya, iya maaf... tadi gak enak bangunin kamu soalnya lelap banget tidurnya." Ken memegang pundak Zahra dan menatap kedalam matanya.
"Coba lihat aku!" kata Ken dan Zahra mulai menatapnya dengan pandangan malu-malu.
"Hmm," gumam Zahra kembali menunduk, tak berani membalas tatapan Ken yang terasa mengintimidasi dan membuatnya gugup itu.
"Sayang..."
"Iya, kenapa?"
"Kok malu gitu, sih?" Ken terkekeh pelan.
"Enggak, kok," sanggah Zahra tak mengakui padahal sudah jelas-jelas ia tak berani menatap Ken karena malu.
"Tadi malam, aku dengar ada seseorang yang mengatakan kangen sama aku. Ternyata pas didatangin, orangnya malah malu-malu kucing," kekeh Ken lagi.
"Apaan sih!" Zahra membuang pandangan ke arah lain sembari mengulumm senyum saat Ken menyentuh dagunya agar mata mereka saling bertatapan kembali.
"Beneran gak mau lihat aku, nih? Entar nyesel loh!" kata Ken pelan.
Zahra menggeleng sambil tersenyum kecil, wajahnya memerah namun akhirnya ia mengadah juga untuk menatap wajah tampan suaminya.
__ADS_1
"Kenapa, hmm?" tanya Zahra memberanikan diri.
"I love you, Sayang!" kata Ken tersenyum dan menatap lekat pada mata bening milik istrinya.
Mendengar itu, Zahra pun menumpukan seluruh keseimbangan tubuhnya pada dada bidang sang suami, ia mendekap erat tubuh suaminya, seolah tak mau melepaskan Ken seujung kuku-pun.
"Aku takut, Ken...." Akhirnya airmata Zahra tumpah lagi didada Ken.
Ken mengelus kepala Zahra yang ada didekapannya. "Apa yang kamu takutkan, hmm?"
"Aku takut kamu pergi dari aku karena lebih memilih wanita itu!"
"Itu gak akan terjadi, Sayang."
"Kalau anak itu beneran anak kamu, gimana Ken?"
"Aku yakin itu bukan anakku, Sayang." Ken ikut merasakan kekhawatiran Zahra saat ini, ia tahu perasaan istrinya pasti sangat terluka dengan hal ini. Ini semua memang kesalahannya, jika saja bisa ia ingin merubah dan memperbaiki masa lalunya yang penuh huru-hara. Ken berharap jangan ada satupun keturunannya yang mewarisi sifat onar dan pemain wanitanya itu.
"Kalau ternyata itu memang anak kamu, gimana, Ken? Itu artinya anak yang ku kandung akan memiliki saudara dari ibu yang berbeda," isak Zahra masih didekapan Ken.
Ken menggeleng lemah. Ia yakin itu bukan anaknya, sekarang tinggal membuktikan saja pada Zahra bahwa dugaannya itu benar. Menunggu hasil tes DNA akan butuh waktu lama dan Ken tidak sanggup melihat Zahra seperti ini terus dalam rasa kesedihan yang mendalam dan prasangka mengenai bayi yang dikandung Jenar.
"Aku akan buktikan bagaimana pun caranya agar kamu percaya bahwa itu bukan anakku," lirih Ken menciumi pucuk kepala Zahra yang masih tertutup mukena.
"Aku memikirkan kemungkinan terburuknya, Ken! Karena aku takut terlalu berharap, itu akan sangat menyakitkan jika ucapan kamu gak sesuai dengan kenyataannya..."
"Enggak sayang, kamu jangan memikirkan hal buruk! Aku akan cari buktinya!"
"... kalau, kalau ternyata itu benar anak kamu... kita--- kita lebih baik berpisah saja," ucap Zahra tercekat sudah putus asa.
"Sayang? Apa-apaan? Aku gak mau berpisah sama kamu. Gak! Itu gak akan terjadi!" Ken mendekap erat tubuh Zahra, bahkan tak memberikan ruang untuk Zahra bergerak sedikitpun.
"Ken, aku gak bisa nafas!" protes Zahra dan seketika itu juga Ken tersadar lalu membelai wajah wanita yang sangat ia cintai itu.
"Jangan bilang soal perpisahan, Han!" Ken menggeleng. "Aku gak menerima hal itu, apapun yang terjadi kamu tetap istriku satu-satunya sampai kapanpun."
"Ken..."
"Untuk sementara, kamu tetaplah dirumah Rasta. Aku akan buktikan, aku akan mencari bukti jika itu bukan anakku! Kamu pegang kata-kataku, Han... kamu tetap istriku, baik didunia yang sekarang kita injak maupun didunia berikutnya!" ucap Ken dingin, kemudian dia berbalik pergi dari dalam ruangan itu, menyisakan Zahra yang terisak dengan keputusannya sendiri.
Tadinya Zahra juga berat untuk melontarkan hal itu pada sang suami, tapi membayangkan jika anak yang dikandung Jenar adalah anak Ken--membuatnya kembali putus asa. Ia ingin menemani Ken melalui cobaan ini, tapi hati kecilnya juga tak bisa menampik, jika anak yang dikandung Jenar benar adalah anak Ken, maka anak itu juga berhak untuk mendapat tanggung jawab dari Ken sebab anak itu tidak bersalah sama sekali, itulah yang Zahra pikirkan, ia memikirkan nasib anak yang dikandung Jenar, yang mungkin sama dengan anak yang ia kandung-- sama-sama darah daging Ken, pikirnya.
__ADS_1
Untuk sebab itulah, Zahra berpikir merelakan Ken adalah keputusan terbaik walau itu sangat berat untuk ia lakukan. Tapi, melihat sikap Ken yang berubah dingin karena keputusannya, membuatnya menyesal telah melontarkan kalimat perpisahan pada sang suami.
*******