
Zahra tahu, sekalinya ia berbohong maka kebohongan itu akan terus berlanjut.
Seperti saat ini, ia harus mencari alasan dan berbohong lagi pada Zaki akibat dari kebohongannya waktu itu--yang mengatakan bahwa ia telah memiliki calon suami.
"Calon suami aku lagi di luar kota... ya-yah... dia lagi di luar kota," dustanya. Zaki tersenyum kecil mendengar alasannya kali ini.
"Apa jawabanku terkesan dibuat - buat? Atau Zaki bisa membaca kebohonganku?" batinnya, merasa harap - harap cemas.
"Oh, begitu ya... oke, berarti kita bertiga saja yang kesana!" ucap Zaki.
Dan seperginya Zaki dari ruangannya, barulah ia bisa bernafas lega. Bagaimanapun, ia tak ahli dalam hal berbohong. Orang yang sangat mengenalnya pasti sangat bisa membaca gelagat serta kebohongannya.
______
"Ken ..."
Pria itu menoleh sekilas, kemudian tersenyum kecil pada sosok yang memanggilnya.
"Udah makan?"
"Belum," jawab Ken singkat.
"Kenapa?" tanya sosok itu lagi.
"Aku menunggu Mama ..." jawab Ken jujur.
Sosok wanita yang ada dihadapan Ken tersenyum mendengar ucapan sang Anak.
"Ya sudah, Mama mau mandi dulu, mengejar waktu biar bisa shalat maghrib, waktu maghrib kan singkat. Setelah itu baru makan malam bareng kamu, oke?"
Ken mengangguk patuh. Menurut dengan ucapan Mamanya tidak ada salahnya kan?
Mama Ken beranjak namun menghentikan langkah sejenak.
"Kamu... udah shalat maghrib belum?"
"Sudah, Ma!" jawab Ken pelan.
"Alhamdulillah ada kemajuan, hihihi..." Mama terkikik sambil berlalu menuju kamar pribadinya.
Ken pun fokus pada layar TV LED yang ada dihadapannya. Ternyata, mengikuti ucapan Rara--remaja penjual asongan--tidak terlalu buruk.
Memaafkanlah jika ingin dimaafkan.
Dan ia sedang dalam proses itu sekarang.
Seminggu yang lalu, setelah ia bertemu Rara--remaja penjual asongan--yang memberinya sedikit pelajaran hidup soal memaafkan, ia langsung berniat untuk mencari Mamanya lebih dulu barulah melanjutkan pencarian Zahra.
Terkadang, semesta mempunyai rencana dan alurnya masing - masing, sehingga Ken dipertemukan dengan Mamanya setelah ia punya niat untuk memaafkan wanita yang telah melahirkannya itu.
__ADS_1
Sejak insiden mobil Rasta yang menabrak mobil Mama, sejak itupula Mama semakin gencar mencari keberadaan Ken.
Saling mencari, membuat mereka akhirnya dipertemukan dengan lebih mudah. Pertemuan yang telah direncanakan oleh takdir.
Setelah saling memaafkan dengan Mama, Mama langsung menceritakan alasannya pergi meninggalkan Ken begitu saja bertahun - tahun yang lalu. Tapi, seorang Mama tetaplah tidak mungkin membiarkan anaknya begitu saja tanpa pengawasan. Mama cukup tahu sepak - terjang Ken selama ini, walau untuk menemui sang Anak secara langsung belum memiliki keberanian.
Mungkin, Mama mencari momen yang tepat sambil mengumpulkan keberanian dan saat itu adalah sekarang. Ketakutan Mama bertemu Ken dulu, bukan tanpa alasan. Mama tahu Ken merasa kecewa dengan keputusan Mama yang meninggalkan rumah Papa.
Dan Ken telah dewasa, ia cukup paham bagaimana peliknya rumah tangga orangtuanya. Ia mengerti kenapa Mamanya tidak bertahan dengan Papa yang seorang pemain wanita.
Semua ini menjadi pelajaran bagi Ken, bahwa ia tak mau melakukan kesalahan seperti yang Papanya lakukan.
Ken tidak mau disamakan dengan Bagas, meski darah pria itu sama dengan darah yang mengalir ditubuhnya. Ken punya komitmen dalam hidup, meski ia berandal dan suka berganti teman kencan, namun itu bukanlah hobi yang patut ia banggakan. Semua yang ia lakukan selama ini, hanyalah sebagai bentuk protes terhadap keadaannya yang menyedihkan.
Hidup dalam keluarga broken home bukanlah pilihannya. Kemudian ia dipaksa berkembang didalam keluarga baru yang toxic, mendorong Ken hingga terjerumus dalam dosa dan kemaksiatan. Padahal, ia sempat mengenyam pendidikan khusus agama selama hampir 5 tahun lamanya saat mondok.
Ken menyadari jika apa yang ia lakukan selama ini adalah telah masuk dalam kubangan dosa, namun entah karena kekecewaannya yang begitu besar pada keadaan, ia menepiskan segala macam peringatan yang memperingati dirinya sendiri.
Semakin dewasa, Ken semakin sadar bahwa Mamanya ternyata tidak meninggalkannya begitu saja, karena Mamanya sempat menabung saham atas nama Ken di perusahaan Bagas--demi menyelamatkannya diperusahaan Papanya sendiri--Mama, seperti sudah bisa memprediksi, jika suatu saat nanti Ken akan terlempar dari perusahaan itu, sehingga Mama sudah melakukan tindakan pencegahannya sejak dini.
Setelah saling memaafkan, Ken yang lanjut menceritakan pada sang Mama, tentang tujuan kedatangannya ke daerah ini yaitu demi mencari gadis yang ia cintai.
Mama mendukungnya, tentu saja Mama tahu siapa gadis itu karena selama ini Mama selalu mengawasi Ken dari jauh. Justru Mama salut karena Ken mampu mempertahankan komitmennya pada satu wanita yang sama.
Namun, mendengar dari ceritanya, Mama belum mengizinkan Ken untuk mencari Zahra kembali.
Dan ya, Ken menurutinya tanpa banyak protes.
Ken merasa ini sebagai hukuman yang layak baginya. Ia masih dihukum oleh semesta, menunda pertemuannya dengan Hana-nya.
Ken hanya berharap semoga pertemuannya dengan Zahra nantinya akan membuahkan hasil seperti yang ia inginkan.
Paling tidak, meski Zahra menolak untuk ia nikahi tapi gadis itu sudah memaafkannya.
Tapi, berubah jadi lebih baik memang tak mudah. Apalagi semua kebiasaan yang sudah tertanam dalam dirinya selama ini membuatnya sulit untuk menjadi lebih baik.
Jangankan melakukan shalat 5 waktu, bangun subuh saja masih terasa sulit.
"Ken, Mama sudah siap nih... ayo kita makan malam."
Ken mengikuti Mama menuju ke meja makan.
Disana sudah ada Mbak Warsih yang menyajikan menu makan malam buatannya untuk Ken dan Mama.
"Oh iya, ada yang Mau Mama sampaikan sama kamu, Ken..." kata Mama sembaru menyendok nasi ke piring makan.
"Apa, Ma?"
"Soal saham kamu di perusahaan Papa," ujar Mama tersenyum lembut.
__ADS_1
"Oh... itu, kenapa emang?"
"Kamu gak pernah ambil keuntungannya?"
Ken menggeleng.
"Kenapa?"
"Ya karena waktu itu aku masih marah sama Mama," jawab Ken jujur.
Mama masih tersenyum menatap Ken diseberangnya. "Sekarang masih marah?" tanya Mama.
"Enggak," jawab Ken dengan gaya cueknya, ia pun mulai menyuap makanannya yang sudah diambilkan oleh sang Mama.
"Mama heran sama kamu, Ken..." ucap Mama dengan mengulumm senyum.
"Heran kenapa?"
"Ya heran, wajar sih kamu marah sama mama sampai bertahun - tahun. Tapi, mama gak nyangka kamu sampai gak mau makai uang dari keuntungan saham yang mama berikan. Kamu bela - belain hidup susah, ngelamar kerjaan kesana - kemari... batu banget sih kamu tuh!" omel Mama.
Ken hanya mencebik cuek sembari melanjutkan kegiatan makan malamnya.
Kemudian Mama ikut memulai makan juga sambil terus memperhatikan anak satu - satunya yang kini berada nyata dihadapannya. Biasanya Mama akan mengkhayalkan momen ini saja tanpa pernah bisa melihat Ken sedekat ini.
"Mama seneng banget bisa makan semeja sama anak tampan Mama lagi," ucap Mama dengan sendu.
"Kayaknya Mama udah ngomong itu entah berapa kali, setiap hari, sejak aku tinggal disini," kata Ken.
"Mama seneng kamu disini bersama Mama, Ken..."
"Hmm, aku tahu selama ini Mama gak hidup bahagia dan penuh dengan rasa penyesalan..." batin Ken.
"Iya, Ma... kenapa gak dari dulu Papa ngusir aku ya?" kata Ken dengan senyum miringnya.
"Kamu gak boleh begitu, Ken. Biar bagaimanapun dia tetap Papa kamu!" ucap Mama.
"Ma... mama itu terlalu baik, Papa aja yang bodoh udah sia - siain Mama." Ken geleng - geleng kepala, sejujurnya ia tahu Mamanya orang baik, ia membenci Mamanya selama ini hanya karena ego dihatinya yang membuatnya marah sebab Mama meninggalkannya.
Sekarang, ia tahu jika Mama tak meninggalkannya begitu saja. Mama melakukan itu karena Mama menginginkan Papa tetap bertanggung jawab dengan anak semata wayangnya ini. Walau Mama sakit dan menyesal telah meninggalkan Ken dulu bersama Papa, tapi semua yang Mama lakukan adalah demi kebaikan Ken juga. Mama tak mau Ken dianggap tak ada oleh Bagas.
Bagas harus sadar jika dia masih punya satu orang anak kandung yang harus diperjuangkan dan jangan lupa diri karena keluarga barunya, itulah yang Mama harapkan. Sayangnya, kini Ken benar - benar diusir oleh Bagas dan Mama cukup kecewa dengan keputusan mantan suaminya itu.
...Bersambung ......
Ken udah aku keluarin noh...
keluarkan hadiah juga ya buat novel ini...
kalau banyak hadiah, next bab aku kasih hadiah pertemuan Ken dan Zahra dehπ€£ππ
__ADS_1