
Acara pernikahan yang mereka nantikan akhirnya tiba, tidak banyak yang datang ke acara ini, karena Zahra hanya mengundang rekan - rekan kerja yang akrab dengannya di kantor.
Ken tidak mengundang siapapun diacara akad nikahnya. Hanya Rasta satu-satunya teman yang hadir diacara pernikahannya ini, itupun karena Rasta yang akan menjadi wali nikah Zahra.
Rasta datang bersama paman Sapta yang masih tampak gagah diusianya yang baya. Rencananya beliau akan menjadi saksi pernikahan Ken dan Zahra hari ini, karena beliau cukup banyak berjasa untuk keluarga Dirgantara.
Cira datang bersama Dito--bocah yang dulu suka menggoda Ken dan Zahra saat di panti--yang baru ini dijumpai Zahra lagi setelah sekian lama mereka tak bertemu.
Dito tampak dewasa karena dia sudah bekerja sekarang. Sementara, Bu Nurma tidak bisa hadir karena kesehatannya sedang kurang baik.
"Dito?" Zahra menyapa Dito yang menghampirinya.
"Iya, Kak."
"Wah, kamu sudah dewasa sekarang. Ya ampun..." Zahra tersenyum senang karena kedatangan tamu yang cukup spesial. Bagaimana tidak, Dito adalah salah satu adik panti yang dulu sering membantunya berjualan untuk mendapatkan uang jajan tambahan.
Kemudian ada Lala yang datang bersama Zaki. Tampaknya hubungan mereka semakin hari semakin dekat saja dan Zahra merasa mereka cocok.
Setelah menyapa Zahra yang ada di ruangan yang dijadikan ruang rias, Lala dan Zaki menghampiri Ken yang kini ada diruang tengah--tepatnya ruang utama tempat akad akan segera dilaksanakan.
"Gue kayak kenal sama lo!" celetuk Ken saat melihat Lala.
Lala terkekeh. "Gue gak nyangka lo yang nikah sama Zahra!" ucapnya.
"Tunggu... gue kenal lo dimana ya?" Ken mencoba berpikir namun Zaki segera menghentikan aktivitas Ken itu.
"Udah... jangan dipikirin! Fokus aja buat akad sebentar lagi!" kata Zaki.
"Bentar dulu, Bang... wajah pacar abang emang gak asing dimataku!" kata Ken membuat Zaki dan Lala tergelak.
"Belum pacar, Ken!" sanggah Zaki tertunduk.
"Tapi akan, kan?" Ken menaik - naikkan alisnya menggoda Zaki.
Zaki hanya geleng - geleng kepala singkat.
__ADS_1
"Lo kenal gue juga kan?" Ken beralih pada Lala.
"Siapa yang gak kenal lelaki es di SMA Harapan!" ejek Lala dan seketika itu pula Ken langsung mengingat jika Lala adalah teman SMA Zahra, bahkan kawan sebangku Zahra di masa putih abu - abu.
"Hahaha, gue udah ingat elo!" kata Ken puas setelah mendapatkan jawaban dari dirinya sendiri.
"Ya udah, sekarang siap - siap! Jangan salah sebut nama lo!" kata Lala.
"Gak lah!" kata Ken yakin.
Lala dan Zaki pun beranjak ke sudut ruangan untuk menyaksikan akad yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
Sementara itu, Devia tidak mengundang banyak teman atau relasi, karena ia takut identitas Zahra dan Rasta yang asli akan diketahui publik.
Ken dan Zahra tidak bertemu satu sama lain sejak malam tadi, meski malam tadi Zahra sudah menginap di rumah Ken, tapi dia tak keluar kamar sama sekali. Bahkan Zahra menonaktifkan ponselnya. Entah sengaja atau tidak, yang jelas Ken tahu ini perintah dari sang Mama untuk mereka. Ken saja yang bandel masih coba - coba menghubungi calon istrinya itu.
Tentunya Ken ingin bernegosiasi lagi dengan Zahra perihal syarat pasca pernikahan yang Zahra ajukan. Bukan Ken tidak mau mengabulkan permintaan calon istrinya itu, tapi ia sadar jika pernikahan mereka bukanlah permainan yang dilandasi syarat--apapun itu.
Jika memang Zahra belum siap, mungkin ia akan menerimanya, mungkin. Tapi tidak dengan syarat - syarat yang justru akan merusak janji pernikahan mereka yang suci.
Zaki menepuk pundaknya sekilas, memberi isyarat kepalan tangan diudara sebagai motivasi untuk dirinya dan ia pun tersenyum pada Abang sepupunya itu.
Ken pun mengambil posisi duduk dihadapan seorang penghulu dan Rasta sebagai wali nikah. Didekat posisi mereka, disana juga sudah ada Zaki dan Paman Sapta yang akan menjadi saksi pernikahan.
Zahra tidak keluar dari ruang rias, dia akan bergabung disana saat Ken sudah selesai membacakan akad-- yang artinya saat mereka sudah resmi menjadi sepasang suami - istri.
Demi apapun, Ken merasa sangat gugup sekarang. Sejak malam ia sudah menghafalkan nama lahir milik Zahra dan ia yakin jika ia bisa melafalkan kalimat akad dengan benar, namun tetap saja tak bisa dipungkiri jika sekarang ia merasa gemetar.
"Sudah siap, bisa kita mulai?" Penghulu menanyakan kesediaannya.
Ken mengangguk mantap tanpa kata.
Penghulu itu tampak memberi kesempatan pada Rasta yang akan menjadi wali. Rasta berdehem - dehem sekilas.
Rasta menjabat tangan Ken dan tersenyum miring, seolah mengejek Ken. Senyuman Rasta seperti mengartikan sesuatu yang kurang lebih seperti ini.
__ADS_1
--Rasain! Gue jadi Kakak ipar lo sekarang dan lo harus menurut apa kata kakak!--
"Ah, kenapa Rasta harus tersenyum seperti itu? Aku tidak pernah menyangka jika tangannya yang akan ku jabat sebagai wali nikah dari pengantinku!- Batin Ken.
Rasta merasakan tangan Ken yang gemetar saat menjabatnya. Rasta menahan rasa ingin menertawai Ken saat ini.
Rasta menghela nafas dalam untuk mengembalikan konsentrasinya.
"Bismillahhirrohmanirrohim..." ucap Rasta terdengar kaku, justru sebenarnya ia juga tak kalah gugup-- sama seperti Ken. Wajar saja, ini pengalaman pertamanya, bukan?
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, saudara Kendra Winarya bin Bagas Winarya dengan adik kandung saya yang bernama Zeevana Ayudia Dirgantara binti Prayuda Dirgantara, dengan mas kawin berupa satu unit rumah dan seperangkat alat sholat, dibayar tunai." Rasta menghentak sekilas jabatan tangan Ken di jemarinya.
"Saya terima nikahnya, Zeevana Ayudia Dirgantara binti Prayuda Dirgantara dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai." ucap Ken lantang dengan satu tarikan nafas.
"Bagaimana saksi? Sah?" Suara penghulu menanyakan para saksi pernikahan, selepas Ken mengucapkan ijab qabul itu.
"Sah," jawab para saksi dan sebagian orang yang hadir disana.
"Baarakallaahu laka, wa baarakallahu ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khaiir."
seiring doa terdengar diindera pendengaran mereka semua.
Tak berapa lama, pengantin wanita yang ditunggu - tunggu Ken akhirnya tiba diruangan itu.
Ken tidak berani menatap Zahra meski sebenarnya ia sangat ingin menatap wajah wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.
Setelah Zahra bergabung disana dan duduk disebelah Ken, penghulu memintanya untuk menyalami tangan Ken yang sudah resmi menikahinya.
Dengan gugup, Zahra akhirnya menoleh ke samping dan menatap Ken yang juga tengah menatapnya saat ini. Pandangan mata mereka bertumbukan satu sama lain untuk beberapa detik.
Sampai akhirnya Ken mengulurkan tangan ke arah Zahra dan gadis itu menyalaminya dengan takzim.
Beberapa photografer yang hadir langsung mengabadikan momen itu.
Kemudian dengan sangat perlahan, Ken menangkup sisi wajah Zahra lalu mengecup dahi istrinya dengan rasa penuh kasih sayang.
__ADS_1
****