Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Sebab dan Akibat


__ADS_3

Entah kenapa perasaan Ken sekarang tidak nyaman, ia duduk gelisah dan merasa gerah. Beberapa kali ia mengganti posisi duduk dan menyeka peluh yang tiba-tiba terasa membasahi dahinya. Lalu tanpa sengaja, matanya menangkap senyuman Jenar yang penuh arti terselubung.


"Sia lan!" dengkusnya keras. Ia bangkit dari duduknya dan sudah dapat dipastikan jika Jenar langsung sigap menahan lengannya dengan bergelayut manja.


"Lepaskan tanganmu, Jen! Kau benar-benar memuakkan!" ucapnya marah karena mulai memahami apa yang sudah terjadi pada dirinya sendiri akibat ulah Jenar.


Jenar tak melepaskan tangannya, justru semakin mendekap tubuhnya, membuatnya semakin frustrasi saja.


"SETELAH INI! KU PASTIKAN AKAN MEMBUAT PERHITUNGAN DENGANMU! KAU DENGAR ITU!" hardiknya marah dan menepis tubuh Jenar, wanita itu terduduk ke sofa karena dorongannya yang kuat.


Keributan itu membuat beberapa orang menghampiri mejanya, termasuk Rasta dan Chandra.


"Ada apa, Ken?" tanya Chandra dan Rasta nyaris serentak.


"Ta! Lo urus dia!" katanya mulai beranjak dari sana, sebab tubuhnya semakin terasa serba salah sekarang.


"Lo kenapa?" tanya Chandra yang penasaran melihat sikapnya yang tampak aneh.


Ia menepis tangan Chandra. "Dia masukin sesuatu ke minuman gue!" ucapnya kemudian dan Chandra mendelik mendengar itu, begitu juga dengan Rasta yang masih ada disana.


"Dasar ja-lang!" umpat Chandra pada Jenar.


Ia pun pergi, membiarkan Jenar diurus oleh Rasta dan Chandra saja, karena sekarang ia harus mengguyur tubuhnya dengan air es-- mungkin.


Sebenarnya bisa saja ia melampiaskan ini pada Jenar, tapi ia tahu jika inilah yang diharapkan wanita itu dan ia akan kalah jika menyerahkan diri begitu saja. Atau, bisa saja ia mencari wanita lain yang ada di club ini sekarang, tapi entah kenapa ia tidak mau melakukan hal itu lagi. Ada rasa dalam diri yang menahannya--entah apa.


"Ken !!!" pekik Shella yang mungkin juga melihat kejadian yang baru saja terjadi.


Ia terus berjalan menuju pintu keluar, tak sekalipun menggubris jeritan Shella.


Begitu tiba di pintu keluar, tubuhnya nyaris bertubrukan dengan punggung Bram. Tunangan Shella itu tampak tengah menerima panggilan telepon dan indera pendengarannya tak sengaja mendengar Bram menyebut nama seseorang yang membuatnya jadi ingin tahu.


Ia termangu beberapa detik dibelakang tubuh Bram dan disaat yang sama Bram membalikkan tubuh.


"Ken..." sapa Bram ramah.


Ia mengangguk samar.


"Udah mau balik? Acaranya baru dimulai?" tanya Bram lagi.


"Aku ... kurang enak badan!" akunya.

__ADS_1


Bram menatapnya sekilas, mungkin bisa melihat raut wajahnya yang tampak aneh. Ia berusaha kuat menahan gejoolak yang mulai menjadi-jadi dalam dirinya. Obat itu mulai bereaksi sepertinya.


"Wajahmu merah padam! Kau yakin pulang sendirian? Mana Rasta?" tanya Bram.


Ia menggeleng pelan, tak bisa meneruskan percakapan ini lebih lanjut.


Sebelum ia beranjak, ia ingin memastikan tentang sesuatu yang tadi sempat didengarnya dari mulut Bram yang menerima panggilan telepon dengan seseorang.


"Sorry, tadi aku tak sengaja mendengar pembicaraanmu dari telepon dan aku mendengar kau menyebut nama 'Frans'."


Bram tersenyum miring. "Ah ya, Frans temanku ... tadi menelepon. Biasa lah, minta tips untuk dekati cewek," kata Bram terkekeh.


Ia manggut-manggut dan mencoba berpikir positif jika pria bernama Frans bukan cuma adik tirinya saja.


Ia tersenyum kecil dengan niat ingin segera undur diri dari sana. Namun celotehan Bram yang selanjutnya justru membuatnya semakin sakit kepala.


"Kebetulan Frans ada dihotel ini juga bersama pasangannya. Aku suruh mampir ke pesta Shella, tapi katanya dia dan Zahra sudah punya rencana lain, biasalah ... pria dan wanita di hotel gak mungkin cuma makan malam," kata Bram terkekeh.


Apa ia tak salah dengar? Bram menyebut nama 'Zahra'?


Matanya memicing menatap pria berkemeja navi itu. "Frans yang kau maksud apakah Frans Winarya?" tanyanya memastikan.


"Ya, apa kau mengenalnya?" tanya Bram.


"Di Rooftop, Jade Resto!" jawab Bram dengan raut bingung.


"Thanks ..." Ia langsung bergerak menuju lift, tak jadi menyelamatkan dirinya sendiri melainkan ingin menemui kedua orang yang dikenalnya-- di Restoran itu.


______


Frans membopong tubuh Zahra yang telah tak sadarkan diri. Saat beberapa orang menanyakan apa yang terjadi pada Zahra, ia mengatakan jika Zahra adalah istrinya yang sedang sakit dan sudah ada dokter pribadi yang menunggu di kamar mereka.


Sebenarnya, ia sudah lebih dulu memesan kamar untuk malam ini. Ia tidak bermaksud melecehhkan atau melakukan hal yang lebih daripada itu kepada Zahra, karena ia begitu menghargai gadis ini.


Rencananya hanyalah ingin membuat Zahra percaya bahwa mereka telah melakukan 'sesuatu' dikamar itu, agar gadis itu bersedia untuk ia pinang. Sedikit kelewatan memang, tapi hanya inilah cara yang ia miliki saat ini dan tak punya pilihan lain.


Ia tak mau Ken mengusik Zahra-nya, mempermainkan gadis itu lalu meninggalkan Zahra begitu saja-- hanya untuk balas dendam padanya. Maka dari itu, ia ingin segera mengikat Zahra dalam pernikahan agar Ken tak berbuat macam-macam.


Namun, saat hendak memasuki Lift untuk menuju letak kamarnya, ia begitu terkejut saat lift terbuka dan menampilkan sesosok wajah yang sangat dikenalinya.


Ken disana, dengan tampang yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

__ADS_1


"SEJAK KAPAN KAU MEMILIKI HAK UNTUK MENYENTUHNYA?" marah Ken padanya dengan berapi-api, mata Ken menghunus tajam ke arah matanya.


Ia yang masih dalam posisi membopong tubuh Zahra pun terdiam mendengar kemarahan Ken itu.


"Jangan urusi urusanku, Ken!" jawabnya pelan, ia berusaha tenang dan mencoba mengabaikan sikap Ken itu.


Ia pun beranjak ke Lift yang satunya dan segera menekan tombol Lift demi menghindari Ken.


Sial sekali rencananya harus dipergoki oleh Ken.


____


Ken melihat angka pemberhentian Lift yang membawa Frans dan Zahra. Semua yang sudah nampak didepan matanya, tidak mungkin ia biarkan begitu saja. Ia mengikuti jejak Frans dengan menyusul ke lantai yang sama.


Ternyata Frans memesan kamar persident suite yang terletak tepat dibawah Rooftop. Di lantai ini hanya ada satu kamar dan itulah yang akan ditempati Frans malam ini.


Melihat Ken yang kini tetap mengikutinya, membuat Frans kalang kabut.


Dan tanpa aba-aba Ken langsung meraih tubuh Zahra dari gendongan Frans dengan gerakan yang sangat cepat, membuat Frans terbelalak.


Kini tubuh Zahra sudah beralih pada Ken.


Mereka berdua seperti anak kecil yang sedang memperebutkan mainan yang sama.


Tidak ada yang melihat aksi mereka karena tidak ada orang lain yang menaiki lantai ini selain mereka.


"KU BILANG JANGAN CAMPURI URUSANKU, KEN! KEMBALIKAN DIA PADAKU! DIA CALON ISTRIKU JIKA KAU LUPA!"


Ken tersenyum miring dan tiba-tiba menendang perut Frans dengan kaki panjangnya.


"Breng-sek!" umpat Frans sembari meringis memegangi perutnya sendiri.


Frans segera menyusul langkah Ken yang sudah berjalan ke arah berlawanan--lebih tepatnya menuju ke arah Lift untuk segera pergi dari sana.


"Jangan ikuti aku, Frans! Atau karir dan nama baikmu akan hancur malam ini!" ancam Ken saat menekan tombol Lift dengan agak sulit karena ia masih menggendong tubuh Zahra yang pingsan.


Mendengar itu, Frans terdiam. Semua yang ia lakukan malam ini pasti akan berakibat untuk dirinya sendiri. Apalagi kelakuannya ini diketahui oleh Ken.


Frans termangu, ia hanya bisa menatapi pintu Lift yang mulai tertutup dan didalam lift itu ada kakak tirinya beserta wanita yang ia cintai. Sekarang ia bingung harus memilih nama baiknya atau mengejar Zahra yang menurutnya pasti tak akan aman ditangan Ken.


"Keparatt kau, Ken!" Frans mencengkram kepalanya sendiri karena merasa frustrasi untuk memilih.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2