
Masa Kini ...
Ken terkesiap saat merasakan sentuhan lembut melingkari pinggangnya, lamunannya tentang masa-masa SMA bersama Zahra pun buyar seketika. Ia menoleh sekilas kebelakang tubuh, melirik pada seorang wanita yang kini memeluk tubuhnya dari belakang.
"Kamu sedang melamunkan apa, hmm?" tanya wanita itu lembut sembari menyandarkan sisi wajahnya ke punggung bidang milik Ken.
Ken diam, tak menyahuti ucapan wanita itu. Dengan pelan ia melepas tautan tangan wanita itu yang melingkar di perutnya. Gegas ia beringsut menjauh dari sisi jendela tempatnya melamun tadi, kemudian ia mengambil kaos dan mengenakannya.
"Ken, mau kemana?" tanya wanita itu heran melihat tingkah Ken yang tiba-tiba saja berubah. Padahal beberapa jam lalu, Ken yang mendatanginya dan mereka sudah melewatkan detik waktu dengan pergumulann panas diatas ranjang.
Ken menoleh sekilas. "Ini pertemuan terakhir kita, Jen!" ucapnya datar sembari memakai sepatunya.
"Apa maksudmu, Ken?" tanya wanita itu, dia berjalan mendekat dan mencoba membuat Ken membalikkan tubuh agar menatapnya.
"Kita selesai, Jenar!" kata Ken menekankan kata-katanya.
"Tapi, apa salahku? Kenapa tiba-tiba begini?" tanya wanita bernama Jenar itu, tak habis pikir dengan ucapan Ken.
"Kau tidak bersalah! Ini salahku! Aku yang gampang bosan. Kau tahu itu, kan?" tanya Ken.
Jenar terdiam, dia tahu tabiat buruk Ken yang satu itu. Dan dulu dia tetap menerima Ken walau tahu jika Ken baru saja berpisah dengan Shella, sesama kawan wanitanya, dan mereka berpisah karena alasan yang sama.
Sejak awal, memang Jenar yang mendekati Ken lebih dulu.
Mungkin sekarang memang giliran Jenar yang dicampakkan oleh Ken, dengan alasan yang sama pula yakni karena telah bosan dengannya.
Kenapa Jenar merasa sakit dengan sikap Ken ini? Padahal dia sudah tahu jika dalam hidup Ken memang selalu diisi dengan permainan saja.
"Aku pergi! Jangan temui aku lagi!" Kata Ken dengan gampangnya, Ken ingin menekan knop pintu dan segera keluar dari ruangan itu.
Tapi, Jenar pun segera beranjak cepat, demi mencegah kepergian Ken yang mendadak.
"Ken ..." lirih Jenar.
"Nanti aku transfer uang ke rekeningmu!" kata Ken pelan.
Jenar menarik lengan Ken, dia menatap Ken dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
"Ken, aku tidak butuh uangmu! Aku mau kau tetap bersamaku! Aku mau kita menjadi sepasang kekasih lalu ... menikah," Jenar mengatakan itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Walau bagaimanapun, hubungan Ken dengan Jenar adalah yang terlama dari wanita manapun yang pernah membersamai pria itu. Dan itu cukup membuat Jenar merasa diatas awan, dia mengira Ken tak akan pernah merasa bosan dengannya lalu akan mengajaknya ke jenjang yang lebih serius.
__ADS_1
"Apa?" Ken mengernyit karena penuturan Jenar. "Jen, kau tahu sejak awal kita hanya menjalin hubungan tanpa status! Dari dulu sudah ku ingatkan bahwa jangan pernah melibatkan perasaan dalam hubungan kita yang tak jelas ini..." sambungnya.
Jenar menggeleng keras.
"Dan apa aku tidak salah dengar? Kau mengharapkan status menikah denganku?" Ken terkekeh pelan. "Yang benar saja!" lanjutnya.
Ken cukup kesal dengan harapan absurd yang dilontarkan Jenar padanya, sejak awal dia sudah mewanti-wanti wanita ini agar tak bermain rasa padanya dan semua yang mereka lakukan hanya semata-mata mengalihkan problem serta bersenang-senang saja.
Ken juga selalu memberikan sejumlah uang pada Jenar untuk memenuhi segala kebutuhan wanita itu, tapi kenapa tuntutan Jenar padanya terasa sangat sulit dikabulkan? Ken tak memiliki rasa lebih pada Jenar selain teman kencannya saja.
"Ken..." Lagi-lagi Jenar hanya bisa memanggil nama Ken dengan lirih.
"Jen, dengar aku! Apa uang yang ku berikan padamu selama ini kurang? Oke, nanti ku transfer tiga kali lipat dari uang yang biasanya. Anggaplah itu sebagai ucapan perpisahan dan rasa terima kasihku padamu!" kata Ken pelan, mencoba memberi Jenar pengertian.
"Sudah ku bilang aku tak ingin uangmu, Ken!" protes Jenar keras.
"Lalu? Yang kau inginkan sebuah pernikahan denganku, begitu? Itu tidak mungkin!" kata Ken yang tak habis pikir dengan permintaan konyol seorang Jenar, padahal Jenar sudah jelas tahu jika mereka hanya bermain-main.
Seorang Ken, tidak akan pernah serius dengan satu wanita.
"Ken!!!" teriak Jenar mulai berang. "Kau breng-ssek!" umpatnya sambil menangis terisak.
Ken berbalik, menatap Jenar yang sudah banjir airmata. "Kau tahu aku breng-ssek! Kalau begitu, jangan harapkan pria seperti aku! Jangan buang airmatamu yang berharga hanya untuk lelaki sepertiku! Kau wanita yang baik, cari pria yang baik. Jangan seperti aku!" ucapnya.
Jenar menjeriti namanya beberapa kali namun Ken tak bergeming dengan hal itu, dia terus melangkah meninggalkan area apartemen yang ditinggali Jenar.
"Kau berhak dapat pria yang jauh lebih baik daripada aku, Jen!" gumam Ken sambil lalu.
_
Ken memantik api rokoknya ketika baru tiba di kediamannya, kediamannya adalah rumah sepetak yang ia kontrak selama dua tahun belakangan ini.
Asap rokoknya pun segera menguar diudara saat Ken menghembuskannya.
Ken terduduk di kursi dengan pikiran yang lagi-lagi berkelana pada masa silamnya. Satu-satunya masa yang cukup berarti dalam hidupnya adalah ketika SMA.
Ken tak begitu memikirkan kejadian yang baru saja terjadi di Apartemen Jenar dan ia juga tak mau ambil pusing tentang apa yang Jenar pikirkan tentangnya, karena ia cukup sadar bahwa ucapan Jenar itu ada benarnya, bahwa ia memang breng-ssek.
Kejadian semacam ini bukan sekali terjadi dihidupnya, ia sudah sering dicaci-maki wanita yang dikencaninya, padahal dari awal ia sudah memperingatkan pada para wanita itu agar tidak sampai terlibat rasa dengan dirinya.
Tapi, selalu saja ada yang tak terima dengan keputusan akhir saat Ken meminta berpisah dengan mereka secara baik-baik.
__ADS_1
Dan mengenai Jenar, Ken yakin jika wanita akan mendapat kebahagiaan suatu saat nanti-- bersama pria yang mencintainya, menghargainya dan tentu saja pria itu bukanlah seorang Kendra Winarya.
Yang Ken pikirkan saat ini justru adalah Zahra. Kenapa setelah sekian tahun, Zahra kembali dihadapannya?
Bahkan, demi mengalihkan pikirannya dari bayang-bayang Zahra yang tak sengaja ditemuinya tadi, membuat Ken jadi mendatangi Apartemen Jenar selepas sore tadi mengantar kepergian Zahra dengan taxi diujung jalan.
Tapi entah kenapa tetap saja Ken tak bisa menghilangkan wajah jelita gadis itu dari pikirannya. Sial-an!
Suara deringan ponsel Ken terdengar dan itu adalah panggilan dari sang Ayah. Ken melirik sekilas pada jam di dinding ruangan, waktu sudah menunjukkan cukup larut.
Untuk apa Papanya menelepon dimalam buta seperti ini?
Ken mengusap layar ponselnya demi menerima panggilan itu, ia mengira itu adalah panggilan urgent.
"Ken ... kapan pulang ke rumah? Besok Frans akan pulang, Papa harap kita bisa berkumpul sekeluarga!" ucap Bagas dari seberang panggilan, membuat Ken menyugar rambutnya kasar.
Ternyata bukan berita penting yang ia dapatkan, melainkan berita yang sama-- tentang kepulangan saudara tirinya itu.
"Papa saja yang berkumpul dengan mereka. Mereka keluarga Papa, bukan keluargaku!" cetus Ken dengan nada pelan.
"Ken! Tante Irene sudah menjadi istri Papa selama bertahun-tahun, apa kamu belum bisa menerimanya juga sampai hari ini?"
"No!" jawab Ken singkat.
"Ingatlah Ken! Setidaknya, Tante Irene jauh lebih baik daripada Mamamu! Dia tidak meninggalkan Papa walau Papa banyak kekurangan. Dia menemani Papa sampai saat ini dengan setia!"
Ken mendengkus keras. Papanya sering membandingkannya dengan Frans dan hari ini, Papanya bahkan membandingkan Mama kandungnya dengan wanita ular itu. Sepertinya, mata Papanya memang sudah tertutup, entahlah! Sulit menjelaskan pada sang Papa, agar memahami situasi yang sudah jelas-jelas terjadi.
"Pa ... walaupun aku tidak suka dengan sikap Mama yang sudah meninggalkan kita, tapi tidak seharusnya Papa membandingkan mereka secara langsung kepadaku! Coba Papa introspeksi diri juga, dimana letak kesalahan Papa sehingga Mama meninggalkan Papa!" ucap Ken tenang.
"Terserahlah! Intinya, kamu harus ada dirumah besok!"
"Untuk apa? Papa ingin aku menyambut kepulangan anak tiri papa itu?" kekeh Ken.
"Ken!"
"Jangan paksa aku, Pa! Aku sudah dewasa!"
"Pulanglah jika kamu masih menganggapku Ayahmu!" kata Bagas dengan nada tegas dari seberang sana.
Ken memutus panggilan itu sebelah pihak. Ia semakin kesal setelah menerima panggilan telepon itu. Bisa-bisanya ia dipaksa pulang seperti ini. Padahal ia sudah rela meninggalkan kediaman mewah sang Ayah dan mengontrak di rumah sepetak, demi menghindari bertemu atau berurusan dengan keluarga tirinya itu. Tapi kenapa ia masih selalu dikait-kaitkan juga sampai hari ini?
__ADS_1
...Bersambung ......