Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
A Big Love


__ADS_3

Ken tiba di Bengkel dengan keadaan badah kuyup karena hujan yang semakin deras.


Ken memarkirkan motor besarnya di garasi bengkel dan bersamaan dengan itu dia melihat Rasta yang sudah menunggunya sambil bersedekap didepan mobil tua yang belum sempat Ken kembalikan.


Tak terlalu heran, karena Rasta memang tahu kode untuk akses membuka pintu gerbang bengkel Ken.


"Lo, kenapa?" tanya Rasta melihat wajah Ken yang kusut.


Ken tak menjawab dan lebih memilih masuk ke dalam ruangannya.


Rasta mencebik dan mengangkat bahu, kemudian mengikuti juga langkah kawan karibnya itu masuk kedalam ruangan.


"Hana pergi ..." kata Ken tiba-tiba sambil membuka baju serta jaketnya yang telah basah.


Rasta mengernyit heran. "Maksud lo? Pergi gimana? Bukannya dia mau nikah sama Frans?" tanyanya.


Ken berdecak lidah. "Gue yang bakal nikahin dia," kata Ken sembari mencampakkan baju kotornya ke dalam tong diujung ruangan.


Rasta terkekeh pelan. "Jadi lo udah menang nih dari Frans?" cibir Rasta.


Ken diam tak menyahut.


"Tapi, gue bener-bener gak paham, Men!" kata Rasta menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"...kemarin lo bilang, Frans ngenalin Hana sebagai calon istrinya. Sekarang lo bilang, kalo lo yang bakal nikahin Hana, gimana ceritanya?" tanya Rasta menerka-nerka.


"Gak penting ceritain gimana-gimananya! Sekarang lo bantuin gue cari keberadaan Hana karena dia udah pergi," ucap Ken.


Rasta semakin bingung saja dengan penjelasan Ken yang tak detail.


"Gue mau nebak dulu, Cuuk!" Rasta tampak berpikir sambil menopang dagunya sendiri.


Ken menggeleng pelan, ia memilih meninggalkan Rasta agar berpikir sendirian. Ken masuk kedalam kamarnya untuk mencari kaos ganti.


Sampai akhirnya Ken kembali ke ruangan dimana Rasta berada, ternyata kawan karibnya itu masih disana dengan posisi yang sama.


"Jangan banyak mikir lo!" dengkus Ken tak senang melihat sikap Rasta yang mendadak fokus berpikir.


Rasta tiba-tiba menyeringai kecil, kepalanya seperti mendapat cahaya lampu ide yang tiba-tiba menyala, ia mulai bisa menarik kesimpulan yang terjadi dengan Ken.


"Malam tadi, lo dikasi obat pe-rang--sang sama Jenar! Terus, lo pergi gitu aja dari Club. Perkiraan gue, lo pasti ngelampiasin semuanya sama cewek, Cuuk!"


"... nah, tiba-tiba Hana pergi dan lo bilang lo yang bakal nikahin Hana, jadi yang terpikir di kepala gue sekarang ..." Rasta sengaja menggantung kalimatnya.

__ADS_1


"Apa?" senggak Ken tak acuh.


"Lo ngelampiasin has-rat semalam dengan Hana dan itu ngebuat dia pergi, kan!?" lanjut Rasta, itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan.


Ctakkk!!


Ken melempar Rasta dengan sebuah pulpen yang diambilnya asal diatas meja kerjanya.


"Kok lo lempar gue? Gue nebak be-go!" umpat Rasta.


Ken menghela nafas panjang.


"Gue hampir aja ngerusak Hana ..." kata Ken pelan.


"Apa maksud lo dengan 'hampir'?" tanya Rasta dengan dahi berkerut.


"Gue tahu diri kalo gue gak layak buat dia. Seperti yang pernah gue bilang, gue iblis sementara Hana malaikat! Tapi ... gue gak bisa ngebiarin dia nikah sama Frans ataupun orang lain. Gue sadar, gue ... gak bisa!" Ken menggelengkan kepalanya secara berulang.


"Ya, terus?"


"Gue biarin Hana berpikir kalo gue udah ngerusak dia!"


"Hah?" Rasta melongo.


"Gue bilang gue bakal tanggung jawab dan nikahin dia, tapi dia malah pergi dan gue gak tahu dia ada dimana sekarang!" Ken mendongak, menatap langit-langit ruangan dengan perasaan frustrasi.


"Menurut lo?"


"Kalo dalam kondisi sadar, gue rasa lo gak mungkin berbuat sejauh itu sama Hana! 'cause, i know about your big love! Tapi ... gue juga tahu kalo malam tadi lo udah terpedaya sama obat terkutukk itu, Bro! Jadi, kesimpulannya, gue gak yakin kalo lo gak ngapa-ngapain Hana!" kata Rasta dengan segala pemikirannya.


Ken menggelengkan kepalanya.


"Serius lo?" tanya Rasta yang tak percaya dengan isyarat jawaban Ken itu. "Gimana bisa? Pake apa lo ngeredam has-rat?" Rasta terkekeh heran dan tak habis pikir.


"Gue kabur ke kesana..." Ken menunjuk kamar mandi dengan dagunya. "Gue kunci pintunya. Terus, karena disini gak ada bathub dan adanya cuma bak air, yaudah... gue berendam disana!" akunya melanjutkan.


Mendengar itu, Rasta tertawa sampai terpingkal-pingkal. Bagaimana tidak, seorang Ken melakukan hal se-absurd itu? Padahal, Ken bisa menunjuk wanita mana saja yang dia mau saat dia butuhkan. Apalagi dalam kondisi urgent seperti itu. Ya, paling tidak itu juga bisa meredam keinginan Ken dan tak akan jadi menjamahh Hana-nya, bukan?


"Parah lo, Men!" Rasta menepuk-nepuk pundak Ken dengan perasaan campur aduk, antara bangga dan kasihan.


Rasta pun berjalan ke sisi jendela sambil mengulumm senyuman.


"Terus... lo yakin mau nikah? Gak sayang lo sama masa-masa emas lo didunia perberandalan ini? Kalo lo nikah udah pasti--"

__ADS_1


"Diem lo!" potong Ken cepat.


Ken membuka laci mejanya dan segera mengambil sesuatu disana.


Prakkk!!!


Ken melempar kunci mobil Rasta. "Pulang lo! Jangan numpang tidur disini!" katanya dan langsung berdiri dari duduknya, malas meladeni ucapan Rasta lagi.


"Oke, besok gue bantu lo cari Hana... bye!" Rasta meletakkan dua jarinya dipelipis, dan melayangkan itu seperti sikap hormat.


Seperginya Rasta, Ken melamun diatas tempat tidurnya. Ia memandang ke sisi kasur--dimana kemarin malam Zahra dalam keadaan tak berdaya sedang terbaring disana.


Secara mendadak, perasan khawatir serta rasa rindunya bergelung menjadi satu saat ini.


"Han, kamu dimana sekarang?" tanya Ken bermonolog lirih.


Sebenarnya, Ken berat hati mengajukan pernikahan pada Zahra. Bukan karena tak menginginkan gadis itu. Hatinya sangat ingin, tapi ia tahu kualitas dirinya, ia sadar bahwa ia tak layak untuk Zahra, ia melakukan semua ini agar Zahra tak menikah dengan Frans.


Bukan hanya dengan Frans, tapi setelah menatap Zahra yang tak berdaya kemarin, ia semakin sadar bahwa ia tak akan sanggup jika gadis itu jatuh kedalam pelukan pria manapun.


Keegoisan diri menyelinap masuk kedalam relung hatinya saat itu juga. Apalagi ia sudah dengan lancang mencuri ciuman gadis itu, yang mungkin adalah ciuman pertama Zahra!?


Sampai kapanpun ia tak akan rela jika Hana-nya dimiliki oleh pria lain.


Hana miliknya!


sejak dulu, bahkan sampai saat ini.


Walau ia tahu ia tak layak, tapi tetap saja ia tak bisa menerima jika Hana-nya sampai dimiliki oleh orang lain selain dirinya.


Mungkin dulu dia akan ikhlas jika memang Zahra menemukan pria baik diluar sana. Tapi, pertemuan kembali saat ini, membuatnya semakin tak rela saja.


Ia langsung mengikrarkan diri bahwa Hana-nya adalah mutlak miliknya! Walau kemarin malam tidak terjadi hal apapun dan sebenarnya ia memang belum memiliki gadis itu sepenuhnya.


Gadis itu mengatakannya seorang pecundang dan ia mengakui bahwa predikat itu telah lama disandangnya-- sejak ia tak berani menyatakan rasa pada sang gadis.


Kenyataannya, justru ia yang mendengar pengakuan gadisnya yang ternyata juga mencintainya. Membuatnya tak tahan dan langsung mengajukan tawaran pernikahan.


Biarlah gadisnya mengira ia breng-sek! Agar semua itu mengikat Hana-nya, agar tidak ada yang memilikinya selain dirinya.


Apa pun yang terpikirkan oleh Zahra terhadap perbuatannya, ia biarkan saja, karena sampai sekarang ia belum bisa menyatakan perasaannya pada gadis itu sebab ia selalu merasa hina dan nista.


"Sejak kapan kamu mencintaiku, Han? Kenapa harus aku?" Ken mencengkram kepalanya sendiri, lagi dan lagi ia merasa tak layak untuk gadis itu, tapi perasaannya begitu besar pada gadis yang sama.

__ADS_1


...Bersambung ......


...Jangan lupa like, love, komen, hadiah, dan vote♥️♥️♥️...


__ADS_2