Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Menjemput Frans


__ADS_3

Dengan langkah gontai, Ken memasuki gedung perkantoran yang menaungi perusahaan milik sang Ayah, ini semua ia lakukan karena ancaman Papanya itu. Walau Ken adalah pria berandal, tapi dia tetap tidak bisa mengabaikan Bagas yang tetaplah Ayah kandungnya.


Sampai diumurnya yang sekarang, Ken tidak tahu dimana Ibu kandungnya berada, jadi untuk sekarang memang hanya tinggal Ayahnya saja orangtuanya.


Ken juga bisa merasakan kepedulian orangtua hanya dari sosok Bagas. Walau bagaimanapun berandalnya Ken, sampai detik ini Bagas masih tetap menjalankan tugas sebagai Ayah untuknya, Bagas tetap menyokong hidupnya, memberinya kemudahan dan membantunya dikala kesulitan.


Sebagai seorang berandal, bukan sekali dua kali dia harus berhadapan dengan aparat berseragam dan selalu tertolong berkat kekuasaan yang dimiliki Ayahnya itu.


Dari usaha bengkel mobilnya, Ken bisa memiliki uang pribadi untuk kehidupan sehari-hari serta untuk kebutuhan yayasan yang dimilikinya secara diam-diam. Dia ingin uang halal yang dimilikinya tersalur dengan tepat.


Sementara uang dari Ayahnya yang tetap diberikan padanya setiap bulan, nyaris tak pernah disentuhnya untuk kehidupan sehari-hari. Sejak dulu, ia membiarkan uang itu menumpuk didalam rekeningnya. Uang itulah yang kadang ia gunakan untuk mentransfer sejumlah dana pada wanita-wanita yang dikencaninya.


Maka dia tak pernah keberatan untuk mentransfer uang pada para wanitanya karena uang yang dia berikan itu bukan dari betapa sulitnya ia mencari keuntungan.


Secara tak langsung, uang dari Ayahnya ia gunakan untuk hal yang tak benar. Entahlah, tapi begitulah perhitungan keuangan yang dijalankan oleh seorang Ken.


Meski begitu, Ken tak sembarangan berhubungan dengan para wanitanya. Yang berakhir di ranjang bersamanya tidak banyak, bisa dihitung sebelah tangan. Ken menganggap itu hanya pembelajaran saja baginya. Ken masih ingat akan penyakit yang mengintainya jika ia selalu mengandalkan hawa nafssu.


Seperti biasa, kedatangan Ken ke kantor Bagas selalu disambut dengan senyuman melengkung dari para wanita pekerja yang berada dalam lingkup naungan perusahaan Ayahnya.


Ken tidak memedulikan itu semua. Meski ia digelar sebagai pemain wanita di kalangannya, tapi ia tidak pernah mau terlibat dengan wanita-wanita yang menjadi pekerja dikantor Ayahnya.


Wanita yang membersamainya adalah wanita yang dikenalkan kawan-kawan sependosanya atau terkadang adapula yang berstatus sebagai model yang dikenalnya secara random.


Wanita terakhirnya, Jenar. Jenar sendiri adalah wanita kaya dan mandiri, yang dikenalnya dari Club malam. Jenar bukan wanita penggoda atau semacamnya, hanya saja pergaulan Jenar memang sudah sejauh itu dan dengan tanpa paksaan Jenar mendekati Ken lebih dulu, mungkin sudah tertarik sejak Ken masih bersama dengan Shella, yang juga adalah teman Jenar sendiri.


"Pa ..." Ken memasuki ruang kebesaran sang Ayah dan menyapa pria baya yang tampak fokus dengan beberapa berkas dihadapannya.


"Kamu datang juga, Ken..." Bagas melirik Ken sekilas lalu kembali pada berkas yang sudah menjadi atensinya sejak awal.


"Hmm..." dehem Ken singkat. Ken duduk di sofa yang ada dalam ruangan kerja Ayahnya diperusahaan raksasa itu.



"Sebentar, Papa hampir selesai menandatangani berkas ini. Kita langsung jemput Frans di Bandara, ya!" kata Bagas pelan.


Ken berdecak tapi dia tak mengucapkan kata protes lagi. Dengan ia mendatangi kantor Ayahnya lagi hari ini, itu berarti ia sudah siap dengan keputusan apapun yang sang Papa berikan, termasuk mengajaknya menjemput Frans.


"Apa calon istrinya ikut bersamanya?" tanya Ken dengan nada mencibir.

__ADS_1


Bagas tersenyum mendengar pertanyaan Ken itu, ia tak segera menjawab lebih memilih merapikan berkasnya, karena telah selesai dengan hal itu. Pria itupun berdiri dari duduknya, berjalan menghampiri Ken disisi ruangan.


"Ternyata kamu bukan mau menjemput Frans, tapi penasaran dengan calon istrinya, ya?" Bagas terkekeh pelan.


Ken tersenyum miring, tidak menyanggah ucapan sang Ayah karena itu ada benarnya. Ia memang cukup penasaran dengan wanita yang akan dikenalkan Frans sebagai calon istrinya itu.


"Ken, Papa harap kamu tidak mengganggu Frans kali ini," kata Bagas mewanti-wanti.


Sekarang giliran Ken yang terkekeh. "Sudahlah, Papa mau berangkat sekarang? Atau nanti sore?" Ken berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar, kedatangannya memanglah untuk menjemput sang Papa saja.


Mereka berjalan beriringan, dua pria berbeda generasi itu pun tampak akrab dimata orang lain. Namun, sejatinya tidak selamanya yang terpandang mata akan sama dengan realitanya, kan?


Ken datang ke kantor Bagas menggunakan motor biasa yang dibelinya dari uang pribadinya walau berulang kali Bagas memprotes tentang kendaraan yang Ken gunakan itu, tapi tak membuat Ken menggantinya.


"Mobil Papa disana, Ken!" Bagas menunjuk sebuah mobil Alphard berwarna putih yang biasa dia gunakan untuk kesehariannya.


Ken berdecak lagi, menunjukkan sikap tak suka yang terang-terangan.


"Aku akan menyupiri kalian berdua kali ini? Ya ya ya, tampangku memang layak sepertinya," kata Ken mengambil remot mobil dari tangan Bagas.


Bagas bukan berniat menjadikan Ken supir, dia memiliki supir pribadi, hanya saja hari ini dia ingin lebih akrab dengan Ken dan Frans saja tanpa adanya supir dan itu justru membuat Ken tersinggung.


"Papa gak bermaksud begitu, Ken!" kata Bagas yang mulai memasuki mobilnya, duduk disamping Ken yang berada dibelakang kemudi.


Mobil itupun mulai melaju dengan kecepat sedang, meninggalkan basement gedung yang menjadi pusat perusahaan raksasa milik Bagas Winarya, Ayahnya.


___


Frans tiba di Bandara saat hari menjelang siang. Ia menunggu kedatangan Bagas yang mengatakan akan menjemputnya hari ini di Bandara.


Tak menunggu lama, Frans sudah dapat melihat Ayah tirinya itu datang ke arahnya bersama dengan ... Ken.


Frans mencoba memasang wajah gembira, walau sebenarnya ia tak begitu mengharapkan adanya Ken diantara ia dan Bagas hari ini.


"Frans..." Bagas memeluk Frans dan menepuk-nepuk punggung anak sambungnya itu dengan akrab.


"Pa ..." Frans melakukan hal serupa.


Kemudian tautan itu terlerai, Frans menatap Ken sekilas dengan seyum tipis yang dipaksakan, sedangkan Ken sendiri lebih memilih membuang pandangan ke arah lain.

__ADS_1


Sepertinya perang dingin diantara mereka tidak pernah berakhir.


Frans membuka kacamata hitam yang sebelumnya bertengger di pangkal hidungnya. Menyampirkan itu secara asal didalam saku bajunya, mencoba bersikap santai meski pertemuan pertamanya dengan Ken hari ini sudah membuatnya tersulut emosi.



"Mana calon menantu Papa?" tanya Bagas sembari melihat ke sekeliling Frans.


Frans terkekeh. "Sebenarnya dia sudah ke Indonesia lebih dulu, Pa!" jawabnya pelan.


"Oh ya? Kenapa tidak bilang? Seharusnya Papa suruh supir menjemputnya saat tiba di Indonesia," kata Bagas.


Ken hanya diam dan menjadi pendengar saja, dia tak mau menimpali percakapan antara Papa dan saudara tirinya itu.


"Kebetulan dia juga orang Indonesia, Pa. Jadi tidak perlu dijemput, dia gadis yang mandiri." kata Frans memuji gadisnya.


"Loh, Papa pikir gadis itu warga Singapore. Jadi dia orang sini juga. Di kota mana dia tinggal, Frans?"


"Disini, Pa." kata Frans tersenyum, dia menjadi rindu akan sosok Zahra.


"Wah ... atau jangan-jangan gadis itu juga staff yang bekerja di perusahaan cabang Singapore, ya?" tanya Bagas dengan nuat berseloroh tapi ternyata Frans mengangguki pertanyaannya.


"Serius?" tanya Bagas saat mereka sudah tiba di depan mobil.


"Iya, Pa..." jawab Frans pelan.


Ken tiba-tiba tertawa sumbang, tawa yang terdengar mengejek ucapan kenyataan yang baru Frans utarakan pada Bagas, sang Ayah. Ken tak tahan untuk tidak ikut menimpali hal yang dianggapnya lucu itu.


"Kenapa tertawa Ken?" tanya Bagas yang sudah masuk mobil dan memasang seatbelt, dia menatap Ken dengan tatapan bingung. Kenapa Ken tertawa? Hal apa yang lucu?


Ken menjawab pertanyaan Ayahnya saat Frans sudah duduk di jok belakang, dengan posisi yang tepat dibelakangnya.


"Ternyata dia jauh-jauh ke Singapore bukan untuk bekerja, tapi berpacaran! Lebih parahnya yang dipacari adalah pekerja Papa," sindir Ken sembari menyalakan mesin mobilnya.


Frans tersenyum miring dengan ujaran kebencian yang disampaikan Ken, seilah menunjukkan sindiran yang terang benderang.


"Aku selalu menghindari para pekerja Papa yang menggodaku, karena aku tidak tertarik menjalin hubungan dengan wanita-wanita itu!" kata Ken meremehkan.


Mendengar itu, Frans akhirnya angkat bicara juga. Dia tak senang dengan ucapan Ken yang seolah menjelekkan gadisnya.

__ADS_1


"Dia bukan wanita seperti itu! Dia tak pernah menggodaku seperti para staff papa yang kau maksudkan itu!" dengkus Frans keras.


...Bersambung ......


__ADS_2