
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun terlewati, Devia harus bertemu dengan Bagas yang datang ke Rumah Sakit bersama dengan Irene.
"Terima kasih banyak, Dev. Kau banyak direpotkan karena keadaan Frans," kata Bagas memulai percakapan canggung mereka.
"Iya," jawab Devia singkat. Ia segera berlalu dari ruangan itu dengan wajah datar, membiarkan Irene dan Bagas melihat keadaan Frans yang mulai membaik setelah dirawat cukup lama mulai dari operasi hingga pasca operasi.
Devia duduk di kursi tunggu, tak berapa lama dari itu Irene keluar dari dalam ruangan Frans dan duduk disampingnya.
"Mbak..." sapa Irene.
"Hmm."
"Aku mengucapkan banyak terima kasih pada Mbak Dev, karena mau menjaga Frans selama kami berada di Luar Negeri, aku tahu aku banyak salah dengan Mbak, aku minta maaf pada Mbak atas kesalahanku selama ini," tutur Irene dengan suara parau menahan isak.
"Tidak masalah dan tidak perlu membahas kesalahan masa lalu semuanya sudah lama berlalu, Ren.."
"Aku terkejut dan tidak menyangka Mbak mau menjagai Frans, aku pikir---"
"Bagaimana pun Frans adalah keponakanku juga, Irene..." potong Devia.
"Te-terima kasih, Mbak. Aku tidak tahu harus membalas kebaikan Mbak dengan cara apa. Aku malu pada Mbak, aku memiliki banyak kesalahan pada Mbak."
Devia hanya membalas ucapan Irene dengan senyuman tipis, kemudian ia berlalu dari sana. Ia pergi menuju taman rumah sakit untuk menenangkan diri, bagaimanapun belenggu masa lalu tetap hinggap dalam dirinya sejauh apapun ia pergi selama ini. Ia telah memaafkan Irene dan menganggap segalanya telah berlalu, namun sakit dihatinya saat mengingat momen masa lalu tetaplah tidak bisa hilang begitu saja.
"Tante...."
Devia menoleh dan melihat Jenar ada disana.
"Ada apa, Jen?" tanya Devia sembari menyusut airmatanya sekilas.
"Maaf jika aku agak sedikit ingin tahu, maaf juga karena aku tidak bermaksud mencampuri urusan Tante dan Tante Irene, hanya saja aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian tadi," kata Jenar.
Devia mengangguk samar. "Apa yang ingin kamu tahu, Jen?"
"Siapa ayah kandung Frans, Tant? Aku jadi menduga-duga karena aku mendengar tante mengatakan bahwa Frans adalah keponakan Tante.... itu maksudnya--"
"Ayah Frans adalah Adik kandung saya, Fabio Septian," ucap Devia tenang namun Jenar terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Masa lalu kami tidak baik, Jen. Ayah Ken berselingkuh dengan Irene disaat anak-anak kami masih sangat kecil," terang Devia.
"Fabio memaafkan hal itu, dia membawa anak dan istrinya pergi dari kota ini. Lalu, beberapa tahun kemudian Fabio meninggal karena kecelakaan kerja. Irene kembali ke sini dan perselingkuhan itu terulang kembali hingga saya tidak bisa memaafkan Bagas lalu memutuskan berpisah, tak lama dari itu Irene dan Bagas benar-benar menikah," imbuhnya.
"Lalu? Ken dan Frans tidak tahu bahwa sebenarnya hubungan mereka bukan hanya sekedar kakak dan adik tiri? Mereka tidak tahu bahwa mereka saudara sepupu?"
Devia menggeleng. "Tidak, bahkan Irene tidak memberitahu Frans siapa ayah kandungnya. Frans tahu nama ayah kandungnya tapi tidak tahu asal usulnya dan siapa keluarga ayahnya."
"Bukankah ini tidak adil untuk mereka, Tant? Mereka hidup dalam permusuhan selama ini..." lirih Jenar.
"Ya, beberapa kali tante ingin memberitahukan ini namun Irene mencegah hal itu, dia mengatakan hubungan persaudaraan Ken dan Frans telah terputus."
"Astaga..."
"Tante menyayangkan hal itu, tante ingin mengatakan pada Ken mengenai ini tapi semuanya sudah terlanjur terjadi, saat tante bertemu Ken lagi... Ken dan Frans sudah terlanjur sangat membenci satu sama lain."
______
Beberapa hari kemudian, Frans yang mulai pulih, mau tak mau harus kembali ke balik jeruji besi untuk menghabiskan masa tahanannya selama kurang lebih 5 tahun kedepan. Kepulangannya ke hotel prodeo dijaga ketat dan ikut diantar oleh Irene Sementara Bagas berisitirahat dirumah karena dalam masa pemulihan juga sepulang dari Luar Negeri.
"Soal apa, Ma?"
"Selama Tante Devia menjagaimu dirumah sakit, apa dia ada mengatakan sesuatu?"
"Sesuatu yang seperti apa? Tidak ada, Ma. Tante Devia sangat baik... aku merasakan dia menyayangiku, Ma. Sama seperti Mama memperlakukan aku. Andai saja dia bukan ibunya Ken..."
"Kau masih membenci Ken?"
"Tentu saja, Ma. Dia merebut segalanya dariku!" ucap Frans.
"Frans, anggaplah sakitmu yang kemarin menjadi pembelajaran. Mama berharap kamu melupakan dendammu pada Ken. Ingatlah kebaikan Ibunya yang menjagaimu hampir dua bulan ini."
Frans tersenyum kecut. "Apa kepala Mama ada terbentur saat di Luar Negeri? Kenapa tiba-tiba Mama jadi memintaku melupakan dendam pada Ken? Mungkin iya aku berterima kasih pada Tante Devia, tapi untuk tidak membenci Ken, aku tidak bisa. Aku tidak punya alasan untuk menerimanya dihidupku!" tegas Frans, mana mungkin dendamnya selama bertahun-tahun hilang begitu saja hanya karena dirawat oleh Devia.
"...Ken merebut segalanya dariku. Apa yang aku inginkan selalu dia yang lebih dulu memilikinya. Kasih sayang Papa, Harta Papa, Hak waris Papa, serta semua hal yang dari kecil ku inginkan, diambil alih oleh Ken begitu saja, puncaknya dia menikahi wanita yang ku cintai, Ma!" keluh Frans.
"Soal harta papamu, itu memang mutlak hak Ken sebagai putera kandungnya..." lirih Irene, namun Frans berdecik mendengarnya.
__ADS_1
"...tapi, ada hal yang tidak Ken dapatkan, Frans..." sambung Irene.
"Apa, Ma? Semuanya dia ambil dariku!" dengkus Frans.
Irene menggeleng. "Kasih sayang Mama, sepenuhnya untuk kamu, Frans. Tidak pernah Mama berikan secuilpun untuk Ken walau seharusnya wajar jika mama memberikan itu sedikit pada anak sambung Mama, tapi tetap tak mama beri karena Mama memikirkan perasaanmu."
Frans terdiam, mencerna ucapan sang Mama.
"Mama telah salah mendidikmu, Frans. Selama ini, sudah jelas Mama tahu bagaimana perlakuanmu pada Ken, tapi Mama diam saja dan tidak membela Ken meski mama tahu yang salah itu kamu dan yang benar itu Ken. Semua mama lakukan karena Mama tidak mau ada sedikitpun rasa peduli yang tercurah kepada Ken."
"Ma...."
"Tapi melihat perlakuan Mbak Devia terhadap kamu selama dirawat... ini seperti cambukan untuk Mama, Frans! Mama yang tinggal bersama Ken dalam satu atap selama bertahun-tahun tidak bisa melakukan hal seperti itu, tapi Mbak Devia bisa merawat kamu sedemikian, jujur saja Mama malu. Mama malu telah salah mendidik kamu dan salah memperlakukan Ken selama ini."
Frans terdiam lagi, isakan sang Mama membuatnya memikirkan tentang ucapan yang Mamanya lontarkan.
"Kamu tahu siapa ayah kandungmu, Frans?" tanya Irene menatap netra Frans lekat.
"Kenapa cerita ayah kandungku? Ayahku Bagas Winarya!" jawab Frans pelan sembari membuang pandangan.
"Bagas Winarya adalah ayah sambungmu! Yang mama tanya siapa ayah kandungmu, Frans!" tegas Irene.
Frans tidak menjawab, baginya ayahnya hanya Bagas tidak ada yang lain lagi. Tidak ada sosok ayah yang ia kenal kecuali Bagas.
"Ayah kandungmu Fabio Septian, adik kandung dari Devia Septina, Mama Ken!"
Frans terbelalak mendengar kenyataan ini. "Apa maksud mama?" tanyanya tak percaya.
Irene terisak. "Maaf mama menyembunyikan kenyataan ini, Nak. Ini semua mama lakukan karena mama tidak mau kamu tahu aib mama ... yang mama tutupi."
"Jelaskan padaku apa maksudnya ini, Ma?" tuntut Frans.
"Ken saudara sepupumu. Itu saja yang perlu kamu tahu, selebihnya tidak!" ucap Irene, ia terlalu malu jika anaknya tahu tentang kebobrokannya, tentang hubungannya dengan Bagas dahulu yang dimulai dengan penghianatan dan perselingkuhan.
Frans membeku saat mengetahui kenyataan baru yang membuatnya terkejut bukan main. Ia tak tahu kenapa baru sekarang Ibunya memberitahukan perihal ini. Mungkin Irene benar-benar malu melihat sikap hangat yang ditunjukkan Devia pada Frans, sementara ia sebagai ibu sambung Ken, tidak bisa berlaku demikian terhadap anak sambungnya.
******
__ADS_1