
Ken keluar dari kediaman sang Ayah. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, ia tak habis pikir dengan keputusan sang Ayah yang mendepaknya begitu saja karena permasalahan ini.
Ya, Ken sadar bahwa perbuatannya terhadap Zahra-- dimata sang Ayah-- sangatlah memalukan, karena sejatinya Papanya memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia bisa memaklumi kemarahan Papanya itu, namun ia tak pernah menyangka jika konsekuensi yang harus dihadapinya adalah dengan namanya yang dicabut dari daftar hak waris.
Ken menghentikan motornya di pinggir danau, danau itu sepi dan hanya beberapa orang yang tampak memancing disana itupun tidak didekat posisi Ken saat ini.
Ken mulai turun dari motor dan berjalan ke pinggiran danau itu. Sinar matahari mulai sayup-sayup meredup saat Ken tiba disana, membuatnya cukup terhalau cahaya yang tidak begitu silau.
Ken menatap ketenangan air di danau itu. Tidak ada riak atau gemericik air, yang ada hanya senyap disertai desiran halus angin yang menerpa kulit wajahnya. Keadaan itu cukup menenangkan gemuruh dihatinya.
Seumur hidupnya, baru kali ini ia merasa tak dianggap sama sekali. Walaupun harta bukan segalanya baginya dan ia terbiasa hidup tanpa hal itu, tapi yang membuat perasaannya nyeri adalah statusnya yang kini benar-benar telah terbuang.
Tiba-tiba ia tertawa pelan, ia pernah menaruhkan semua yang ia miliki sebagai pertanggung jawabannya pada Zahra. Ia rela menyerahkan segalanya asal mendapat maaf dari gadis itu. Ya, mungkin ini memang konsekuensi yang tepat untuknya, walau bukan menyerahkan semua miliknya pada gadis itu tapi saat ia mengatakan hal itu pada Zahra, ia benar bersungguh-sungguh.
Sekarang lihat? Tuhan mengabulkan ucapannya, kan? Semua miliknya sudah lenyap. Tapi, apa Zahra sudah memaafkannya jika begini? Entahlah.
"Han ... selain miskin akhlak, aku juga udah miskin harta! Apa sekarang kamu udah mau maafin aku?" gumamnya sambil terduduk di tanah pinggiran danau itu.
Ken mengambil kerikil kecil yang ada didekatnya, melempar itu jauh ke tengah-tengah air danau, menimbulkan bunyi khas lalu menampilkan lingkaran-lingkaran air yang mengembang ditengah-tengahnya.
"Aku harus cari kamu kemana?" lirihnya pelan sambil mengusap wajahnya.
Ada rasa sesal dalam hatinya akan semua yang terjadi, tapi bukan semata-mata karena dicabutnya namanya dari hak waris, melainkan kepergian Zahra lah yang membuatnya paling menyesal.
"Kita bahkan baru bertemu sebentar dan itu belum bisa menggantikan waktu 10 tahun perpisahan kita, Han! Kenapa sekarang kamu pergi lagi? Seperti waktu itu!" Ken menunduk--ia mengingat saat Zahra pergi tanpa pamit padanya saat ingin berkuliah--bahkan sampai saat ini, Ken tidak tahu apa alasan Zahra pergi begitu saja waktu itu. Ia marah saat tahu Zahra meninggalkannya, ia tak tahu Zahra kemana karena semua orang yang mengenal Zahra seolah tak ingin memberitahunya, termasuk Bu Nurma juga tutup mulut tentang keberadaan gadis itu.
Ia tahu Zahra ke Singapore pun baru-baru ini setelah pertemuan kembali pada saat makan malam itu. Sehingga ia merasa dipermainkan oleh semesta--ternyata gadisnya bekerja di perusahaan cabang Singapore milik Ayahnya sendiri.
Dulu, ia terlanjur kecewa dan merasa tak dianggap oleh gadis itu, sehingga meski ia pernah mencari keberadaan Zahra tapi itu tak dilanjutkannya karena kekecewaannya.
Disitulah awal - mula ia merasa menjadi pecundang.
Meski ia bisa menyusul Zahra jika tahu keberadaan gadis itu, tapi itu tidak ia lakukan, karena ia merasa Zahra memang tak pernah menganggapnya, ia merasa cintanya sudah bertepuk sebelah tangan sejak lama.
Lain hal dengan sekarang. Sekarang, ia sudah tahu perasaan gadis itu terhadapnya. Haruskah ia membiarkannya saja? Sedangkan saat ini, Zahra sendirian dan entah berada dibumi bagian mana.
__ADS_1
"Kalau aku gak mencari kamu, aku takut kamu kembali dihadapanku saat kamu sudah bersama orang lain." Ken bermonolog, ia mengingat momen saat Zahra kembali dari Singapore dan justru sebagai gadis pilihan dari Adik tirinya, ia tak mau mengulangi kesalahan yang sama. Itu artinya, ia harus tetap mencari Zahra--walau ia belum menemukan titik terang sedikitpun.
_____
"Selamat pagi..."
Zahra menoleh ke ambang pintu ruangan dan Zaki berdiri disana dengan senyuman yang ramah.
"Eh, ya... selamat pagi," sahut Zahra ikut tersenyum kecil.
"Gimana? Apa aja yang udah kamu pelajari hari ini?" tanya Zaki menghampiri meja Zahra.
"Belum banyak, kan baru tiba disini setengah jam yang lalu," jawab Zahra pelan.
Zaki tersenyum, kemudian pemuda itu memberikan map berisikan beberapa gambar desain ke hadapan Zahra.
"Apa ini?" tanya Zahra.
"Ini beberapa contoh desain, kamu lihat saja dulu. Mungkin ini bisa memberi kamu inspirasi," terang Zaki sambil menatap lekat wajah Zahra. Zahra langsung membuang pandangan karena merasa tak enak hati dengan tatapan pemuda itu.
"Apa Tante Devia sudah datang?" tanya Zahra mengalihkan pembicaraan.
"Hmm..." Zahra hanya berdehem dan berusaha fokus pada gambar-gambar desain perhiasan yang baru saja diberikan Zaki padanya.
Kemudian, Zaki beranjak dan duduk dihadapan Zahra, hanya sebuah meja yang menghalangi jarak mereka. Pemuda itu bersedekap santai sambil memperhatikan wajah Zahra yang tengah fokus.
Zahra merasa tidak nyaman dengan hal itu, meski matanya fokus ke gambar yang ia pegang, tapi ia tahu jika saat ini Zaki tengah memperhatikannya dengan lekat.
Zahra mengadah, melihat Zaki sekilas, seolah ingin menangkap basah pria yang terang-terangan menatapnya itu.
"Apa ada yang salah denganku?" tanya Zahra to the point.
Zaki mengendikkan bahu sambil tersenyum kecil. "Maksudnya?" tanyanya berlagak bodohh.
"Apa diwajahku ada sesuatu? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Zahra tenang.
__ADS_1
Tiba-tiba Zaki terkekeh. "Tidak boleh, ya?" tanyanya menantang.
Zahra menggeleng. "Aku--aku tidak nyaman!" kata Zahra memberanikan diri.
"Sorry," kata Zaki.
Zahra hanya geleng-geleng kepala dan kembali memperhatikan desain gambar yang mungkin bisa memberinya ide.
"Jika boleh jujur, aku jadi mendapat inspirasi saat melihat kamu," celetuk Zaki tiba-tiba dan berhasil membuat mata Zahra membola mendengarnya.
"Inspirasi? Inspirasi apa?" tanya Zahra dengan ekspresi terkejut.
"Sang pemikat!" kata Zaki cepat.
Zahra melotot pada Zaki, terperangah dengan ucapan pemuda itu.
"Aku jadi punya tema untuk katalog berlian edisi berikutnya. Temanya 'sang pemikat', seperti kamu!" sambung Zaki sembari tersenyum penuh arti.
Belum sempat Zahra menanyakan apa yang dimaksudkan oleh pemuda itu, Zaki telah bangkit dari duduknya dan berjalan lalu menekan knop pintu.
Zahra masih terdiam membeku, mencerna apa maksud Zaki.
"Terima kasih, berkat kamu aku jadi punya ide untuk desain baruku." Zaki keluar ruangan setelah mengucapkan kalimat itu.
Zahra sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah pemuda yang baru dikenalnya itu.
"Ada - ada saja," kata Zahra tak habis pikir.
Gadis itu pun beranjak dari kursi kebesarannya, ia memandang ke arah luar jendela dan menatap pemandangan dari lantai tempatnya berpijak.
Saat ia ingin memikirkan tentang rancangan ide yang akan diusungnya, justru yang terpikir dikepalanya adalah sosok pria yang sudah melukainya terlalu dalam.
"Apa sekarang kamu mencariku? Atau justru kamu senang dengan kepergianku?" gumamnya dengan rasa sesak dihati.
"Gak! aku gak boleh menangis lagi hanya karena kamu, Ken..." Zahra menyusut airmatanya yang selalu jatuh tiap ia mengingat pria yang sama.
__ADS_1
Rasa sakit hati dan kecewanya terlalu dalam pada Ken, tapi ia juga tak bisa memungkiri jika perasaan cintanya jauh lebih besar terhadap pria itu.
...Bersambung ......