
Ken tidak habis pikir, kenapa gadis bernama Zahra itu selalu memaksanya untuk mengikuti bimbingan belajar, padahal Ken sudah menolak dengan tegas dan tak mengindahkan segala bujukan gadis itu.
Imbasnya, sekarang Zahra seperti anak ayam yang mengikuti kemanapun Ken pergi bila di area sekolah.
Jika jadwal sekolah berakhir, Ken merasa amat lega karena bisa terbebas dari bujukan Zahra yang tiada habisnya.
Hari ini, rencananya Ken akan bertemu teman-teman satu Genk-nya di club anak jalanan sepulang sekolah, tapi lagi-lagi hanya karena perkara gadis bernama Zahra itu, Ken terpaksa harus menunda hal nya.
Kali ini Zahra bukan mengikuti Ken seperti didalam sekolah, melainkan gadis itu terjatuh sebab disenggol oleh seorang pengendara sepeda motor.
Entah kenapa Ken justru menolong gadis menyebalkan itu dan melupakan janjinya pada teman satu Genk-nya siang ini.
Ken menepikan motornya di pinggiran jalan demi menghampiri Zahra yang terduduk di depan sana. Suasana sekitar sekolah memang tampak mulai lengang karena murid yang lain mungkin sudah pulang sedari tadi.
Ken masih disekolah karena dia mengikuti ektrakurikuler taekwondo, sementara Zahra, mungkin dia terlambat pulang karena mengajari beberapa murid yang mengikuti bimbelnya sepulang sekolah
"Lo gak apa-apa?" tanya Ken yang melihat Zahra tengah membersihkan lengan dan bajunya sendiri.
Zahra mengadah dan sedikit terkejut mendapati Ken yang ingin menolongnya.
Zahra menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Ken.
"Tapi itu tangan lo lecet dan berdarah," kata Ken merujuk pada telapak tangan Zahra yang terkena kasarnya aspal.
"Iya, gak apa-apa ini cuma sedikit." Zahra tersenyum kecil sembari berdiri, gerakan itu pun diikuti Ken yang sebelumnya ikut berjongkok didepan Zahra.
"Lo mau kemana?"
"Aku mau pulang."
"Siapa yang jemput lo?"
"Naik ... angkot," kata Zahra. (*Angkot \= Angkutan kota)
Ken terdiam sejenak seperti tengah mempertimbangkan sesuatu.
"Lo ikut gue!" Ken menarik lengan Zahra menuju ke motornya. Zahra sedikit terkejut dengan sikap yang Ken tunjukkan ini dan tubuhnya sedikit terhuyung karena gerakan refleks Ken yang menariknya.
"Kita mau kemana?" tanya Zahra yang melihat Ken sudah menaiki motor besarnya lalu mengenakan helm.
"Naik!" kata Ken.
"Na-naik?"
"Naik ke motor gue, gue anter lo pulang!"
"Tapi, Ken?" Zahra mencoba protes, tapi Ken segera menstater motornya sambil berkata-kata.
"Lo bilang mau jadi temen gue kan? Ayo buruan! Gue masih ada kegiatan lain yang lebih penting!"
Zahra mendengkus pelan, sebenarnya ia juga tak mau memaksa Ken berteman dengannya jika tidak memikirkan bimbel itu. Tapi melihat kebaikan hati Ken hari ini yang cukup peduli saat dia terjatuh tadi, ia jadi enggan menolak tawaran Ken.
Zahra pun menaiki motor besar Ken dengan ragu-ragu.
"Pegang pundak gue, baru lo naik! Jangan duduk nyamping, gue gak biasa!" kata Ken seolah tahu jika ia kesulitan menaiki motor sang empunya.
Zahra menuruti saja pemintaan Ken, walau memegang pundak kokoh lelaki itu membuatnya cukup tak enak hati.
Demi apapun, ini adalah pertama kalinya Zahra memegang pundak seorang lelaki yang seusia dengannya dan lagi posisi duduknya sekarang membuatnya harus mengangkat rok sekolahnya sedikit tinggi, syukurlah dia memakai celana panjang disebalik rok itu, jika tidak pastilah kakinya akan terekspos jelas.
"Udah?" tanya Ken memastikan.
__ADS_1
"Udah," jawab Zahra menggigit bibir, risih dengan posisi duduk dibelakang punggung Ken yang bidang.
Ken yang sudah menyalakan mesin motornya sedari tadi pun langsung tancap gas.
"Rumah lo dimana?" pekik Ken sembari menoleh kesamping sekilas, karena suara motornya beradu dengan suara kendaraan lain yang ada di jalanan.
"Aku tinggal di Panti asuhan."
"Apa?"
"Di Jalan Anggrek, panti asuhan."
Ken mengangguk, kemudian menarik gas motor semakin kencang.
"Pelan-pelan, Ken!" pekik Zahra dibelakang tubuh Ken.
"Gue gak bisa bawa motor kayak siput! Kalo lo takut, ya lo pegangan!" kata Ken sembari semakin melajukan motornya dengan sangat cepat.
Zahra menutup matanya karena takut, ternyata menerima tawaran untuk diantar Ken, tidak lebih baik! Tahu begini, lebih bagus tadi dia menaiki angkutan umum saja. Tanpa Zahra sadari, dia ternyata mencengkram baju dibagian pinggang Ken karena takut terjatuh.
Sementara Ken, sudut bibirnya tertarik keatas karena menyadari jika gadis yang diboncengnya tengah ketakutan dibelakang tubuhnya dan kini mencengkram kemeja sekolahnya dibagian pinggang.
Tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka sampai motor Ken berhenti tepat di depan panti.
Untuk kedua kalinya, Zahra memegang pundak Ken agar bisa menuruni motor gede yang tinggi itu.
"Ngapain?" Zahra mengernyit heran karena Ken justru membuka helmnya dan ikut turun dari motor setelah dia beranjak.
"Gue mau main ke panti. Gak boleh?" tanya Ken tersenyum miring.
Zahra mengangguk, tapi sepersekian detik berikutnya dia menunduk sembari memegang erat kedua tali ransel yang ada dikiri-kanan tubuhnya.
Entah kenapa melihat senyuman Ken itu cukup membuatnya gugup. Sekali lagi, ini adalah pengalaman pertamanya merasa seperti ini pada lawam jenis.
"Kak Hana ..." sapa anak-anak kecil yang langsung mendekat ke arah Zahra. Dan anak yang terlihat paling kecil dari yang lainnya, justru memeluk Zahra dengan senyum terkembang.
"Cira ... udah makan siang belom?" tanya Zahra membelai pipi gadis kecil itu.
Anak perempuan kecil itu mengangguk dengan senyuman melengkung.
"Bagus, udah sholat Dzuhur belom?"
Gadis kecil bernama Cira itu kembali mengangguk.
Zahra mengusak gemas rambut dipuncak kepala Cira.
"Good..." Zahra mengacungkan jempol didepan Cira dan Cira tertawa malu-malu.
"Kak, abang ini siapa, Kak? Pacar Kak Hana ya?" celetuk salah satu anak panti yang lain.
Zahra menoleh ke arah Ken yang berdiri dibelakamg tubuhnya, kemudian menatap anak laki-laki yang usianya sekitar 10 tahun-an itu.
"Dito ... jangan yang aneh-aneh ya. Ini teman sekolah Kakak," kata Zahra tenang, namun wajahnya sudah merona akibat pertanyaan anak lelaki bernama Dito itu.
"Aku pikir pacar Kak Hana. Cocok euy!" sahut Dito terkekeh dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Udah ih, kamu udah makan dan sholat, belum?"
"Udah, dong, Kak!" jawab Dito bangga.
"Udah ngerjain PR, belum?"
__ADS_1
Anak lelaki bernama Dito itu cengengesan, menunjukkan giginya yang tampak keropos di bagian depan. "Belum, hehehe ..." ucapnya nyengir.
"Ya udah, kerjakan PR nya ya..."
Dito mengangguk dan memimpin Cira untuk menuju ke arah yang berlawanan, sepertinya mereka kembali masuk kedalam ruangan lainnya.
"Kak Hana, aku juga belum selesai ngerjain PR, ada yang gak paham." timpal seorang anak perempuan lain yang diangguki beberapa kawan-kawannya yang juga ada disana.
"Ya udah, nanti Kak Hana bantuin ya,"
"Oke, Kak Hana cantik ..." Usai mengatakan itu, semua anak-anak yang berada disana pun berlalu dari hadapan Ken dan Zahra.
Zahra menoleh pada Ken sekilas, karena lelaki itu diam saja sedari tadi.
"Maaf ya, suasana panti memang agak riuh seperti itu. Jangan dipikirkan apa yang mereka katakan tadi," kata Zahra mencoba tersenyum pada Ken.
Ken mengangguk singkat.
"Ayo duduk dulu," kata Zahra walau tak tahu apa niat Ken yang ikut masuk ke dalam panti.
Ken duduk di kursi rotan sederhana yang ada di ruang tamu panti.
"Aku buatkan kamu minum dulu,"
"Gak usah!" sahut Ken cepat.
"Gak apa-apa."
"Gue bilang gak usah. Lo ada obat gak?" tanya Ken.
"Obat? Kamu sakit?"
Ken menggeleng. "Obat merah dan alkohol... untuk luka di tangan lo!" katanya.
Zahra terdiam. Apa Ken kesini untuk membantunya mengobati tangannya yang terluka tadi?
Belum sempat Zahra mengucap kalimat, tiba-tiba ibu panti sudah datang diantara mereka.
"Eh, ada tamu..." sapa Bu Nurma, sang ibu panti.
Ken tidak menjawab sapaan Bu Nurma, tapi dia bangkit berdiri, kemudian menyalami takzim tangan wanita baya itu.
"Temennya Hana, ya?"
Ken mengangguk. "Iya, Bu..."
Bu Nurma menatap Zahra. "Han, ajak temenmu makan siang disini. Ibu udah masak tadi. Kalian pasti belum makan siang sepulang sekolah," ucapnya tersenyum.
Zahra tersenyum kikuk pada Bu Nurma, tapi Ken justru bersuara kembali.
"Terima kasih, Bu... masakan ibu pasti enak." Ken tersenyum pada Bu Nurma.
Zahra menyengir, baru kali ini dia melihat senyuman Ken yang tulus seperti itu. Dan lagi, dia mengira Ken akan menolak halus tawaran makan siang dari Bu Nurma, ternyata Ken justru seolah menginginkan hal itu.
...Bersambung ......
Jadi, beberapa part kedepan akan mengulang masa-masa sekolahnya Zahra dan Ken ya. Setelah itu baru part kepulangan Frans dan memperkenalkan Zahra sebagai calon istrinya pada keluarganya, termasuk Ken.
Frans baru mengenal Zahra selama di Singapore, sementara Ken lebih dulu kenal Zahra saat masa SMA. Frans dan Ken gak satu sekolah lagi saat SMA, jadi Frans juga gak tahu kalau Zahra dan Ken saling mengenal.
Berikan Like, vote dan hadiah.
__ADS_1
Tinggalkan komentar juga yuk♥️♥️♥️