
Ken benar - benar mengikuti langkah Zahra yang akan beranjak pulang, ia ingin mengantar gadis itu sampai depan gerbang tempat kos yang kini ditempati Zahra, ia ingin tahu dimana gadisnya tinggal saat ini, ia bahkan sampai melupakan mobil mamanya yang tadi dibawanya ke cafe untuk menemui Rasta.
Perjalanan pulang sudah mulai dilalui dengan menggunakan Taxi.
Tapi, sejak pembicaraan ditaman tadi-- Zahra sekarang justru tampak banyak diam.
Apapun yang Ken tanyakan kepadanya-- tidak satupun yang dijawab dengan jelas. Zahra hanya menjawab dengan kata 'iya' atau 'enggak'. Sesekali berikutnya, Zahra hanya berdehem untuk menyahuti ucapan yang Ken bicarakan.
Apa ada yang salah? Rasanya Ken tak melakukan kesalahan apapun? Kenapa Zahra seperti tengah merajuk sekarang?
Ya sudah, Ken yang pada dasarnya memang cuek, hanya menanggapi sikap Zahra itu dengan biasa - biasa saja walau dalam hatinya merasa janggal.
"Aku ... pulang," kata Ken saat sudah memastikan Zahra tiba didepan gerbang kos-nya.
"Hmmm," sahut Zahra tanpa minat.
"Besok atau besoknya lagi aku masih bisa berkunjung kesini, kan?" tanya Ken memberanikan diri. Baru kali ini ia mendekati gadis dengan perasaan was - was, dan baru kali ini pula ia ditolak gadis sampai berkali - kali namun tetap tidak menyerah untuk menemuinya.
Rasanya, Ken sudah mencurahkan segala perhatian yang ia punya hanya untuk Zahra saja, namun respon Zahra padanya tetap sama sejak pulang dari taman kota tadi.
"Disini tidak menerima tamu laki - laki," jawab Zahra dengan nada pelan, namun entah kenapa Ken merasa ucapan itu terdengar ketus.
Astaga, sulit sekali menaklukan gadis ini. Padahal dulu Zahra tidak begini. Ya, Ken sadar ia punya salah besar dimata Hana-nya.
"Aku pulang, ya..." Kalimat yang sama terlontar dari bibir Ken dan sahutan yang sama pula yang diberikan oleh Zahra.
"Hmm..."
Lagi - lagi hanya deheman pelan yang Ken terima. Baiklah, ia harus memiliki stok sabar yang lebih banyak lagi demi mendapatkan dan mengambil hati Zahra, meskipun ia tahu bahwa ia sudah memiliki hati Zahra sepenuhnya, karena ia yakin jika gadis itu amat mencintainya. He-he-he.
Percaya diri tidak ada salahnya, bukan? Karena Ken sudah mendengar sendiri pernyataan perasaan itu dari bibir Hana-nya tempo hari.
Ken pun menaiki taxi lalu memutuskan kembali ke cafe untuk mengambil mobil Mama yang masih berada disana.
_____
Seperti biasanya, di pagi ini Zahra sudah repot untuk menyusun jadwal pertemuan Devia dengan beberapa klien penting yang rencananya akan ditemui mereka siang ini.
"Han, sehabis makan siang kosongkan jadwal kita, ya!" kata Devia pada Zahra. Ia tetap memanggil Zahra dengan nama 'Hana' sesuai permintaan gadis itu. Memang itu lebih baik agar tidak ada yang curiga dengan 'nama lain' yang dimiliki Zahra.
"Baik, Tant..." sahut Zahra tanpa banyak protes.
"Kamu temani Tante ke butik ya nanti!"
"Iya, Tant..."
Siang harinya, Zahra dan Devia sudah tiba di butik. Devia mencoba satu set kebaya yang ternyata sudah ia pesan jauh - jauh hari dan sekarang saatnya Devia fitting busana yang telah siap dijahit itu.
"Gimana, Han?" tanya Devia pada Zahra saat mencoba kebayanya.
"Bagus banget, Tant. Warna itu cocok dikulit Tante," jawab Zahra jujur karena warna kuning yang dipilih Devia untuk setelan kebayanya memang sangat lembut dan terlihat serasi dengan kulit Devia yang putih bersih.
"Mau ada acara ya, Tant?" tebak Zahra.
Devia mengangguk. "Iya, untuk acara tunangan anak Tante..."
"Zaki?"
__ADS_1
Devia tersenyum lembut. "Bukan..." jawabnya.
"Loh, aku baru tahu Tante punya anak selain Zaki," kata Zahra dengan ekspresi heran.
"Iya, baru tiba... dan Tante mau dia langsung tunangan terus nikah deh."
"Ya kalau udah cocok sama calonnya kenapa enggak ya, Tant?"
"He'eh..." sahut Devia, kemudian mereka tertawa pelan.
"Jadi yang kemarin aku coba pakai itu... benar - benar cincin tunangan milik anak Tante ya?"
"Iya, Han..." Devia tersenyum lagi. "Oh iya, kamu mau coba kebaya juga, gak?"
"Hah? Aku?" Zahra menunjuk dirinya sendiri.
Devia mengangguk - anggukkan kepalanya secara berulang.
"Aku gak punya jadwal untuk acara formal, Tant! Jadi untuk apa aku coba kebaya?" Zahra tertawa tak habis pikir dengan usul Devia.
"Ya, kamu kan tante undang juga nanti... pas acara tunangan anak tante. Mau ya? Nanti kamu bisa kenakan kebayanya di acara itu."
"Acaranya kapan, Tant?" tanya Zahra.
"Insya Allah minggu depan."
"Oh... yaudah, aku coba pakai yang ready saja ya, Tant. Jadi gak perlu menunggu lama untuk dijahit."
"Iya, kamu pilih deh yang mana yang kamu suka."
Zahra mengangguk, kemudian memilih satu stel kebaya yang tampak paling sederhana diantara yang lainnya.
"Itu terlalu simpel, Han. Bagaimana kalau yang itu!" Devia merujuk pada sebuah kebaya cantik dengan desain modern yang terpasang dipatung manekin.
Kebaya yang ditunjuk Devia itu memang sangat bagus dan cantik, tapi Zahra merasa akan terlalu berlebihan menggunakan kebaya itu, apalagi ia hanya sebagai tamu undangan.
"Itu terlalu berlebihan, Tant!" tolak Zahra halus.
"Tapi kamu suka enggak?"
"Suka sih cuma--"
"Ya sudah yang itu aja, ya!"
Zahra benar - benar merasa tak enak hati pada atasannya itu, apalagi setelah tahu bandrol harga kebaya yang dipesankan Devia untuknya. Harganya nyaris tiga kali lipat dari gajinya sebulan.
"Tant, aku tamu yang tante undang, tapi aku merasa pemberian Tante ini terlalu berlebihan," ucap Zahra sungkan.
"Gak apa - apa, Han! Sekali - kali... lagi pula lamu harus tampil cantik nanti, siapa tahu ketemu jodoh pas acara pertunangan anak Tante." Devia terkikik setelah mengucapkan kalimat itu.
_____
Mama Ken begitu terkejut saat mendapati penampilan sang Anak yang tampak berubah. Ken terlihat sudah memangkas rambut gondrongnya, sesuai saran Mama tempo hari.
"Wah... wah, ada angin apa ini? Katanya rambutnya bawa hoki! Terus kok dipotong?" Mama terkikik geli sambil mencibir puteranya itu.
"Iya, Ma. Lagi cari suasana baru aja!" celetuk Ken malas.
__ADS_1
Mama masih tertawa kecil. "Ya bagus itu! Tinggal penampilan aja yang agak dirubah dikit!"
"Mama bener - bener mau aku berubah total ya? Gak mau nerima penampilanku yang apa adanya gini?" protes Ken malas.
"Bukan begitu, anak tampan Mama berpenampilan gimana pun juga tetap menarik dan memancarkan aura ketampanannya..." gombal Mama.
Ken memutar bola matanya, malas. "Halah, Ma!" katanya.
"Serius lho! Tapi, alangkah lebih baiknya berpenampilan rapi biar ada yang nyantol..."
"Nyantol apaan sih, Ma? Aku gak tertarik juga!"
"Serius nih? Ntar kalau ada yang deketin kamu, kamu mau aja lagi..."
"Mama pikir Ken cowok gampangan, gitu?"
"Mana mama tahu!" cibir Mama berlagak tak tahu - menahu tentang kebiasaan Ken yang dulunya sering bermain wanita.
"Ma, biarpun aku begini... yang aku mau jadi pendampingku tetap gadis yang baik - baik, Ma..."
"Hana maksud kamu?"
"Iyalah!" jawab Ken mantap.
Mama mengulumm senyum. "Tapi Hana nya gak mau sama kamu, kan?" goda Mama dan Ken mendengkus keras.
"Iya, aku harus gimana ya, Ma? Hari minggu kemarin aku ketemu Hana dan dia nolak aku lagi!" keluh Ken terus - terang.
"Hah? Kalian bertemu? Terus kamu ditolak?"
Ken mengangguk lemas.
"Apa perlu Mama datangi gadis bernama Hana itu? Kalau itu bisa membantu kamu, biar Mama samperin!" celetuk Mama.
Ken menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya, juga ya, Ma. Apa aku lamar aja dia dihadapan Mama dan Rasta, jadi dia enggak bisa menolak. Pasti dia akan sungkan menolak aku didepan Mama dan Kakaknya..." ucap Ken yang tiba-tiba mendapat ide ajaib dikepalanya.
"Tunggu... tunggu... siapa tadi kamu bilang? Rasta? Rasta siapa?"
"Oh Rasta... Rasta itu sahabat aku, Ma. Dan Mama tahu tidak, ternyata Rasta itu Kakak kandungnya Hana. Huahahaha..." Ken tertawa kencang.
Sepersekian detik berikutnya, Ken jadi memikirkan balasan apa yang akan ia berikan pada Rasta yang sudah mengerjainya hari minggu kemarin. Tapi, jika ia mengerjai Rasta, ia merasa takut juga kalau nantinya akan berimbas pada lamarannya pada Zahra--biar bagaimanapun kan, sekarang ia sudah tahu jika Rasta adalah Kakaknya Zahra.
Kalau ia balas mengerjai Rasta, ia takut lamarannya akan ditolak oleh Kakaknya Zahra itu.
Ah, sepertinya aku tidak bisa mengerjai Rasta lagi kali ini. Ah sial! - batin Ken.
"Jadi... Rasta sahabat kamu, ternyata dia Kakak kandungnya Hana, begitu?" tanya Mama memastikan.
Ken mengangguk. "Iya, Ma. Mereka juga baru bertemu dipemakaman almarhum Mama mereka tempo hari."
"Oh ..." Mama Ken manggut - manggut, seakan sudah memahami apa situasinya.
"Boleh tidak, jika Mama bertemu dengan Rasta?"
"Untuk apa, Ma?" Ken mengernyit heran.
"Gak ada, Mama hanya ingin tahu siapa yang bersahabat dengan anak Mama selama ini."
__ADS_1
"Oke, nanti Ken suruh Rasta kesini sekalian berkenalan dengan Mama."
...Bersambung ......