Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Pulang bersamaku!


__ADS_3

Ken kembali ke meja yang sudah diisi oleh Bagas, Irene dan Frans disana.


Sebenarnya Ken malas melanjutkan sesi makan malam ini, moodnya sudah hancur berantakan saat tahu gadis yang diperkenalkan oleh Frans sebagai calon istri adalah Zahra.


Ken meminum minuman dinginnya yang sudah tersaji, membasahi tenggorokannya yang terasa kering, mungkin saja itu bisa mendinginkan pikirannya juga walau ia tak yakin.


Ah, kenapa rasanya semarah dan sekesal ini sekarang?


Ken tahu, rencananya menjadi gagal total. Ia tak akan bisa mengganggu calon istri Frans seperti niatnya semula, semua itu disebabkan karena gadis pilihan Frans adalah Zahra.


Dari sekian banyak wanita yang ada dimuka bumi ini, kenapa selera Frans harus Zahra!


Damned! Breng-sek!


Tak lama, gadis yang sejak tadi ada dipikiran Ken juga kembali bergabung, duduk disebelah kursi Frans dan terlihat menyunggingkan senyum kecil pada adik tiri Ken itu.


Sial! Kenapa harus senyum seperti itu pada Frans!


"Kok lama?" tanya Frans perhatian.


"Ngantri ..." jawab Zahra yang tentu saja Ken tahu itu adalah sebuah kebohongan.


Ngantri apanya? Kamar mandi itu kosong tadi!- kesal Ken dalam hatinya.


Frans tampak mengangguk pada Zahra, kemudian meminta gadis itu untuk makan karena hidangan sudah tersaji diatas meja.


Makan malam itupun berlangsung dengan keakraban antara Frans dan Zahra yang membuat mata Ken panas.


Beberapa kali Bagas dan Irene menanyakan tentang kegiatan Zahra.


Ken baru tahu, jika ternyata kawan SMA nya itu sudah menetap lama di Singapore dan bekerja di perusahaan cabang milik Ayahnya sendiri.


Semesta benar-benar sedang mempermainkannya sekarang!

__ADS_1


Bagaimana tidak, Ken sempat mencari jejak Zahra dulu dan ini terasa lucu tatkala kenyataan mengatakan bahwa Zahra sebenarnya sangat dekat dengan dunia Ken, bukan?


Kecuekannya dengan perusahaan Ayahnya, sepertinya tengah membuahkan hasil sekarang dan hasil itu adalah ketidaktahuannya mengenai posisi Zahra selama ini.


"Jadi, kapan kalian menikah, Frans?" celetuk Bagas tiba-tiba. Membuat Ken menggeram dalam hati, sementara Zahra tersedak diseberang sana.


Dengan refleks, Ken menggeser gelas berisi air kehadapan gadis itu. Tapi sungguh sulit ditebak, ternyata aksi Ken itu serentak dengan hal serupa yang dilakukan oleh Frans dari arah samping Zahra.


Sehingga, antara Ken dan Frans sama-sama tengah menyodorkan gelas berisi air pada gadis yang sama.


Kesal? Tentu saja Ken kesal! Dan lebih kesal lagi tatkala Zahra justru menerima gelas air pemberian dari Frans, bukan darinya.


Ken menghela nafas kecewa, entah kenapa, ia pun tak tahu jawabannya.


"Pelan-pelan, Ra..." ucap Frans kembali perhatian pada gadis yang sedang meneguk airnya.


"Apa pertanyaan Om membuat kamu malu?" kekeh Bagas.


"Maaf Om, Tante ... sepertinya saya dan Frans--"


"Kami masih menundanya, Pa!" potong Frans cepat, ia menyadari kemana arah pembicaraan Zahra dan ia tak mau jawaban Zahra membuatnya malu didepan kedua orangtuanya, terutama didepan Ken, kakak tirinya. Tentu saja Frans akan malu jika Zahra mengatakan yang sebenarnya sekarang-- bahwa gadis itu telah menolak lamaran Frans siang tadi.


"Frans ..." lirih Zahra menatap Frans dengan bingung, kenapa Frans tidak terus terang pada keluarganya mengenai hal ini?


Frans menatap Zahra dengan sorot mata yang mengisyaratkan sesuatu. Zahra memilih diam dan akan menuntut penjelasan dari pria itu nanti, mungkin tidak sekarang--saat didepan keluarga Frans.


"Aku tidak menyangka, ternyata seleramu payah!" bisik Ken pada Frans, ia mencoba memprovokasi pikiran Frans tentang Zahra.


"Apa maksudmu?" tanya Frans pelan namun dengan nada tak terima.


Ken hanya tersenyum miring, tak ingin membuat keributan dengan jawabannya yang pedas. Ken langsung sadar, jika provokasinya tidak akan mempan bagi Frans. Ia pun melanjutkan makan dalam senyap karena pikirannya sudah semraut saat ini.


Sampai beberapa waktu, makan malam itu pun telah selesai dan kemudian disi kembali dengan pembicaraan hangat seputar dunia pekerjaan antara Frans, Zahra, Bagas dan Irene. Sementara Ken tetap memilih diam.

__ADS_1


"Aku anter Zahra pulang dulu, ya, Pa, Ma ..." kata Frans.


Zahra mengibaskan tangan pada Frans. "Gak usah! Aku naik Taxi saja, Frans!" jawab gadis itu menolak halus.


"Ini sudah malam, mana mungkin aku biarkan kamu pulang sendirian," ujar Frans tersenyum.


"Benar itu, Ra! Kamu biar dianterin Frans saja. Udah malam dan sepertinya diluar mau hujan!" timpal Irene yang diangguki oleh Bagas.


"Biar saja Frans yang anter kamu, Ra!" sahut Bagas pula.


Zahra merasa tak punya pilihan. Ia pun menatap Ken, seperti tengah meminta persetujuan pria itu, tapi Ken tak memberi reaksi apa-apa dan hanya diam. Sebenarnya, sikap Zahra itu semata-mata karena ia takut memancing kemarahan Ken lagi, padahal entah apa yang membuat Ken harus semarah itu padanya.


Zahra juga merasa ingin menjelaskan kesalahpahaman yang sempat Ken tanyakan padanya di toilet tadi.


Padahal, kenapa pula Zahra harus repot menjelaskan pada pria itu? Memangnya apa hubungan mereka? Tidak ada kan?


Tapi, Zahra mengenal Ken cukup lama dan ia tahu watak serta perangai pria itu, jadi Zahra tak mungkin mengabaikan aksi protes Ken tadi. Selain itu, Zahra juga ingin Ken tahu yang sebenarnya, agar pria itu tidak marah lagi padanya.


Kenapa Zahra takut Ken marah? Duh ...


"Ayo, Ra!" Frans sudah berdiri dari duduknya.


Mau tak mau, Zahra bangkit juga. Zahra mengucapkan rasa terima kasih pada kedua orangtua Frans sembari menyalami tangan Bagas dan Irene, kemudian ia mulai mengikuti Frans yang mulai beranjak.


"Tunggu!" Ken tiba-tiba berdiri dan membuat Frans serta Zahra berhenti diposisinya.


"Kenapa?" tanya Frans dengan nada tak senang pada Ken.


Ken mendekat pada kedua insan itu, kemudian dia mengatakan satu kalimat yang membuat mata Frans mendelik.


"Dia pulang bersamaku!" kata Ken serius.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2