
Rasta amat terkejut mendengar kabar berita dari Devia mengenai Cira. Ia yang sedang berada dalam rapat penting, keluar dari ruangan itu begitu saja tanpa penjelasan yang logis. Pikirannya hanya tertuju pada Cira saat ini dan tidak bisa fokus kepada hal lainnya.
"Pak, apa yang harus saya katakan pada peserta rapat?" Mira, sekretarisnya berusaha mengejar langkah Rasta yang terburu-buru.
"Katakan apapun sebagai alasan! Jangan tanya aku! Aku tidak bisa berpikir sekarang!" kata Rasta sembari berjalan lurus dan membuka simpul dasi yang ia kenakan.
"Tapi, Pak..." Mira bersikukuh ingin tahu alasan Rasta mendadak meninggalkan rapat yang sangat penting mengenai progres SDA minyak yang harus perusahaan mereka suplai kedepannya.
"Mira, jangan seperti baru mengenalku kemarin sore! Berikan alasan apapun dan lanjutkan rapatnya tanpa aku!" pungkasnya, membuat sang sekretaris terdiam.
Rasta segera mengambil kunci mobilnya dan berlalu dari tempatnya itu.
Beberapa saat kemudian Rasta telah tiba di hutan tempat Cira menghilang.
"Om..." Rendy menyapa Rasta yang baru tiba.
"Apa yang terjadi?" kata Rasta berusaha tenang walau dalam hatinya semraut dan kusut.
"Tadi Cira dikejar oleh seorang pria."
"Siapa?"
"Aku tidak tahu, tapi wajahnya familiar... seperti...."
"Seperti siapa?" tanya Rasta tak sabaran.
"Seorang pejabat men teri," kata Rendy menggaruk pelipisnya sekilas karena ia tidak yakin dengan sosok pria yang sempat ditemuinya tadi.
"Sia lan!" Tangan Rasta mengepal keras, ia tahu jika pria itu pasti Ayah angkat Cira.
"Semua tim Basarnas baru tiba setengah jam yang lalu, sekarang sedang menyusuri sungai untuk menemukan Cira," terang Rendy.
"Terima kasih," kata Rasta menepuk pundak Rendy sekilas.
__ADS_1
Rasta hendak berlalu, melihat lebih dekat tentang proses pencarian Cira namun suara Rendy kembali terdengar.
"Aku pikir Om adalah om nya Cira, ternyata Om adalah calon suaminya?"
"Hmm, kau tahu?" Rasta tak menepis perkataan Rendy, justru dia balik bertanya kenapa Rendy mengetahui hal itu.
"Cira mengatakannya pada Alina dan aku baru mendengarnya tadi."
"Begitulah," jawab Rasta tenang. Rendy pun terdiam, ia sadar bahwa sampai kapanpun Cira akan sulit ia raih, selain Cira yang menutup diri darinya ternyata Cira juga sudah memiliki calon suami seperti Rasta yang kelihatannya sangat mapan. Mungkin Rendy harus mundur secara teratur daripada kalah setelah babak belur.
Rasta menuju area yang lebih dekat ke arah sungai, disana ia bertemu dengan Devia yang ternyata sudah lebih dulu tiba. Devia menangis sedih akan peristiwa yang menimpa Cira, walau bagaimanapun ia sudah menganggap Cira seperti putri kandungnya.
"Dirga, apa Ken dan Hana harus tahu mengenai ini?" Devia menatap Rasta dengan wajah pucatnya.
Rasta menggeleng. "Sampai Cira ditemukan, baru beritahu mereka, Tant!" putus Rasta.
"Coba lihat disana!" pekik seorang petugas Basarnas menunjuk kearah pinggiran sungai yang banyak pohon bakau.
Rasta melihat arah yang dimaksud oleh petugas itu, ia pun membuka jas yang membalut tubuhnya, kemudian membuka sepatu yang juga ia kenakan, ia menggulung lengan kemejanya. Sepertinya ia memang salah kostum sekarang dikarenakan ia tak sempat berganti pakaian tadi.
"Aku akan ikut mencari Cira, Tant..."
"Tapi Dirga..."
"Aku gak akan memaafkan diriku sendiri jika Cira sampai tidak ditemukan. Aku harus menemukannya, Tant!" ucap Rasta menekankan kata.
Sepersekian detik berikutnya, Rasta langsung bergabung dengan tim basarnas. Terjadi perdebatan diantara mereka, namun akhirnya Rasta diberikan juga alat keselamatan seperti pelampung dan sebagainya untuk ikut dalam misi pencarian.
"Cil, kenapa semuanya jadi gini?" batin Rasta merasa frustrasi.
"Kalo lo berhasil gue temukan gue janji gue bakal nikahin lo, Cil..." Rasta menyeka airmatanya yang entah kenapa menetes begitu saja. Apa ini yang dirasakan Ken saat Zahra menghilang?
Rasta ikut menaiki kapal motor dan mengarungi deruan air sungai bersama tim basarnas untuk menemukan Cira, gadis kecilnya. Jika sampai Cira tidak ditemukan maka ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Seharusnya ia menjaga Cira dengan lebih protektif lagi, sehingga kejadian semacam ini tidak pernah terjadi.
__ADS_1
_______
Hari kedua pencarian Cira, Rasta sudah dalam mode kehilangan akal. Ia marah dan bersikap tempramental kepada semua orang yang ia rasa mengusiknya diarea itu. Ia tidak mau dilarang dalam masa pencarian Cira.
"Kalaupun gadis itu ditemukan, pasti dia sudah meninggal," celetuk salah seorang warga yang menyaksikan proses itu selama dua hari ini.
Mendengar itu, Rasta tersulut emosinya, ia hampir saja menghajar pria yang bicara seperti itu hingga terdengar ke pendengarannya. Padahal jika dilihat dari kemungkinan yang terjadi, hilangnya Cira sampai dua hari ini memang tidak memungkinkan jika Cira ditemukan dalam kondisi bernyawa, namun Rasta tidak mau mengakui hal itu dalam dirinya, baginya Cira tetap hidup apapun yang terjadi.
Beruntung perkelahian yang hampir terjadi itu dilerai oleh beberapa warga dan tim basarnas yang berada didekat Rasta.
"Saya minta maaf, Mas. Saya hanya terbawa suasana karena gadis yang hilang ini adalah calon istri saya." Rasta menyalami tangan lelaki yang hampir ia hajar karena sempat berargumen mengenai kondisi Cira yang tak mungkin bernyawa lagi.
"Iya, Mas. Saya juga minta maaf... mungkin ucapan saya tadi menyinggung Mas," kata lelaki itu tampak sungkan pada Rasta.
_____
Rasta pulang ke rumah ditengah malam, ia mengambil sebuah minuman dari dalam lemari penyimpanannya, ia duduk di mini bar dekat dapur rumahnya kemudian ia mulai meminum minumannya sampai mabuk. Ia memang belum bisa berubah menjadi lebih baik seperti Ken. Entahlah, berubah memang tidak semudah mengatakannya. Terkadang ia masih melakukan hal ini walau tidak sesering dulu.
"Cil, kalo lo udah ketemu... lo harus tanggung jawab sama kondisi kejiwaan gue!" racau Rasta diantara sadar dan mabuknya.
"Cira... pulang, ya!" katanya lagi. Ia seperti orang yang terkena syndrom Pseudobulbar affect, dimana kondisinya sekarang adalah menangis sambil tertawa dan cenderung tidak dapat dikendalikan. Dan yanh ia tertawai bukanlah hal lucu. Entah apa.
"Maafin gue, Cil..."
Usai mengucapkan kalimat itu, ia pun tertidur di meja mini bar, tertidur dalam keadaan kepalaa yang tertelungkup dimeja, dalaam keadaan mabuk dan pastilah dengan kodisii tubuh yang sangat bau, sebab ia tidak mandi sejak pulang dari mengikuti misi pencarian. Bahkan bajunya masih basah karena medan dalam misi pencarian Cira adalah sungai.
Baru sekali ini kondisinya amat berantakan, padahal dulu ia juga sempat seperti ini saat dihajar Owen dan para sindikatnya, namun waktu itu hanya penampilannya saja yang kacau, tidak seperti sekarang yang hati serta pikirannya juga nyaris hampir gila.
"Rasta..."
Paman Sapta menemukan Rasta dalam keadaan yang memprihatinkan. Sudah beberapa bulan ini ia memang jarang melihat Rasta mabuk-mabukan, ia bisa menebak Rasta begini karena hilangnya Cira.
"Jangan begini, Nak. Kamu harusnya berdoa agar Cir segera ditemukan." Paman Sapta menepuk punggung Rasta mencoba membangunkan pria itu namun Rasta hanya bergumam pelan dan gumamannya itu terdengar sangat memilukan.
__ADS_1
"Cira..."
******