
Zahra masuk kedalam rumah baru yang akan menjadi huniannya bersama Ken. Begitu masuk kedalam rumah itu, ia tahu jika rumah itu sangat luas. Ia langsung merasa jika rumah ini terlalu berlebihan untuk ia tempati berdua dengan Ken.
"Apa ini gak terlalu berlebihan, Ken?" ucapnya seraya memandangi desain dan perabotan di dalam rumah itu.
Ken menggeleng. ''Kenapa kamu merasa begitu??" tanya pria itu.
"Aku pikir kita hanya tinggal berdua disini, jadi..." Ucapannya terhenti diudara karena jari telunjuk sang suami sudah mendarat di bibirnya, pertanda ia tak boleh melanjutkan kalimat.
"Dengar aku," Ken meraih pundaknya dan memegang dengan kedua tangan, menatapnya dalam posisi berhadapan. "Aku dan kamu gak akan tinggal berdua aja disini, nanti... bakal ada anak - anak kita yang akan meramaikan rumah ini."
Ia mengerjapkan matanya beberapa kali demi mencerna ucapan sang suami.
"Aku... mau memiliki anak dari kamu. Kamu mau kan mengandung anakku?" tanya Ken sembari menarik tangannya ke arah ruangan yang lain.
Ia mengangguk berulang dengan polosnya, tentu ia ingin memiliki anak bersama Ken, ia amat menyukai anak - anak, dan ia langsung membayangkan bagaimana rupa anaknya nanti bersama Ken, pasti akan cantik dan tampan sekali.
"Kalau begitu, kita akan sering membuatnya nanti," ucap Ken sembari mengerling nakal.
"Me-membuatnya?"
"Hu'um," Ken menganggukkan kepala dengan senyuman yang mengembang.
"Kita liat ruangan lainnya aja, yuk!" ajaknya, sengaja untuk mengalihkan topik pembicaraan ini
Ken mengulumm senyum diseberangnya. "Oke," jawab pria itu.
Kemudian, Ken mulai menarik tangannya untuk semakin masuk ke bagian dalam rumah. Ken menunjukkan bagian - bagian rumah termasuk ruang tv, ruang makan dan dapur yang ada di lantai dasar.
Setelah itu, Ken menuntunnya naik ke lantai atas, kakinya mengikuti saja kemana Ken akan membawanya, hingga langkah mereka terhenti didepan satu pintu yang belum terbuka.
"Ini... kamar kita," ucap Ken sembari membuka knop pintu ruangan itu.
Matanya pun langsung memandang ke dalam ruangan dengan paduan warna pastel yang tampak cantik. Tanpa bisa dikendalikan, kakinya pun melangkah masuk ke dalam sana-- demi menjelajah lebih jauh-- ruang yang dikatakan Ken sebagai 'kamar kita'.
Satu kata tentang kamar itu, elegan. Kamar yang luas dan yang paling terpampang nyata dimatanya adalah penampakan ranjangg king size berdesain klasik yang terlihat sangat nyaman.
Ia bergerak mengelilingi kamar, kemudian ia menuju sebuah balkon yang ternyata pemandangannya mengarah ke sebuah taman yang ada dipekarangan rumah itu.
"Kamu suka rumahnya?" Ken memeluk pinggangnya dari belakang, membuat ia cukup terkesiap, namun ia langsung berusaha merilekskan diri demi membiasakan pelukan sang suami.
"Aku suka, makasih ya," ucapnya jujur.
Ken mengangguk sambil masih memeluknya. Beberapa saat mereka sama - sama terdiam, memandang keindahan taman dibawah sana yang memiliki kolam berserta pancuran air.
Ken menelusupkan kepala di ceruk lehernya yang masih tertutup pashmina, posisi ini membuatnya berdebar-debar kencang.
Apa hari ini akan terjadi? Ah, kenapa pikirannya mengarah kesana.
"Apapun yang membuat kamu bahagia, aku akan mengusahakannya, Hana!" Ken bertutur sangat lembut, kemudian pria itu tampak menyunggingkan sebuah senyuman yang membuatnya merasa larut dan meleleh.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu mencintai aku, Ken?" tanyanya sembari melepas tautan tangan Ken diperutnya dan menatap pria itu lekat.
Ken mengambil kedua jemarinya, meletakkan tangannya di kedua sisi wajah pria itu, ia bisa merasakan bagian rahang Ken yang mulai ditumbuhi bulu kasar.
"Aku mencintai kamu sejak lama, sejak aku menemukan seorang 'Hana' di panti asuhan yang membesarkannya. Hana-ku... gadis yang amat keibuan dan penyayang. Aku jatuh cinta sejak saat itu. Hanya saja, dulu aku menjadi pecundangg yang tidak berani mengungkapkan rasa dan aku menyesali hal itu sekarang!"
Mendengar itu, tangannya yang masih berada di rahang pria itu pun bergerak secara naluriah, ia mengelus rahang kokoh itu dengan lembut, seolah merasa takut jika sampai melukai sang suami.
Ia dapat melihat Ken yang memejamkan mata, seakan merasai sentuhan tangannya disana.
"Han..." ucap Ken lirih. Pria itu seketika membuka mata dan menatapnya, namun kali ini tatapan mata Ken tampak berbeda.
Secara tiba - tiba Ken menarik tangannya untuk kembali masuk ke dalam kamar. Pria itu menutup pintu balkon dengan gerak cepat.
Apa yang terjadi?
Kemudian, Ken mengangguk dengan sorot mata yang ingin meyakinkan. Ia belum memahami anggukan Ken itu. Namun, tangan pria itu sudah terulur membuka kaitan pashmina yang ia kenakan, pria itu melakukan dengan perlahan, entah karena handal atau karena berhati - hati. Hingga penutup kepala itu pun terlepas begitu saja.
Dengan gerak cepat, Ken meletakkan kain itu diatas meja rias yang tak jauh dari posisi mereka.
"Kenapa dibuka, Ken?" tanyanya.
Ken tak menjawab, kembali merangsek dihadapannya, lalu ia kembali merasakan tangan Ken yang kini mulai menggerai rambutnya.
"Istriku memang cantik," gumam Ken pelan.
Kini ia menyadari apa yang diinginkan suaminya saat ini juga. Ia tak mencegah, berusaha merilekskan diri, membuang pikiran negatif yang akan menghampiri. Selain itu, ia memang tak bisa berkutik lagi, karena Ken sudah membuatnya berbaring dengan posisi pria itu yang berada diatas dirinya.
Pria itu menahan tubuh agar tak meninndihnya.
"Ken, kita... baru... saja tiba..." ucapnya susah payah karena kini dirinya merasakan gelenyar aneh saat Ken mulai menciumi lehernya yang terbuka.
Ken menghentikan aktivitas itu sejenak-- demi menatapnya. Lalu pria itu menggelengkan kepala secara berulang, seolah pertanda tak ingin mengakhiri aktivitas ini.
Ia menahan dada suaminya saat Ken ingin membuka kancing blus yang ia kenakan.
"Kenapa, hmm?" tanya Ken dengan suara parau. Tatapan Ken tampak berkabut. Ia menjadi yakin jika sekarang Ken amat bergairahhh. Ia bisa menganalisa perbedaan tatap dan suara Ken yang sekarang.
"Biarkan aku melakukan ini, Sayang." Ken berucap sembari langsung mencium bibirnya tanpa permisi. Melenakannya dengan cumbuuann itu.
Entah sejak kapan Ken melepas bajunya sendiri, ia tak tahu, karena kini pria itu sudah bert*lan*ngg da da dihadapannya.
Matanya menangkap banyak tatto di tubuh pria yang sudah menjadi suaminya itu. Jika ia tak salah menduga, diantara tatto itu ia dapat melihat inisial 'H' diantaranya.
"H?" gumamnya.
"H for Hana..." lirih Ken.
Ia terpana dengan kejujuran Ken sekarang, hingga ia tak sadar jika Ken sudah menuntaskan kegiatan membuka kancing blus yang dikenakannya.
__ADS_1
Tiba - tiba Ken terdiam, entah memikirkan apa.
"Kenapa?" tanyanya heran.
"Berjanjilah... saat kamu tahu sesuatu nanti, jangan menghentikan aku, Sayang."
"I-iya," jawabnya tak paham dengan maksud ucapan Ken itu. Tahu? Tahu tentang apa?
Setelah mengucapkan itu, Ia tak tahu apa- apa lagi, hanya menikmati perlakuan Ken padanya yang terasa sangat lembut, pria itu memberikannya rasa-- yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pria itu menyentuhnya dengan penuh kehangatann.
Gelenyarr dalam dirinya terasa berkejaran saat Ken menggerakkan tangan di titik - titik rawan yang membuatnya semakin merintihh-rintihh.
Ia tak bisa menolak, tidak bisa. Tubuhnya menginginkan yang lebih dan lebih, tidak ingin mengakhiri ini dan tak ingin menghentikan ini.
_____
Ken sangat senang saat akhirnya Zahra berpasrah padanya. Ini pertama kalinya ia berhubungan dengan orang yang ia cintai. Dan pertama kalinya ia melakukannya dengan seorang gadis yang berstatus istrinya.
Entah karena Zahra adalah wanita yang ia cintai, atau memang karena berhubungan setelah sah menjadi suami - istri memang akan semenyenangkan ini. Rasanya berbeda.
Ini juga terasa sangat nyata, bukan seperti khayalan kotor yang selama ini menghinggapi kepalanya dan terkadang hadir di mimpinya.
Tak munafik, selama ini ia memang menjadikan Zahra sebagai objek fantasinya, tak salah kan jika yang ia bayangkan adalah gadis yang ia cintai?
Ia memuja gadis itu dalam hati dan pikirannya. Ia memang bukan lelaki baik, bukan. Bahkan dalam pikirannya yang kotor, tentu menginginkan melakukan hal ini bersama Zahra.
Membuat Zahra berada di bawah tubuhnya. Mendekap gadis itu dan membuatnya merintihh - rintih. Ayolah, semua lelaki normal pasti punya pemikiran yang sama dengannya.
Namun, kali ini harus ia akui jika kenyataan yang sedang ia lakoni sekarang, jauh bahkan sangat jauh lebih indah daripada khayalannya selama ini. Bahkan sedikit sentuhan Zahra dikulitnya, membuatnya langsung melambung.
"Ken, aku takut..." cicit Zahra dengan wajah yang sudah merah padam dibawah kunggkungannyaa.
Ia tahu jika ini yang pertama kalinya bagi gadis itu. Tapi, sekarang Zahra juga menginginkannya, jadi ia harus menuntaskan kegiatan ini hingga selesai.
Ia tak menyahuti Zahra dengan suara, melainkan dengan tindakan. Bibir dan lidahnyaa meyapu seluruh kulit beraroma buah yang sangat memabukkan-nya itu. Dan benar saja, Zahra semakin mencengkram bahunya dengan sangat erat.
Tidak ada satu incipun kulit Zahra yang terlewat dari jamahaannya. Semuanya tidak luput dari sentuhannyaa, sampai istrinya menyebut namanya dengan rintihann penuh harap.
"Ken..."
"Iya, Sayang?" jawabnya mesra.
"Aku ingin, tapi aku beneran takut!"
"Trust me, ini gak akan sedramatis perkiraan kamu, oke?" ucapnya meyakinkan.
*****
Kayaknya bab ini bakal lama di review🤔🤔🤔
__ADS_1