
Setiap hari Ken dan Zahra melewati hari dengan berjalan-jalan, menikmati panorama dan musim yang mulai silih berganti di negara Jepang.
Kandungan Zahra mulai membesar, diperkirakan sebelum akhir tahun ia akan melahirkan seorang bayi dan berdasarkan hasil USG bayi mereka adalah laki-laki.
Mereka juga menyibukkan diri dengan menanam banyak tanaman hingga buah-buahan. Salah satunya Zahra menanam buah strawberry di kediamannya selama tinggal di Jepang. Kegiatan itu membuatnya rileks dan membantunya melupakan kejadian masa lalu yang kurang baik.
Saat ini, Ken dan Zahra tengah jalan-jalan disebuah desa di kota Jepang. Pemandangan disini sangat indah dan menyejukkan mata. Nama Desa itu adalah Yoshino, Nara. Desa ini terkenal karena banyaknya bunga sakura yang ada di Gunung Yoshino, total pohonnya mencapai 30.000 pohon sakura.
Gunung Yoshino adalah salah satu lokasi melihat bunga sakura paling terkenal dan populer di Jepang. Namun, bukan hanya saja bunga sakura, Gunung Yoshino juga menjadi tempat spektakular untuk menikmati keindahan musim gugur dan bunga hydrangea yang bermekaran tiap musim panas.
Namun, saat mereka sedang asyik menikmati panorama itu dan beberapa kali mengabadikan momen dengan kamera, ponsel Ken terdengar berdering menandakan adanya panggilan telepon.
"Siapa?" tanya Zahra sambil menatap ke depan dimana pohon sakura mekar dengan rimbunnya.
"Rasta," jawab Ken sembari menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan dari kakak iparnya itu.
"Ada apa, Kakak?" tanya Ken menggoda Rasta dengan panggilan 'kakak' nya.
"Lo bedua sehat, kan?"
Ken mengernyit, tak biasanya Rasta berbasa-basi seperti ini saat meneleponnya.
"Alhamdulillah kita disini sehat..." jawabnya apa-adanya.
"Syukur deh, gue cuma mau ngabarin... kalo gak ada halangan minggu depan gue nikah."
Ken terkekeh pelan. "Jangam becanda, lo!" ucapnya tak percaya.
"Iya, gue serius. Gue nurutin saran lo, adek ipar!" kata Rasta menekankn kata-katanya dari seberang sana.
Ken menggeleng. "Parah lo kalo becanda!" Ken menyerahkan ponselnya pada sang istri yang sejak tadi menatap ingin tahu tentang perbincangan sang suami dan kakaknya dari sambungan seluler.
"Hallo Assalamu'alaikum, Kak."
"Dek, sehat kan?"
"Alhamdulillah sehat, kakak gimana? Tadi ngomongin apa sama Ken?"
"Kakak juga sehat. Kakak cuma mau bilang minggu depan kakak dan Cira akan menikah."
Mata Zahra membola mendengar hal ini, ia menatap Ken yang mengulumm senyum sejak tadi.
__ADS_1
"Kakak... serius?"
"Iya, kamu mau anggap kakak becanda juga kayak Ken?"
Zahra menganguk meski tahu Rasta tak akan melihat hal itu.
"Intinya kakak udah kasi tahu kamu ya, dek. Jangan bilang kalau nanti kalian gak tahu soal pernikahan ini."
"Jadi, ini memang serius?"
"Iya, Hana..."
Zahra melompat kegirangan, kalau tidak dicegah oleh Ken mungkin wanita itu tidak akan berhenti berlonjak girang.
"Sayang, ingat kamu sedang hamil!" kata Ken memperingati. Zahra pun langsung terdiam dengan sikap sungkan dan malu, mendengar kabar kakaknya hendak menikah membuatnya speechless sendiri.
"Ya sudah, nanti kami akan pulang ke Indonesia," putus Zahra tanpa meminta persetujuan Ken.
Ken hanya menghela nafas panjang kemudian mengangguk juga pada akhirnya.
_______
"Sayang, jika kita pulang sekarang maka kamu gak bisa melahirkan di Jepang."
"Gak apa-apa, nanti setelah lahiran kita kesini lagi," jawab Zahra enteng.
"Padahal izin tinggal kita disini masih lama," gerutu Ken.
"Tapi masa kita gak pulang pas kak Dirga dan Cira menikah, gak lucu dong Ken."
"Mereka juga gak maksa kita untuk pulang, Sayang."
"Jadi kamu emanng gak mau pulang?"
"Aku mau disini aja berdua sama kamu."
"Huh..." Zahra mencebikkan bibirnya.
"Aku pesan tiket pergi sekaligus tiket pulang kesini ya, jadi kita disana cuma dua hari aja. Abis itu balik kesini!"
"Tapi, Ken?"
__ADS_1
"Kamu lupa kalo kamu udah aku pesanin private room untuk melahirkan di Rumah Sakit yang ada disini?"
"Iya juga sih," ucap Zahra pelan. Ia juga memikirkan biaya yang sudah Ken keluarkan untuk proses melahirkannya, walaupun itu tak seberapa dari penghasilan Ken,.namun ia tetap harus menghargainya, apalagi sekarang hanya Ken yang menghasilkan uang sementara ia sudah tak bekerja lagi. Zahra juga terbiasa hidup dengan mengharagai jerih payah, jadi dia tak mau membatalkan semuanya begitu saja dengan sia-sia.
"Baiklah, Ken..." ucapnya menurut.
Ken membukakan sepatu istrinya saat mereka tiba di rumah, menggendong tubuh Zahra yang mulai berisi lalu membawanya ke kamar mandi.
Zahra selalu menikmati momen dimana suami tercintanya selalu memanjakannya setiap hari, ia berharap semoga sikap Ken akan begini terus padanya dan tidak akan berubah.
Ken menurunkan Zahra dikamar mandi, mencucikan kaki dan tangan istrinya dengan sabun, kemudian melakukan hal serupa untuk dirinya sendiri. Setelah itu barulah Ken kembali menggendong Zahra dan membantunya berbaring di tempat tidur.
Selama di Jepang, mereka terbiasa melakukan semuanya berdua tanpa seorang ART. Ken yang juga terbiasa hidup mandiri bahkan kadang memasakkan makanan untuk sang istri. Karena terkadang Zahra ngidam masakan Indonesia.
Di Jepang, semua bahan-bahan makanan untuk memasak satu menu masakan khas indonesia dijual dengan harga yang relatif mahal. Membeli makanan siap saji juga terkadang tidak seenak ekspektasi, jadi mereka lebih memilih memasak secara mandiri.
Makanan halal sebenarnya lumayan banyak di Jepang, karena masyarakat Jepang juga banyak yang muslim, hanya saja masakan jepang tidak familiar dilidah Zahra, Ken memaklumi hal itu dan dia bersedia memasak khusus untuk istri tercintanya.
"Apa kamu lapar?" tanya Ken pada Zahra yang berbaring disisinya.
"Hemm," jawab Zahra singkat.
"Apa yang mau Nyonya makan hari ini?" Ken menaik-naikkan alisnya menggoda Zahra.
Zahra terkikik. "Kalau makan kamu, boleh enggak?" tanyanya merangkulkan tangan ke leher sang suami.
"Oh, rupanya gadisku yang dulu malu-malu sekarang sudah bisa merayuku, ya?" Ken tertawa pelan.
"Merayu suami sendiri enggak ada salahnya, kan?"
"Baiklah, Nyonya. Hamba akan melayani anda. Nyonya mau makan bagian mana dulu?" Ken segera melepas baju yang ia kenakan, membuat Zahra melotot karena Ken menanggapi ucapannya dsngan serius, padahal niat Zahra hanya menggoda Ken saja.
Wajah Zahra sudah bersemu merah. "Aku lapar, mau makan makanan Indonesia saja," ucapnya mengalihkan topik sementara sang suami sudah terpancing umpan Zahra yang sebenarnya hanya main-main saja.
"Ya sudah, suami kamu asli Indonesia kok!" Ken mengerlingkan mata pada Zahra yang terkikik kemudian.
Mau tak mau akhirnya Zahra harus mengikuti semua yang sudah dimulainya lebih dulu.
"Biarkan aku saja, kamu cukup menerima semua perlakuanku saja!" kata Ken dengan senyum nackal yang penuh maksud. Ia ingin Zahra berpasrah padanya tanpa perlawanan dibawah kendalinya.
******
__ADS_1