
"Ken ...." lirih Zahra kepada Ken, membuatnya menghampiri istrinya kembali.
"Kenapa, hmm?" tanyanya pelan.
"Terima kasih kamu sudah berusaha menjadi imam yang baik buat aku. Tapi maaf, aku belum bisa menjadi istri yang baik malam ini, aku--aku belum bisa." Zahra tampak menundukkan kepalanya.
"Enggak apa - apa, Sayang! Jika malam ini gak bisa, masih ada malam besok atau besoknya lagi. Kita memiliki waktu selamanya untuk bersama - sama." Ia berucap pelan sembari tersenyum pada sang istri, ia tahu istrinya belum bisa memaafkan kesalahan yang pernah ia akui.
Ia belum bisa jujur pada Zahra tentang tindakan yang tak pernah ia lakukan itu, ia tidak berusaha memperbaiki nama baiknya didepan Zahra. Entahlah, ia membiarkan saja kebohongan yang sudah terlanjur ini.
Ia mengelus pelan kepala Zahra yang masih tertutupi mukena, kemudian beranjak untuk naik ke atas ranjangg.
"Ken..." panggil Zahra lagi.
"Iya, Sayang?" sahutnya dari atas tempat tidur.
"Aku... tidur dimana?"
Ia ingin terkekeh mendengar pertanyaan itu, namun ia tahan.
"Pagi tadi kita sudah resmi menikah, jika kamu lupa."
"...kamu udah menjadi istriku secara sah. Menurut kamu dimana sebaiknya seorang istri tidur?" Ia justru membalikkan pertanyaan agar dijawab oleh Zahra sendiri.
Zahra tertunduk. "Seharusnya seorang istri tidur bersama suaminya," ucap Zahra pelan.
"Nah, suami kamu siapa, Sayang?" tanyanya dengan sabar.
"Ka--mu..."
"That's right! Ayo tidur disini, disamping aku." Ia mengulumm senyum sembari menepuk sisi lapang disampingnya, namun gadis itu tidak beranjak juga.
"Malam ini kita hanya tidur, aku janji... tapi malam - malam selanjutnya aku enggak bisa pastikan!" celetuknya pelan.
"Apa?"
"Ng-nggak... udah ayo sini, aku gak makan orang, kok!"
Zahra menatapnya ragu, namun membuka juga mukena yang sejak tadi masih dikenakan.
Pemandangan itu seperti slow motion didalam lensa matanya. Saat Zahra membuka mukena dan menggerai rambut panjangnya yang mulai tampak mengering.
Sepertinya ia tidak bisa berkedip, ia merasa terpesona pada sosok yang sama untuk yang kesekian kalinya.
Jika waktu itu ia bisa melihat surai rambut Zahra dalam keadaan gadis itu tak sadarkan diri, berbeda dengan sekarang, ia melihat nyata saat keadaan Zahra tengah sadar sepenuhnya.
Zahra tampak bangkit dari duduknya, ia kembali tak berkedip saat menyadari tubuh Zahra yang terbalut dengan kemeja kebesaran miliknya itu-- terlihat sangat menggoda jiwa kelelakiannya.
"Jangan melihatku seperti itu, Ken! Aku malu..." lirih Zahra tertunduk.
"I-iya," jawabnya gelagapan. Ia pun segera membalik badan, memunggungii posisi Zahra yang masih berdiri disana.
Demi apapun, sekarang ia malah menyesal karena ucapannya yang tadi sempat berjanji pada Zahra bahwa malam ini mereka hanya akan 'tidur' saja.
__ADS_1
Ia mencoba memejamkan mata, namun pergerakan yang terasa di ranjanggnya, membuat matanya kembali terbuka. Sekarang ia yakin jika Zahra sudah naik ke atas tempat tidurnya.
Ia kembali menutup mata, mencoba menepiskan apapun yang kini terbersit dikepalanya tentang kemolekann tubuh istrinya yang baru ia sadari--karena selama ini ia belum pernah melihatnya secara intens seperti ini.
Saat ia ingin berkonsentrasi menidurkan diri dan berusaha tak membalik badannya, tiba - tiba...
"Ken..."
Zahra lagi - lagi memanggilnya.
"Ya?" jawabnya pelan, masih dalam posisi membelakangi tubuh Zahra-- yang mungkin sudah terbaring di atas tempat tidur yang sama dengannya.
"Aku sudah berpikir dengan cepat..." Zahra menjeda ucapannya.
"Tentang?"
"Tentang pernikahan kita, aku pikir yang kamu katakan itu benar... jika, janji suci pernikahan bukanlah main - main, aku tidak mau mengotorinya diawal hanya karena syarat yang aku buat sendiri."
Ia tersenyum tipis mendengar pernyataan gadis yang sudah menjadi istrinya itu.
"Lalu?"
"Aku pikir, aku--aku akan membatalkan syarat itu."
Ia mengulumm senyum, tentu saja hatinya bersorak gembira saat ini juga.
"Jadi?" tanyanya berlagak bodoh.
"Jadi... kamu bisa meminta hak-mu sebagai suamiku..." jawab Zahra dengan suara yang sangat-sangat pelan.
Ia segera berbalik badan demi menatap wanita yang telah menjadi istrinya itu.
"Kamu serius?" tanyanya, sembari tidur menyamping dan menopang kepalanya dengan sebelah tangan.
Zahra mengangguk. "Kamu benar, kamu adalah suamiku sekarang. Maaf, aku terlalu kekanakan..."
Senyumnya mengembang sempurna saat itu juga.
"Kamu bukan kekanakan, Sayang! Kamu hanya masih marah padaku dan aku menerima semua kemarahan kamu karena aku sadar aku memang salah."
Ia mengulurkan sebelah tangannya untuk menyentuh pipi sang istri yang sedikit tertutup oleh surai rambut panjangnya. Ia pun mengelus sekilas pipi mulus Zahra.
Kemudian, masih dari posisinya, dengan perlahan - lahan ia mulai menyelipkan rambut Zahra kebelakang telinga gadis itu.
Ia bisa merasakan tubuh Zahra yang bergetar saat ia tak sengaja menyentuh cuping telinga Zahra, seketika itu pula wajah gadisnya memerah seperti yang ia sukai selama ini.
"Kamu, cantik..." ucapnya memuji Zahra dengan tulus.
Zahra berusaha mengalihkan pandangannya dan ia keberatan dengan hal itu sekarang, karena ia ingin mereka saling menatap intens satu sama lain. Ia ingin ditatap oleh wanita yang telah menjadi istrinya ini.
"Tatap aku, Han..." ucapnya pelan.
"Hmm." Zahra berdehem sembari kembali berusaha membalas tatapan yang ia berikan.
__ADS_1
Ia menggeser posisi semakin mendekat pada tubuh istrinya.
Sekarang ia menikmati momen dimana perasaan gugup bercampur dengan perasaan ingin seingin-inginnya.
Cup!
Ia mengecup pucuk kepala Zahra cukup lama, seolah menyatakan rasa kasih - sayangnya yang begitu besar pada gadis itu.
Kemudian, ia menatap ke dalam iris mata hitam milik Zahra, mencoba berbicara lewat sorot mata. Seolah mencari sesuatu didalam sana.
Zahra juga tampak membalas tatapannya kali ini, tidak ada yang bersuara lagi diantara mereka berdua, seolah saling menemukan cinta dalam manik mata masing - masing.
"Aku cinta kamu, Hana..." bisiknya lembut didepan wajah Zahra yang tiba - tiba tampak membeku dengan ekspresi terkejut serta dengan mata yang tampak membola, disaat itulah ia langsung ******* bibir istrinya yang sedikit terbuka.
_________
Zahra tidak bisa membohongi diri, jika ia amat terperangah sebab kata - kata cinta yang Ken utarakan. Kata yang telah lama ditunggunya, akhirnya keluar dari bibir pria itu.
Belum sempat ia menetralkan diri dari rasa terkejutnya, serta belum sempat pula ia menanyakan kebenaran tentang ucapan Ken itu. Ken langsung membungkam bibirnya dengan ciuman. Ya, ciuman, bukan kecupan seperti yang terjadi sebelumnya.
Otaknya seketika membeku, tidak bisa berpikir, bersamaan dengan itu, jantungnya pun terasa termompa dengan sangat cepat, membuat darah yang mengalir di tubuhnya terasa berdesirr hebat.
Ia buntu, tidak bisa memikirkan apapun lagi, ia larut dalam buaian ciuman yang diberikan Ken kepadanya. Ia terjerumus kedalam pesona Ken, bahkan terjerembab sangat dalam. Naluri yang ada pada dirinya, seakan menuntunnya untuk membalas setiap perlakuan Ken dengan cara yang sama seperti Ken memperlakukannya.
Ucapan cinta Ken padanya, membuatnya sadar jika kini Ken bukan sekedar menginginkannya sebagai seorang wanita yang berstatus istri dari pria itu, melainkan Ken mengikatnya dengan sebuah perasaan yang dinamakan cinta.
Ia masih terengah - engah saat Ken melepas tautan bibir mereka-- sembari mengelap bibirnya yang telah basah karena ulah yang dimulai oleh pria itu.
"Manis, aku suka..." kata Ken tersenyum simpul. Kali ini senyum Ken tidak menjengkelkan seperti biasa, melainkan senyum kebahagiaan yang terpancar jelas. Ia bisa merasakan itu, jika ucapan cinta Ken bukan main - main.
Sejak kapan Ken mencintainya? Entahlah.
Ia menunduk malu, malu sekali rasanya karena ia juga tidak menolak, bahkan menikmati ciuman yang dikatakan Ken dengan rasa manis itu.
"Maaf jika aku belum terbiasa," ucapnya pelan.
"Gak apa - apa, justru aku suka, Sayang." Ken masih tersenyum lembut.
"Lama - lama juga biasa. Tenang, jangan ragukan kemampuan suami kamu ini. Aku cukup handal untuk mengajari kamu," ujar Ken dengan senyuman congkaknya.
Ia hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Ken itu. Hal seperti itu, kenapa harus dibanggakan?
"Sekarang, tidurlah..." kata Ken pelan.
"Apa? Ka-kamu yakin?" tanyanya dengan ekspresi tak percaya yang nyata.
"Iya, Sayang. Lagipula aku sudah berjanji jika malam ini kita hanya tidur. Aku akan menepatinya."
"Tapi, Ken..." Ia merasa tak enak jika menolak Ken lagi kali ini, tapi Ken tak meminta hak-nya sekarang. Jadi bukan salahnya, kan?
"Kita masih punya banyak waktu. Hari ini kamu pasti sangat lelah." Ken meyakinkannya dengan senyuman yang tampak ikhlas.
Ia pun berbaring dengan nyaman, kemudian Ken mengecup dahinya sekilas, sembari menyelimuti tubuhnya.
__ADS_1
"Jangan lupa doa yang baik - baik sebelum tidur," ucap Ken pelan dan pria itupun menutup matanya untuk menuju alam mimpi. Tapi sebelum benar - benar terlelap, Ken melingkarkan tangan diperutnya, seolah ingin tidur dala posisi memeluknya.
******