
Cira masuk kedalam kamar, ia memegangi bibirnya yang baru saja merasakan ciuman pertama.
"Ya ampun si om! Kenapa gak nikahin aku aja coba! Kalo gini kan aku jadinya dosa!" gumam Cira, ia berjalan mondar-mandir dikamarnya sendiri.
Tak berapa lama, suara ketukan pintu terdengar dan sudah jelas itu Rasta karena tidak ada orang lain lagi dirumah.
Tok tok tok
"Cil, gue balik ya..."
Cira tak menyahut, ia merasa semraut sekarang akibat dari perbuatan pria disebalik pintu itu.
"Cil, gue pulang... soal yang tadi lupain aja ya, Cil. Maklumin ya Cil otak gue udah rada oleng."
Cira masih diam namun ia memikirkan kata-kata Rasta yang dengan gampangnya memintanya untuk melupakan kejadian barusan.
Sepesekian menit berikutnya, Cira membuka pintu kamar, ia kira Rasta sudah pasti sudah pergi karena sudah senyap namun ternyata begitu ia membuka pintu tubuhnya hampir menubruk dada bidang pria itu dikarenakan tinggi tubuhnya memang hanya sebatas dada Rasta.
"O-om kok belum pulang? Aku pikir udah pulang!"
"Gue nunggu lo! Gue minta maaf ya soall yang tadi, lupain aja yah, Cil. Anggap aja gue khilaf!"
"Khilaf kok sama bocah!" gumam Cira.
"Iya, bukan khilaf... mungkin lebih tepatny gue udah gila... otak gue udah geser!" kata Rasta meralat kata-katanya.
"Gitu ya, Om? Bukannya karena Om udah gak anggap aku sebagai bocah lagi, ya?" Cira memberenikan diri untuk menatap lekat pada mata kecoklatan pria itu.
"Lupain aja ya, Cil..." Rasta menghindar tak berani menatap Cira lagi, ia berbalik dan siap pergi dari sana.
"Enak banget om nyuruh aku ngelupain? Kemaarin om cium kening aku, sekarang cium bibir aku! Om bilang aku bocah tapi beraninya om buat hal itu sama aku! Sekarang om gak ngaku khilaf, malah om bilang kalo otak om yang udah geser! Kayaknya emang om udah gak waras ya! MANA BISA AKU LUPAIN GITU AJA SEMENTARA OM UDAH CURI CIUMAN PERTAMA AKU!" kata Cira dengan lantang.
Rasta terdiam, membeku. Beberapa saat kemudian ia berbalik menatap Cira yanv ada diambang pintu kamar.
"Oke, gue yang salah. Gue akui gue udah gak bisa anggap lo bocah lagi. Bener kata Chandra... hmm, pikiran Chandra sama gue emang sebelas dua belas. Lo gak usah lupain hal tadi jika emang gak bisa tapi... gue tetap minta maaf!" Rasta pun berlalu dari hadapan Cira dan tak menoleh sedikitpun.
__ADS_1
_____
Malam harinya, Rasta termenung dibalkon kamarnya, ia memetik gitar untuk mengurangi beban pikirannya mengenai Cira. Namun hanya bebeerapa saat setelah itu ia kembali merasa gundah.
Ingin menelepon Ken namun urung karena ia psti menjadi bulan-bulanan adik iparnya apabila ia mengaku pada Ken bahwa telah mencium Cira.
Akhirnya Rasta hanya memainkan ponselnya tanpa tahu hendak melakukan apa. Tanpa sengaja ia membuka gallery ponsel dan menemukan foto seorang gadis yang sedang memegang kedua piring dikiri-kanan tangannya. Gadis itu tersenyum menatap kamera, Cira.
"Cira, Cira, Cira... kenap sekarang otak gue penuh dengan nama dia semua!" kesal Rasta melempar ponselnya ke arah sofa yang ada dibalkon itu.
Rasta menatap langit yang cerah, ia memikirkan lagi setiap gerak-gerik dan ucapan yang selama ini ia lontarkan pada Cira, ia menghela nafas berat.
"Kayaknya gue kemakan omongan gue sendiri..." katanya bermonolog.
"Haiiissssss," gerutu Rasta sembari mengacak kasar rambutnya sendiri.
Ia kembali menatap ke arah jalanan, kemudian ia galau lagi memikirkan Cira yang masih dibawah umur. Belum lagi memikirkan masalah yang menimpa gadis itu.
"Apa gue tega ngebiarin dia begini terus? Atau.... gue biarin aja dia nikah sama orang lain?"
Akhirnya Rasta kembali menelepon Ken karena ia memang tidak bisa menyembunyikan hal apapun pada sahabatnya itu sejak dulu.
Hingga akhirnhya adiknya, Zahra yang mengambil alih ponsel milik Ken demi bicara padanya.
"Assalamu'alaikum, kak.."
"Wa'alaikumsalam, dek..."
"Kak, maaf... aku mendengar pembicaraan kakak dengan Ken. Aku cuma mau memmberi kakak solusi, solusi yang aku berikan ada dua. Kakak tinggal pilih mau yang mana."
"Yang pertama, kakak biarkan Ira menikah dengan Chandra apabila memang Chandra berniat mengikatnya dalam pernikahan halal."
"Tapi, Han... Chandra itu--"
Zahra memotong ucapannya. "Aku belum selesai, Kak. Urusan Chandra pemain perempuan atau enggak, apa bedanya dia sama kakak? Aku yakin Chandra bisa berubah."
__ADS_1
"Tapi gak dengan Chandra juga, Han!"
"Oke, intinya kakak lepasin Cira, biarkan dia menyelesaikan masalahnya jika memang harus dengan menikah ya sudah biarkan dia menikah dengan siapapun, itupun kalau kakak tega dan rela."
"Solusi yang kedua, kakak yang menikah dengan wanita lain. Terserah siapa yang penting wanita yang baik dan menyayangi kakak."
"Loh kok jadi aku, dek?"
"Iya, ini solusi agar kakak enggak memikirkan Cira, melepas tanggung jawab dari Cira agar Cira juga tidak berharap dan ketergantungan pada kakak."
"Tapi dek..."
"Udah, solusi aku cuma dua. Pertama, biarkan Cira menikah dengan orang lain. Yang kedua kakak yang menikah dengan orang lain. Kakak tinggal pilih yang mana!"
"Ada solusi ketiga gak, Han?"
"Aku gak ada, tapi Ken sepertinya punya..."
Sesaat kemudian ponsel itu sudah berada ditangan Ken.
"Lo mau tahu solusi dari gue, ya kayak awal aja, Cuuk! Elo yang nikahin Cira! Masalah lo kelar, masalah Cira juga kelar! Udah deh beres..." Bukan Ken namanya jika tak memiliki jawaban ter-absurd, namun entah kenapa itu terasa telak mengenai hatinya.
"Gue gak bisa!"
"Alasannya apa? Gak cinta?" terka Ken.
"Hemmm..."
"Sekarang gini, lo rela dia nikah sama cowok lain? Kalo enggak, berarti lo ada rasa sama dia. Atau gak gini, lo mau nikah sama cewek lain? Nikah loh ini... bukan permainan! Lo pikirin deh baik-baik saran Hana dan gue, mana yang terbaik menurut lo!"
Rasta memutus panggilannya. Ia menatap lagi foto Cira yang ada diponselnya. Ia menghitung hari, sudah hampir 2 bulan Cira melarikan dirii dari orangtua angkatnya. Bulan depan Cira sudah 17 tahun. Apa ia akan menerima jika Cira menerima pinangan lelaki lain dengan alasan membantu keluar dari masalah cewek itu?
"Masalah masalah lo... tapi kenapa gue yanv puyeng, Cil..." Rasta berucap sembari melihat foto Cira.
Bagaimanapun, Rasta tahu bagaimana rasanya hidup dalam persembunyian, ia menjalankan hal itu bertahun-tahun dulu agar tidak ditemukan oleh Owen--sang musuh pada saat itu. Jadi, sedikit banyak ia tahu perasaan Cira yang sekarang hidupnya harus sembunyi-sembunyi demi menghindar dari orangtua angkatnya.
__ADS_1
"Apa gue ikutin saran Ken aja ya?"
*****