Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Posisi yang sulit


__ADS_3

Zahra merasa jika posisinya sekarang seperti berada dalam tempat yang mengerikan, dimana ia tidak bisa meminta pertolongan pada orang lain. Ditambah lagi, suara gedoran pintu kamar mandi semakin membuatnya ketakutan. Ia sadar jika sekarang Frans tengah berada diluar kamar mandi, karena tadi ia sempat berlari untuk bersembunyi didalamnya.


"Ayo menjerit saja, Ra! Kamar ini kedap suara, tidak akan ada yang menyadari apapun yang akan ku lakukan padamu!"


"Kau mau keluar sendiri atau aku yang memaksamu keluar dari sana?"


Frans terkekeh pelan, disaat itu Zahra segera menyadari bahwa ia masih memegang ponsel yang tadinya ia gunakan sebagai alat pemberi cahaya. Ia pun segera menekan angka 1, panggilan cepat ke nomor suaminya.


Terdengar lagi suara kekehan kemenangan dari Frans, itu membuat Zahra merasa terpojok namun ia harus bertahan sekuat tenaga, ia yakin Ken pasti akan menolongnya, ia melirik panggilan ponselnya yang sudah tersambung pada sang suami.


Disaat Zahra hendak berbicara sepatah kata lewat saluran seluler itu, didetik yang sama Frans sudah berhasil mendobrak pintu kamar mandi yang tadinya Zahra andalkan sebagai tameng untuk perlindungan.


"Keluar dari sini, Frans!" kata Zahra keras, namun Frans tetap melangkah demi mendekat pada posisii Zahra.


"Ken?!!!!!" pekiknya kencang namun suaranya langsung tertahan sebab Frans sudah membekap mulutnya.


Frans menyeringai saat melihat ponselnya yang menyala. Entah sadar atau tidak jika Zahra tengah melakukan panggilan pada Ken, namun pria itu segera membuang ponsel Zahra ke arah floordrain (saringan lantai) yang berada diujung kamar mandi.


Prak


Ponsel itu pun terhempas begitu saja, tak ada lagi cahaya pertanda ponsel itu telah padam.


Frans semakin mendekat pada tubuh Zahra yang bergetar karena ketakutan. Secara perlahan pria itu membuka bekapan tangannya yang masih membungkam bibir Zahra.


"Lepaskan aku, Frans! Tolong..." lirih Zahra dengan suara gamang.


"Maafkan aku, Ra!" desis Frans ditelinga Zahra. "Aku terpaksa melakukan ini, aku ingin merasakan jadi seperti Ken. Aku tidak ingin melewatkan hal apapun yang dia punya, aku mau semua hal yang dia miliki, termasuk kamu!" sambungnya penuh penekanan.


Zahra terkesiap saat Frans sudah memeluk tubuhnya dari belakang. Ia menggeleng keras, memohon dalam hati kepada sang pencipta agar mengirimkan siapapun untuk menolongnya malam ini.


Kemudian entah bagaimana, tubuh Zahra terasa melayang diudara. Rupanya Frans menggendongnya untuk keluar dari area kamar mandi.


Zahra meronta dan memukuli tubuh Frans dengan membabi buta, namun tubuh kokoh pria itu seakan tidak bergeming dengan usaha yang Zahra lakukan.


Awalnya Zahra merasa Frans masih memiliki empati padanya karena pria itu menurunkannya begitu saja didepan sofa yang ada dikamar.


"Aku mau kamu.... karena aku mencintai kamu, Ra!" ucap Frans lirih. Namun, sedetik kemudian senyuman licik tersungging dibibir pria itu. "Tapi, aku lebih menginginkan kamu sebagai jalan untuk membuat Ken menjadi hancur," sambungnya tanpa rasa berdosa.


"Kau tidak sadar jika kau sudah gila!" cetus Zahra sembari ingin berlari dari hadapan Frans yang ternyata tidak memiliki nurani sama sekali.


"Aku ingin Ken menjadi gila. Aku tidak sabar melihatnya lebih gila dariku!" ucap Frans sembari menarik rambut Zahra yang memang tergerai sejak tadi karena ia memang sudah tak mengenakan hijabnya sebab mengira akan tidur tadinya.

__ADS_1


Zahra meringis, merasakan perih dikulit kepalanya karena Frans benar-benar menarik rambutnya dengan kuat, seolah takut jika Zahra bisa melarikan diri dari jeratannya.


Sepersekian detik berikutnya, Frans mendorong tubuh Zahra sampai punggung wanita itu terbentur ke sofa.


"Arkhhh!!!!" Zahra kembali meringis, bukan punggungnya yang sakit karena sofa itu cukup empuk, hanya saja perutnya yang terasa nyeri karena terkejut dengan perlakuan Frans yang semena-mena kepadanya.


"Bayiku?" batin Zahra semakin gusar mengingat kandungannya.


Belum sempat Zahra menguasai diri, Frans sudah mengungkungg tubuhnya. Sekarang tubuh Zahra benar-benar berada dibawah kuasa pria itu.


"A-apa yang kau la-lakukan, Frans?" tanya Zahra lemah dengan sisa-sisa tenaganya untuk melawan pria dihadapannya ini.


"Aku ingin merasaimu sebagaimana Ken juga telah merasakannya!" desis Frans sembari mengelus pipi Zahra dengan punggung tangan pria itu. Zahra mengelak demi menepis perlakuan tak sopan yang Frans lakukan kepadanya.


"Sadarlah! Sikapmu ini... sa-sangat kurang ajar, Frans!" ucap Zahra susah payah.


Frans tertawa pelan, entah apa arti tawanya itu.


"Kau tampak pucat, tapi aku sudah menunggu momen seperti ini, Ra! Aku benar - benar menantikannya!" bisik Frans ditelinga Zahra.


Frans mulai ingin membuka kancing piyama Zahra, namun Zahra mendorong dada pria itu dengan kuat lalu meludahi wajah Frans saat itu juga.


Frans terkejut dengan apa yang Zahra lakukan.


Plak


Satu tamparan menjadi hadiah yang pantas untuk wanita yang telah lancang menghinakannya.


Zahra memegang pipinya yang panas karena pukulan Frans.


"Akui kekalahanmu dari suamiku, Frans!" ucap Zahra pelan.


"Kau pikir dia lebih baik dariku, Ra? Asal kau tahu... pria yang kau sebut suami itu, dia lebih breng sek dari aku!"


"Kau tidak lebih baik darinya!" ucap Zahra lantang.


Ucapan Zahra semakin menyulut api amarah dan emosi pada diri Frans. Ia menatap nyalang pada wanita itu, lalu tanpa dikomando pikiran jahatnya segera mengambil alih keadaan. Ia merobek habis piyama yang Zahra kenakan, menampakkan kulit seputih salju milik wanita itu.


Zahra tampak ketakutan dan Frans pun menyeringai puas melihat wajah pias sang wanita.


___

__ADS_1


"Ken?!!!!"


Suara pekikan Zahra dari seberang telepon seolah mengaktifkan alarm bahaya dikepala Ken. Ia juga mendengar suara berisik sebelum panggilan Zahra diponselnya benar-benar terputus.


Dengan gusar, Ken pun segera beranjak dari tempatnya berpijak.


"Woi .... mau kemana lo? Ini belom kelar!" gerutu Chandra pada Ken yang nampak teeburu-buru.


Ken tak menggubris ucapan Chandra, fokusnya hanya satu saat ini yaitu Zahra, istrinya yang mungkin dalam bahaya karena keberadaan Zahra saat ini memanglah berada sangat dekat dengan Frans.


Ken mengendarai mobilnya dengan serampangan, ia ingin segera tiba dikediaman Ayahnya. Entah bagaimana caranya agar bisa lebih cepat lagi, yang jelas jarum yang menunjukkan kecepatan laju mobil yang tengah dikendarainya terlihat naik melebihi angka 100km/jam.


"Bodoh lo Ken, bodoh!" Sepanjang perjalanan itu pula Ken mengumpat pada dirinya sendiri, menyadari bahwa ia terlalu naif meninggalkan Zahra dibawah naungan atap yang sama dengan Frans. Meski dirumah itu ada Bagas dan Irene, tapi saat ini Ayahnya tengah dalam keadaan tak sehat dan Irene ibu tirinya mungkin akan mendukung niat Frans untuk menghancurkannya.


Dipertengahan jalan, Ken nyaris menyerempet sebuah mobil dari arah berlawanan. Ken tahu ia yang salah karena nekat menerobos lampu merah, ia mengabaikan makian dari orang lain kepada dirinya dan kembali berkendara setelah mengatur deruan nafas yang ngos-ngosan.


Demi apapun, jika terjadi sesuatu pada Hana-nya ia pasti bisa gila.


Perjalanan dari Club ke rumah Bagas yang biasanya memakan waktu 45 menit, hanya dihabiskan 20 menit saja oleh Ken.


Ken menekan klakson mobilnya secara beruntun dan tiada henti agar security penjaga rumah Ayahnya segera sigap untuk membuka gerbang.


"Kenapa mati lampu?" tanya Ken marah pada sang security saat melihat kediaman sang Ayah yang gelap gulita sementara dirumah lainnya yang sempat ia lewati tadi-- tidak demikian.


"Pemeliharaan listrik, Den!"


Ken menggeleng tak percaya. "Gensetnya?"


"Rusak, belum diperbaiki!"


"Breng sek!" makinya. Semua ini jelas akal-akalan Frans dan Ken bisa menebak semua tipu muslihat adik tirinya itu.


Ken menuruni mobil. Dengan langkahnya yang jenjang, ia pun memasuki rumah yang tampak senyap.


"Kemana semua orang yang ada dirumah ini?" ucapnya bermonolog. Ia memandang sekilas kearah kamar sang Ayah yang memang berada di lantai dasar dan keadaannya seperti tidak ada kejadian sama sekali.


Ken mulai melangkah menaiki tangga menuju tujuan utamanya yakni kamarnya sendiri dimana ada Zahra disana yang ia yakini jika ada Frans juga yang telah menyelinap masuk kedalam kamarnya.


Ken cukup terkejut karena akses pintu kamarnya bisa dibobol masuk oleh Frans,ia berlari memasuki kamar dan pemandangan didepannya membuatnya terperangah.


Zahra, istrinya, tengah berada dalam kungkungan Frans dan dalam kondisi yang memprihatinkan karena tubuhnya terbalut piyama yang robek.

__ADS_1


*****


__ADS_2