
"Jadi menginap disini, Mbak?"
"Emm ..."
Zahra bingung dan menggaruk pelipisnya sekilas. Ia melirik perhiasan sederhana yang ia gunakan.
"Mas, kalau saya bayar pakai ini bisa gak ya? Soalnya saya gak punya uang lagi," aku Zahra terus terang, ia menunjukkan cincinnya pada pria itu.
Pria muda dihadapan Zahra tampak tersenyum sejenak lalu menggeleng perlahan. "Maaf, gak bisa, Mbak! Kita hanya melayani pembayaran cash menggunakan uang tunai, debit atau credit card," katanya.
Zahra semakin bingung mendengar penuturan pekerja itu. Sementara hari mulai beranjak sore dan ia tidak bisa mencari refrensi tempat inap lainnya karena selain tak punya uang, ponselnya juga telah tiada.
"Mas tahu gak, dimana saya bisa menjual cincin saya ini? Yang terdekat dari sini?"
Pria itu menggeleng lemah.
Zahra segera undur diri dari meja resepsionis itu, ia terduduk didepan lobby penginapan dengan badan membungkuk dan telapak tangan yang menutupi wajahnya. Ia begitu miris dengan nasibnya sendiri.
"Maaf, tadi saya gak sengaja mendengar obrolan kamu sama resepsionis itu."
Zahra menoleh kesamping, dimana ada seorang wanita baya yang masih tampak cantik tengah menyapanya.
Zahra tersenyum sekilas, menghargai sapaan sang wanita.
"Kamu kecopetan ya?" tanya wanita itu lagi.
Zahra kembali mengangguk lemah. Entahlah, rasanya ia tak berselera untuk berbicara lagi, yang ia pikirkan adalah tujuannya selanjutnya tanpa sepeserpun uang dan ponsel.
"Boleh saya yang membayar cincin kamu?"
Zahra mengangguk antusias. "Apa Nyonya mau membelinya?" tanyanya.
"Berapa kamu menjualnya?"
"Saat membelinya, harganya tidak sampai 5 juta. Nyonya bisa hargai setengahnya saja, tidak apa-apa," kata Zahra.
Wanita itu tersenyum lembut. "Baiklah, saya akan membayarnya 5 juta pas."
Zahra terkesiap. "Benarkah? Tapi harganya tidak sampai segitu, Nyonya!" jawabnya.
"Tapi saya rasa kebutuhan kamu lebih daripada itu, jika melihat dari penampilan kamu dan insiden yang menimpa kamu, kamu sepertinya pendatang baru disini. Kamu butuh uang untuk menyewa penginapan dan membeli ponsel baru, mungkin." Wanita itu berbicara dengan sangat lembut dan kata-katanya tertata santun.
Kemudian, wanita baya itu membuka handbag yang ia pegang, mengambil sesuatu dari dalamnya.
"Saya cuma pegang uang cash 2 juta. Sisanya saya buatkan cek saja, ya."
__ADS_1
Zahra mengangguk dengan rasa sungkan yang teramat dalam. Tapi setidaknya bantuan dari wanita ini bisa membuatnya tidak tidur dijalanan.
Wanita itu menyerahkan uang dan cek yang ditulisnya dihadapan Zahra.
"Besok, kamu bisa cairkan uangnya di Bank diseberang penginapan ini," kata wanita baya itu tersenyum.
"Te-terima kasih banyak, Nyonya." Zahra segera memberikan cincinnya setelah uang diserahterima padanya.
Wanita itu tertawa pelan, bahkan tawanya terdengar renyah dan berkarisma. " Saya beli cincin kamu, ya. Nama saya Devia," katanya mengulurkan tangan.
"Iya, saya ... Hana," ujar Zahra, entah kenapa ia memperkenalkan nama kecilnya itu kepada wanita baik hati dihadapannya ini.
Wanita itu mengangguk sekilas. "Sebaiknya kamu segera memesan kamar," katanya mulai berdiri dari duduknya diikuti oleh Zahra.
"Iya, Nyonya."
Wanita itu menoleh pada Zahra. "Jangan panggil saya dengan sebutan itu, Hana!" ucapnya lembut.
"Saya... tidak tahu harus memanggil apa lagi kepada Anda," kata Zahra menunduk.
Wanita itu tersenyum. "Panggil saja Tante," celetuknya sambil menepuk pundak Zahra dengan akrab.
"I-iya, Tante..."
Mereka pun berpisah di lobby penginapan itu.
Begitu tiba di kamar inapnya, Zahra langsung membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.
Tiba-tiba Zahra teringat sesuatu yang hampir ia lupakan.
"Bagaimana kalau kejadian kemarin menyebabkan aku hamil diluar nikah?" gumam Zahra bermonolog pada dirinya sendiri.
Zahra menggeleng pelan. "Tidak, aku tidak mau!" katanya kembali terisak, ingatannya kembali pada malam itu dan membuatnya muak kala mengingat wajah Ken.
______
Senja yang menjingga telah berubah menjadi kegelapan. Hari mulai malam diiringi dengan susulan titik-titik air hujan yang terjatuh menerpas di lantai bumi.
Seorang pria tampak mengusap wajahnya lagi dan lagi, menghela nafas panjang untuk yang entah keberapa kali. Dia bertekad untuk menemui gadisnya yang masih tak sudi membuka pintu rumah.
Jangankan membuka pintu, mungkin melihat wajahnya pun gadis itu sudah tak mau lagi.
Ken tahu semua ini adalah konsekuensi atas semua yang telah ia akui terhadap Zahra. Ia tidak menyangkal apapun yang terbersit dibenak gadis itu.
Ia tidak menjelaskan apapun pada gadis itu, membiarkan gadis itu berpikir dengan pikirannya sendiri, lalu ia juga membiarkan gadis itu menyimpulkan apa yang telah terjadi menurut sudut pandang Zahra sendiri.
__ADS_1
Tidak sekalipun Ken membela diri atas tuduhan Zahra, karena ia punya alasan tersendiri yang hanya dirinyalah yang tahu apa maksud dan tujuannya.
Tapi, hukuman Zahra yang tak mau menemuinya sampai pada detik ini-- cukup membuatnya jenuh. Paling tidak, seharusnya Zahra mengusirnya saja dari sini, bukan mendiamkannya seperti ini-- sedari siang.
Ponsel Zahra sudah tak aktif lagi, padahal siang tadi panggilannya masih tersambung walau tak pernah dijawab sekalipun oleh gadis itu.
Ken terus menunggu diteras rumah kontrakan milik Zahra, tak tahu sampai kapan ia akan ada disana. Mungkin sampai esok hari pun akan dilakukannya-- asal Zahra membukakan pintu untuknya lalu menyambutnya dengan senyuman.
Senyuman?
Ken menggeleng pelan, mana mungkin Zahra mau tersenyum padanya lagi. Itu harapan yang sangat tinggi dan mustahil!
Dengan Zahra tak menamparnya saja seharusnya ia sudah bersyukur. Kenapa sekarang harapannya justru mendapat senyuman dari gadis itu?
Mimpi kamu Ken! batinnya.
"Mas, nunggu siapa? Rumah itu gelap dan sepertinya kosong, Mas!" Suara seorang wanita yang masih mengenakan mukena menyapa Ken dari balik pagar rumah kontrakan Zahra. Mungkin wanita itu baru pulang dari Mesjid.
Ken terperanjat. Ia baru menyadari rumah ini memang gelap gulita bahkan ruangan didalamnya pun tak ada satupun lampu yang menerangi.
Seharusnya jika Zahra ada didalam, rumahnya tidak mungkin segelap ini.
Kenapa jadi sebodohh ini? Sial-an!
"Gadis yang ngontrak disini?" tanya Ken pada wanita diseberang sana dengan raut bingung.
Kenapa tak dari siang tadi saja ia menanyakan keberadaan Zahra dengan tetangga? Lingkungan ini memang sepi karena disekitar kontrakan rumah Zahra diisi oleh pekerja yang siang harinya tentu tengah bekerja.
"Kurang tahu, Mas! Coba tanyakan sama pemilik rumah kontrakan itu! Rumahnya diujung sana." Wanita itu menunjuk kearah berlawanan.
"Terima kasih," kata Ken dengan wajah datar tanpa senyum. Wajahnya memang begitu kan?
Ken segera menaiki motornya dan menuju rumah yang tadi dimaksudkan wanita itu.
Ia bertanya disana dan mendapat kekecewaan lainnya, ternyata Zahra sudah pergi meninggalkan rumah sejak hari menjelang siang, berpamitan dan menyerahkan kunci rumah itu pada pemilik aslinya. Itu artinya, Zahra tak mengontrak disana lagi.
"Berarti seharian ini gue udah ngelakuin hal yang sia-sia!" gumam Ken. Ia merasa bodohh sebodoh-bodohnya, seharusnya ia sudah mengira ini sejak awal dan langsung mencari keberadaan 'Hana-nya'. Waktunya terbuang sia-sia ternyata.
"Lalu sekarang apa, Ken?" tanyanya bermonolog pada dirinya sendiri. Ia menaiki motornya dan pergi dari sana dengan perasaan berkecamuk.
...Bersambung.......
Novel ini sudah terkontrak🔥 jadi mohon didukung ya, Readers🙏
Yang pengen baca kelanjutan kisah Ken dan Hana ... tinggalkan jejak dong. Minimal komen atau like.. jangan lupa di tap Love♥️ juga, yakkkk... vote dan hadiah juga boleh bangetttt👇🎉🎉🎉🎉💞💞
__ADS_1
Semoga readersku sehat semua dimanapun kita berada🤗🤗🤗