
Entah kenapa Zahra merasa perjalanan dari Restoran menuju kantor terasa sangat lama, padahal jarak kedua tempat itu tak terlalu jauh.
Mungkin karena sosok disebelahnya yang mulai mengajaknya bicara ke topik yang lebih serius.
Ya, sejak tadi Zaki mengajaknya bicara tentang Lala, lalu justru merembet kepada memujinya dan lagi-lagi membuatnya tak nyaman dengan perilaku Zaki.
Sebenarnya Zaki sudah lama tak mengakrabkan diri dengannya lagi--sejak ia menyatakan ketidaknyamanannya.
Namun kali ini berbeda, mungkin karena ada kesempatan yang membuat mereka harus pergi berdua saja-- sehingga Zaki mulai lagi dengan kebiasaan lama yakni mendekatinya.
Zaki sebenarnya baik, tapi entah kenapa ia selalu merasa tak nyaman didekat pria itu.
Ia pun tak tahu kenapa. Apa karena ia merasa sudah tak sempurna sebagai seorang wanita? Ya, keadaannya tak sama lagi seperti dulu, kan? Atau karena ia trauma dengan masa lalunya? Mungkin ia memang tidak layak untuk pria manapun, insiden buruk yang merusak dirinya--cukup membuat rasa percaya dirinya yang memang sedikit menjadi semakin surut.
Ia merasa dirinya hanya layak untuk seseorang yang sudah mengambil kehormatannya, meski kini ia sangat membenci orang itu. Orang yang telah merusaknya. Ah, kenapa jadi teringat dia!
"Aku tuh sebenarnya penasaran sama kamu, Han... mungkin ini adalah momen untuk aku jujur sama kamu karena selama ini kita gak punya waktu dan kesempatan seperti ini." Ucapan Zaki membuatnya menoleh dengan ekspresi terkejut.
Benar saja dugaannya, ternyata Zaki berbicara semakin ke arah yang serius, membuat perasaan tak nyamannya semakin menjadi - jadi.
"Jujur? Jujur apa, ya?" tanyanya dengan bingung, meski ia bisa menebak kemana arah pembicaraan ini.
Ia tak bodoh, ia tahu jika sedari awal Zaki tertarik padanya. Bahkan pemuda itu sampai membuat desain khusus 'sang pemikat' yang akhirnya tranding di akhir bulan-- juga membuat namanya ikut tenar dan melejit di kantor berkat kesuksesan desain Zaki itu--sebab Zaki membawa - bawa namanya ikut serta atas terbentuknya sang desain populer.
"Han, aku ... kagum sama kamu!"
Nyes...
Entah kenapa hatinya terasa sesak jika mendengar hal semacam ini dari orang yang tidak ia harapkan.
Dulu Frans, sekarang Zaki.
Orang yang dia harapkan? Justru merusaknya! Ya ampun ... kenapa mengingat orang itu lagi?
"Aku tahu kamu gak nyaman dengan pendekatan aku, aku rasa itu semua karena kita baru mengenal. Aku ... tertarik dengan apapun yang menyangkut kamu," imbuh Zaki yang tampak fokus mengemudikan mobil sembari sesekali melirik kearahnya.
Ia diam terpaku, tak tahu harus menjawab apa. Namun ia tak mau terjebak situasi yang sama seperti dulu dengan Frans, ia harus tegas menolak, tak ingin mengulur waktu.
"Zaki ... aku senang ada orang yang kagum sama aku, tapi kagumilah aku karena kinerjaku dan kerja kerasku."
"Justru karena kerja keras kamu, aku semakin kagum lalu beralih menjadi sangat menyukai kamu, Han..." ucap Zaki sungguh - sungguh.
"Jika kamu kagum atas dasar lain apalagi sampai beralih menjadi rasa suka seperti itu ... maaf Zaki! Aku rasa kamu akan kecewa nantinya," jawabnya pelan namun menekankan kalimat itu.
Zaki menoleh sekilas. "Kenapa?" tanya pria itu.
"Aku ... sudah memiliki calon suami," dustanya. Walau sebenarnya saat mengatakan itu ia teringat dengan seseorang yang entah berada dimana saat ini, mengharap orang itu sebagai calon imamnya kelak. Ia memang tak bisa menampik jika ia masih mengharapkan orang itu, orang yang sama.
Zaki menatapnya dengan mata membola, terdiam sesaat dengan ekspresi terkejutnya yang tak bisa ditutupi.
Hening, sampai akhirnya Zaki menghentikan mobil tepat di parkiran gedung kantor yang sudah mereka masuki.
__ADS_1
"Han, kamu serius?" tanya Zaki dengan suara lirih. Pria itu seperti ingin memastikan dulu sebelum mereka benar-benar turun dari mobil.
Ia pun mengangguk. "Aku harap, kamu jangan mengagumiku berlebihan, apalagi sampai menyukaiku. Kamu pria yang baik, aku yakin kamu akan memahami ini."
Tampak Zaki menatap nanar ke arah depan dengan tatapan kosong. Entahlah apa yang dipikirkan pria itu sekarang. Lebih baik ia mengecewakan pria-pria seperti Zaki. Zaki pria baik, ia tak mau suatu saat nanti Zaki harus kecewa saat tahu dan mendapatkan dirinya yang tak lagi suci.
Ia merasa kotor, tak layak bagi pria manapun. Tak akan ada yang menerima kekurangannya ini. Ia sudah memutuskan untuk menutup diri-- selamanya.
Selain itu, hatinya juga tak tertarik dengan pria manapun lagi, karena hatinya telah dimiliki dan dikuasai oleh orang itu. Dia--yang sudah merenggut kesuciannyaa.
"Maaf ya, Han. Seharusnya sebelum menyatakan hal ini aku lebih dulu menanyakan status kamu." Zaki menatapnya sendu, buru-buru ia menoleh ke arah yang lain karena tak mau terbawa suasana perasaan Zaki-- yang mungkin sedang tak baik-baik saja sebab penolakannya.
"Ya, tak apa," jawabnya mencoba tersenyum simpul.
"Apakah kita bisa berteman saja?" tanya Zaki ikut tersenyum pada akhirnya.
"Tentu... aku senang punya banyak teman," jawabnya serius.
"Terima kasih, Han..."
Ia mengangguk dan mereka menuruni mobil kemudian.
Sesampainya dilobby gedung, ia harus terkejut sebab melihat sosok yang tidak pernah disangkanya.
Sosok itu berdiri dan seolah tengah menunggu seseorang.
"Apa yang dia lakukan disini? Apa dia punya klien yang bekerja di gedung ini?" Batinnya.
Ia menggeleng dan mencoba menghindar atau lebih tepatnya bersembunyi agar sosok yang tadi membuatnya terkejut tidak menyadari kehadirannya di lobby ini. Sosok itu tampak duduk di kursi tunggu sembari memainkan ponsel--jadi atensi sosok itu memang tak fokus pada keberadaannya.
"Ayo, Han..." kata Zaki mengajaknya masuk kedalam lift yang ternyata sudah terbuka.
Ia segera merangsek masuk dan berdiri memunggungi pintu lift, lagi - lagi agar keberadaannya tak nampak oleh sosok itu.
"Kamu kayak abis ngelihat hantu saja!" celetuk Zaki saat Lift mulai bergerak naik.
Ia tertunduk, tak menjawab Zaki karena ucapan Zaki tak perlu dijawabnya.
"Kenapa Han? Jangan dipikirkan soal ungkapan perasaanku tadi, aku pasti akan cepat move on!" jawab Zaki dengan senyuman.
"Bagus jika memang begitu..." jawabnya mencoba tersenyum dan melupakan sosok yang ada di Lobby gedung tadi.
Mereka pun tiba di lantai tempat kantor mereka berada.
"Ah, Zak... aku boleh menanyakan sesuatu tidak?"
"Ya, soal apa? Tanya saja... kita sudah berteman, bukan?"
Ia tak menyangka ternyata Zaki bisa menerima penolakannya tadi dan bersikap biasa saja sekarang. Ia pun harus demikian dan menganggap Zaki sebagai temannya, seperti tawaran pemuda itu.
"Sebenarnya, aku mau menanyakan ini pada Tante Devia, tapi berhubung beliau tidak ke kantor hari ini, jadi aku menanyakannya sama kamu saja," jelasnya.
__ADS_1
"Tentang apa?"
"Kita ke ruanganku saja, ada yang mau aku tunjukkan, aku pikir kamu pasti lebih paham daripada aku."
Zaki mengangguk.
Sesampainya di dalam ruangannya, ia membuka laci meja dan mengambil sebuah kotak kecil disana.
"Aku ingin menanyakan ini sejak diawal - awal bekerja disini, tapi ... aku ragu."
"Apa itu?" Zaki mengulurkan tangan untuk mengambil benda yang ingin ia tunjukkan.
"Kalung?" Zaki mengeluarkan kalung dengan bandul yang tampak diperhatikan oleh pria itu.
"Iya, bukan masalah kalungnya tapi coba kamu fokus ke bandulnya aja, kamu tahu itu apa?"
Zaki beralih pada mainan kalung yang ada digenggaman, lalu tampak menyadari sesuatu.
"Ini... cincin bayi?" Zaki tampak mengernyit.
Ia mengangguk. "Apa itu asli?" tanyanya memastikan pada Zaki, walau ia berpendapat itu adalah cincin bermata berlian asli.
"Tentu saja ini asli, aku bisa melihat keasliannya dalam sekali lihat," kata Zaki yakin.
"Nah, sekarang yang mau aku tanya ... kamu kan sudah lumayan lama terjun dalam dunia kerajinan perhiasan, mungkin kamu tahu desain itu rancangan siapa atau produsennya dimana?"
"Tapi ... ini cincin bayi siapa?" tanya Zaki.
"Itu milikku saat bayi, karena sudah tak muat dijariku jadi ku jadikan mainan kalung saja."
"Kamu memiliki ini saat bayi?" tanya Zaki dengan wajah terkejut.
"Iya, itu kata Ibu panti."
"Kamu tinggal di panti sejak bayi?"
"Ya, makanya aku mau tahu asal - usul cincin itu, aku ingin mencari tahu dimana orangtua kandungku!"
"Ya, aku paham sekarang... masalahnya adalah berlian yang terpatri di cincin bayi ini... kualitasnya lumayan," terang Zaki.
"Maksudnya?"
"Ya, kemungkinan ... orangtua kamu itu orang berada. Kalau gak Milyarder, mungkin punya perusahaan berlian juga kayak Mama aku." Kemudian Zaki berdecak sampai menggelengkan kepala tak habis pikir.
"Begitu, ya?" tanyanya.
"Ya, iyalah... kamu pikir aja? Seorang bayi dipakaikan cincin berlian!"
Ia hanya tersenyum kecut mengetahui fakta yang Zaki deskripsikan. Benar juga-batinnya.
"Aku pastikan ini gak akan sulit, Han! Jarang ada desain seperti ini. Kamu siap - siap aja bertemu dengan keluarga kandung kamu!" kata Zaki akhirnya.
__ADS_1
...Bersambung ......