Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Menjadi Imam


__ADS_3

Setelah pintu lemari tertutup, Ken masih terkekeh pelan melihat tingkah istrinya yang nampak berjongkok di lantai.


"Kamu kenapa, sih?" tanyanya pada Zahra masih dengan kulumman senyum.


Zahra menjawab dalam posisi yang meringkuk, menyembunyikan wajah dilututnya. "Cepat pakai pakaian kamu! Atau tolong ambilkan baju kamu untuk aku pakai," kata Zahra.


Ia mengerti jika kini sang istri telah mengambil keputusan dan ingin mengenakan pakaiannya. Hmmm...


"Mau baju yang mana, Sayang? Kemeja atau ka---"


"Yang mana saja!" potong Zahra cepat.


Ia pun tersenyum smirk dan kembali membuka lemari pakaian untuk mengambil sebuah kemeja secara random, lalu menyerahkan itu pada sang istri.


"Pakailah, atau mau ku pakaikan?" godanya.


Zahra bangkit dengan wajah yang tampak kesal, lalu mengambil baju dari tangannya dengan gerak cepat, kemudian gadis itu berlalu menuju kamar mandi.


Ia tak tahan lagi untuk tidak tertawa, sehingga ketika pintu kamar mandi tertutup, ia langsung tergelak seketika.


Setelah puas menertawakan sikap malu - malu istrinya, ia pun mengambil sebuah kaos polos hitam didalam lemari yang sama untuk segera ia kenakan.


Ia bersiap sembari menunggu Zahra yang belum juga keluar dari kamar mandi padahal hanya tinggal mengenakan baju saja didalam sana.


Perasaannya mulai tak enak, sudah 15 menit berlalu tapi sang istri tak kunjung keluar.


"Han, kenapa belum keluar? Apa ada masalah lagi?" Ia mengetuk pintu kamar mandi dan berdiri disana.


"Nggak ada! Tapi ... tapi ..." Jawaban Zahra terdengar ragu dari dalam kamar mandi


"Tapi kenapa?" tanyanya.


"Apa kamu sudah berpakaian?"


"Sudah. Kenapa?"


"Tolong carikan koperku!" lirih Zahra.


"Kan sudah ada bajuku... tidak perlu mencari dimana kopernya lagi. Besok saja," jawabnya santai.


"Tapi aku nggak nyaman, Ken!"


"Kenapa? Bajunya kebesaran? Nggak apa - apa kan cuma mau tidur!"


"Lagipula aku belum sholat isya', Ken? Mukena ku masih dikamar tamu, tolong sekalian ambilkan... tolonglah!" Suara Zahra terdengar sangat memohon, ia jadi tak tega.


"Baiklah, aku akan mencarinya. Tapi kamu keluar dari kamar mandi, ya?" pintanya sebagai kesepakatan.


"Iya, setelah kamu keluar, aku juga keluar dari sini."


"Ya, ya, aku keluar sekarang." Ken berjalan ke arah luar kamar untuk mencari koper Zahra.


_____

__ADS_1


Merasa jika Ken benar - benar telah pergi, Zahra pun keluar dari dalam kamar mandi. Ia bisa bernafas lega sekarang karena sejak tadi ia dilanda rasa gugup yang berlebihan, apalagi sejak ia tak sengaja menatap tubuh Ken yang terbuka.


"Ya ampun, mataku sudah ternodaa," rutuknya pada diri sendiri.


Ia duduk di pinggiran tempat tidur, dengan perasaan cemas.


Bagaimana tidak, ia sekarang mengenakan kemeja Ken, berwarna putih gading, yang panjangnya hanya menutupi sampai bagian pahanya saja tanpa memiliki bawahan apapun. Sementara rambutnya masih tertutup handuk.


Celana pria itu pasti tidak muat untuk ia kenakan. Jadi, ia memutuskan untuk menunggu kopernya yang sedang diambil Ken saja.


Ia menarik bed cover untuk menutupi kakinya yang terbuka. Tak berapa lama, suara knop pintu yang ditekan dari luar pun terdengar, bersamaan dengan kembalinya Ken untuk masuk kedalam kamar.


Ia menatap apa yang dibawa Ken. Hanya mukena dan sebuah sajadah.


"Kopernya mana, Ken?" tanyanya.


Ken mengangkat bahu. "Enggak tahu, aku cari di kamar tamu enggak ada."


"Masa sih? Terus koperku kemana?"


"Mana ku tahu, Hana... Sayang!"


Ia mencoba mengabaikan panggilan Ken itu. "Ya sudah, sini mukenanya! Aku mau sholat isya."


"Sama aku ya sholatnya," kata Ken tersenyum kecil.


"Emang bisa?" cibirnya.


"Ya gini - gini juga... kalau mimpin sholat masih bisa, Han! Aku juga mau jadi imam yang baik untuk kamu. Aku gak mau dikatain islam ktp doang! Kamu mau kan kasi aku kesempatan untuk jadi suami yang baik?"


"Gimana? Mau kan sholatnya berjamaah sama aku?" Ken kembali memastikan jawabannya.


Ia mengangguk. "Boleh deh, emang seharusnya begitu. Siniin mukenanya," ucapnya sembari mengulurkan tangan ke arah pria itu.


"Cium dulu, baru aku kasi..." pinta Ken sembari menunjuk pipi sambil tersenyum yang tampak sangat menyebalkan.


"Jangan banyak main - main! Aku mau sholat sekarang!" ucapnya kesal.


"Masa minta cium istri sendiri dibilang main - main, sih? Aku serius ini..." Ken sedikit membungkuk demi menyodorkan bagian pipi agar lebih dekat kepadanya.


"Aku... aku gak bisa, Ken!" tolaknya.


"Dosa loh!" ancam Ken yang sekarang punya jurus jitu.


Ia bergeming sementara Ken merangkak naik ke atas tempat tidur. Ia jadi gelagapan lagi sekarang.


"K-ken..." ia menaikkan bed cover agar semakin menutup seluruh tubuhnya, seolah itu merupakan tameng untuk melindungi dirinya.


Tak ada suara sahutan dari Ken, senyap. Apa yang dilakukan pria itu didepannya? Ia tak tahu lagi, karena bed cover sudah menyelubungi dirinya sampai ke bagian kepala.


Merasa tak ada pergerakan, ia ingin tahu apa yang dilakukan Ken, ia pun membuka bed covernya sedikit demi sedikit untuk melihat keadaan. Belum terlihat, ia membuka lebih banyak bagian bed covernya.


CUP!

__ADS_1


Astaga, ia refleks memegang bibirnya sendiri yang baru saja dikecup oleh Ken. Ternyata memang Ken menunggunya untuk membuka 'tamengnya' itu.


Ia tidak memekik, tidak bisa, karena Ken masih didepannya. Ralat! didepan bibirnya.


"Kalau kamu gak bisa cium aku, biar aku aja yang cium kamu!" ucap Ken dengan sangat pelan didepan wajahnya.


Kenapa begini? Rasanya ia butuh pasukan oksigen sekarang juga. Sepertinya ia gagal nafas.


Dengan kesadaran yang entah tinggal berapa persen, ia mendorong dada Ken yang ada didepannya.


"Le-letakkan mu-mukenanya disitu! A-aku ambil wudhu dulu!" ucapnya tergagap. Ia pun segera mengambil kesempatan untuk beringsut menjauh dari tubuh Ken yang menghhimpitnya.


Sampai di kamar mandi, ia kembali memegangi da-danya yang terasa berdebar, bukan, lebih tepatnya bertalu - talu.


Kenapa Ken melakukan hal itu? Ah, rasanya ia ingin protes, namun tidak bisa, kenapa?


_____


Nekat. Itulah satu kata untuk tindakan yang baru saja Ken lakukan pada Zahra. Tapi, ia sama sekali tak menyesali perbuatannya, justru sekarang ia senyum - senyum sendiri membayangkan bagaimana reaksi istrinya tadi--saat ia mengecup bibir Zahra sekilas. Ya, hanya sekilas. Tidak apa - apa, itu lumayan untuk tahap awal. He... he... he...


Ia meletakkan mukena milik Zahra yang tadi ia ambil dari kamar tamu. Kemudian ia bergerak untuk menyusun sajadah untuk menunaikan shalat. Ya, mereka akan melakukan shalat berjamaah pertama sebagai pasangan suami - istri malam ini.


Jangan tanyakan keberadaan koper Zahra, ia juga tidak tahu kemana benda itu. Tadi ia sudah mencarinya di kamar tamu sesuai saran sang istri, tapi, gak ada tuh!


Ya, yang penting ia sudah mencarinya. Ia tak terlalu mempermasalahkan tentang benda itu, justru sebenarnya ia bersyukur dengan hilangnya benda itu malam ini.


Tapi, jika Zahra tak memiliki pakaian ganti terus, ia tak tahu bisa menjaga sikapnya atau tidak pada sang istri.


Melihat Zahra mengenakan kemeja putihnya tadi, membuatnya nyaris kehilangan kendali.


Saat ia masih larut dalam membayangkan wajah merah Zahra, saat itu pula wanita itu sudah keluar dari bilik kamar mandi. Ia menoleh pada Zahra yang tampak mengenakan mukena miliknya.


"Enggak jadi shalat? Kalau enggak jadi, aku shalat sendirian aja!" kata Zahra pelan.


"Jadi dong, Sayang. Tunggu sebentar ya!" ia pun bangkit untuk mengambil wudhu di kamar mandi.


Setelah itu, mereka benar - benar shalat isya' berjamaah.


Selesai shalat dan berdoa, ia menyodorkan tangannya pada Zahra.


"Salim," ucapnya. Tanpa banyak protes, Zahra pun mencium tangannya dengan takzim.


Hatinya menghangat, ini kali pertamanya beribadah bersama wanita yang ia cintai, wanita yang ia inginkan, dan kini wanita itu telah resmi menjadi istrinya. Menjadi miliknya.


Masih dalam posisi duduk yang sama, ia menggenggam jemari Zahra. Kali ini ia ingin bicara serius dengan wanitanya, tidak ingin menggodanya lagi.


"Aku minta maaf sama kamu, apapun kesalahan aku dimasa lalu. Aku harap kamu benar - benar ikhlas memaafkan aku. Aku tahu itu enggak mudah, hanya saja aku mau rumah tangga kita berjalan dengan baik. Aku harap, harapan kamu gak jauh berbeda dengan harapan aku." Ia menatap netra milik istrinya yang tampak berkaca - kaca.


Zahra mengangguk tanpa menyahuti ucapannya. Ia pun bergegas bangkit dan melipat sajadah miliknya. Ia memilih untuk tidur saja sekarang.


Namun, saat ia sudah ingin berbaring di atas tempat tidur, suara Zahra kembali terdengar memanggilnya.


"Ken...."

__ADS_1


*****


__ADS_2