
"Ken ..." Seperti biasanya, Zahra selalu menghampiri Ken yang makan di kantin seorang diri.
Ken menatap Zahra sekilas, kemudian dia membiarkan saja gadis itu untuk duduk dihadapannya seperti hari-hari sebelumnya.
Tidak ada percakapan diantara mereka berdua karena Ken tetap fokus makan sembari bermain game di ponselnya.
Ken bersikap cuek, seakan tidak pernah terjadi sesuatu diantara mereka berdua kemarin.
Zahra yang sudah memaklumi sikap tak acuh lelaki itu pun, hanya bisa memakan semangkuk baksonya dalam keadaan diam yang sama.
"Lo gak lelah ngikutin gue kayak gini?" tanya Ken tiba-tiba, dia menatap mata bening Zahra.
Zahra tersedak makanannya karena terkejut mendengar ucapan Ken yang mendadak itu. Belum lagi, saat Ken menatapnya, Zahra juga tengah memperhatikan lelaki itu dalam diam, sehingga sikap curi-curi pandang Zahra itu tertangkap basah saat mata Ken menatapnya.
Zahra ketahuan jika sedang memandangi lekat-lekat lelaki didepannya itu.
"Ya ampun malunya!" batin Zahra segera meraih gelas minuman didekat mangkok baksonya.
Zahra langsung meneguk minuman itu hingga tandas dan Ken seperti menunggu gadis itu selesai dengan hal tersebut.
"Lain kali kalau mau makan sekalian pesan minum! Jadi gak ngabisin minuman orang!" cetus Ken.
"Eh?" Zahra langsung tersadar jika yang dia habiskan adalah minuman milik Ken. Secara refleks dia meletakkan kembali gelas itu ke atas meja.
"Aduh! Malunya bertambah jadi dua kali lipat!" Zahra merutuki dirinya sendiri.
Ken hendak bangkit dari duduknya, tapi Zahra kembali memanggil nama lelaki itu.
"Ken ..."
"Apa lagi? Lo mau bayar minuman yang udah lo habisin?" sindir Ken.
"Kalau itu bisa buat kamu ikut bimbel, maka aku akan membayarnya," lirih Zahra.
Ken terdiam sesaat, kemudian ia tersenyum smirk.
"Sampai kapanpun gue gak akan ikut bimbel itu! Gue gak peduli soal sekolah! gue ngejalanin masa putih abu-abu ini hanya karena formalitas aja!"
"Tapi, Ken ... sekolah itu penting!" tegas Zahra.
__ADS_1
"Nggak penting ... gue udah bisa baca, tulis, ngitung!" Ken mengendikkan bahu cuek kemudian mulai akan melangkah lagi.
"Sepertinya membujuk orang seperti kamu memang akan berujung sia-sia! Coba kamu lihat anak-anak di Panti! Mereka semua semangat untuk sekolah walaupun biaya untuk sekolah nyaris nggak punya!" ucap Zahra membuat Ken terdiam dan berpikir.
"Kamu bisa seenaknya bilang kalau sekolah itu gak penting! Gak semua orang seberuntung kamu, yang menganggap sekolah adalah hal remeh-temeh. Aku buktinya, sudah mencari uang dari kecil agar bisa terus sekolah!" imbuh Zahra.
"Itu urusan lo! Beda sama prinsip hidup gue!" Ken berlalu dan meninggalkan Zahra di pojokan kantin, tempat biasa Ken menghabiskan waktu di jam istirahat sekolah.
Zahra kesal melihat sikap Ken itu, apalagi mendengar ucapan Ken yang terdengar menyepelekannya. Tentu saja Zahra marah, karena Ken tidak tahu betapa sulitnya dia mencari uang selama ini demi sekolah.
Kemudian, tanpa pikir panjang Zahra berjalan cepat demi mengejar langkah Ken.
Zahra meraih lengan Ken dengan tergesa, membuat lelaki itu berbalik kearahnya.
"Oke, aku gak akan memaksa kamu untuk ikut bimbel lagi, karena kita memang beda prinsip! Aku capek bujuk batu kayak kamu!" kata Zahra marah. Ken terkejut melihat kemarahan Zahra itu, dia tak menyangka Zahra semarah ini.
Sepersekian detik berikutnya, Ken baru tersadar jika Zahra telah pergi dari hadapannya dan ternyata pertengkaran pertama mereka itu tak luput dari pandangan murid-murid lain yang tampak berbisik-bisik sambil menggeleng-gelengkan kepala kearahnya.
Entah kenapa, ada perasaan menyesal dalam hati Ken. Apa perkataannya telah menyinggung Zahra? Apa secara tak langsung dia telah menyakiti gadis itu?
-
Kemarahan Zahra tempo hari seperti puncak kesabaran gadis itu untuk membujuknya dan sekarang tidak ada lagi Zahra si anak ayam yang mengikuti sembari membujuknya untuk ikut bimbel setiap waktu.
Ujian semester tinggal menunggu beberapa minggu lagi dan entah kenapa Ken justru memikirkan ucapan Zahra sekarang, bahwa sekolah itu adalah hal penting yang bahkan banyak anak-anak seperti Zahra -- harus memutar otak demi mendapatkan uang untuk bersekolah.
Seharusnya saat ini Ken merasa tenang dan nyaman tanpa hadirnya Zahra yang menguntitnya, tapi kenapa dia justru merasa sepi dan ada yang hilang?
Apa Zahra sudah mempengaruhi pola pikirnya? Ataupun secara tak sengaja Zahra telah mengisi kekosongan hari-harinya selama ini?
____
Derap langkah terdengar mendekat ke arah Zahra yang tengah mengajari anak-anak di halaman belakang panti.
Zahra menyadari itu, tapi tak menyangka siapa yang datang berkunjung ke panti di hari minggu ini.
Anak-anak panti mulai terdengar menyerukan kalimat yang membuat wajah Zahra memerah, sebab terkejut, tak menyangka serta perasaan malu.
"Kak Hana ... pacarnya datang itu!" Suara Dito yang nyaring dan senang menggoda Zahra adalah puncak keriuhan yang mulai terjadi. Tangan kecil Dito menunjuk-nunjuk ke arah belakang tubuh Zahra dan secara otomatis Zahra menoleh ke belakang, walau dari ucapan Dito dia sudah dapat mengira siapa yang mendatanginya hari ini. Itu pastilah Ken.
__ADS_1
Setelah seminggu ini dia tak mengikuti Ken di area sekolah, kenapa sekarang lelaki ini menghampirinya ke Panti?
"Kenapa?" tanya Zahra datar, dia bahkan malas melihat wajah Ken. Tapi, tunggu dulu ... wajah Ken terlihat banyak lebam dan nyaris babak belur, karena sebenarnya dia tak benar-benar mengabaikan wajah rupawan lelaki itu jadi dia dapat melihat keadaan wajah Ken dari hasil curi-curi pandangnya.
"Bisa bicara sebentar ..." Suara Ken terdengar lirih.
Sementara di depan mereka anak-anak panti terus terdengar menggoda Zahra dan Ken.
"Pacar Kak Hana minta diobati lukanya," celetuk Keysia, membuat Zahra kembali menoleh pada perkumpulan anak-anak panti yang sudah tak duduk dengan kondusif seperti diawal tadi.
"Key ... disini gak ada yang pacar-pacaran. Oke?" ucap Zahra pelan tapi menekankan kalimatnya itu agar Keysia paham maksudnya.
Anak perempuan bernama Keysia itu justru terkekeh-kekeh sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan polos.
Zahra kembali menatap Ken. "Kita bicara disana!" ucapnya dan langsung melangkah ke arah ayunan besi jadul berbentuk lingkaran yang ada diujung halaman.
Ken mengikuti langkah Zahra yang berjalan didepannya. Mereka hanya diam sampai tiba di ayunan itu, Zahra pun mendudukkan diri disana.
Ken dengan sikap percaya dirinya langsung mengikuti Zahra, duduk di ayunan besi yang sama, membuat posisi mereka menjadi berhadap-hadapan.
"Kamu mau bicara apa? Aku lagi gak punya banyak waktu," kata Zahra.
Ken mengangguk paham.
"Gue bakal ikut bimbel sama lo."
Zahra terdiam, ucapan Ken benar-benar membuatnya terkejut, padahal hampir dua bulan ini dia membujuk Ken setiap hari tapi lelaki itu tidak pernah bergeming dengan ajakannya. Dan selama seminggu ini Zahra mendiamkan Ken, kenapa justru membuat Ken berubah pikiran?
"Kamu serius?" tanya Zahra akhirnya.
"Hmm..." Ken mengangguk lagi, tapi kali ini sambil memegangi ujung bibirnya yang tampak memar kebiruan.
"Kamu abis berantem?" selidik Zahra.
"Ini udah biasa," kata Ken tersenyum.
Apa Zahra tidak salah lihat? Ken tersenyum? Seorang Ken tersenyum padanya? Dan ini bukan senyuman miring seperti yang biasa Ken tunjukkan, melainkan ini senyuman yang nampak keluar begitu saja tanpa dipaksakan.
...Bersambung ......
__ADS_1