Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Ke rumah Papa


__ADS_3

Setelah membilas tubuhnya serta tubuh sang istri dibawah kucuran air shower, Ken membantu membalutkan handuk pada tubuh Zahra, membuat wanita itu protes untuk kesekian kalinya.


"Aku bisa sendiri, Ken!" ucap Zahra.


Ken tak menggubris, justru mengangkat tubuh Zahra kembali dalam gendongannya dan mereka keluar dari area kamar mandi.


Sesampainya dikamar, Ken mendudukkan Zahra dengan hati-hati dipinggiran tempat tidur, lalu dia pun mengambil body lotion milik sang istri.


"Eh, mau ngapain?" tanya Zahra melihat Ken sudah membuka penutup body lotion itu.


"Mau olesin ke body kamu, lah! Kayak biasanya," kata Ken dengan senyuman nakal.


"Gak usah, biar aku aja..." Zahra sudah tahu niat suaminya jika sudah tersenyum culas seperti itu.


Ken tertawa kecil, "Sttsss... Nyai Ratu tenang saja, biarkan hamba yang melayani," ucapnya sembari berlutut didepan Zahra yang terduduk di bibir ranjangg.


Zahra hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Ken yang membuatnya melting alias meleleh. Ia mulai menikmati sapuan body lotion yang Ken oleskan ke area kakinya.


"Ken, gak usah disitu!" Zahra menepuk pelan tangan Ken yang makin lama malah semakin merambat naik ke pang kal pa hanya.


Ken terkekeh sekilas, namun tidak memindahkan jemarinya dari sana. Zahra sudah tahu jika Ken akan menggodanya lagi kali ini. Senyum licik diwajah suaminya sudah bisa ia baca dengan jelas.


"Ken, ini udah mau maghrib! Aku enggak mau mandi lagi. Gara-gara kamu tadi aku jadi mandi dua kali, jangan sampai aku mandi yang ketiga kalinya!" protes Zahra mengiba.


Mau tak mau, Ken pun menarik tangannya yang memang selalu nakal itu.


"Iya, iya... nanti malam aja disambung lagi, ya!" kata Ken tenang.


"Ih omes terus!" kata Zahra.


"Abisnya ngelakuin sama yang halal itu beda dan lebih enak, Sayang ...." kata Ken pelan namun membuat mata Zahra membola.


"Sadar juga kamu! Tapi pas ngelakuin sama yang haram gak ingat, kan? Tetap aja kamu ngerasa enak!" sindir Zahra.


Sepertinya Ken salah bicara tadi. Dia jadi menyesal telah mengucapkan kalimatnya.


"Ya itu kan dulu, sayang! Sekarang enggak pernah lagi, kok! Aku udah tahu kalau sama istri sendiri jauhhhhhh lebih nikmat," kekeh Ken.


"Emang ada rencana mau ngelakuin lagi sama yang bukan istri?"


"Enggak mau lah, cukup sama kamu aja."


Zahra membuang muka. "Kalau bosen sama aku, gimana?" tanyanya memasang wajah datar.


"Ya enggaklah!" jawab Ken cepat.


"Mana aku tahu! Namanya juga bosen," kata Zahra.


Ken tertawa, ia bangkit dan mengambil handuk kecil. Kini ia mengeringkan rambut Zahra dengan cara menggosokkannya dengan handuk yang dipegangnya itu.


"Biar kamu tahu, aku gak akan pernah bosen sama kamu. Sampai kapanpun!" kata Ken menekankan kata-katanya.


"Kalau aku yang bosen sama kamu, gimana?" tanya Zahra.

__ADS_1


Ken menghentikan aktifitasnya pada rambut sang istri. Pertanyaan Zahra berhasil membuatnya terdiam untuk beberapa saat.


"Aku akan terus belajar agar bisa membuat variasi baru dalam hubungan kita, biar kamu gak bosen sama aku," Ken tersenyum lebar, cukup puas dengan jawaban yang ia nyatakan.


"Makasih suamiku," kata Zahra. Tangan Zahra terulur keatas, lalu ia mengusap sisi wajah Ken yang mulai terasa kasar, tidak seperti biasanya.


"Besok pagi, ingatkan aku untuk membantu kamu bercukur, ya! Aku gak mau suami aku gak terawat kayak gini! Berapa hari kamu mengabaikan ini?" tanya Zahra sambil terus membelai wajah Ken.


"Hehe, iya... abisnya aku fokus sama masalah kita. Lupa ngurus diri sendiri."


"Sekarang kamu kan punya aku, aku bakal bantu kamu ngurusin semua yang menyangkut tentang diri kamu."


"Iya sayang. Ya udah, kita siap-siap shalat maghrib yuk..."


"Hmm... tapi, Ken?"


"Kenapa?" Ken menoleh sembari memakai bajunya.


"Kita makan apa ya malam ini? Aku tadi gak ngelanjutin masak, ikannya juga gosong."


"Pesan online aja, nanti aku pesan di aplikasi."


"Oke," kata Zahra bangkit dan mulai mengenakan bajunya juga.


Selesai shalat maghrib, Ken dan Zahra berkumpul dengan Rasta dan Paman Sapta diruang makan.


"Kamu masak, Han?" tanya Rasta dan Zahra menggeleng pelan.


"Harusnya sih masak tapi masakannya gagal," jawab Zahra mengangkat bahu.


"Tau aja lo!" kekeh Ken yang merasa tersindir.


Paman Sapta ikut tertawa mendengar guyonan yang terdengar malam ini.


"Rame ya ada kalian," kata Paman Sapta. "Sering-seringlah menginap disini," lanjutnya.


"InsyaAllah, Paman." Ken tersenyum kecil.


Tak berapa lama, makanan online yang sudah dipesan Ken pun tiba dikediaman Rasta. Mereka makan malam bersama dengan suasana hangat dan kekeluargaan.


"Ken, aku ingat, sejak kita menikah kita belum pernah berkunjung ke rumah Papa kamu. Apa gak sebaiknya kita kesana? Paling tidak untuk melihat kondisi Papa. Kalau gak salah, terakhir aku bertemu Papa saat pembukaan Bengkel waktu itu." Zahra menatap Ken yang duduk disisinya.


Ken mengangguk, sebenarnya ia ragu mengajak Zahra kesana sejak dulu-- dikarenakan dirumah Papanya ada Frans, tapi jika Zahra sudah mengajaknya lagi seperti ini, mau tak mau Ken menyetujui, toh hanya mengunjungi saja kan?


"Baiklah, nanti kita kesana." Saat disama nanti, Ken pun akan sekalian mencari tahu gelagat Frans. Apa benar Frans ada hubungannya dengan kehamilan Jenar?


______


Keesokan harinya, Zahra dan Ken bersiap menuju kediaman Bagas, Ayah Ken.


Kebetulan hari ini adalah hari Sabtu, jadi Ken berharap sang Papa berada dirumah disaat weekend seperti ini.


Perjalanan dari kediaman Rasta menuju rumah sang Papa tak terasa lama karena sepanjang perjalanan diisi oleh pembicaraan Ken yang konyol untuk menghangatkan suasana.

__ADS_1


Pembicaraan hangat yang hanya Ken persembahkan untuk istrinya tercinta, jika dengan orang lain dia akan berubah ke wujud asli layaknya kanebo kering, sesuai julukannya.


"Ayo, Sayang!" Ken mengulurkan jemari saat membukakan pintu mobil untuk sang istri.


Zahra menyambut jemari Ken, dengan perlahan ia pun menuruni mobil. Ditangannya membawa beberapa bingkisan yang ia buat sendiri khusus untuk sang mertua.


Seorang pelayan membukakan pintu untuk Ken dan Zahra. Tak lama kemudian Bagas dan Irene muncul dari arah yang berlawanan.


"Ken... Zahra..." Bagas semringah karena kedatangan anak dan menantunya.


Zahra dan Ken menyalami tangan Bagas dengan takzim. Zahra juga menyalami tangan Irene tetapi Ken tak melakukan hal itu.


Mereka duduk di sofa ruang tamu. Pelayan yang tadi menerima semua bingkisan yang Zahra bawa untuk ia sajikan nantinya.


"Zahra, maafkan Papa ya karena tidak menjenguk kamu setelah insiden itu." Bagas menatap Zahra sendu.


"Gak apa-apa, Pa..."


"Sebenarnya Papa ingin menjenguk, tapi kondisi kesehatan Papa drop. Sudah dua bulan ini Papa tidak ke kantor," ujar Bagas terus terang.


"Papa sakit?" Ken mulai angkat bicara karena mendengar ucapan sang Ayah.


"Papamu hanya kurang sehat!" timpal Irene dengan nada datar.


"Apa papa sudah periksa ke Dokter?" tanya Ken lagi.


"Sudah, ada Dokter yang datang mengunjungi Papa dan rutin memberikan obat untuk Papa konsumsi."


"Oh, Dokter Hasan yang kesini," kata Ken merasa lega.


"Bukan Dokter Hasan, Ken. Tapi Dokter Romi..." kata Bagas.


"Dokter Romi? Dokter baru?"


"Iya, Dokter Hasan sudah terlalu tua. Tidak mungkin cekatan jika harus kesini hampir setiap hari untuk memeriksakan keadaan papamu!" cetus Irene.


Ken menghela nafas panjang. "Dokter Romi praktek di Rumah Sakit mana? Apa dia benar-benar dokter?" sindir Ken.


"Ken..." Zahra memegang lengan Ken untuk menghentikan kemarahan Ken yang hampir dimulainya itu.


"Kamu pikir, aku mengirim orang yang bukan dokter untuk mengobati suamiku?" sinis Irene.


"Ya, siapa yang tahu!" jawab Ken tersenyum miring.


"Dokter Romi dokter asli kok Ken, Papa yang menghubunginya bukan Mama Irene."


"Oh, baguslah!" kata Ken malas.


"Berhubung kalian sudah disini bagaimana kalau kita makan siang bersama?"


Irene membuang muka saat suaminya menawari Ken makan bersama.


"Boleh, asal makanannya tidak ada racunnya!" kelakar Ken tampak serius.

__ADS_1


Zahra dan Bagas hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Ken itu.


******


__ADS_2