
Setelah Ken pergi, Zahra segera mengganti lingerie dengan piyama tidur karena ia tidak nyaman mengenakan baju tipis itu dalam keadaan sendirian seperti ini. Meski sekarang ia masih berada dalam lingkup kamar, namun perasaan risih tetap saja mendominasinya.
Zahra memutuskan untuk tidur, namun ia tidak bisa memejamkan mata barang semenitpun, alam bawah sadarnya justru seakan ingin menunggu Ken kembali barulah ia bisa tidur dengan nyenyak.
Ia mencoba memfokuskan diri dengan menonton acara talk show di televisi, namun lama-kelamaan ia merasa jenuh.
Hampir setengah jam dari kepergian Ken, tiba-tiba lampu di kamarnya padam.
Ia menyibak tirai jendela kamar dan keadaan diluar juga menggelap.
"Mati lampu? Rumah sebesar ini bisa mati lampu?" gumamnya pelan, tangannya merabaa ke sisi nakas demi mencari ponsel, lalu ia menyalakan flashlight dalam hitungan menit.
Tak berapa lama, pintu kamarnya terdengar diketuk dari luar.
Tok tok tok
Ia bangkit dari posisinya, berjalan pelan seraya membawa ponsel yang memberinya cahaya penerangan untuk mencapai ambang pintu.
"Siapa?" tanyanya.
"Aku, Ra."
Entah kenapa ia merasa takut mendengar suara Frans yang menyahut dari sebalik pintu.
"Ke-kenapa, Frans?" tanyanya tergugu.
"Mati lampu, Ra. Keluarlah! Jangan berada didalam kamar dalam keadaan gelap gulita, aku tahu kamu sendirian dikamar, aku mendengar Ken pergi," sahut Frans.
"Eng-enggak, aku didalam aja!" tolaknya cepat.
"Kamu yakin?"
"Iya, Frans..."
"Ya udah, aku permisi duduk didepan pintu kamar ini, ya. Sampai lampunya kembali menyala."
Ia tidak tahu harus menjawab apa pada pria disebalik pintu itu. Ia merasa gugup dan takut. Batinnya menginginkan Ken segera pulang karena perasaannya mulai tidak enak.
"Ra? Kamu belum tidur, kan?" Ternyata Frans benar-benar berniat menungguinya didepan pintu.
"Aku tahu kamu belum tidur dan mendengarku, Ra!"
Ia merasa semakin terintimidasi dengan ucapan Frans, ia ingin mengusir Frans namun sebelum kata-katanya terucap, lelaki itu lebih dulu mengucapkan kalimat yang membuatnya tercekat.
__ADS_1
"Kamu mau tahu sebuah rahasia, Ra?"
Ia diam dan tetap tak menyahuti ucapan Frans yang terdengar ambigu.
"Rahasianya adalah aku bisa membuka pintu kamar ini dengan mudah jika listrik padam seperti ini. Mungkin aku tidak tahu password kamar ini, tapi selama ini beginilah caraku untuk masuk ke kamar Ken dengan mudah."
Ia menelan saliva dengan berat, entah ucapan Frans benar atau tidak, ia pun tidak mengerti sistem keamanan kunci di pintu kamar Ken.
"Ken mungkin tidak berpikir tentang kelemahan akses kunci kamarnya," Frans pun tertawa sumbang setelah mengatakan hal itu.
Ia jadi berpikir bahwa padamnya listrik dirumah ini karena faktor kesengajaan dari Frans.
"A-apa kamu sengaja melakukan ini?" tanyanya memastikan.
"Hmmm," gumam Frans.
"Apa yang kamu inginkan, Frans?"
"Baiklah, aku akan jujur padamu, Ra! Sebenarnya yang aku inginkan hanya satu sejak dulu. Aku ingin menjadi seperti Ken."
Ucapan Frans cukup membuatnya terperangah. Sungguh ia tidak menyangka bahwa Frans sangat iri pada Ken hingga terobsesi untuk menyamakan diri seperti suaminya itu.
"Kamu gak perlu menjadi Ken, kamu harus menjadi diri kamu sendiri, Frans!" ucapnya dengan suara bergetar, sungguh ia menjadi kalut mendengar pernyataan Frans ditambah lagi ia sudah tahu jika Frans bisa masuk ke dalam kamarnya saat ini juga.
Ia terkesiap dan mundur selangkah dari posisinya, ia menggeleng mendengar penyataan Frans yang membuat perasaannya semakin tak enak. Dalam hati ia menjerit memanggil nama sang suami.
"Ken... segera pulang!" batinnya, sepersekian detik dari itu, ia langsung tersentak kaget saat mendengar suara knop pintu kamar yang ditekan.
Tidak, Frans tidak seharusnya masuk ke kamaar ini....
_____
Ken tiba di Club dan langsung menemui Chandra. Ia menyatakan maksudnya dan dengan mudah bisa membuka akses cctv didalam ruangan khusus yang ada didalam club.
Namun, mereka harus melewati beberapa kendala yang lain. Kendala pertama adalah mencari data rekaman ditanggal yang tidak ia ketahui sama sekali. Menerka-nerka membuat semua urusannya menjadi berjalan lama.
"Coba cari rekaman di awal bulan 1, Chand!"
Mereka pun mencari rekaman itu mulai dari tanggal di awal hingga di akhir bulan.
Kendala yang kedua adalah mencari orang didalam rekaman cctv yang ada di club cukup sulit, karena suasana club yang remang-remang dan Ken benar-benar harus fokus untuk menandai kehadiran Jenar.
"Ini nih... ini Jenar!" Ternyata Chandra yang lebih dulu menemukan kedatangan Jenar di data cctv pertengahan bulan.
__ADS_1
"Coba cctv yang ngarahin ke arah meja bartender! Ari bilang mereka sering duduk disana!"
"Oke," jawab Chandra cepat.
Mereka berdua lah yang menguasai tempat khusus ruangan cctv ini, bahkan pekerja yang seharusnya duduk memantau keadaan dengan berada didalam ruangan ini-- harus tersingkir karena kedatangan mereka.
"Coba fokus! Lo perhatiin baik-baik, siapa aja cowok yang dekat sama Jenar di Club!" katanya pada Chandra.
"Iya, ini juga lagi dicari. Sabar, bro! Semua butuh proses. Tapi, kalo cowok yang deketin dia bukan berasal dari Club ini, gimana?"
Ia tercenung sejenak mendengar perkataan Chandra yang mungkin benar adanya. Namun, ia masih ingin membuktikan ucapan Ari sang bartender--yang mengatakan jika Jenar sempat bersama Frans.
"Gue dapet satu nih!"
"Mana coba gue lihat!"
Chandra terkekeh panjang. "Gila, Man! Ini biasanya lanjut ke hotel, nih!" ucap Chandra, ia pun melirik pada rekaman yang terpampang didepannya. Dimana Jenar sedang berciuman intens dengan seorang pria di depan meja Barista. Dan tepat seperti yang Ari ucapkan jika pria itu adalah Frans.
Ken tersenyum miring. Bukti yang ia cari akhirnya dapat meski ini belum cukup jelas setidaknya ia bisa memberikan pembelaan bahwa Jenar bukan hanya dekat dengannya saja melainkan dengan pria lain.
"Coba cari rekaman ditanggal berikutnya," ucapnya lagi dan Chandra mengangguk dengan semangat.
"Gue suka nih kerjaan kayak begini, kayak main detektif-detektifan!" Chandra pun terkekeh lagi.
Dalam keadaan yang disukai Chandra ini, tiba-tiba ponselnya berdering dan itu dari Zahra.
"Hana?" gumamnya pelan.
Ia segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan. Namun, bukan suara Hana-nya yang ia dengar, melainkan suara pria yang sekarang tengah ia selidiki, Frans. Suara itu tidak terdengar jelas, hanya seperti kekehan pelan saja.
Perasaannya mulai tidak enak, bukankah tadi Zahra berada dalam kamarnya? Kenapa suara Frans terdengar di ponsel Zahra yang kini sedang menghubunginya.
"Sayang... kamu keluar kamar?" tanyanya memastikan.
"Keluar dari sini, Frans!" ucap Zahra tegas dari seberang panggilannya.
Sepersekian detik berikutnya, ia mendengar Zahra menjeriti namanya dengan suara histeris.
*****
Maaf ya telat up. Sebenarnya aku mau daily ngejar kata untuk novel ini karena rencananya akan tamat diakhir bulan ini, namun apalah daya hp ku matot alias mati total dari siang. Alhasil, aku harus log in ulang dari ponsel suamik dan itu harus nunggu dia pulang kerja di sore hari. Jadi, maafkan ya kalau nantinya aku jarang up siang hari di novel ini maupun dinovel yang lain, tapi aku pastikan gak akan ngecewain readers yang udah baca karyaku. Pasti aku usahain up tiap hari meski harus minjem hp sana sini selama ponselku masih rusak😪😪😪
Tolong kasi vote, hadiah dan like ya, berjuang up utk hari ini rasanya sulit, karena waktu seharian yang biasa aku habisin utk nulis harus terbuang sia-sia sebab gak pegang ponsel yg bisa log in ke akun menulisðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1