Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Berita dari kepolisian


__ADS_3

Kepergian Ken dan Zahra diantarkan oleh Devia, Rasta dan Zaki menuju Bandara. Sementara Cira, gadis itu belum berani kemana-mana, ia lebih memilih tetap berada dikediaman Zahra saja daripada unjuk gigi didepan umum.


"Ma, kita berangkat ya..."


"Iya, Sayang... kalian hati-hati, banyak berdoa dan kalau sudah tiba di Jepang segera kabari Mama." Devia memeluk tubuh Zahra yang tampak semakin berisi sekarang.


"Iya, Ma."


Rencananya Ken dan Zahra akan tinggal di Jepang selama 1 tahun ke depan, bila mereka betah maka mereka akan memperpanjang masa status menetap di negeri sakura itu.


"Kak, aku titip Cira ya.." kata Zahra pada Rasta, bagaimanapun keadaan Cira sekarang menjadi salah satu pikiran Zahra juga.


"Iya, Dek."


"Jaga dia ya, Kak...." Ken menimpali dengan mengedipkan sebelah mata, menggoda Rasta.


"Sia lan lo!" kekeh Rasta yang tahu jika Ken tengah mengejeknya.


"Kak, kalau memang gak ada pilihan lain... gak apa-apa kok kalau kakak bantu Cira dengan cara menikahi dia." Ken terus saja menggoda Rasta dengan kelakarnya itu.


"Apaan sih, lo!" Rasta melotot sementara Ken dan Zahra tampak mengulumm senyum.


"Jagain Mama ya, Bang. Aku juga nunggu kabar baik soal Abang sama Lala!" kata Ken memeluk tubuh Zaki dan saling menepuk-nepuk punggung bidang satu sama lain.


"Doakan aja, ya!" ujar Zaki tersenyum tipis.


_____


Kepergian Ken dan Zahra menyisakan Cira, Devia dan Mbak Ira dikediaman Ken itu. Zaki sudah pulang ke Apartemennya yang berada di daerah lain dekat dengan kantor berlian milik Devia.


Rencananya Devia akan segera pensiun dan menyerahkan urusan kantor ditangan Zaki saja. Sementara untuk Ken yang putera kandungnya, Devia hanya menanam saham atas nama Ken seperti yang pernah ia lakukan dulu diperusahaan milik mantan suaminya. Ia melakukan itu karena ia tahu Ken tidak berminat dalam bidang usaha yang ia geluti.


"Cira, sedang apa? Kok melamun?" tanya Devia pada Cira yang duduk seorang diri didepan teras padahal hari sudah malam.


"Eh, Mama... Cira lagi mikir nih, Ma." kata Cira. Devia memang meminta Cira untuk memanggilnya Mama sama seperti Ken, Zahra dan Zaki. Ia menganggap Cira sebagai anak gadisnya karena ia memang menginginkan anak perempuan, namun sayangnya ia dikelilingi oleh anak lelaki, Ken anak kandungnya dan Zaki yang ia angkat menjadi anak sejak Adiknya (Mama kandung Zaki) meninggal dunia.


"Lagi mikirin apa? Pamali loh anak perawan melamun sendirian didepan rumah kayak gini."


"Cira mikirin, gimana lagi caranya ngebujuk Om Rasta supaya mau menikahi Cira."


Devia terkekeh mendengar anak seumur Cira justru resah memikirkan soal pernikahan, mau bagaimana lagi keadaanlah yang membuat Cira jadi seperti ini.

__ADS_1


"Memangnya kamu gak ada calon yang lain? Kenapa harus Rasta?"


"Soalnya cuma Om Rasta yang paling cocok!"


"Kenapa kamu merasa dia yang cocok?"


"Dia tahu permasalahan Cira, Ma. Jadi, dia gak bakalan nuntut apapun dari Cira termasuk pernikahan yang kayak orang-orang dewasa gitu, yang rumit...."


"Iya, sih... tapi kan emang Rasta udah dewasa juga, gak salah dong kalau nantinya dia nuntut pernikahan yang kayak orang dewasa."


"Hmm, gitu ya, Ma?"


Devia mengangguk. "Mau bagaimana pun, yang namanya pernikahan itu tetap akan rumit, Cira. Tergantung kita yang ngejalaninya ikhlas atau enggak. Kalu ikhlas insya Allah semua yang rumit itu akan terlewati dengan mudah."


Cira menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ah, kenapa sih Cira harus mikirin hal yang rumit begini, Ma? Padahal Cira cuma mau sekolah dsngan tenang."


"Nah itu, lebih baik mikirin sekolah aja daripada mikirin pernikahan!" kata Devia tersenyum hangat.


"Iya bener, Ma. Apa Cira cari kandidat lain aja ya daripada ngarepin Om Rasta yang enggak jelas."


Devia tertawa pelan. "Tuh, kok malah mikirin kandidat lain? Katanya mau mikirin sekolah? Gimana kalau mikirin usul Abang Ken yang nyuruh Cira Home Schooling?"


Cira menggeleng lemah. "Cira mau sekolah biasa aja, Ma! Enggak mau sekolah dirumah!"


"Karena kalau sekolah biasa banyak temennya... tapi, Cira masih takut kalau ke sekolah sekarang."


"Pindah sekolah aja, gimana?" usul Devia.


Cira menatap Devia dengan tatapan berbinar-binar. "Boleh deh, Ma!" katanya senang.


"Oke, kita urus perpindahan sekolah kamu, ya. Tapi, kalau orangtua angkat kamu beneran cari kamu melalui jalur kepolisian kemungkinan kamu bakal segera ditemukan," ucap Devia lesu.


"Makanya itu, Ma. Minimal Cira bisa ngehindar sampai tiga bulan ini aja, setelah umur Cira 17 tahun ... Cira mau menikah aja! Terserah deh calonnya siapa!" kekeh Cira dengan senyum penuh tekad.


*****


Ken dan Zahra sudah tiba di Jepang dan mengabari Devia melalui sambungan Video Call.


"Alhamdulillah kalau kalian udah tiba disana. Nikmati babymoon nya ya. Jangan mikirin yang disini, semuanya baik-baik aja!" kata Devia sembari melambaikan tangan ke arah ponselnya yang menampilkan sosok Ken dan Zahra yang sudah berada di penginapan.


"Iya, Ma..." sahut Zahra.

__ADS_1


Setelah melakukan panggilan selama hampir 40 menit, akhirnya panggilan itupun terputus.


"Abis nelepon Kak Hana, Ma?" tanya Cira.


"Iya, udah sampai di Jepang mereka."


"Alhamdulillah..." sahut Cira ikut lega.


Tak berapa lama, pintu rumah terdengar diketuk dari luar. Cira segera bangkit dari posisinya untuk membukakan pintu.


"Siapa, Ci?" tanya Devia. Namun tidak ada sahutan dari gadis kecil itu membuat Devia ikut bangkit untuk melihat keadaan.


Devia terkejut mendapati dua orang berpakaian seragam kepolisian telah datang ke kediamannya. Ia melirik Cira yang terdiam mungkin karena terkejut.


"Permisi, Bu..." sapa salaah seorang petugas itu.


"A-ada apa, Pak?" tanya Devia gugup namun berusaha bersikap biasa, sama seperti Cira, ia mengira petugas kepolisian ini datang karena ingin menjemput Cira yang dilaporkan hilang oleh kedua orangtua angkatnya.


"Kami dari kepolisian, ingin menyampaikan berita mengenai Bapak Frans."


Devia menghela nafas lega, begitupun Cira.


"Silahkan masuk, Pak."


Kedua polisi itu masuk dan duduk setelah dipersilahkan oleh Devia.


"Ada apa ya, Pak? Bukankah masalah Frans sudah selesai?"


"Benar, Bu. Tapi ini mengenai Pak Frans yang tengah sakit keras di lapas. Kami sudah menghubungi Ibu Irene dan Bapak Bagas, tapi ternyata mereka sedang berada di Luar Negeri karena pengobatan Pak Bagas. Jadi, pihak kepolisian ingin menyampaikan berita ini pada Bapak Kendra Winarya selaku saudara dari Bapak Frans. Apa Pak Ken nya ada?" tanya aparat itu.


"Frans sakit keras?" Devia justru balik bertanya.


"Iya, kami ingin memberitahukan Pak Ken mengenai hal ini," terang polisi itu.


"Ken anak saya sedang di Jepang. Saya yang akan menjadi wali untuk Frans selama Irene dan Bagas masih di Luar Negeri. Frans sakit apa, Pak?"


"Bapak Frans mengalami sesak nafas, ternyata Paru-parunya bermasalah karena pengaruh rokok dan minuman beralkohol yang dikonsumsi jangka panjang. Saat ini beliau tengah di rujuk ke Rumah Sakit dibawah naungan lapas."


"Astaghfirullah.... rasanya dia baik-baik saja, Pak."


"Iya, Bu. Menurut keterangan Dokter, Bapak Frans harus segera melakukan operasi. Jika Ibu bersedia menjadi walinya maka boleh ikut ke Rumah Sakit."

__ADS_1


"Baik, Pak."


******


__ADS_2