
2 Tahun Kemudian
"Zio!!!!" Zahra berlari-lari kecil mengikuti langkah Zio yang menuntun tangannya ke sembarang arah. Anak berumur 2 tahun kurang itu seolah memimpin jalan untuk kedua orangtuanya.
Ken hanya berjalan santai dibelakang, memasukkan jari didalam saku celana sembari melihat interaksi istri dan anaknya yang sangat aktif. Kadang ia terkekeh dan sesekali tersenyum mengembang.
"Zio, kita ke arah sana. Bukan kesitu." Zahra bernegosiasi dengan batita itu sebab Zio menuntunnya ke arah yang salah.
Bocah lelaki itu ngotot, tidak mau mengikuti saran ibunya. Beberapa kali Zahra meyakinkan namun Zio tidak mau menurut.
Ken melihat kejadian itu sembari menggeleng samar. Dalam dua kali langkah lebar, Ken menghampiri batita yang berperawakan mirip dengannya itu dan hanya berbeda generasi saja.
"Zio... dengerin Papi, kita keluarnya dari sana." Ken berjongkok didepan Zio sembari menunjuk pintu keluar. "Kalau kesana nanti kita bisa tersesat. Zio mau tetap kesana atau ikut Papi sama Bunda?"
"Kut... kut," jawab Zio dengan ucapan cadel khas batita.
Ken tersenyum puas, ia melirik Zahra yang menghela nafas panjang.
"Kenapa gak dari tadi?" gerutu Zahra sambil lalu menuju pintu keluar Bandara.
Ken tertawa pelan, sepersekian detik berikutnya dia menggendong tubuh kecil Zio dan keluar dari area Bandara.
Sepanjang menuju pintu keluar, Ken bercengkrama dengan anak semata wayangnya itu. Zio berceloteh riang, sesekali mereka juga melakukan high five atau ber-tos ria.
Zahra melambaikan tangan pada seseorang yang menunggu diarea luar.
"Kak..."
Rasta menghampiri Zahra, Ken dan Zio.
"What's up, Bro!" Ken dan Rasta saling adu tinju demi menyapa satu dan lainnya.
Kemudian Rasta menoleh pada batita yang digendong Ken. "Zio, ternyata lebih ganteng aslinya ya daripada di video," puji Rasta sambil mencubit gemas pipi Zio yang gempal.
"Ya iya, Lo liat dong bibitnya dari mana!" Ken terkekeh menyombongkan diri.
Rasta mencibir dengan gerutuan panjang.
"Cira mana, Kak?" tanya Zahra pada Rasta yang menjemput kepulangan mereka di Bandara hanya seorang diri.
Rasta mengangkat bahu, tak menjawab pertanyaan sang adik dengan suara.
"Berantem, lu?" tanya Ken dan Rasta hanya berdecak lidah.
Mereka memasuki mobil setelah memastikan semua barang yang mereka bawa dari Jepang telah masuk semuanya. Lumayan banyak barang karena hampir 3 tahun berada di Jepang dan lagi perlengkapan Zio yang membuat barang bawaan mereka bertambah.
Zahra duduk di jok belakang bersama Zio. Mereka bernyanyi dan berceloteh bersama-sama. Sementara Ken dan Rasta duduk di kabin depan dengan Rasta yang mengemudikan mobilnya secara mandiri.
__ADS_1
"Jadi, belum berhasil, Cuuk?" tanya Ken memberi kode pada Rasta.
Rasta menoleh sekilas pada adik iparnya itu, kemudian menghela nafas panjang.
Ken sudah paham apa maksud dari sikap Rasta itu, ia pun tertawa pelan.
"Resiko, Men! Namanya juga nikah sama bocah. Lo harus sabar ngadapinnya. Gue juga dulu gitu, padahal Hana bukan bocah kayak Cira tapi namanya pertama kali ya lumayan susah!" kekeh Ken kemudian. Ia berkata pelan, takut Zahra mendengar ucapannya.
"Dikit lagi, Cuuk... dia malah kabur!" Rasta menggerutu dan Ken malah tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
"Kalian ceritain apaan, sih?" sela Zahra yang mendengar jika dua pria didepan sedang berbicara sambil berbisik-bisik dan terkekeh pula. Rasa penasaran melingkupinya dan ia ingin tahu hal apa yang dibahas oleh suami dan kakaknya.
"Ah... gak ada, Sayang." Ken menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Apaan, kak?" Kini Zahra beralih menanyai Rasta.
"Hah? Kenapa?" Rasta tak tahu mau menjawab apa, dia malah balik bertanya sebab ia tak punya jawaban.
"Kalian bahas apa? Kayaknya seru banget!"
"Bahas masa lalu, dek!" jawab Rasta random.
"Oh masa lalu kalian seru, ya!" sindir Zahra.
Ken menyikut perut Rasta, seolah memberi kode bahwa ia tak senang dengan jawaban Rasta itu.
"Eh-eh... maksudnya bukan gitu, dek. Bahas kejadian konyol doang, kok!"
"Gak gitu juga, Sayang!" sanggah Ken mencoba menengahi. Ken melirik Zio yang rupanya sudah tertidur dipangkuan sang istri, pantas saja Zahra jadi terfokus pada mereka berdua sebab perhatiannya pada Zio sudah teralihkan sebab pulasnya bocah itu.
"Gak kok dek... lagi bahas masa kuliah, dosennya lucu-lucu!" Rasta mencoba mengalihkan pembicaraan, takut didera masalah jika Zahra mengetahui apa yang sebenarnya mereka bahas yakni mengenai Cira.
"Kak, Cira kuliah dimana sekarang?"
"Kemarin kuliah, sekarang udah berhenti."
"Loh, kenapa?" Ken dan Zahra bertanya serempak. Begitu seringnya mereka berkomunikasi dengan Rasta dan Cira tapi mereka tak tahu menahu mengenai hal ini.
"Aku gak suka dia kuliah."
"Kenapa?" tanya Zahra sembari menatap Ken yang juga heran dengan jawaban Rasta.
"Iya, biasa... Cira tuh suka tebar pesona. Udah tahu punya suami ganteng, ngapain coba kayak begitu..."
"Pffffff...." Ken menggaruk rambutnya yang sekarang mulai gondrong lagi, sementara Zahra terkekeh mendengar gerutuan absurd sang kakak.
"Bukan Cira yang tebar pesona, be-go! Elo aja yang cemburuan! Gila Lo ya, gara-gara hal gituan Lo suruh dia berhenti kuliah. Gesrek otak Lo!" omel Ken tak habis pikir.
__ADS_1
"Gue gak nyuruh dia berhenti kuliah, kok!" Rasta membela diri. "Dia yang mau berhenti sendiri!"
Ken tertawa kencang. "Karena Lo bilang kalo Lo gak suka dia kuliah kan?"
Rasta mengangguk. Kini giliran Zahra yang tertawa sambil geleng-geleng kepala.
"Kak... umur udah berapa juga. Masih aja kayak anak kecil." Zahra mengulum senyuman.
"Cira yang berhenti kuliah sendiri kok pada nyalahin gue! Biarin aja sih, gue juga lagi fokus nih...." kata Rasta.
"Fokus apaan?" tanya Ken.
"Fokus buat keponakan buat kalian!" ucap Rasta kebablasan.
"Emang Cira udah mau punya anak?" tanya Zahra memastikan.
"Tauk!" Rasta mengendikkan bahu.
"Gimana mau fokus, Ta... berhasil aja belom!" ejek Ken menggoda Rasta.
Zahra memajukan tubuh hingga memepet ditengah-tengah antara Ken dan Rasta. Kemudian dia menoleh pada sang kakak yang masih menyetir mobil.
"Serius, kak? Belum?" tanya Zahra jadi ikut-ikutan penasaran.
"Belum, Sayang. Kayaknya dia perlu berguru sama suami kamu dulu deh. Naklukin bocah aja enggak becus!" kekeh Ken sementara Zahra meninju pundak Ken dengan sangat keras.
"Sakit, Sayang!" Ken berlagak meringis.
Rasta tertawa melihat pasangan suami istri itu. Ternyata bisa juga adiknya memarahi Ken dengan tinjuan.
"Jangan ketawa Lo!" kata Ken pada Rasta.
"Lucu sih Lo nurut gitu sama Hana!"
"Emang Lo gak nurut sama bini Lo?"
"Enggak lah! Dia yang nurut sama gue!" jawab Rasta pongah.
"Aku juga nurut sama Ken kok, kak." Zahra tersenyum tipis dan Ken melakukan hal yang sama.
"Saling nurut dong demi kebaikan," ucap Ken tak kalah jumawa.
Rasta mencebik, menggerutu namun entah apa yang dia katakan. Lebih tepatnya dia merasa ingin seperti Ken dan Zahra yang meski bertengkar hanya sesaat saja setelah itu kompak kembali.
Rasta melihat Ken dan Zahra yang saling berbisik-bisik ditelinga masing-masing secara bergantian, entah apa yang mereka perbincangkan tanpa ingin didengar oleh Rasta.
"Ngomongin gue ya Lo bedua? Berdosa Lo! Gini-gini gue kakak Lo berdua! Nyesel gue bela-belain jemput ke Bandara. Kalo gak mikirin keponakan gue udah gue turunin Lo berdua disini!" marah Rasta.
__ADS_1
Ken dan Zahra hanya terkikik-kikik melihat kemarahan Rasta yang mereka tahu tidak sungguh-sungguh itu.
*****