Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Yayasan


__ADS_3

"Gue gak tau mau cari Hana kemana lagi," ucap Ken sembari meneguk whiskey yang ada digelas one shootnya.


Rasta terkekeh. "Mungkin lo belum diizinin ketemu sama dia," katanya.


"Maksud lo?" pekik Ken diantara hingar-bingar suara dentuman musik di club malam tempat mereka berada sekarang.


"Mungkin... lo harus tobat dulu baru lo dipertemukan sama Hana!" celetuk Rasta menjawab secara random, namun ucapan itu membuat jantung Ken terdetak keras.


"Gitu menurut lo?" tanya Ken tersenyum kecut.


"Ya iyalah, Cukkk! Coba lo liat diri lo sekarang! Lo sendiri yang bilang ke gue kalo Hana itu malaikat, nah ... lo masih disini buktinya! Mana diizinkan lo ketemu dengan malaikat seperti Hana! Yang ada justru lo dipertemukan sama malaikat maut, terus lo langsung disiksa dineraka tanpa dimintai keterangan!" kelakar Rasta tanpa difilter.


Ken terdiam dengan senyum tipis.


"Lo sendiri? Mau ketemu malaikat gak?" tanya Ken balik pada Rasta.


"Gue belom mau, lah, Cuuk! Amit-amit dah! Tapi kalo malaikatnya kayak Hana boleh juga sih!"


Ken menempelengg kepala Rasta sekilas, "Enak banget ngomong lo! Kalo gue tobat, lo harus tobat juga, Ta!" ucapnya.


"Ya elah, si be-go! Tobat gak mesti bareng-bareng kali! Lo duluan aja, gak usah nunggu gue!"


Ken geleng-geleng kepala mendengar ucapan Rasta, padahal tadi pria itu yang begitu bijak menawari Ken agar bertaubat, ternyata Rasta sendiri belum mau melakukan hal semacam itu.


"Lo sendiri belum mau, kenapa lo nyaranin gue!" dengkus Ken.


Rasta terkekeh pelan. "Lo itu pinter, Men! Tapi sejak Hana pergi ... be-go lo jadi kumat lagi!" ucapnya.


"Sia lan lo!" Ken tertawa.


"Gini ya, lo itu udah nemuin sosok seperti Hana dalam hidup lo! Jadi, lo harus memantaskan diri buat dia! Kalo gue, ya ... lo tahu sendiri lah, gue belum nemu yang kayak gitu, yang ada disekeliling gue iblis semua!"


"Jadi lo bakal tobat kalo udah nemuin cewek yang baik, gitu maksud lo?"


Rasta mengangguk meski tak yakin bisa berubah jadi lebih baik dari dirinya yang sekarang.


"Kalo lo keburu mati sebelum sempat ketemu cewek baik-baik, lo gagal tobat dong!" ejek Ken.


"Ya lo kan udah tobat duluan, lo doain lah supaya umur gue panjang, terus lo doain juga agar gue ketemu cewek berhati malaikat!" kekeh Rasta.


Ken semakin tak habis pikir dengan ucapan Rasta yang absurd.


"Umur orang itu gak ada yang tahu! Mau gue doain lo kayak gimana pun, kalo dasarnya umur lo gak panjang ... ya gak mempan juga, Ta!"


"Asli ... ucapan lo barusan udah kayak ahli agama aja!" ejek Rasta.


"Emang lo pernah dengerin ucapan ahli agama?" tanya Ken serius.


"Gak pernah!" Rasta tertawa kencang kemudian dan Ken pun menggeleng samar.


____

__ADS_1


Pagi ini, Ken mengunjungi yayasannya setelah sibuk dengan urusannya mengenai lamaran pekerjaan.


"Ken ... kamu disini, Nak?" seorang wanita dengan rambut memutih menyapa kedatangan Ken. Wanita bernama Risma itu sudah selayaknya Nenek bagi Ken.


"Nenek, apa Nenek sehat?" Ken menyalami tangan Nek Risma dengan takzim.


"Beginilah Ken, Nenek sudah lebih baik sekarang. Nenek tinggal menunggu dijemput oleh Anak Nenek," ucap Nek Risma melirih.


Ken menghela nafas panjang, Nek Risma sudah menetap di yayasan miliknya hampir dua tahun belakangan dan selalu mengatakan hal yang sama--yakni menunggu anaknya menjemput. Tapi entah kenapa Ken justru merasa Nek Risma memang sengaja ditelantarkan oleh anaknya sendiri, karena tidak ada yang pernah mencari keberadaan Nek Risma-- meski Ken pernah memasang iklan di sosial media maupun dikoran tentang keberadaan sang Nenek saat ini.


"Apa nenek sudah makan siang? Ayo makan dulu, Nek. Ini Ken bawakan makan siang untuk semua orang-orang disini," ucap Ken mengalihkan topik sembari menunjukkan dua bungkusan plastik besar yang dibawanya.


Bukannya menjawab dan menerima tawaran Ken untuk makan siang, Nek Risma justru menatap Ken dengan lekat.


"Hari ini kamu rapi sekali, Ken? Penampilanmu tidak seperti biasanya," kata Nek Risma bicara ke topik yang lainnya lagi.


Ken tersenyum hangat, ia memahami keadaan Nek Risma yang mulai tua. Menurut pemeriksaan yang dilakukan di yayasannya hampir setiap akhir bulan--Nek Risma memang mengalami gejala Alzheimer-- sehingga terkadang dia melupakan banyak hal. Itulah yang membuatnya tak ingat alamat tempat tinggalnya ataupun rumah anak yang sering disebut-sebutnya.


"Tadi Ken habis melamar pekerjaan, Nek." Ken kembali tersenyum sambil menepuk pelan punggung tangan Nek Risma.


"Kamu memang tampan, Ken." puji Nek Risma. "Seperti suamiku dimasa mudanya," sambungnya.


Ken terkekeh pelan, "Sekarang kita masuk yuk, Nek! Kita ajak yang lainnya makan bersama," ujarnya.


Mereka pun masuk lalu makan dengan makanan yang dibawakan Ken ke Yayasan. Suasana hangat dan kekeluargaan selalu hadir ditempat ini, itulah yang membuat Ken lebih senang dan sering mengunjungi Yayasan ketimbang pulang kerumah Ayahnya, dulu.


Seusai makan, Ken menuju pekarangan belakang dan menyulut api rokoknya disana.


Ken berbalik badan dan menoleh, rupanya Darma yang menyapanya.


"Eh, gimana? Udah kerja kamu?" tanya Ken pada Darma.


Darma mengangguk. "Di Bengkel motor Pak Ilyas, Bang!" jawabnya.


"Yang diujung Gang?"


Darma mengangguk lagi.


"Bagus, daripada menganggur," kata Ken tersenyum sekilas.


"Abang sendiri bagaimana? Apa sekarang Abang sudah bekerja?" tanya Darma.


Ken menggeleng. Bekerja apanya? Semua lamarannya ditolak. Entah apa yang terjadi, padahal Ken tahu diperusahaan itu memang tengah mencari pekerja yang sesuai dengan kriteria dirinya.


Entah kenapa pula, Ken merasa kegagalannya diakibatkan karena adanya campur tangan Frans. Saudara tirinya itu tidak mungkin membiarkannya lepas begitu saja, pasti Frans sudah memblack-list namanya pada semua kolega dan relasi yang dikenalnya.


Benar-benar kekanakan dan menyulitkan saja.


Ken merasa demikian karena ia cukup tahu sikap serta sepak - terjang Frans selama ini.


"Jangan terlalu royal dengan kami, Bang! Gak perlu abang bawakan makan segala karena abang juga belum punya pemasukan!" saran Darma.

__ADS_1


"Tapi Yayasan ini tetap tanggung jawab Abang!" kata Ken.


"Kami sudah tidak tidur dijalanan lagi berkat Abang, kami jauh dari santapan satpol PP, Bang!"


"... hampir semua dari kami juga udah bekerja berkat bantuan Abang. Abang banyak mengajari kami, peduli dengan hidup kami. Menyediakan pembantu di sini untuk memudahkan kami, bahkan sebulan sekali abang memastikan kesehatan kami dengan mendatangkan petugas kesehatan kesini."


"Ya karena memang itu udah ketentuannya, Darma!" sahut Ken pelan.


"Jangan jadikan kami beban untuk Abang, soal makanan kami bisa mengatasinya dengan penghasilan kami sehari-hari, jangan pikirkan hal itu lagi, Bang."


Ken menepuk pundak Darma dengan rasa terharu. Baginya seluruh penghuni yayasan memanglah tanggung jawabnya dan ia tak pernah keberatan dengan hal itu. Tapi, ucapan Darma ada benarnya, ia harus memikirkan kondisi keuangannya juga sekarang.


"Boleh gak, abang cerita satu saja beban abang ke aku. Aku ingin sekali membantu abang, mungkin ini gak bisa membalas budi baik abang terhadap kami. Tapi aku akan mengusahakannya," ucap Darma dengan wajah penuh harap.


Ken mengangguk. "Baiklah," katanya. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan membuka file gallery disana.


"Ini ... bantu abang menemukan gadis ini!" kata Ken menunjukkan foto Zahra yang didapatnya dari hasil men-stalking sosial media gadis itu--yang dicarinya belakangan hari.


Darma menyeringai. "Pacar ya, Bang?" terkanya.


ken tersenyum kecil. "Calon istri Abang," jawabnya pelan.


"Hah? Serius? Terus kemana dia sekarang?"


"Kalau Abang tahu, gak akan nyari dia seperti sekarang!"


"Iya juga, ya... wah, aku pikir pacar Abang itu ... Kak Jenar," kekeh Darma.


Ken menatap Darma dengan tatapan malas.


"Soalnya, Kak Jenar yang sering nyariin Abang ke Bengkel.." sambung Darma.


Ken hanya menggeleng sekilas.


"Apa gitu ya resiko kalo jadi orang ganteng? Sampai cewek yang nyariin setiap hari," celetuk Darma dengan tawa sumbangnya.


"Ya udah, jangan ngejek aja! Bisa gak kamu bantu cari perempuan di foto tadi?"


"Abang kirim fotonya ke aku, nanti aku share ke teman-teman aku!"


"Oke," Ken segera mengirimkan foto Zahra ke nomor Darma melalui aplikasi hijau.


"Aku akan membantu abang kali ini," tekad Darma dalam hati.


...Bersambung ......


Maaf ya, sebenarnya othor mau crazy up dari kemarim, tapi berhubung anak bungsuku mendadak demam dan disertai rewel, jadi gak bisa terupdate bab nya🙏🙏🙏


Jangan lupa tinggalkan komentar ya, mudah-mudahan bisa up setiap hari lebih dari 1 bab♥️♥️♥️


Like, favorite, hadiah, dan vote juga boleh banget💞

__ADS_1


__ADS_2