
Minggu pagi, Ken melakukan olahraga singkat di ruangan gym yang ada dilantai atas kediaman sang Mama.
Mama menghampiri dan menyapanya.
"Ken, jadi hari ini kamu bertemu dengan Abang?" tanya Mama.
"Jadi, Ma. Mungkin sore nanti," jawab Ken sembari melambatkan laju treatmil yang ia gunakan.
"Ya sudah, kalau sudah selesai olahraga nanti sarapan dibawah ya sama Mama."
"Iya, Ma..."
Ken meminum air mineral yang ada didepannya sembari melihat pesan masuk yang baru masuk ke ponselnya.
[Gue punya kejutan buat lo...]
"Apaan nih anak? Pake kejutan - kejutan segala," gumam Ken sembari terkekeh pelan membaca pesan dari Rasta, kawan karibnya.
[Kejutan apaan? Tumben banget lo menye - menye kayak gini!] Ken membalas pesan Rasta dengan masih menyunggingkan senyum tipis.
Ting, ponselnya terdengar bersuara kembali pertanda pesannya telah dibalas oleh Rasta.
[Udah... kalo lo mau tau, nanti gue kirim sharloc, lo datang aja langsung ke lokasi!]
[Siap, Bos!] balas Ken cepat. Meski Ken tidak tahu pasti apa yang akan ditunjukkan Rasta padanya sebagai kejutan, tapi ia cukup penasaran dengan hal itu. Ia mengenal Rasta dan ia tahu persis jika hal semacam ini selalu dihindari kawan karibnya itu.
Setelah siap dengan ponselnya, Ken memutuskan untuk menyelesaikan sesi olahraga singkatnya. Ia kembali ke kamar untuk mandi dan membersihkan diri.
Tak lama, ia ikut sarapan bersama sang Mama di meja makan. Lumayan, kalau hari minggu ia bisa mencicipi masakan Mama yang sudah lama tak dirasainya, karena Mama hanya sempat masak di hari libur seperti ini. Sabtu kemarin Mama tidak masak karena ada pekerjaan diluar kantor dan ia memahami kesibukan sang Mama.
"Ma, masak apa?" Ken melihat isi meja dan mendapati hidangan sarapan yang membuatnya langsung merasa lapar.
"Sarapan kesukaan kamu tuh!" kata Mama tersenyum.
"Wah... udah lama gak makan masakan Mama." Ken langsung melahap makanan yang dimasak sang Mama khusus untuk dirinya.
"Ken?"
"Hmm?"
"Ke barbershop terus potong rambut gih!" saran Mama sambil mengulumm senyum.
Ken mengadah dan mencebik. "Kenapa sih, Ma? Rambut gondrong ini bawa hoki, tau!" ucapnya dengan senyum tengilnya.
Mama terkekeh. "Hoki apaan? Buktinya ditinggal Hana!" ejek Mama sengaja.
Ken tersenyum tipis dan tak menyahuti lagi ucapan sang Mama, ia melanjutkan sesi sarapannya dengan khidmat.
__ADS_1
Menjelang siang, Ken pamit pada sang Mama untuk menuju lokasi yang baru saja dikirimkan oleh Rasta padanya.
"Mau kemana Ken? Kan ketemu Abang nanti sore? Atau mau ke Barbershop ya?" goda Mama sambil tersenyum hangat.
"Enggak, Ma. Mau ketemu temen aku sebentar."
"Oh, ya sudah. Hati - hati kamu! Mama sih gak ngelarang kamu kemanapun, kamu udah cukup jadi anak baik seminggu ini. Tapi ingat ya, Ken... jangan buat yang macem - macem!" kata Mama mewanti -wanti sang putera.
"Iya, Ma..."
"Jangan lupa shalat ya, Ken!"
"Hem..." Ken melambaikan tangan sambil berlalu pergi.
Di tempat Mama, ia diberi akses untuk menggunakan mobil Mama karena motornya tidak dibawanya ke tempat ini, dari awal ia tiba disini juga karena diantar dengan mobil Rasta.
Pukul setengah 12 siang, ia sudah tiba di lokasi yang dikirimkan Rasta padanya.
Sebuah cafe yang cukup nyaman untuk tempat nongkrong.
Untuk apa Rasta memintanya bertemu disini? Dan kejutan apa yang dimaksudkan?
Tapi, hati Ken langsung memanas saat matanya tak sengaja melihat dengan siapa Rasta sedang bercengkrama di salah satu meja di cafe tersebut.
Ken tak mungkin salah mengenali, kan? Yang bersama Rasta jelas - jelas adalah Zahra. Gadis yang ia cari keberadaannya belakangan hari.
Oh, jadi ini kejutan yang dimaksud Rasta?
Cukup lama Ken termenung disana sambil menatapi Rasta dan Zahra yang berbicara dengan akrab sambil diselingi tawa renyah keduanya. Sesekali Rasta mengelus pelan pundak Zahra dengan akrab, padahal Ken saja tak penah melakukan hal seperti itu pada Zahra.
Apa mereka sudah mengenal lama? Tidak... Rasta hanya mengenal wajah Zahra dari foto - foto yang ia tunjukkan selama ini.
Tapi, kenapa mereka akrab sekali? Apa ada yang terlewatkan setelah seminggu ini Ken memperbaiki diri dirumah Mamanya?
Bukan hanya Rasta yang memberikan sentuhan fisik pada Zahra, namun gadis itu juga beberapa kali menepuk punggung tangan kawan karibnya itu.
Hal yang sama sekali tak pernah Zahra lakukan terhadap Ken, kenapa kini harus dilakukan dengan Rasta?
Apa - apaan ini? Apa Rasta merealisaikan keinginannya yaitu mencari gadis berhati malaikat seperti Zahra? Tapi kenapa harus Zahra? Zahra itu Hana-nya. Mana bisa begini!
Bersaing dengan Frans, ia tak masalah karena memang dari dulu selalu menyaingi adik tirinya itu. Tapi ini Rasta? Yang tahu semua kelemahannya tanpa ada rahasia diantara mereka?
Dengan gerak cepat, Ken merangsek ke sisi meja yang ditempati sepasang insan yang masih asyik bercengkrama itu tanpa menyadari kehadirannya sama sekali.
"Maksud lo apaan, Ta? Lo sengaja nyuruh gue kesini biar liat lo berduaan sama Hana?" Ken sengaja berucap demikian, agar menyadarkan Rasta dan Zahra yang terlihat sangat asyik mengobrol sedari tadi--entah apa yang mereka bahas.
"Ken..." Zahra tampak membekap mulutnya sendiri, mungkin terkejut dengan kedatangan Ken yang mendadak.
__ADS_1
"Lo denger dulu penjelasan gue!" ucap Rasta berdiri dari duduknya.
"Penjelasan apa? Lo sekarang ngedeketin Hana, gitu?" Ken menatap kedua orang didepannya dengan tatapan marah dan kecewa yang dalam. Ia menyadari jika ia tak mau bersaing dengan Rasta demi satu gadis yang sama.
"Bukan gitu, lo salah paham! Gue justru mau lo ketemu sama Hana sekarang!" ucap Rasta membela diri, pas seperti yang diduga oleh Ken.
"Sejak kapan lo akrab sama Hana?" Ken sudah dipenuhi amarah padahal belum mendengar penjelasan apapun dari kedua orang dihadapannya itu.
"Gue baru mau mengenalnya!" jawab Rasta mantap.
Dan jawaban itu cukup menyulut emosi di diri Ken.
"Apa lo bilang?" Ken menarik kerah baju Rasta, siap untuk memukul wajah yang seolah dipasang layaknya orang tak bersalah itu.
______
Rasta benar - benar tak menyangka kehadiran Ken yang diundangnya justru berimbas buruk untuk dirinya sendiri saat ini.
Demi apapun, Ken salah paham dengan apa yang dilihatnya kini. Ingin Rasta mengucapkan kalimat itu tapi tindakan Ken justru membuat ide jahil terlintas dikepala Rasta.
"Lo lepasin dulu, Men! Lo salah paham! Lo jangan marah - marah gini lah!" ucap Rasta berusaha menenangkan Ken yang tampak murka.
Ya, walau bagaimanapun Rasta cukup tahu kemarahan Ken saat melihatnya akrab dengan Zahra seperti saat ini. Bagaimana tidak, selama ini yang Ken tahu adalah Rasta tak pernah mengenal Zahra secara pribadi. Tapi kenyataannya? Ck! Ken belum tahu kenyataan yang Rasta pun baru mengetahuinya kemarin, kan? Jika Zahra adalah Zeevana, adik kandungnya.
Ken pun melepas kasar cengkraman tangan yang sempat menarik kerah baju Rasta.
"Lo duduk dulu, oke!" saran Rasta.
Ken diam tak menyahuti, namun sorot kemarahan dimatanya masih menyala.
Zahra disamping tubuh Rasta masih tampak syok sebab kejadian yang baru saja terjadi.
Untungnya cafe belum terlalu ramai karena jam makan siang memang masih sekitar satu jam lagi. Namun, tetap saja perhatian beberapa pekerja cafe mengarah pada meja mereka.
Rasta mencoba peruntungannya kali ini, yakni merealisasikan ide jahil yang terlintas dikepalanya tadi saat melihat kemarahan Ken.
"Sekarang gue cerita baik - baik ke lo! Gue sama Hana memang punya hubungan," ucap Rasta memulai.
"Apa?" Ken hendak bangkit dengan tatapan matanya yang melotot marah.
"Sabar dulu..." ucap Rasta kembali menenangkan Ken.
Seru nih- batin Rasta terkekeh senang.
Rasta beralih pada Zahra, menatap sang Adik dengan tatapan teduhnya, meyakinkan lewat sorot mata bahwa semuanya akan baik - baik saja.
Dalam diam, Zahra hanya mengangguk saja tanpa berani mengadahkan wajah karena tak mau melihat wajah penuh amarah milik Ken.
__ADS_1
"Han, sekarang aku tanya sama kamu... Jika kamu disuruh memilih, kamu memilih aku atau Ken?" Rasta mengendikkan dagu demi menunjuk Ken yang duduk didepannya.
...Bersambung ......