
Zahra benar - benar merasa salah tingkah sekarang. Pasalnya ia takut salah mengenali. Mau menganggap orang dihadapannya adalah Ken, tapi ia takut jika ternyata kesimpulan itu salah.
Namun, mau menepiskan jika yang ada dihadapannya bukan Ken, ia juga tak yakin sanking miripnya sosok itu dengan Ken yang ia kenal.
"Apa ada orang yang mirip sampai suara dan senyumnya juga sama?" Lagi - lagi Zahra seperti berdebat dengan dirinya sendiri. Satu pikiran menyatakan jika ini adalah Ken, namun satu pikiran yang lain menyakinkannya jika Ken tak mungkin berpenampilan seperti ini.
Jadi, Zahra hanya bisa bertingkah profesional saja, menjelaskan sesuai yang ingin diketahui sang klien. Entah dia benar Ken atau tidak, Zahra menomorduakan hal itu.
"Jika saya hanya ingin menanam saham di perusahaan ini, tanpa terjun langsung... berapa persen keuntungan yang akan saya dapatkan?" tanya sosok mirip Ken dengan sikap tenangnya.
Zahra yang masih memperhatikan lekat sosok itu, tidak begitu mendengar ucapan sang pria, sampai Devia yang menyela untuk menjelaskan pada klien itu.
"Jika Anda menanam saham sebesar ... maka keuntungan yang didapat ...."
Akhirnya, Devia yang melanjutkan sesi percakapan dengan sosok itu, karena Zahra hanya diam dan tak bisa lagi melanjutkan kalimat.
Dibenak Zahra sekarang hanyalah ingin memastikan jika pria dihadapannya benar Ken atau bukan.
Saat meeting selesai dan mereka bertiga sudah berdiri, Zahra mencoba memberanikan diri untuk mencegah kepergian pria mirip Ken.
"Tunggu ..." ucap Zahra lantang.
Pria itu menghentikan langkah, menoleh dan tampak tersenyum kecil pada Zahra.
"Ada apa?" tanyanya datar. Ah, bahkan sikap datarnya sama seperti Ken.
"Tante, boleh saya berbicara dengan rekan bisnis kita sebentar?" Zahra meminta izin pada Devia disebelahnya dan Devia mengangguk tanpa ada keraguan.
Zahra menghampiri pria itu yang sudah berjarak dari meja yang tadi mereka tempati.
"Maaf sebelumnya, saya hanya ingin bertanya sesuatu." Zahra bingung sendiri ingin memulai darimana. Sekarang--perasaan yang mengatakan jika sosok ini bukanlah Ken-- justru lebih dominan, setelah ia memberanikan diri seperti ini. Ia jadi ragu lagi.
"Ada apa? Apa kamu ingin menanyakan sesuatu?" tanya pria itu.
Zahra mengangguk polos dan sosok itu tersenyum kecil.
__ADS_1
"Baiklah, kamu boleh menanyakannya... tapi setelah itu gantian."
"Gantian?" tanya Zahra sembari menatap sosok mirip Ken itu dengan mata yang membola.
"Iya, gantian. Setelah kamu bertanya pada saya, gantian saya yang akan bertanya pada kamu."
Zahra tertunduk, malu ditatapi sosok yang mirip Ken ini, tentu saja dia gugup sekarang-entah karena sosok ini baru ditemuinya atau karena sosok ini begitu mirip dengan dia.
"Bagaimana? Kamu mau bertanya apa? Tanyakanlah, saya akan menjawabnya dengan jujur dan pastikan kamu juga akan menjawab pertanyaan saya dengan jujur pula nantinya."
Zahra mengadah, menatap sosok tinggi dihadapannya.
"Baiklah," jawab Zahra akhirnya.
Lalu, dengan suara yang sangat pelan Zahra pun mulai memberanikan diri.
"Maaf, sebelumnya saya belum tahu siapa nama Anda..." kata Zahra memulai.
Tanpa diduga sebelumnya, pria itu justru terkekeh pelan ketika mendengar pertanyaan Zahra itu.
"Jadi, kamu benar tidak tahu, ya? Ingin berkenalan dengan saya?" tanya sang pria tampak menawarkan.
"Baiklah, karena saya sudah berjanji akan menjawab jujur, maka saya akan jujur pada kamu, walau sebenarnya saya memang tidak berbohong sejak awal ..."
"Maksudnya?" Zahra mengerjapkan matanya beberapa kali demi mencerna ucapan sang pria.
Pria itu sedikit membungkuk demi menyamakan dengan tinggi tubuh Zahra. "Perkenalkan..." kata pria disamping tubuh Zahra. "Aku... Kendra Winarya," sambungnya pelan, bahkan nyaris berbisik pada gadis itu.
Zahra melotot seraya membungkam mulutnya sendiri. Sepersekian detik berikutnya, Zahra membalik badan tanpa mengucap sepatah katapun.
"Ahhhh... kenapa begini? Ternyata dia beneran Ken!" Zahra merutuki dirinya sendiri dalam hatinya. Mungkin sekarang wajahnya sudah merah padam akibat rasa malu yang melingkupi.
"Gantian dong!" kata pria yang posisinya sekarang sudah dipunggungi oleh Zahra itu.
Zahra mencebik sebal, tak menoleh pada Ken justru ia kembali ke meja yang masih diisi oleh Devia.
__ADS_1
"Udah selesai bicaranya?" tanya Devia pada Zahra yang tampak mematut wajah kesal. Devia mengulumm senyum penuh arti melihat raut wajah Zahra yang ditekuk, semua ini sudah bisa ia perkirakan.
Sosok yang ternyata memang Ken itu juga ikut kembali ke meja semula.
"Han... perjanjiannya kan gantian... Sekarang giliran aku yang bertanya sama kamu dan kamu harus jawab jujur!" tuntut Ken didepan Devia.
Jelas saja Zahra merasa amat malu jika harus bertengkar atau berdebat dengan Ken dihadapan sang Atasan.
"Ada apa ini?" tanya Devia mencoba menengahi.
Ken tersenyum kecil sebelum akhirnya kembali bersuara.
"Ibu Devia, tolong paksa sekretaris anda menjawab pertanyaan saya karena tadi kami sudah sepakat akan menjawab jujur pertanyaan masing - masing!" kata Ken yang kini beralih pada Devia disebelah Zahra.
Zahra tertunduk sambil memegang dahinya sekilas. Bagaimana bisa Ken bersikap seperti ini didepan atasannya? Ken benar - benar membuatnya malu saja didepan Devia.
"Han, sebenarnya ada apa ini? Kamu ada masalah dengan klien kita?" tanya Devia tenang.
Zahra menggeleng cepat.
"Ya sudah, kamu jawab saja pertanyaan klien kita!" Devia menepuk pelan punggung tangan Zahra, meyakinkannya.
Mimpi apa Zahra semalam, ia harus menjawab pertanyaan Ken yang--entah apa--dihadapan Devia.
Bagaimana bisa semua terjadi seperti ini? Andai saja ia tahu siapa klien yang akan ditemui siang ini. Seharusnya yang ditemui siang ini klien bernama Pak Adit, tapi kenapa malah bertemu Ken? Sedangkan Klien bernama Pak Adit justru sudah lebih dulu mereka temui diawal tadi.
"Sebelumnya saya minta maaf pada ibu Devia jika yang akan saya bicarakan pada Hana diluar aspek kerja - sama kita," ucap Ken dan Devia mengangguk dengan entengnya.
Ken beralih pada Zahra, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Han, pertanyaanku masih sama... tapi kali ini aku mau kamu menjawabnya dengan jujur, sesuai dengan jawaban yang ada dihati kamu..." kata Ken tanpa canggung dihadapan Devia dan Zahra.
"Oh... masalah hati toh!" celetuk Devia membuat Zahra semakin kecil muka dihadapan sang atasan.
"Jujur ya, Han... kamu mau menikah denganku, kan?" lirih Ken yang sudah ikut terduduk diseberang Zahra.
__ADS_1
Zahra terdiam. Ia ingin menolak Ken lagi untuk kesekian kalinya, tapi mengingat Devia disampingnya, rasanya tak mungkin ia mempermalukan Ken dengan cara seperti itu kan?
...Bersambung ......