Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Bertemu


__ADS_3

"Hana..."


Zahra pun mengadah demi menatap sosok yang menyebut namanya itu.


Beberapa detik saling menatap satu sama lain, mereka berdua seakan tersadar dengan keadaan.


"Kamu ... Kak Dirga?" tebak Zahra, ia bisa berasumsi demikian karena merasa-- siapa lagi yang akan mengunjungi makam ibundanya-- selain sang Kakak?


Intuisi, insting, serta feelingnya langsung mencerna dengan cepat dan dalam sepersekian detik ia langsung bisa mengenali sosok yang seakan memiliki keterikatan batin tersendiri dengan dirinya.


Sosok yang tampak garang di perawakannya itu tak menjawab pertanyaan Zahra, justru melakukan tindakan yang sangat refleks, mungkin dia juga merasa adanya keterikatan itu dengan sosok Zahra dihadapannya. Sosok itu langsung merengkuh dan membawa tubuh Zahra kedalam pelukannya-- begitu saja.


Andai kata pemuda ini bukan kakaknya, pasti Zahra sudah melawan, mengumpat, atau bahkan memukul pria manapun yang berani menyentuh tubuhnya begitu saja saat keadaannya sadar penuh seperti ini.


Namun, Zahra yakin dan tahu--meski entah darimana--mungkin insting yang bekerja dalam otaknya atau naluri perasaan dalam hatinya--yang dapat merasakan--jika yang kini memeluk tubuhnya dengan sangat erat memanglah Kakak kandungnya, Dirga.


Sehingga, Zahra tak menolak sama - sekali pelukan itu dan ia pun menerimanya walau sempat merasa amat terkejut dengan perlakuan tiba - tiba ini.


"Kakak..." lirih Zahra disela - sela pelukan erat pria itu, yang masih belum mau melepaskan tubuh Zahra dari rengkuhannya.


Zahra bisa merasakan tubuh pria yang diyakininya sebagai sang Kakak--bergetar--saat memeluknya.


"Kakak..." kata Zahra lagi yang semakin yakin seratus persen, jika pemuda ini memanglah Kakaknya.


"Iya, iya, ini aku..." jawab pemuda itu ikut menangis lirih.


Suara tangis haru milik mereka berdua, seperti bersahut - sahutan di makam yang tampak sepi hari ini.


Dirga melepaskan pelukannya di tubuh Zahra, kemudian menangkup wajah sang adik demi menatapnya lekat - lekat.


"Darimana kamu tahu makam mama?" tanyanya sembari menyeka airmata dengan sebelah tangan. Rasanya, airmatanya sangat tak cocok dengan penampilannya. Semacam berbanding terbalik, namun ia tak kuasa menangis karena akhirnya menemukan sosok Adik yang sudah dicarinya sangat lama.


"Dari tante Devia."


"Tante Devia?"


Zahra mengangguk pelan.


"Apa kakak mengenalnya?" tanya Zahra.


"Aku-- maksudnya, Kakak... pernah mendengar namanya, namun tidak tahu sosoknya," jawab Dirga dengan senyuman penuh haru.


"Kenapa Kakak tidak menemui Tante Devia?"


Dirga menggeleng. "Belum saatnya kakak muncul di hadapan orang lain sebagai Dirga yang Tante Devia kenal," ujarnya.


"Kenapa?"


"Entahlah, rasanya banyak orang yang mencari keberadaan Kakak. Selama ini Kakak hidup dengan penuh kewaspadaan, Kakak takut jika menemui Tante Devia justru berimbas buruk pada kehidupan pribadi beliau sebab mencoba melindungi kakak."


Zahra paham, ia mengerti. Toh selama ini Zahra bisa hidup tenang pun, karena ia tak tahu jati dirinya yang sesungguhnya. Berbeda dengan sang Kakak, yang sedikit banyak pasti mengingat masa - masa kelam itu meski Zahra tak yakin. Dan, demi menjawab rasa tak yakin itu, Zahra lebih memilih menanyakannya langsung pada sosok Dirga yang masih berada dihadapannya.


"Kak, sekarang kita sudah sama - sama tahu satu dengan yang lain. Apa kita bisa bicara tentang orangtua kita? Bagaimanapun aku ingin tahu meski sedikit saja."


"Baiklah, aku... emm... Kakak juga ingin membicarakan sesuatu yang agak pribadi dengan kamu," jawab Dirga masih dengan tatapan sendunya.


Pemuda itu menunjuk ke arah gerbang pemakaman, meminta Zahra menunggunya disana karena ia akan berziarah ke makam ibunda mereka terlebih dahulu sebelum bicara pada sang Adik.


Zahra mengangguk patuh, ia berjalan pelan menuju gerbang dan disana masih terlihat Lala dan Zaki yang setia menunggunya.


"Udah selesai, Han? Apa kita langsung pulang sekarang?" tanya Zaki.

__ADS_1


"Boleh minta waktu sebentar, gak? Aku masih mau disini dan kemungkinan akan sedikit lebih lama."


"Mau ngapain lagi, Ra?" Kini Lala yang bertanya pada Zahra.


"Ada keperluan di dekat sini," jawab Zahra sedikit berdusta, ia tak mau membuka identitas Kakaknya meski dihadapan Lala atau Zaki. Entahlah, ia masih ingin menutupi hal ini dan belum mau terbuka tentang pertemuannya dengan sang Kakak.


Tampak Lala dan Zaki saling berpandangan satu sama lain seolah meminta pendapat masing - masing tentang keinginan Zahra ini.


"Yaudah, kita tungguin kamu disini," ucap Zaki akhirnya.


Zahra menggeleng cepat. "Gak usah!" jawabnya.


"Kenapa? Aku gak mungkin biarin kamu disini sendirian, aku takut kamu bertemu pria itu... yang kata Mama menunggui kamu di Lobby kemarin," kata Zaki.


"Enggak, Frans gak akan kesini. Lagipula, aku bisa jaga diri kok!"


"Kamu yakin?" tanya Lala.


"Iya, kalian jalan - jalan aja dulu. Nanti aku telepon kalau sudah selesai."


"Oke, tapi kalau sudah selesai langsung hubungi aku, yaz Ra!" kata Lala.


"Siap... kalian pedekate aja dulu," goda Zahra.


"Isss... apaan sih, Ra!" Lala mencebik namun beberapa saat kemudian wajahnya tampak berubah riang.


Sementara Zaki hanya tersenyum sambil menggeleng, lalu membukakan pintu mobil untuk dinaiki Lala.


"Dah... selamat pedekate!" ujar Zahra melambaikan tangan pada mobil Zaki yang mulai bergerak pelan.


Zahra pun duduk disebuah kursi kayu panjang yang ada didekat gerbang pemakaman.


Hanya beberapa menit berselang, sampai akhirnya sang Kakak datang menghampirinya disana.


"Terserah kakak," jawab Zahra.


"Kalau aku ajak kamu ke tempat lain, mau?"


Zahra mengangguk dengan patuhnya.


Dirga terkekeh pelan, menyadari sikap Zahra yang terkesan polos itu.


"Han, kamu polos sekali. Bagaimana jika ternyata aku bukan Dirga kakakmu?" Akhirnya Dirga ikut duduk disebelah Zahra.


"Aku yakin kamu Kakakku, aku bisa merasakannya," jawab Zahra.


Dirga menggeleng tak habis pikir. "Naif sekali... kalau apa yang kamu rasakan itu salah, bagaimana?" tanyanya kemudian.


"Entahlah, aku hanya mengikuti insting dan naluriku ... yang mengatakan jika Kakak adalah Kakakku!"


Dirga tersenyum kecil dan menghela nafas sejenak.


"Bagaimana? Kakak sudah mau menceritakan tentang keluarga kita?"


"Kalau sekarang aku bilang ... jika aku bukan Dirga, bagaimana?"


Zahra bangkit dari duduknya, ucapan pria yang diyakininya sebagai kakaknya ini cukup membuat amarahnya tersulut. Karena walau bagaimanapun, ada keyakinan tersendiri dalam dirinya yang mengatakan jika pria ini memang benar adalah Kakaknya.


Apa sekarang Kakaknya hendak mempermainkannya? Begitu?


Zahra menatap sosok itu dengan tatapan memicing, lalu sadar akan sesuatu yang sangat penting. Zahra langsung saja meraih itu. Sesuatu yang ternyata Dirga kenakan--sebuah kalung yang cukup panjang menjuntai dari leher sampai ke depan dada bidang pemuda itu.

__ADS_1


"Lihat! Ini cincin milik Kakak... ternyata Kakak juga menjadikannya bandul kalung, sama seperti yang aku buat!" seru Zahra sembari bergegas melepas kalungnya sendiri, yang ia kenakan namun tertutup karena jilbabnya.


Dengan percaya diri, ia lalu menunjukkan itu pada sosok yang ia yakini sebagai Dirga.


"Bagaimana?" tanya Zahra dengan sikap menantang. Ia ingin lihat apalagi alasan yang akan diberikan Dirga kali ini setelah bukti nyata ada didepan mata, apamah Dirga masih mau menyangkal?


Dirga terkekeh pelan. Ternyata Adiknya tidak bisa ia kelabui begitu saja. Adiknya cukup pintar dan sekarang ia juga menjadi yakin jika Zahra memang adiknya, terlebih saat mainan kalung mereka yang serupa --yakni sepasang cincin bermata berlian dengan desain klasik yang sama.


"Baiklah, Zee..." bisik Dirga pelan, membuat senyum diwajah Zahra mengembang sempurna. Panggilan 'Zee' yang disebutkan Dirga, sudah menjadi jawaban pelengkap yang akurat jika sosok ini memang benar Kakak kandungnya.


"Sekarang, sudah bisa cerita?" tanya Zahra menatap Dirga penuh harap.


"Hmm, tapi Kakak yakin kamu sudah mendengar ceritanya dari Tante Devia. Tante Devia pasti menceritakan hal yang benar, kamu bisa mempercayai beliau."


"Aku memang percaya dengannya, tapi aku ingin mendengar cerita dari sudut pandang kakak."


"Aku tidak tahu pasti bagaimana ceritanya, karena waktu itu aku juga masih berumur empat tahun."


"Lalu, selama ini Kakak tinggal dengan siapa? Dimana?" cecar Zahra.


"Aku tinggal dengan Paman Sapta."


"Siapa dia?"


"Dia orang kepercayaan Almarhum Papa. Dia menyelamatkan aku saat tak sengaja terlepas dari pantauan Mama. Saat itu Mama ingin kabur membawa kamu dan aku, namun Aku yang masih balita terlepas dari Mama. Keadaan itu memaksa Mama kabur dengan hanya membawa kamu, karena mama tidak bisa kembali untuk mencariku. Lalu, aku terpaksa ikut bersama Paman Sapta yang tak sengaja melihatku waktu itu."


"...Paman Sapta berkorban banyak untuk aku, beliau rela hidup tidak tenang seperti yang dialami oleh almarhum Mama sebelum akhirnya Mama terbunuh. Paman Sapta sampai rela tidak menikah demi bisa menjagaku, beliau takut tidak ada wanita yang mau menerimaku jika dia memutuskan untuk menikah."


"Benarkah? Lalu dimana Paman Sapta sekarang? Apa beliau sehat dan masih hidup?" Zahra takut jika paman Sapta turut tersangkut-paut dengan problem keluarganya hingga mengorbankan nyawanya pula.


"Paman ada dirumah, beliau sehat."


"Alhamdulillah," sahut Zahra lega. "Kapan - kapan aku ingin bertemu beliau, boleh?" tanyanya.


Dirga mengangguk. "Tentu, pasti Paman senang bertemu kamu," jawabnya.


"Aku juga akan banyak berterima kasih dengan beliau, Kak!" jawab Zahra tulus.


"Tapi Han, ada satu hal yang ingin Kakak tanyakan padamu," ucap Dirga hati - hati.


"Tentang apa, Kak?"


"Ini tidak ada sangkut - pautnya dengan problem keluarga kita sebenarnya. Hanya saja Kakak sangat penasaran."


"Apa itu? Apa kakak tahu hal lain tentangku, selain yang berkaitan dengan hal keluarga kita?"


Dirga mengangguk sambil tersenyum tipis. "Bagaimana hubunganmu dengan Ken? Apa kalian sudah bertemu?" tanyanya.


"K-ken? Kakak mengenalnya?" Zahra menatap Dirga dengan dahi mengeryit heran. Merasa terkejut dan tidak habis pikir.


Dirga justru tertawa demi menanggapi pertanyaan sang Adik. "Aku bukan cuma mengenalnya, Han! Tapi ... sangat - sangat mengenalnya!" ucapnya mantap.


"Kak... aku..."


"Menikahlah dengan dia! Karena jika tidak, aku takut Ken jadi gila." Dirga tertawa lagi membayangkan wajah galau Ken hanya karena satu perempuan yang ternyata adalah adik kandungnya sendiri.


...Bersambung ......


Nah... udah tahu kan siapa Kakaknya Zahra?


Wkowkwowko✌️😁

__ADS_1


Kopi sama bunga boleh dong ya♥️


__ADS_2