
Terminal pemberhentian Bis tampak ramai, seorang gadis dengan hijab berwarna cokelat baru saja menuruni Bis yang ia tumpangi.
Gadis itu adalah Zahra, ia memutuskan untuk pergi meninggalkan pusat kota dan menuju sebuah tempat lain yang berada dipelosok demi menghindari pertemuan kembali dengan Ken maupun Frans yang telah ikut andil dalam merusak hidupnya.
Di terminal pemberhentian itu, Zahra membeli sebuah air mineral yang dijajakan oleh pedagang yang berlalu lalang.
"Terima kasih, Kak!" kata Anak remaja penjual asongan yang menerima uang dari Zahra.
"Ya," sahut Zahra tersenyum dan mulai membuka tutup botol minumannya.
Keadaan terminal sangat ramai, suara teriakan beserta suara mesin Bis yang mulai dinyalakan bersahut-sahutan. Asap kendaraan itupun merayap kemana-mana sehingga cuaca yang memang cukup terik di siang ini terasa sangat menggerahkan.
Zahra tidak tahu kenapa tujuannya jatuh ketempat ini, yang jelas ia hanya berniat menjauhi orang-orang serta tempat yang telah memberinya kenangan buruk.
Meskipun masih dikota yang sama, tapi ia sudah memberi jarak. Zahra merasa ditempat ini keberadaannya akan sulit untuk ditemukan karena pasti tidak terpikirkan oleh orang-orang yang mengenalnya.l
Maka dari itu, ia lebih memilih menggunakan Bis daripada ke luar kota menggunakan pesawat. Karena ia tahu jika menggunakan transportasi itu kepergiannya akan mudah dilacak oleh Frans maupun Ken. Sedangkan ia tak mau berurusan lagi dengan mereka. Ia ingin membuka lembaran hidup baru ditempat yang baru.
Zahra berinisiatif mencari kontrakan atau minimal penginapan dulu untuk sementara waktu. Ia pun menunggu ojek online dipinggir jalan terminal, untuk mengantarkannya ke tujuan selanjutnya.
Dalam keadaan yang tak tentu arah itu dan saat Zahra menunggu ojek yang telah ia pesan, Zahra dipertemukan dengan seorang wanita yang ramah menyapanya.
"Hai ... kamu mau kemana?" tanya wanita itu menatap Zahra dengan senyuman.
"Aku ingin mencari kontrakan di desa ini, Mbak..." jawab Zahra jujur sambil tersenyum kecil.
"Oh, pas banget... Mama aku punya kos-kosan, barangkali kamu tertarik. Disana tempatnya nyaman, free wifi dan ada single bed," kata wanita itu menawarkan.
"Benarkah?" Zahra terlihat antusias.
"Ya, kenalkan namaku Alin..." Sang Wanita mengulurkan tangan.
Zahra menyambut uluran tangan wanita bernama Alin itu. "Zahra," jawabnya.
"Kamu nunggu ojek?" tebak Alin.
Zahra menganggukkan kepalanya.
"Naik mobilku saja," kata Alin.
Zahra menggeleng, bagaimanapun ia baru mengenal wanita ini beberapa menit dan tentu masih ada keraguan dihati Zahra untuk mengikuti orang asing begitu saja.
"Kenapa? Kamu takut padaku?" Alin tertawa pelan.
Zahra hanya tersenyum kecil.
"Wajar, sih. Kamu kesini aja nanti sama ojek yang bawa kamu." Alin memberikan sebuah brosur yang menampilkan tempat kos-kosan yang diakui sebagai kepunyaan Mamanya.
"Terima kasih, Mbak." Zahra menerima brosur itu.
__ADS_1
"Aku duluan ya," kata Alin melambaikan tangan dan pergi dari sana.
Tak berapa lama, ojek online yang dipesan Zahra pun tiba.
Zahra menaiki itu dan melanjutkan perjalanannya menuju sebuah penginapan sederhana yang sebelumnya sudah ia cari tahu lewat internet saat di Bus tadi.
Zahra ingin menuju alamat yang tertera di brosur yang diberikan Alin, tapi karena pesanan ojeknya melalui aplikasi dan sudah dipesan ke alamat penginapan, jadi Zahra pikir akan ke penginapan dulu untuk meletakkan barang-barangnya, barulah ia akan mengecek lokasi kos-kosan yang diberi Alin.
Bagaimanapun, ia tak mungkin menginap di penginapan terus, bukan? Jadi dia memang harus mencari tempat tinggal untuk menetap di tempat baru ini.
Sesampainya di penginapan itu, ia membayar ongkos ojek dari uang yang ada disaku gamisnya.
Zahra pun menyempatkan diri untuk bertanya pada resepsionis yang berjaga-- tentang brosur yang sempat diberikan Alin kepadanya.
"Setahu saya, di jalan yang tertera ini ... gak ada kos-kosan seperti ini, Mbak!" ucap pria muda yang ditanyai Zahra.
"Benarkah?" Zahra langsung merasa was-was.
"Ya, setahu saya... disini lebih banyak gudang-gudang bekas yang sudah tidak terpakai lagi. Kebetulan setiap hari saya bekerja melewati jalan ini, Mbak."
"Te-terima kasih, ya, Mas." Zahra langsung menghela nafas panjang.
Apa itu artinya wanita bernama Alin tadi berniat menipunya? Dengan menyesatkannya ke pegudangan kosong?
Mendadak, Zahra teringat dengan sesuatu. Ia meraih slingbag yang masih ia pakai dan mencari-cari sesuatu disana.
"Astagfirullah!" Zahra tidak menemukan dompet dan ponselnya disana.
Zahra masih bersyukur bahwa tadi ia tak mengikuti Alin begitu saja dan tak langsung menyusul ke alamat yang diberikan Alin.
Tampaknya penipuan ini terencana sekali sampai wanita itu menyediakan brosur, pasti sudah banyak korban yang ditipunya. Zahra saja sampai tidak sadar bahwa ternyata dompet dan ponselnya telah hilang. Padahal waktu ia memesan ojek online, ponsel dan dompetnya masih ada dalam sling bag.
"Jadi menginap disini, Mbak?" tanya pria dihadapan Zahra.
"Emm.." Zahra bingung sendiri karena uang dan Atm-nya berada dalam dompet yang telah hilang. Yang sekarang ia miliki hanya koper kecil miliknya-- yang berisikan pakaian serta barang-barangnya.
Jika ponselnya masih ada, mungkin Zahra bisa menggunakan itu untuk membayar biaya penginapan lewat aplikasi atau m-banking, tapi sekarang bagaimana? Ia tak memiliki uang lagi. Uang terakhirnya yang ada dalam saku tak seberapa dan sebagian telah ia gunakan untuk membayar jasa ojek.
____
Dilain sisi, Ken mendatangi rumah kontrakan Zahra. Mengetuk pintunya sampai entah berapa kali.
"Hana ..." panggilnya melirih.
"Han, aku sudah bilang sama Papa dan Papa sudah merestui kita agar menikah!" pekik Ken didepan pintu rumah kontrakan Zahra yang telah kosong tak berpenghuni.
"Han, buka pintunya, Han!"
Tok tok tok!
__ADS_1
Ken terus mengetuk pintu rumah itu, ia mengira Zahra marah padanya sehingga tidak mau bertemu dan membukakan pintu untuknya.
Ken menyadari saat sebuah mobil berhenti didepan pekarangan rumah kontrakan Zahra dan ia tahu siapa pemilik mobil itu.
Ken tak menggubris seseorang yang baru saja tiba itu, ia terus mengetuk pintu rumah kontrakan Zahra sembari memanggil nama gadis itu.
Orang yang baru tiba itu adalah Frans, pria itu mendengkus keras karena begitu tiba dikediaman Zahra justru wajah Ken yang terlihat disana dan bersikap tak menganggapnya ada. Rasanya Frans sangat ingin meninju wajah Ken sekarang juga.
"Hana...."
"Han, buka pintunya... aku mau bicara!" Ken menggedor pintu, mulai tidak sabaran sejak kehadiran Frans dibelakang tubuhnya.
Frans tersentak, Ken memanggil Zahra dengan nama 'Hana'?
Sisi hati Frans tersentil dengan panggilan yang diberikan Ken kepada 'Zahra-nya'.
"Kau memanggil Zahra apa?" tanya Frans mencoba membalikkan posisi tubuh Ken yang berdiri membelakanginya sembari mengetuk pintu dengan wajah frustrasi.
Ken menoleh sekilas. "Kenapa? Lebih baik kau pulang saja!" katanya pada Frans dengan nada tak acuh.
Frans menyadari sesuatu dan detik itu juga dia meninju wajah Ken dengan sangat keras, ujung bibir Ken sampai berdarah karenanya.
Ken terkejut dengan pukulan keras yang dihadiahi Frans kepadanya. Amarahnya tersulut dan merasa tak terima, Ken langsung membalas memukul wajah Frans dengan tak kalah kuatnya.
Terjadi pekelahian diantara mereka berdua selama beberapa menit. Sampai akhirnya, Frans terduduk dilantai sebab kewalahan menghadapi kemarahan Ken, lalu dia pun mulai melemparkan argumen pada kakak tirinya itu.
"Kau... tidak mungkin mencintai Zahra!" ucap Frans terengah-engah.
Ken terdiam, tidak menyahuti ucapan Frans yang menohoknya.
"Kau breng-sek! Kepar-at! Pecundang!" maki Frans mencoba bangkit dan berdiri.
Ken masih diam membisu mendengar umpatan yang dilontarkan sang adik tiri.
"Kau lebih parah dari iblis! Kau menghancurkan Zahra! Kau menghancurkan aku dan tanpa kau sadari ... kau juga menghancurkan dirimu sendiri!" dengkus Frans didepan wajah Ken.
"Apa maksudmu?" tanya Ken pelan.
"Kalau Zahra memang gadis yang kau cintai, kau tidak mungkin merusaknya, bang-sat!" pekik Frans.
Tangan Ken mengepal keras.
"Kau itu iblis! Zahra tidak layak bersamamu! Kau ingat itu Ken! Kau sadarilah itu!" kata Frans lagi.
Frans segera beranjak dari posisinya, kemudian saat mencapai pintu mobil ia kembali menoleh pada Ken.
"Aku memang merencanakan malam itu, tapi aku tidak berniat melecehhkannya! Kau tahu kenapa? Karena aku mencintainya, Ken! Tidak sepertimu! Apa yang kau lakukan padanya? Aku tidak habis pikir jika itu yang kau sebut dengan cinta!
"... Zahra lebih layak bersamaku! KAU TIDAK PANTAS BAGINYA! Camkaan itu, Ken!" Frans menekankan kata-katanya, lalu memasuki mobilnya dan pergi dari sana, melupakan niat awalnya untuk menemui Zahra.
__ADS_1
...Bersambung ......