
Ken menghentikan mobil saat tiba dikediaman mewah Sang Papa.
Frans terlihat langsung menuruni mobil lalu masuk ke dalam rumah. Sedangkan Tante Irene tak nampak batang hidungnya demi menyambut kepulangan sang anak, entah kemana dia, Ken sendiri tak begitu peduli tentang keberadaan wanita itu.
Bagas masih berdiri disisi Ken yang telah selesai memarkirkan mobil di slot parkiran depan rumah.
Merasa tak ada kepentingan lain, Ken memutuskan untuk segera pergi dari sana.
"Ken, mau kemana?" tanya Bagas yang melihat Ken beranjak.
"Aku mau ke bengkel, Pa!" jawab Ken.
"Apa kamu tidak mau disini dulu?"
Ken menggeleng.
"Masuklah, Nak. Ini rumahmu juga. Apa kamu tidak merindukan masa-masa saat kamu tinggal dirumah ini?" tanya Bagas dengan nada lirih, sepertinya dialah yang merindukan momen bersama puteranya itu.
"Tidak, Pa!" jawab Ken singkat dan berlalu di hadapan Bagas.
Bagas menatapi kepergian Ken yang perlahan meninggalkan kediamannya, tanpa bisa dicegahnya. Ken telah dewasa dan semua keputusan ini adalah pilihan Ken sendiri.
Bagas sudah berulang kali membujuk Ken, namun watak keras puteranya itu memang sulit ditaklukan sejak dulu.
__
Ken dijemput oleh seorang rekannya didepan kediaman sang Papa, sebelumnya dia sudah mengirim pesan pada Rasta untuk menjemputnya disana.
Ken memasuki mobil tua milik Rasta dan mereka pun meninggalkan kawasan elite tempat berdirinya bangunan mewah yang dulunya adalah tempat tinggal Ken juga.
"Gue anter lo kemana?" tanya Rasta sembari tetap fokus mengemudi.
"Graha Metropolis!" jawab Ken mengarah pada gedung perkantoran milik sang Ayah. Ia akan mengambil motornya yang tertinggal disana.
__ADS_1
Rasta mengangguk paham, hanya dialah kawan sependosa yang tahu latar belakang Ken, sedangkan kawan lainnya tidak pernah tahu jati diri Ken yang sebenarnya, karena Ken memang tertutup soal kehidupan pribadinya.
Teman-teman Ken hanya tahu jika pria berambut gondrong itu memiliki bengkel mobil dan tidak pernah tahu asal muasal keluarga Ken yang kaya raya.
Begitupula dengan wanita-wanita yang berkencan dengan Ken, tidak ada yang tahu siapa Ken sebenarnya jika menilai dari penampilan berandalnya.
Kecuali memang ada yang khusus menyelidiki latar belakangnya, mungkin identitas asli Ken akan diketahui dengan mudah karena nama asli Ken masih tertera sebagai pemilik saham tertinggi di perusahaan sang Ayah.
Rasta sendiri, kawan Ken sejak sama-sama berkuliah di salah satu Universitas ternama, usianya 3 tahun diatas Ken. Tapi mereka bukan kenal di area kampus, melainkan dari komunitas balap liar yang sering mereka ikuti.
Nama asli Rasta terdaftar sebagai salah satu 'crazy rich' di kota mereka. Tapi pria dengan penampilan tak jauh berbeda dari Ken itu, tidak pernah merasa merasa bahagia sejak kecil. Kedua orangtuanya telah meninggal dunia karena suatu insiden yang menyesakkan. Insiden itulah yang membuat Rasta menyamar menjadi orang biasa, sebab keberadaannya juga tengah dicari saat ini. (Nanti akan diselipkan cerita Rasta, sekarang akan fokus ke Ken dulu.)
Tidak ada rahasia antara Ken dan Rasta, mereka sama-sama tahu satu sama lainnya termasuk problem masing-masing.
Selama beberapa waktu dalam perjalanan, akhirnya mobil tua yang dikendarai Rasta pun telah tiba di gedung perkantoran Bagas.
"Gue langsung cabut, nih?" tanya Rasta.
"Hmmm, thanks, Bro ..." Ken beranjak dan turun dari mobil yang membawanya itu. Sementara Rasta segera melanjutkan mengemudi, dan mobilnya pun mulai bergerak menjauh.
Ken mengambil motornya dan segera meninggalkan area tersebut. Ia memacu motor besarnya itu untuk menuju bengkel mobil kepunyaannya.
Sesampainya di Bengkel, kedatangan Ken disambut oleh sapaan ramah beberapa montir yang bekerja di sana. Para pekerjanya itu hampir semua adalah anak jalanan yang tinggal di yayasan miliknya. Meski begitu, Ken tetap memberi mereka gaji sesuai dengan pekerjaan mereka.
"Bang, ini laporan pemasukan bengkel dalam seminggu ini," ucap Darma, dia adalah orang kepercayaan Ken di Bengkel karena Darma cukup pintar dalam urusan keuangan yang diajarkan Ken secara otodidak kepadanya.
"Makasih," ucap Ken menerima beberapa lembaran kertas itu.
Ken pun mulai berkutat dengan pekerjaanya. Memindai pemasukan, keuntungan, serta pengeluaran yang akan dicairkan untuk memenuhi kebutuhan bengkel yang telah habis atau sudah berkurang.
"Pagi tadi, Kak Jenar kesini, mencari Abang! Dia menanyakan kapan Abang datang ke Bengkel," celetuk Darma yang belum beranjak dari hadapan Ken.
Ken melirik Darma sekilas dengan tatapan datarnya, kemudian melanjutkan sesi pemeriksaan lagi.
__ADS_1
Melihat Ken hanya bersikap datar, Darma pun permisi untuk kembali ke depan.
"Kalau Jenar kesini lagi, jangan beritahu dia tentang kegiatanku termasuk waktu kedatanganku!" ucap Ken pelan dan diangguki oleh Darma.
Seperginya Darma, Ken justru tidak bisa fokus pada pekerjaannya.
Memikirkan Jenar karena ucapan Darma tadi? Tentu saja tidak!
Tapi Ken juga tak tahu kenapa dia menjadi tidak bisa fokus seperti ini.
Apa karena kepulangan Frans? Atau karena pertemuan tak sengaja dengan gadis masa lalunya kemarin sore?
Ken menyugar rambutnya, menyandarkan punggung dan memutar-mutar kursi kerjanya secara berulang. Sampai satu pesan masuk ke ponselnya dan itu cukup bisa membuat sudut bibirnya tertarik dan melengkung saat membaca pesan itu.
[Ken, Papa harap nanti malam kamu bisa datang ke Restoran ini, Frans akan mengenalkan seseorang pada kita!]
[Pindai lokasi dengan Maps]
Itu adalah pesan dari Sang Ayah berserta sebuah link yang menyertakan share lokasi-- tempat diadakannya jamuan makan malam yang dimaksudkannya.
Ken tidak membalas pesan dari Bagas, dia hanya memutar-mutar ponselnya diatas meja-- sembari tersenyum miring. Tentu saja Ken akan datang ke acara makan malam itu, ini adalah momen yang Ken tunggu dari kepulangan Frans.
"It's show time ..." gumam Ken, diapun bersorak dalam hati. Bagaimanapun, Ken begitu penasaran dengan calon istri Frans, wanita seperti apa yang bisa membuat Adik tirinya itu luluh, hingga memutuskan ingin mengakhiri masa lajangnya yang sedang diatas angin.
"Pasti wanita pilihannya tidak lebih baik dari wanita-wanita yang pernah ku kencani," kata Ken bermonolog pada diri sendiri. Sebuah rencana licik terbersit di kepalanya.
"Dapat dipastikan selera Frans pasti wanita seperti itu, baiklah girl... kita akan bermain-main nanti," ucap Ken terkekeh dengan rencananya sendiri-- yang mulai ia susun rapi sekarang.
Ken menjadi semangat lagi, tidak disangka pesan singkat Papanya bisa mengembalikan moodnya. Secara mendadak ia merasa fokusnya telah kembali dan ia menjadi tak sabar agar hari segera beranjak malam.
Mungkin ini adalah saatnya. Saat yang tepat memberikan Frans sedikit pelajaran berharga. Agar saudara tirinya itu tahu diri dan sadar jika Ken bukan musuh yang sepadan dengannya.
Frans harus tahu, jika selama ini dia telah salah memilih musuh. Dan Ken sudah tidak sabar melihat bagaimana pucatnya wajah Frans, saat Ken telah menjalankan rencananya itu.
__ADS_1
...Bersambung ......