
Alarm terdengar berbunyi nyaring diatas nakas. Tangan Zahra mencoba mencari - cari benda itu, namun tak menemukannya.
Ia mencoba bangkit dari posisinya tapi terhalang dengan tangan Ken yang berada diperutnya.
Sesaat menyadari, ia pun tahu jika suara itu bukan berasal dari ponsel miliknya, melainkan milik Ken--yang ternyata ada di nakas seberang sana.
Zahra menatap Ken disebelahnya --yang tampak tidur dengan pulasnya. Ia tak tega membangunkan suaminya itu, namun sekarang sudah saatnya shalat subuh dan mereka memang harus bangun.
"Ken, bangun... sudah subuh!" ucapnya pelan membangunkan sang suami.
Ken tak menggubris, seolah tak mendengar suaranya.
"Ken, ayo bangun... kita shalat subuh!" Kali ini ia sedikit mengguncang bahu pria itu agar usahanya berhasil.
Ken terlihat menggeliat perlahan, kemudian mulai mengucek matanya sendiri.
"Eh, udah subuh ya?" gumam Ken seolah bertanya pada diri sendiri. Kemudian pria itu mematikan alarm yang masih berbunyi nyaring.
Ia terpaku beberapa saat, karena mengagumi wajah tampan suaminya meski baru saja terbangun dari tidur.
Tiba - tiba, mata Ken tampak ikut memandangnya juga.
"Hana ..." ucap Ken pelan dengan ekspresi kaget.
"Ya? Kita shalat subuh berjamaah, ya."
Ken mengangguk, namun wajah bingung pria itu masih terlihat jelas.
"Hana..." panggil Ken lagi.
"Iya, kenapa, Ken?"
Kini terlihat Ken menggelengkan kepala. Apa lagi ini?
"Gak apa - apa, aku pikir aku mimpi tadi pas ngeliat kamu ada dikamar aku, tapi sekarang aku sudah ingat kalau kemarin kita benar - benar sudah resmi menikah, he he he..." Ken menyengir, menunjukkan deretan giginya yang rapi.
Ia hanya bisa tersenyum kecil, "Ya udah, kita shalat ya..."
"Siap, Bos!" jawab Ken semangat--berlagak seperti prajurit yang hormat pada sang komandan.
____
Selesai shalat subuh, Zahra dan Ken turun bersamaan dari arah kamar mereka menuju lantai dasar.
Zahra mengatakan ingin membantu Mbak Warsih di dapur-- untuk menyiapkan sarapan pagi mereka.
Sementara Ken, menuju ruang tv, menyalakan televisi dan memilih satu saluran yang menayangkan berita seputar dunia olahraga.
"Eh, pengantin barunya kok udah didapur aja sih..." celetuk Devia yang juga baru tiba didapur.
Zahra yang baru ingin memotong sayuran pun-- menoleh pada Devia. "Eh, Ma... iya, aku cuma mau bantu - bantu Mbak Warsih aja, kok!" sahut Zahra.
Devia duduk diseberang Zahra, memegang punggung tanggan gadis itu dengan sikap lembutnya.
"Makasih ya, Han! Mama harap, kamu bisa menerima semua kekurangan Ken. Ken itu anaknya keras, gak bisa dipaksa dan itu... cuek," kata Devia sedikit mencebik di akhir kalimat.
Zahra ikut tersenyum lembut. "Iya, Ma. Aku tahu, kok! Kalau soal cuek, aku rasa udah gak separah dulu, sih!" jawabnya.
"Mungkin sama kamu aja dia gak cuek, takut kamu diperhatiin orang lain kali," Devia terkekeh kecil dan Zahra pun tersenyum simpul.
Mereka melanjutkan sesi masak - masak itu dengan pembicaraan ringan seputar kebiasaan Ken dan makanan kesukaan Ken.
"Jadi, waktu Ken kecil dia suka banget makan Nasi ayam pakai kuah kaldu. Dulu sih, Mama sering buatin. Nanti mama kasi kamu resep rahasianya." Devia menjabarkan apa - apa saja yang digemari Ken saat Zahra menanyakannya.
Zahra yang sudah lama mengenal Ken, cukup tahu banyak tentang sikap dan kebiasaan pria itu, namun untuk sesuatu yang lebih detail dan personal, ia memang belum mengetahuinya.
Setelah menu sarapan siap, Zahra menghampiri Ken yang masih asyik diruang tv.
__ADS_1
"Ken, sarapan yuk!" ajak Zahra sembari tersenyum lembut pada sang suami.
Ken hanya bergumam kecil kemudian bangkit dari posisinya untuk mendekat pada sang istri dan tanpa persetujuan siapapun, Ken langsung saja merangkul bahu Zahra sembari mengajaknya ke ruang makan. Tentu saja hal itu membuat Zahra gelagapan karena ia masih belum terbiasa dengan perlakuan Ken ini.
"Nanti dilihat Mama, aku gak enak, Ken!" ujar Zahra pelan sembari membuka tautan tangan Ken yang sudah menjalari bahunya.
"Justru Mama akan senang kalau melihat kita mesra, hmm..." Ken kembali merangkul bahu Zahra dengan sikap cueknya itu. Terserah apa kata Mamanya nanti, bahkan jika dunia mengomentari sikapnya ini pun ia tak peduli.
Akhirnya Zahra hanya bisa pasrah tanpa bisa memprotes lagi, karena ia tahu Ken tak akan peduli dengan alasannya sekarang.
Benar saja, kedatangan Zahra yang berjalan sambil dirangkul oleh Ken, membuat Devia mengulumm senyum.
"Pengantin baru mesra abis!" celoteh Devia sembari mengacungkan dua jempol kearah anak dan menantunya.
Ken tersenyum kecil, sementara Zahra menundukkan kepala karena merasa amat malu.
"Udah, ayo kita duduk! Kita tunggu Zaki ya, baru sarapan bersama - sama." Devia mulai menuangkan minuman ke gelas.
"Bang Zaki nginep disini, Ma?" tanya Ken yang sudah duduk dan membalik piring makannya sendiri.
"Iya, kemarin bantu - bantu sampai malam, Mama suruh aja tidur disini. Ngapain balik ke apartemen kalau disini juga ada kamar nganggur," jawab Devia.
Tak berapa lama, orang yang mereka bicarakan pun datang ke arah meja makan.
"Selamat pagi pengantin baru, gimana? Udah ada tutorialnya belum?" Zaki menaik-naikkan alis sembari menatap Zahra dan Ken bergantian.
"Tutorial apa, Bang?" tanya Ken berlagak bodoh.
"Tutorial itu lho... masa mesti dijelasin sih!" Zaki tersenyum penuh arti.
Zahra yang melihat interaksi antara Ken dan Zaki hanya bisa menggelengkan kepalanya, berharap tidak tertular keabsurd-an pembicaraan mereka di pagi ini.
Sayangnya, Devia yang seolah ikut - ikutan menimpali ucapan Zaki itu.
"Kalau udah ada tutorialnya, kasi tahu ke Abangmu, Ken! Biar dia juga segera nikah, gak jomblo melulu!" timpal Devia mengolok Zaki.
Zaki dan Ken terbahak bersamaan, sementara Zahra menghela nafas panjang.
"Aku mau ajak Hana ke rumah baru kami, Ma. Hana kan belum sempat lihat kesana!"
Devia mengangguk - anggukkan kepalanya.
"Perjalanan ke kota butuh dua jam lho, apa kalian gak lelah?"
"Enggak, Ma. Kita udah cukup istirahat kok!" sahut Zahra polos. Sayangnya ucapan Zahra yang jujur itu, terdengar aneh ditelinga Devia dan Zaki.
"Yakin udah cukup istirahatnya? Bukannya seharusnya kalian begadang ya semalam?" Zaki terkekeh diujung kalimat.
Zahra dan Ken saling memandang satu sama lain, seolah saling bertanya tentang jawaban apa yang tepat untuk diberikan pada sang Abang sepupu.
"I-itu..." Zahra yang tergagap, tak melanjutkan kalimat karena Ken segera menyela.
"Tapi kita berdua gak lelah, kok!" sela Ken cepat.
"Wah, wah, beneran minta tutorial nih aku! Sekalian rahasianya apa gitu..." ucap Zaki sembari tersenyum kecil.
"Boleh, asal udah ada calonnya aja, Bang!" jawab Ken dengan nada mencibir.
_______
Menjelang siang, Ken dan Zahra sudah berada didalam mobil untuk pergi ke kota demi melihat hunian baru yang akan mereka tempati.
Ken mengemudikan mobil sambil sesekali melirik Zahra yang duduk di sebelahnya.
"Abis lihat rumah, kita mampir sebentar ke bengkel baru aku, ya."
Mendengar kata 'bengkel', Zahra langsung mengingat momen dimana ia berada dalam kamar Ken waktu itu--ketika mereka belum resmi menikah tentunya. Saat dimana ia merasa telah direnggut kesuciannyaa.
__ADS_1
"Be-bengkel?" tanya Zahra.
"Iya, tapi bukan bengkel yang dulu. Ini bengkel baru... aku akan memulai usaha itu dari awal lagi,"
"Baiklah, kita kesana nanti." Zahra mengalihkan pandangan keluar jendela.
Ken merasa sikap Zahra tiba - tiba berubah menjadi dingin padanya.
"Ada apa?" tanya Ken sembari mengambil jemari tangan Zahra dengan tangan satunya yang leluasa.
"Gak apa-apa," jawab Zahra pelan.
"Sayang, kamu ingat kejadian itu ya?" tebak Ken. "Maafin aku, ya. Maaf...maaf..." Ken mengecup telapak tangan Zahra bertubi - tubi.
"Ken! Fokus nyetirnya!" protes Zahra.
"Aku udah paling fokus ini, meskipun lebih fokus ke kamu." Ken kembali menciumi jari - jari Zahra satu persatu, ia menyukai aroma buah yang menguar dari kulit istrinya itu.
"Ken kita lagi dijalan, ih!"
"Emang kenapa? Yang penting gak dilihatin orang lain, kan?"
Zahra membuang pandangan karena tahu ucapan Ken itu tengah menyindirnya yang selalu berkata malu jika dilihat orang lain.
"Ya udah terserah kamu aja!" ucap Zahra pasrah. "Yang penting fokus nyetirnya. Hati - hati!"
"Iya, Sayangku...." Ken mengelus jemari Zahra yang digenggamnya dengan ibu jari. Ia tak melepaskan genggaman itu, kecuali saat ingin menarik tuas persneling.
Hampir dua jam berkendara, mereka pun tiba disebuah hunian yang tampak nyaman dan asri dipandangan mata Zahra. Tidak terlalu wah, tapi masuk dalam kategori mewah.
"Ini rumah kita?" tanya Zahra cukup takjub melihat rumah yang cukup megah dihadapannya.
"Rumah kamu," jawab Ken meralat kata - kata Zahra. "Ini mahar yang aku kasi buat kamu... jadi ini rumah kamu, aku cuma numpang!" gurau Ken sambil tersenyum smirk.
Ken melirik Zahra yang tampak speechless dengan rumah pilihannya. "Suka enggak?" tanyanya.
Zahra mengangguk berulang.
"Bilang apa sama suami kamu yang baik ini?"
"Makasih ya, Ken!"
Ken menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Zahra itu. "Bilang... 'makasih suamiku sayang, kamu yang terbaik' gitu dong!" cicit Ken sambil berbisik ditelinga Zahra.
Zahra menoleh pada Ken yang sudah tersenyum culas. "Makasih, Kendra Winarya!" ucap Zahra cuek dan mulai melangkah ke teras rumah.
"Huh..." Ken mencebik namun buru-buru memasang wajah riang saat Zahra menoleh lagi padanya.
"Bisa masuk kedalam?" tanya Zahra diambang pintu masuk.
"Jangankan masuk, nginep juga bisa, Sayang."
"Aku gak mau nginep disini!" kata Zahra.
"Kenapa? Ini udah jadi rumah kamu," jawab Ken sembari membuka pintu rumah dengan kunci yang sudah dimilikinya.
"Aku gak bawa baju ganti,"
"Jadi masalahnya karena baju lagi?' tanya Ken terkekeh.
"Iya, mana bisa nginep kalau gak bawa baju ganti. Ah, ya... koper aku juga belum ketemu, Ken!"
"Nah, itu! Lagian siapa bilang gak bisa nginep tanpa baju ganti? Bisa kok!"
"Gimana caranya?" tanya Zahra polos.
"Ya selama nginep dirumah ini, gak usah pake baju!" jawab Ken enteng. Seketika itu juga Zahra menatapnya tajam.
__ADS_1
"Just kidding, Sayang! Kita nginap disini aja ya malam ini. Nanti kita beli aja baju gantinya."
*****