
Frans memasuki ruang kerja Bagas untuk mengajaknya pulang bersama-sama lagi hari ini, hampir sebulan sejak dicabutnya nama Ken dari catatan hak waris--selama itu pula Frans mengambil kesempatan untuk mendekati sang Ayah tiri.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini, Frans?" tanya Bagas saat mereka sudah memasuki mobil yang sama dan disupiri oleh seorang sopir.
"Semuanya berjalan lancar, Pa." Frans menjawab dengan senyuman.
Frans senang, karena kini Ayah sambungnya itu tidak pernah menyebutkan nama Ken lagi, sesuai dengan yang ia harapkan selama ini. Menjadi satu-satunya anak dari Bagas Winarya.
Kejadian tempo hari, benar-benar memberi keuntungan tersendiri bagi Frans. Meskipun ia kehilangan Zahra, namun kini statusnya naik setaraf lebih tinggi. Ia tinggal menunggu pengumuman rapat dewan direksi yang memutus dan menghapus nama Ken agar tidak terkait sama sekali diperusahaan, membuat Ken benar-benar terdepak selamanya.
"Pa, kapan kira-kira keputusan pemecatan nama Ken terlaksana?" tanyanya to the point disaat mobil yang membawa mereka mulai meninggalkan gedung perkantoran.
Sepertinya Frans tak bisa menunggu lebih lama lagi, karena sebulan telah berlalu tapi tidak ada tanda-tanda Bagas akan mencoret nama Ken diperusahaan, ya ... walaupun Ayah sambungnya itu tak pernah membahas Ken lagi didepannya.
Bagas menoleh pada Frans. "Mungkin lusa atau minggu depan atau kapan-kapan," jawabnya mengendikkan bahu.
Frans mengernyit dengan kening yang berkerut. Jawaban Bagas terdengar ambigu dan tidak tegas seperti yang diucapkannya didepan Ken waktu itu. Tidak, bukan hanya didepan Ken, melainkan didepan Frans dan juga Irene tentunya.
"Maksud Papa? Papa tidak berencana mengeluarkan nama Ken dari hak waris? Papa hanya main-main dan cuma mengancamnya?" terka Frans dengan intonasi marah.
Bagas terdiam, ia menghela nafas sejenak.
"Apa itu penting sekali bagimu, Frans?" tanya Bagas pelan.
"Tentu saja, Pa! Papa yang mengucapkan hal itu didepan kami semua. Papa seharusnya bertanggung - jawab atas semua kata-kata yang keluar dari mulut Papa sendiri!"
Bagas hendak menyela, namun Frans sudah lebih dulu melanjutkan kalimat.
"Pa! Ken bahkan tidak pernah turun langsung ke dunia perusahaan. Dirut, Wakil Dirut ... semuanya seperti tengah mengejekku! Karena aku hanya memegang jabatan sebagai GM diperusahaan milik Papa?!"
"...padahal aku sudah melakukan yang terbaik untuk nama perusahaan! Sementara Ken? Dia tidak ada campur tangan sama sekali, tapi namanya berada diposisi puncak, bahkan sebagai pemegang saham tertinggi!" keluhnya frustrasi, ia mengeluarkan segala yang selama ini dipendamnya dan kata - kata itu tanpa ia pilah lebih dulu--keluar begitu saja.
Frans tersadar saat Bagas menatapnya dengan tatapan terkejut.
"Frans! Itu hanya perasaanmu saja! Tidak ada yang berani mengejek posisimu diperusahaan!"
"Papa tidak melihat tatapan meremehkan dari mereka terhadapku, Pa!"
__ADS_1
"Kenapa kamu mendadak jadi meledak - ledak seperti ini? Kita bicarakan ini dirumah nanti, jangan menyulut emosi Papa sekarang. Kita lagi dijalan!" sahut Bagas tegas.
Frans pun terdiam sembari menggelengkan kepalanya karena tak habis pikir, bagaimana ia tak murka jika semua ucapan Papanya terhadap Ken tempo hari hanyalah main-main saja, padahal ia sudah sangat lama menunggu momen ini--momen dimana nama Ken dicabut dari perusahaan, lalu didepak dari hak warisnya sendiri--dimana nama Ken tidak ada sangkut pautnya dengan nama keluarga Winarya yang termahsyur.
Ia menunggu momen dimana namanya lah yang terpatri menjadi CEO di perusahaan keluarga Winarya. Satu-satunya.
Kenapa harus Ken? Bahkan saudara tirinya itu tidak pernah bekerja dan menunjukkan loyalitasnya di perusahaan milik Ayahnya sendiri. Membuatnya kesal saja.
Sesampainya dirumah, Frans langsung mencecar Bagas tentang pertanyaannya yang belum terjawab dengan tuntas.
"Gimana, Pa? Papa belum jawab aku! Apa hukuman Ken yang dicabut namanya dari hak waris hanya ancaman semata?"
Bagas akhirnya duduk di sofa ruang tamu mengikuti Frans disana.
"Frans, soal hukuman yang Papa berikan pada Ken, itu mutlak keputusan Papa. Mau Papa serius atau hanya ancaman semata ... lebih baik itu gak kamu campuri, kenapa? Karena orangtua punya cara masing - masing untuk mendidik anaknya!" tegas Bagas dalam keadaan tenang.
"Tapi, Pa? Kalau memang begitu berarti Papa gak menganggapku!"
"Tentu saja Papa menganggapmu, Frans!"
Frans tersenyum kecut. "Sekarang jawab aku, Pa! Apa artinya aku untuk Papa? Apa papa menganggapku anak Papa juga atau justru menganggapku orang lain?" cecarnya.
"Lalu kenapa Papa membedakan aku dengan Ken? Apa karena aku hanya anak tiri?"
"Papa tidak membedakan, jabatanmu di perusahaan itu sesuai kapasitasmu, Frans!"
"Lalu, apa kapasitas Ken? Dia tidak bekerja diperusahaan tapi lihat... dia pemilik saham tertinggi diperusahaan!"
"Itu lain cerita!" sanggah Bagas cepat.
"Apanya yang lain cerita, Pa? Uang yang tertanam didalam saham itu... pasti uang Papa juga yang diatasnamakan dengan nama Ken!"
Bagas menggeleng lemah.
"Itu bukan uang Papa! Tapi itu murni uang Ken."
"Hah? Bagaimana bisa?" tanya Frans tak habis pikir.
__ADS_1
"Ken sudah memiliki saham itu bahkan sedari kecil. Namanya sudah tercatut di perusahaan Papa."
"Aku gak ngerti maksud Papa!" Frans mendengkus pelan, tak puas dengan penjelasan Bagas.
"Sebelum Mama kandung Ken meninggalkan Papa dan kami masih berstatus suami istri, dia telah menanam saham diperusahaan itu atas nama Ken. Saat usia Ken mencukupi, semua sudah diserahterima kepada Ken. Itu menjadi mutlak milik Ken sendiri, tanpa bisa Papa ubah," jawab Bagas dan membuat Frans terkejut bukan main.
"...Ken tidak pernah ke perusahaan, dia tahu namanya sudah ada disana tanpa perlu wajib lapor, begitu katanya." Bagas pun tersenyum tipis mengingat puteranya itu.
"Dan satu lagi Frans, kamu salah jika Ken tidak pernah campur tangan dengan perusahaan. Dia memantaunya dalam sikap diamnya. Saham miliknya bergerak pesat, Ken pandai melihat pasar saham," terang Bagas.
Pantas, pantas jika Ken terlihat begitu tenang saat mengembalikan semua fasilitas yang Bagas berikan. Ternyata saham yang ditanam atas nama Ken, sudah berkembang biak menjadi saham terbesar di perusahaan Ayah kandungnya sendiri. Dan itu merupakan peninggalan Ibu Kandung Ken, sebelum meninggalkan Ken didalam wewenang Bagas.
"Lalu, apa itu artinya posisi Ken tidak bisa diganggu di perusahaan?" tanya Frans dengan nada kecewa.
Bagas mengangguk, mengiyakan.
"Tapi, Ken bisa dicabut dari hak waris Papa, kan?" tegas Frans dengan sesuatu yang terlintas dikepalanya.
"Ya, dan setelah Papa mencabut namanya dari hak waris, Ken juga akan mencabut sahamnya diperusahaan Papa! Lalu ... kita semua akan tamat!" kata Bagas realistis.
_____
Ken keluar dari area penginapannya saat hari beranjak siang. Ia mulai melancarkan aksinya dengan menunjukkan foto Zahra ke beberapa orang yang ditemuinya disekitar penginapan.
Dunia memang sempit, Ken bertemu dengan seorang petugas penginapan yang mengenali Zahra.
"Ini kan... Mbak yang waktu itu," kata pria muda itu.
"Mas ... tahu dimana dia sekarang? Ah, Mas punya datanya? Biasa yang menginap disini akan meninggalkan data diri, kan?"
Pria muda itu menggeleng. "Cewek ini sempat nginap disini beberapa hari, dia gak kasi data diri karena dompetnya kecopetan gitu awalnya. Dia sampai jual cincinnya sama orang lain supaya dapat uang!" terang pria yang mengaku bernama Dedi itu.
"Zahra kecopetan?!" Batin Ken langsung merasa nelangsa dengan nasib gadis yang dicintainya itu.
"Bisa lihat cctv-nya, gak? Saya perlu sekali ... karena dia sudah pergi sebulan lamanya, saya cuma mau memastikan yang mengjnap disini itu beneran gadis ini atau bukan."
Pria muda dihadapan Ken itu mengangguk. "Silahkan ke bagian informasi saja, Mas!" ucapnya sambil mengantar Ken ketempat yang ia maksudkan.
__ADS_1
...Bersambung ......