
Ken sudah memberitahukan pada Devia dan Rasta mengenai keadaan Zahra saat ini, juga tentang kehamilannya.
Devia begitu senang mendengar kabar kehamilan Zahra dan ia langsung menuju Rumah Sakit untuk menjenguk menantunya.
Rasta pun mengantarkan Devia sampai ke depan Rumah Sakit karena Zaki sudah kembali ke Apartemennya sejak acara grand opening bengkel selesai tanpa kehadiran Ken dan Zahra akibat insiden yang terjadi siang tadi.
"Kamu gak ikut turun melihat Hana?" tanya Devia karena Rasta tak terlihat ingin memarkirkan mobil yang ia kendarai.
"Enggak, Tant. Yang penting aku sudah tahu jika Hana sudah baik - baik aja," ujar Rasta.
"Ya sudah, memangnya apa rencana kamu selanjutnya?"
"Aku belum memikirkannya, Tant! Tapi aku akan mencari tahu lebih dulu tentang siapa pria yang 'katanya' menolong Hana siang tadi, aku merasa ini sangat janggal karena semua saksi ditempat itu mengatakan jika Hana tertabrak mobil, bukan pingsan seperti keterangan pria itu!"
"Hmm, jadi kamu curiga dengan orang itu?"
"Ya, Tant..."
"Hmm, berhati - hatilah, Nak!" kata Devia mewanti - wanti Rasta.
"Iya, Tant... terima kasih sudah mengingatkanku. Aku permisi dulu, aku titip Hana pada Ken dan Tante."
Rasta tak ikut masuk, karena ia lebih memilih menyelidiki lagi insiden yang menimpa sang adik siang tadi.
Dari penjelasan Ken, seorang Rasta tak mudah percaya begitu saja. Rasta sudah cukup tahu asam - garam hidup, karena sejak balita ia sudah terbiasa hidup dalam dunia yang penuh tipu muslihat dan kepalsuan. Ia sulit percaya dengan orang asing yang tak ia kenal, termasuk penjelasan Ken mengenai orang yang sempat membantu Zahra.
Setelah Devia benar - benar memasuki area Rumah Sakit Swasta itu, Rasta segera injak gas untuk menuju ke suatu tempat.
Rupanya Rasta kembali ke tempat kejadian kecelakaan Zahra siang tadi. Ia memasuki Mini Market dan meminta akses CCTV disana.
Setelah mengatakan tentang problemnya, akhirnya pihak Mini market itu memberikan akses untuk Rasta melihat rekaman cctv di jam saat insiden itu terjadi.
"Apa ada yang menghapus rekaman cctv nya?" tanya Rasta pada pihak mini market yang terkait.
"Tidak, Mas! Seharusnya rekaman itu lengkap..." sahut pekerja ditempat itu.
__ADS_1
"Sial!" Rasta mendengkus pelan. Hal ini membuatnya tahu satu hal bahwa kecelakaan Zahra siang tadi adalah unsur kesengajaan dan rekaman cctv yang ada disekitar tempat kejadian sudah diretas.
Rasta menoleh pada kedua orang yang memperbolehkannya mengakses cctv disana, ia mengucapkan terima kasih setelahnya. Meski ia tak menemukan bukti namun ia menjadi tahu jika semua ini adalah ulah seseorang.
Rasta kembali ke mobilnya, ia memijat pelipisnya sekilas, ia tahu jika musuh orangtuanya sudah hadir sangat dekat dengan hidupnya dan Zahra. Rasta bisa memastikan jika orang itu telah mengetahui identitasnya dan Zahra secara bersamaan.
Namun, yang masih membuat Rasta bingung kenapa musuh mereka tak menabrak Zahra hingga tewas? Kenapa dia membiarkan Zahra hidup? Lalu mengantarkan Zahra ke Rumah Sakit?
"Apa lo mau ngasih gue peringatan melalui kejadian ini?" gumam Rasta, ia mulai menstater mobil tuanya dan berkendara di hari yang sudah gelap.
Rasta memilih menelepon Paman Sapta dirumah, ingin memastikan situasi di rumah. Apakah setelah insiden pada Zahra, orang itu juga telah mengetahui kediamannya?
Nada panggilan mulai tersambung ke ponsel Paman Sapta dan Rasta menunggu telepon itu segera diterima.
Sekali panggilannya tak terjawab, Rasta mencoba lagi dan kembali tidak dijawab. Mendadak, perasaan Rasta menjadi tak enak.
Ia ingin memberitahukan hal ini pada Ken, namun ia takut merusak suasana bahagia yang sedang Ken rasakan bersama Zahra karena walau bagaimanapun saat ini mereka pasti tengah ber-euporia tentang keadaan Zahra yang sedang mengandung.
Rasta pun hanya mengirimi Ken sebuah pesan tentang kecurigaannya tentang kejadian ini.
Beberapa meter dari kediamannya, Rasta sudah bisa melihat ada kendaraan asing yang berhenti disana, ini tak seperti biasanya dan perasaannya kembali tak enak.
Rasta memilih keluar dari mobilnya untuk menghindari keadaan yang ia curigai. Ia beringsut dan bersembunyi di sebalik pohon. Walau bagaimanapun, ia ingin melihat Paman Sapta didalam sana. Ia merasa kedatangannya sangat telat dan pssti Pamannya itu sudah tak baik - baik saja sekarang.
"Paman, ku harap Paman baik - baik saja!" batin Rasta ingin menjerit, hanya Paman Sapta orangtuanya selama ini, yang mengasuhnya dan rela hidup membujang demi menjaganya, rela menolongnya meski itu sama saja dengan bunuh diri karena terlibat dengan anak dari seorang Prayuda Dirgantara.
Rasta mengendap - endap, melangkah perlahan untuk masuk menyelinap ke dalam rumah. Namun sayang, apa yang dilihatnya didalam sana membuat tubuhnya membeku. Tubuh baya Paman Sapta sudah tergeletak tidak berdaya. Rasta tak tahu apakah Paman Sapta masih bernyawa atau tidak.
"Cepat cari anak Yuda! Seharusnya dia tinggal disini! Habisi dia dan jangan tinggalkan bukti apapun!" Terdengar suara titah seseorang-- yang Rasta yakini sebagai pemimpin dari Clan musuh yang tengah mencari keberadaannya sejak dulu.
Rasta tidak tahan untuk tidak menghajar orang itu, ia keluar dari persembunyiannya dan menantang pria itu.
"Kau mencariku?" tanya Rasta sinis.
Orang yang tadi berbicara pada anak buahnya, seketika berbalik dan menatap wajah Rasta.
__ADS_1
"Muncul juga kau! Ku pikir kau akan menjadi pengecut seumur hidupmu!" kata pria itu dengan senyuman miring.
"Apa kau tak merasa jika kau juga seorang pengecut! Jika kau memang seorang petarung, maka hadapi aku sendiri jangan membawa komplotanmu!" kata Rasta dengan senyum mencibir.
Pria berperawakan asing itu tertawa sumbang, ia memberi kode pada para anak buahnya untuk mundur, seolah ia siap untuk menuruti keinginan Rasta--yakni menghadapi sendirian.
"One by One..." kata pria itu sambil menyeringai, lalu langsung menyerang Rasta saat itu juga.
######
Ken baru sempat melihat ponselnya saat memastikan Zahra sudah makan dan tidur, namun ia mengernyit heran saat membaca pesan yang Rasta kirimkan padanya.
^^^Rasta :^^^
^^^Gue balik ke Mini Market itu dan gue gak dapatin rekaman cctv saat insiden kecelakaan Hana. Itu udah di retas, Bro! Lo tau kan artinya apa?^^^
Ken mengumpatt didalam hatinya, harusnya siang tadi ia menghajar pria yang membawa Zahra ke Rumah Sakit ini. Disaat inilah Ken merasa terlalu bodoh karena sudah terpedaya dengan ucapan pria itu.
Ken mencoba menghubungi nomor ponsel Rasta namun sudah tak aktif. Ia merasa sesuatu pasti telah terjadi pada sahabat sekaligus kakak iparnya itu.
"Ma..." Ken menyentuh pundak Devia yang tertidur, sebenarnya Ken tak enak membangunkan sang Mama namun ia tak punya pilihan lain sekarang.
"Ada apa, Ken?" tanya Devia pelan.
"Aku akan mencari Rasta, perasaanku tidak enak, Mama tolong jaga Hana disini. Aku juga sudah meminta orang untuk berjaga didepan pintu ruang rawat ini."
Seketika itu juga Devia terduduk tegak. "Apa terjadi sesuatu? Rasta mengatakan pada Mama ingin mencari tahu lebih lanjut tentang siapa orang yang membawa Hana ke Rumah Sakit siang tadi!"
Ken tak menjawab pertanyaan sang Mama, namun sorot matanya mengisyaratkan jika memang terjadi sesuatu seperti ucapan Mamanya itu.
"Aku pergi dulu, Ma! Jika ada apa - apa tolong segera telepon aku! Orang yang berjaga disini ada 8 orang! Aku harus mencari Rasta, maaf..."
"Ya, Ken... Mama paham. Carilah Rasta, kami pasti akan aman berada disini. Cepat kembali! Mama akan telepon Zaki juga untuk berjaga - jaga!"
******
__ADS_1