
Winarsih duduk beberapa saat di dalam kamarnya menunggu Novi yang langkahnya telah terdengar cepat-cepat menaiki anak tangga.
"Saya ambil ini dulu," ujar Novi berlari membuka pintu lemari dan mengeluarkan sebuah tas besar yang telah diisi dengan perlengkapan Winarsih dan bayinya.
Winarsih hanya meringis melihat genangan air yang berada di bawah kakinya. Rasa sakit di perutnya masih hilang timbul, tapi saat rasa sakit itu datang, dia mencengkeram seprei dengan sekuat tenaga yang dimilikinya. Keringat dingin telah menghiasi dahinya.
"Ayo Bu, Pak Noto udah siap di depan rumah." Novi meraih tangan Winarsih untuk berdiri.
"Masih bisa jalan?" tanya Novi pada isteri Atasannya yang selalu terlihat tenang itu.
"Kalo lagi nggak sakit, bisa." Winarsih mulai melangkahkan kakinya ke luar kamar.
"Pelan-pelan aja Bu," pinta Novi.
"Kalau lagi enggak sakit gini, harus cepat Nov. Karna kalau sakitnya dateng, saya pasti nggak bisa bergerak," sahut Winarsih.
Perlahan namun pasti, Winarsih dan Novi menuruni tiap anak tangga kemudian menuju teras rumah di mana Pak Noto telah bersiap di dalam mobil.
"Saya udah telepon ke rumah sakit, Dokter Azizah sedang praktek dan stand by di sana, jadi kita enggak usah khawatir." Novi mengusap-usap lengan Winarsih yang sedang terdiam menggigit bibirnya menahan sakit.
"Pak Dean Nov?" tanya Winarsih.
"Barusan saya hubungi ponselnya nggak aktif Bu. Pak Ryan juga nggak aktif nomornya. Mungkin mereka sedang sibuk. Nanti kalau sudah aktif, Pak Dean pasti akan langsung menelfon," terang Novi untuk menghibur isteri Atasannya itu.
Sebenarnya Novi juga bingung kenapa nomor ponsel Dean dan sekretarisnya tidak aktif malam itu. Ryan tidak ada mengabarkan suatu hal apapun padanya sebelum hari itu.
Winarsih hanya diam mendengar kata-kata Novi. Tas yang berada di pangkuannya mungkin sudah puluhan kali diremasnya untuk meredam rasa sakit.
Saat mereka tiba di depan pintu UGD, Novi langsung turun untuk mengabarkan pada perawat yang telah bersiap dengan sebuah kursi roda tak jauh dari tempat mereka berhenti.
Beberapa menit kemudian Winarsih telah didorong menggunakan kursi roda untuk menuju ruang VK.
Novi meletakkan bawaan mereka di atas sebuah meja batu yang di dekatnya terdapat sebuah wastafel. Perawat segera mengganti pakaian Winarsih. Membuka semua yang dikenakan wanita itu dan menggantinya dengan selembar seragam pasien untuk proses melahirkan.
Dokter Azizah muncul di pintu dengan sebuah senyuman tak lama kemudian.
"Bu Winarsih akhirnya-- mari kita periksa dulu." Dokter Azizah segera mengenakan sarung tangan steril untuk mengecek jalan lahir bayi Winarsih.
"Air ketubannya udah kering ini tapi masih pembukaan satu, jadi kita pasang induksi ya. Biar bayinya nggak kelamaan di dalem," ujar Dokter Azizah yang mengangguk memberi perintah pada Bidan dan Perawat yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.
Raut wajah Novi sedikit khawatir melihat Winarsih yang sudah uring-uringan memegang perut dan pinggangnya bergantian.
"Aduh Nov, sakit," erang Winarsih.
Novi yang tak pernah mendengar Winarsih mengeluh langsung memegang tangan wanita muda itu.
"Bu Winarsih nggak boleh turun lagi dari ranjang ya. Ini infus induksinya sudah kita pasang untuk membantu membuka jalan lahir bayinya. Karna air ketubannya sudah kering," terang seorang perawat yang sedang menyetel mesin infus.
"Sabar ya Bu, mudah-mudahan ini enggak lama. Anak pertama, jadi memang perlu penyesuaian," hibur Dokter Azizah yang sengaja tak menanyakan keberadaan suami pasiennya saat melahirkan. Dia tak ingin pasiennya yang sedang berjuang melawan sakit merasa terintimidasi dengan pertanyaan itu.
Karena memang tak semua pasien lahiran yang ditanganinya, selalu didampingi oleh seorang suami. Bagi Dokter Azizah, itu adalah kode etik yang sangat penting.
"Menurut perkiraan saya, paling lama 2 jam lagi jalan lahirnya pasti udah membuka sempurna. Sekarang saya tinggal dulu. Sus, dipantau terus ya. Kabari saya di ruang sebelah." Dokter Azizah berlalu dari ruangan VK.
Selesai memasang infus Winarsih, seorang wanita dengan nametag yang bertuliskan BIDAN, memasang alat CTG di sekeliling perutnya.
Tak lama kemudian suara detak jantung bayi menggema di ruangan itu. Alat CTG berfungsi untuk memantau pergerakan janin dan bayi saat sebelum dan selama proses persalinan.
Gelombang rasa sakit yang dirasakannya di perut terasa semakin sering, dan Winarsih mencengkram tangan Novi sekuat tenaganya hingga asistennya itu meringis.
"Nov, saya haus. Ambilkan saya minum Nov," pinta Winarsih yang nafasnya terengah-engah.
Novi menoleh kepada perawat seperti meminta persetujuan, dan setelah perawat itu mengangguk, Novi meninggalkan tasnya di kaki ranjang dan pergi keluar untuk mencari air minum buat Winarsih.
"Sus, saya mau muntah," erang Winarsih yang duduk bersandar.
Perawat buru-buru mengambil sebuah baskom stainless steel dan meletakkannya di pangkuan Winarsih.
"Enggak apa-apa Bu, itu reaksi induksi. Bisa jadi nanti kontraksi pada saat muntah menambah jalan lahir," ujar perawat itu mengusap-usap punggung Winarsih yang sedang mengeluarkan isi lambungnya.
Setelah Winarsih selesai muntah, perawat tadi menukar baskom stainless steel dengan yang baru dan kembali meletakkannya di pangkuan wanita itu.
Tak sampai lima menit kemudian, Winarsih kembali membungkuk di atas baskom untuk muntah.
__ADS_1
Winarsih tak pernah merasakan rasa sakit yang begitu dahsyat menyerang dan mengelilingi mulai dari perut hingga ke pinggangnya.
Tenggorokannya terasa semakin kering, namun Novi belum juga datang. Keringatnya telah membasahi punggung dan dahinya.
Winarsih merentangkan kaki dan berkali-kali mencoba merubah posisi duduk untuk membuat perutnya lebih nyaman.
Tapi memang dasarnya itu adalah sakit yang harus dirasakannya agar bisa mengeluarkan bayi dalam kandungannya. Meski telah mencoba berbagai posisi duduk, rasa sakit itu malah datang semakin hebat disertai dengan rasa mual.
Winarsih kembali muntah dan tak lama kemudian, Novi muncul di pintu dengan berbotol-botol air mineral di pelukannya.
"Maaf Bu, saya harus ke lobby beli ini. Ada dispenser di luar, tapi kita nggak bawa wadahnya." Novi meringis menatap Winarsih yang sudah tak lagi mendengar perkataannya.
Novi langsung membuka kemasan air mineral dan Winarsih langsung meneguk air itu dari botolnya karena tak sabar jika harus menunggu gelas lagi.
Setelah menghabiskan hampir sebotol air mineral berukuran sedang, Winarsih kembali muntah.
"Aduuhhh---" erang Winarsih lagi. Suara denyut jantung bayi melalui speaker mesin CTG masih menggema di ruangan seperti memberi semangat pada ibunya.
Bidan yang mendengar erangan Winarsih segera memakai sarung tangan steril dan mengambil sebuah kain kasa.
"Baring dulu Bu, kita cek jalan lahirnya lagi." Bidan tadi membantu Winarsih menekuk kaki dan memasukkan jari ke bagian sensitifnya.
"Sudah pembukaan empat, semangat ya Bu. Sebentar lagi kok. Dokter Azizah nyaris nggak pernah meleset." Bidan kembali membuka sarung tangannya dan membuang ke tong sampah.
Novi merapikan rambut isteri majikannya yang kini berbaring miring mencengkeram tepi ranjang.
"Oh iya Bu, Pak Dean!" Novi seperti terlonjak karena mengingat sesuatu. Buru-buru dia meraih tasnya yang berada di kaki ranjang dan merogoh ponsel.
"Aduh! Pak Dean tadi nelfon Bu. Tapi tadi saya lagi keluar nyari minuman. Bentar saya langsung telfon," ucap Novi yang langsung memencet tombol call.
Saat Winarsih melihat raut kecewa pada pada wajah Novi, dia bisa menebak kalau suaminya itu pasti tak menjawab panggilan.
Winarsih hanya diam meringis.
"Nov, ambilkan baskomnya. Saya mau muntah lagi." Winarsih buru-buru bangkit dari posisinya.
**********
Malam itu, Dean membelah jalanan ibukota yang masih padat karena hari itu adalah hari kerja.
Sebentar lagi, buket bunga tulip merah yang berada di pangkuannya saat ini akan sampai pada pemiliknya. Dan kalau anak mereka lahir sebelum tengah malam, anak laki-laki itu akan memiliki tanggal lahir yang sama dengan ibunya.
Saat ini, dada Dean dipenuhi oleh rasa kekhawatiran dan kebahagiaan yang menggulung menjadi satu.
Dean terpincang-pincang memarkirkan motornya dan terburu-buru menuju lobby rumah sakit. Setelah menerima informasi dari customer service, Dean segera menuju lift untuk menuju ruang bersalin.
Di dalam lift, Dean berkali-kali merapikan rambut, membetulkan letak dasi dan menggulung lengan kemejanya dengan rapi.
Dia sedang bersiap menemui wanita yang dicintainya, yang saat ini sedang berjuang melahirkan anak mereka, dengan keadaan serapi dan setampan mungkin.
Jantungnya berdebar tak karuan. Rasa debar itu hampir sama seperti yang dirasakannya saat pertama kali memasangkan seatbelt di mobilnya untuk Winarsih.
Dengan terpincang-pincang dan sebuah buket bunga di tangannya, Dean menuju pintu ruang persalinan.
Perlahan tangannya menekan handle dan mendorong pintu itu ke dalam.
"Aduuuuuhh, sakit Nov." Erangan Winarsih dan suara detak jantung bayi langsung mengisi telinganya.
Calon ibu bayinya itu sedang berbaring miring mencengkeram tangan pegawainya dengan wajah nyaris seputih kertas dan dahi yang dipenuhi keringat.
"Win, aku udah nyampe." Dean menghambur ke sisi kiri isterinya.
Winarsih yang sedang berbaring miring menghadap pintu, terperanjat melihat kedatangannya. Dean memberikan buket bunga tulip ke tangan Novi yang telah bergeser untuk memberinya ruang di sisi kiri wanita itu.
"Kemana aja?" tanya Winarsih seraya menangis. Wanita itu langsung terisak-isak melihat kehadiran suaminya yang dirasanya lama.
"Maaf--maaf, aku udah di sini sekarang. Kamu udah bisa lahirkan anak kita. Bapaknya udah dateng. Jangan nangis, nanti aku ikut nangis. Anak kita lahir juga nangis. Ayo sayang." Dean meraih tangan Winarsih yang langsung menggenggamnya erat.
Winarsih masih terisak-isak. Dean menciumi kepala Winarsih yang sedang memeluk erat tangannya dengan sekuat tenaga.
"Sakit--" erang Winarsih.
"Iya, pasti sakit. Maafin perbuatan aku Win, kamu jadi sakit." Dean terlihat gugup dan merasa serba salah tiap isterinya mengatakan sakit. Berkali-kali tangannya berpindah untuk membelai kepala isterinya dan mengusap punggung wanita itu.
__ADS_1
"Bu Winarsih, jangan nangis ya. Nanti sakit. Mari kita cek jalan lahir lagi." Bidan kembali mengambil sarung tangan steril baru untuk kembali mengecek jalan lahir.
Saat Bidan membuka kaki isterinya dan terlihat meletakkan jari ke bagian sensitif Winarsih yang selalu dipujanya itu, Dean meringis.
"Aduh Win, maafin perbuatanku." Dean membenamkan wajahnya di sisi kepala Winarsih. Dia tak tega melihat isterinya harus ditusuk-tusuk seperti itu.
"Sudah delapan. Sus, siapin alat. Panggil Dokter Azizah, sebentar lagi lahir," pinta Bidan kepada perawat yang sedang mencuci tangan di wastafel.
"Bu Winarsih, sebentar lagi ya. Tahan sedikit lagi, kita siapin alat. Rambut bayinya sudah saya pegang tadi. Sebentar lagi ketemu sama dedek bayinya." Bidan itu berbicara seraya mendorong sebuah baby warmer dan meletakkannya tak jauh dari kaki ranjang.
Dokter Azizah masuk ke ruang VK dan langsung memakai jubah steril yang telah disediakan perawat.
Winarsih kembali meremas tangan Dean sekuat tenaganya. Dan lagi-lagi Dean menunduk untuk membisikkan kata maaf di telinga isterinya itu.
Dalam waktu singkat, Perawat dan Bidan telah melepaskan beberapa bagian tempat tidur yang dipakai Winarsih hingga ranjang itu berubah menjadi Verloss Bed.
Dean merapikan rambut Winarsih berkali-kali untuk mengurangi rasa gugup dalam dirinya. Saat kaki Winarsih dibuka untuk memulai proses persalinannya, Dean beringsut mundur hingga ke bagian kepala isterinya. Dia merasa tak sanggup jika harus menyaksikan itu secara langsung di bawah sana.
Rasa tak sanggup itu lebih menyerupai rasa tidak tega melihat isterinya yang seakan harus dicabik-cabik demi mengeluarkan anak mereka.
"Nov," panggil Dean pada pegawainya yang sedang berdiri mematung di pojok ruangan. Dean menyodorkan ponselnya pada Novi.
Mengerti dengan maksud Atasannya itu, Novi mulai merekam video dari sudut yang dirasanya aman.
"Bu Winarsih--dengar saya kan? ini sudah pembukaan sempurna. Saya yakin ibunya pinter deh. Denger saya aja ya, sekali tarikan nafas aja, kalo saya bilang dorong, dorong ya Bu," pinta Dokter Azizah.
Winarsih telah memindahkan tangannya pada pegangan ranjang sesuai instruksi Bidan padanya. Dean yang jantungnya semakin berdebar, hanya bisa menangkup sebelah pipi isterinya dan menempelkan wajahnya di sisi lain wajah Winarsih.
"Baik Bu, tarik nafas panjang dulu. Iya, sudah bagus. kepala bayinya sudah kelihatan. Oke ya, dorong sekarang Bu," Dokter Azizah telah duduk bersiap menunggu kepala bayi yang sedang menuju ke luar.
Winarsih dengan peluh di dahinya sekuat tenaga mendorong bayi laki-laki itu ke luar. Dean semakin memejamkan mata tak tega mendengar erangan isterinya.
"Maaf Win--" bisiknya lagi.
Sesaat kemudian tangisan bayi menggema di ruangan. Winarsih terengah-engah dan kembali merebahkan dirinya. Dean yang sejak tadi menunduk kini terisak-isak menciumi kepala isterinya. Dia tak bisa membendung rasa bahagia dan terimakasihnya pada Winarsih.
"Bu Winar Sayang, makasi udah melahirkan anakku ke dunia ini dengan selamat." Dean mengusap air mata yang terus turun ke pipinya.
"Lahir pukul 22.58 ya. Beratnya 4150 gram. Bayinya lahir sehat dan lengkap. Besar bayinya ini. Ibunya hebat," ucap Dokter Azizah seraya membawa bayi laki-laki merah itu ke alat penghangat.
"Ini Pak," ujar Novi seraya menyerahkan buket bunga tulip yang sejak tadi dipegangnya.
Dean mengambil buket bunga itu dari tangan Novi dan meletakkannya ke samping tubuh isterinya.
"Selamat ulang tahun ya Win, makasih karna udah mau jadi istri dan ibu anakku." Dean yang masih berkaca-kaca kembali mencium pipi isterinya.
Winarsih tersenyum memandang buket bunga pertama yang diberikan seorang laki-laki padanya. Buket bunga itu begitu cantik. Dia bahkan tak pernah memegang jenis bunga yang dirangkai dalam jalinan indah itu.
Dokter Azizah kembali berada di bagian tubuh Winarsih untuk menyelesaikan proses persalinan itu. Tak berapa lama kemudian, Bidan datang mendekati mereka dengan sebuntalan kebahagiaan yang terlihat menggeliat di dalam selimut penutupnya.
Dean mengambil buntalan itu dari tangan Bidan dan memandanginya sesaat. Pandangannya sendu dan haru melihat makhluk kecil yang terlihat seperti kembarannya.
Winarsih merentangkan tangannya ke arah Dean. Dia tak sabar menyambut laki-laki lain yang baru memasuki hidupnya sesaat yang lalu.
Dengan wajah penuh senyum tanpa air mata, Winarsih menatap bayi laki-laki paling tampan yang pernah dilihatnya. Winarsih membelai pipi kemerahan dan bibir yang terus mengecap-ecap seolah mencari sesuatu.
Dean masih berdiri menatap terpukau pada makhluk kecil yang sedang berada dalam dekapan isterinya.
"Pak," panggil Winarsih.
"Ya Sayang," sahut Dean.
"Makasih,"
"Untuk apa?"
"Udah nepati janji," ucap Winarsih dengan pandangan yang belum beralih dari bayinya.
"Janji Bapak sama Anaknya itu selalu pasti Bu," ucap Dean kembali mencium kepala isterinya.
"Bisa langsung disusui Bu, ASI-nya udah keluar?" tanya Dokter Azizah.
"Udah Dok," jawab Dean cepat. Winarsih hanya meringis mendengar jawaban suaminya yang sigap itu.
__ADS_1
To Be Continued.....
Like ya... :*