CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
SPECIAL PART : 4.0


__ADS_3

Dean duduk menunduk di depan ruangan operasi yang lampunya masih menyala. Wajahnya lesu dan waktu terasa sangat lambat berjalan. Pikirannya menjalar ke mana-mana. Ke saat-saat membahagiakan yang sudah dilaluinya bersama Winarsih. Makan malam ulang tahunnya kemarin adalah saat membahagiakan yang terbaru. Dean tersenyum tipis, lalu menoleh pintu ruangan operasi yang masih tertutup. Padahal masih sebentar, tapi ia sudah merindukan istrinya.


“Mikirin apa?” tanya Ryan, tiba-tiba sudah duduk di sebelahnya.


Dean sedikit terkejut, tapi tak langsung menoleh. Ia menunduk sedikit lebih lama untuk mengeringkan matanya yang basah.


“Motor temen yang gue pinjem tadi, Yan? Udah—”


“Udah, Pak. Udah saya kembaliin dengan selamat ke Beer Garden. Katanya santai aja, dan titip salam semoga istri Pak Dean cepat sembuh,” jelas Ryan.


“Oh, syukur, deh. Memang baik si Bara itu,” gumam Dean.


“Iya, baik. Orangnya santai. Kalem ... terus ...."


"Abis kalem apa?"


"Yah, kalem aja. Pak De nangis?” tanya Ryan, menunduk untuk melihat wajah atasannya dari bawah.


“Jangan rese, lo. Sembarangan,” kesal Dean. “Begini aja masa gue nangis. Gue itu bapak dari lima anak. Hampir anak keenam. Masa iya gue secengeng itu,” sambung Dean. Belum mengangkat wajahnya.


“Nangis juga enggak apa-apa, Pak. Namanya juga manusia. Suasana hati ada naik turunnya. Nangis itu bukan berarti cengeng, tapi—”


“Tapi apa?” Dean mengangkat wajahnya untuk memandang Ryan. “Tapi apa?” ulang Dean, menaikkan gumpalan rambut yang jatuh ke dahinya.


“Berarti sentimentil, peka—”


“Oh, kalo gitu gue lagi sentimentil. Peka ….” Dean mengusap sisa air di sudut matanya. “Gue takut tiap bini gue sakit. Winarsih itu enggak pernah ngeluh. Apa pun itu enggak pernah ngeluh.”

__ADS_1


“Saya baru tau,” sahut Ryan.


“Kalo kesel ke gue, dia diem. Bikin gue serba salah.”


“Saya juga baru tau soal itu,” ucap Ryan lagi. Malam itu ia harus menemani Dean membunuh waktu menunggu waktu operasi selesai.


“Winarsih jarang banget ngomel. Bisa dibilang lebih sering gue yang ngomel di rumah.”


“Kalau itu saya udah lama tau,” sambut Ryan.


Dean diam, lalu merapatkan giginya memandang Ryan.


“Terusin ceritanya. Saya juga pengen denger soal Bu Win. Selama ini saya kagum dengan Bu Win yang selalu tenang menghadapi seorang suami dan lima anak-anaknya. Apalagi Novi bilang, tinggal di rumah mertua itu enggak mudah. Tapi Bu Win santai, selalu tenang di rumah. Ngurus anak-anak, ngurus mertua, nungguin suami pulang kerja, pulang nongkrong—”


“Lo sebenarnya mau nemenin gue atau mau ngajak ribut?”


Ryan nyengir, dan menggeser tubuhnya sedikit menjauh. “Saya lebih suka liat Pak De yang galak ketimbang diem dengan muka kaya gitu. Kata Novi, Bu Win pasti sembuh lebih cepat. Novi juga bilang turut berduka cita, calon bayinya enggak bisa diselamatkan.”


Ryan mengambil powerbank dan menyambungkan ke ponsel Dean. Menit berikutnya ponsel itu sudah kembali menyala. Dean menggulir layar dan mencari galeri foto. Ia terus menggulir galeri itu hingga tiba di bagian paling bawah.


“Enggak terasa udah sebelas tahun. Winarsih masih cantik, Yan. Perempuan paling nurut dan enggak neko-neko yang dikirim Tuhan buat gue dan keluarga gue. Kadang gue ngerasa terlalu banyak nuntut ini itu. Menurut lo gue terlalu mengekang bini, ya?” Dean mengusap layar ponsel yang menampilkan foto pernikahannya, seraya menoleh pada Ryan.


“Menurut saya, Bapak memang agak terlalu mengekang,” sahut Ryan. Berharap besok-besok Dean akan sedikit mengendurkan aturannya soal me time sang istri. Ia kerap mendengar cerita dari Novi kalau Winarsih terlalu legowo menanggapi suaminya yang multirewel.


“Terlalu mengekang, ya?” Dean berpikir-pikir.


Ryan mengangguk-angguk kecil mengiyakan. “Iya, sih.”

__ADS_1


“Wajar, kan … gue sebenarnya bukan mengekang, tapi gue membatasi. Pikiran gue enggak tenang kalo bini gue di luar terlalu lama. Bukan soal kecemburuan atau sejenisnya. Gue takut dia kenapa-napa. Sakit tiba-tiba kaya sekarang, dijahatin orang, atau apalah. Pokoknya gue enggak ngerasa tenang kalau Winarsih di luar tanpa gue. Dia mau ke mana pun boleh, asal bareng gue. Itu aja.”


Ryan menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Ternyata tak ada gunanya. Atasannya menjabarkan defenisi 'tidak mengekang’ menurut versi yang paling diyakininya.


“Apa karena selalu di rumah, makanya hampir enam?” Hal yang baru dilontarkan Ryan nyaris bukan seperti pertanyaan. Ia tertegun memandang pintu ruang operasi di hadapan mereka.


Dean terhenyak, menoleh wajah Ryan. Juga dengan wajah yang hampir sama herannya. “Jangankan lo, gue juga bingung kenapa bini gue bisa hamil padahal pakai IUD. Bukan hanya dikaruniai otak yang cemerlang dan tindak-tanduk yang lihai, benih-benih gue juga terbukti unggulan. IUD aja diterobos sampe janin gue berkembang ke mana-mana. Apa bini gue harus pakai pagar kawat anti huru-hara?” Dean berdecak dengan wajah bangga.


“Usia Bu Win baru 32 tahun.” Ryan manggut-manggut.


“Dan gue bangga jadi suaminya Winarsih dan bapak dari lima anak-anak yang dilahirkannya.”


“Udah seharusnya, sih. Tapi … apa enggak sebaiknya Pak De aja yang pakai kontrasepsi?”


“Gue? Pakai sarung? Ogah! Enggak enak!”


“Vasektomi? Suntik testosteron?”


“Apaan, sih, lo? Di mana harga diri gue sebagai laki-laki kalo tembakan gue isinya aer doang? Udah, ah. Kok, gue ngerasa aneh ngebahas kontrasepsi ama lo …. Lo kira gue enggak sedih calon bayi gue harus diambil? Gue sedih, Yan. Meski anak gue udah lima, gue tetap sedih anak keenam gue enggak dapet kesempatan hidup. Makin banyak anak, makin nambah rasa cinta gue ke Win—”


“Operasinya udah selesai, Pak.” Ryan menunjuk pintu ruang operasi yang terbuka.


Dean melompat berdiri dan menyongsong Dokter Azizah yang baru keluar.


“Bu Winarsih masih dalam keadaan belum sadar. Dari sini akan dibawa ke ruangan pemulihan dan kondisinya akan terus dipantau. Sejauh ini operasinya berjalan dengan sangat baik, Bapak bisa sedikit bersantai karena istrinya akan pulih seperti semula,” tutur Dokter Azizah.


Dean menghela napas lega, “Terima kasih, Dok.” Matanya tak lepas melihat Winarsih yang didorong menuju ruang pemulihan yang tak jauh dari ruang operasi berada. Dean kembali berjalan mendekati sekretarisnya. “Yan, kalo lo udah selesai urus kamar rawat bini gue, letakkan semua barang di sana, lo udah bisa pulang. Thanks karena udah nemenin gue ngobrol enggak jelas barusan.” Dean mengangkat satu alisnya dan mulai merapikan rambut.

__ADS_1


“Oh, udah pulih ternyata,” gumam Ryan. “Kalo gitu saya urus kamar trus langsung balik, ya.” Ryan mengangkat tangan dan berbalik menuju lift.


To Be Continued


__ADS_2