CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
122. Hari Pertama


__ADS_3

Minta Likenya dulu boleh ya, biar nggak lupa.


Happy Reading :*


**********


"Win, dasiku man...?" Saat matanya melirik ke meja rias, Dean melihat sebuah dasi yang telah dipilihkan Winarsih tergeletak di sana.


Dean menoleh ke arah isterinya yang sedang menunduk di atas box bayi Dirja untuk memakaikan popok pada bayi laki-laki itu. Winarsih bersenandung kecil seolah sangat menikmati rutinitasnya.


"Win, jam tangan aku...?" Dean juga melihat tiga buah jam tangan yang tersusun di atas meja rias, tak jauh dari botol parfum dan jepitan dasinya.


Sedikit cemberut ia memilih jam tangan itu sendiri dan mengenakannya. Sekali lagi ia melirik Winarsih yang masih asyik bersama Dirja, biasanya dasi yang dikenakannya akan dirapikan oleh isterinya kembali. Tapi pagi itu Winarsih kelihatan sangat sibuk dari biasanya.


"Udah selesai? Ayo turun ke bawah sama-sama," ajak Dean. Winarsih tak menyahutinya tapi menggendong anak mereka dan ikut turun ke lantai satu.


Di meja makan Bu Amalia telah duduk bersama asistennya dan Pak Hartono tak kelihatan di meja makan.


Saat melihat kedatangan Winarsih, Babysitter Dirja langsung mengambil bayi itu dari tangan ibunya. Dan Winarsih langsung pergi menuju dapur.


"Papa mana Ma?" tanya Dean menarik kursinya.


"Ke Bali, kunjungan kerja." Bu Amalia menjawab tanpa menoleh ke arah anaknya.


"Sama siapa? Fika dan Irman? Kok tadi kayaknya Irman ada di depan ngobrol ama Rojak?" tanya Dean lagi.


"Enggak, cuma bareng Fika aja. Irman nggak ikut karena nggak ada supir lagi di rumah. Lagian staff dari kementerian juga banyak. Ajudan dari kantor juga ada." Bu Amalia memandang anaknya yang masih mengukir wajah penasaran.


"Memangnya kenapa?" tanya Bu Amalia.


"Ya nggak apa-apa tumben aja. Kan ada Noto. Emang perlu supir untuk apa lagi?"


"Mama mau ajak Pak Noto pergi arisan dan ketemu teman-teman Mama. Nungguinnya bakal lama, seharian. Mama khawatir ibunya Dirja nggak ada kendaraan. Nggak ada yang nyetir. Jadi Mama suruh Irman nyetir hari ini. Ibu Dirja mau keluar katanya. Mau ke salon," ujar Bu Amalia pada Dean yang sekarang setengah ternganga.


"Hah?! Irman bakal jadi supirnya Winarsih? Ibu Dirja mau ke salon? Ada-ada aja." Dean masih syok menatap ibunya


"Apanya yang ada-ada aja? Istrimu mau ke salon kok ada-ada aja," tukas Bu Amalia sedikit kesal.


"Iya kenapa mesti Irman gitu loh Ma, kayak enggak ada orang lain aja. Irman ikut mama aja deh."


"Kenapa Irman yang harus ikut mama? Pak Noto yang biasa nemenin mama arisan ke mana-mana. Pak Noto sudah hafal teman-teman Mama. Nanti kalau ada yang mau pulang bareng mama, Pak Noto udah tau rumahnya. Kamu ini kok malah sewot sendiri?" sergah Bu Amalia pada Dean yang masih misuh-misuh.

__ADS_1


"Iya kenapa harus Irman gitu? Enggak ada orang lain aja? Emangnya Novi ke mana? Sebentar Dean telfon Novi dulu." Dean meraih ponsel yang berada di saku dalam jasnya.


"Novi kakeknya meninggal. Jangan kamu telfon. Irman itu yang gaji papa kamu, ajudannya papa kamu. Kalau dia jadi supir menantu papa kamu, itu sudah seharusnya. Kamu kenapa keberatan? Ya udah sarapan, terus berangkat ngantor. Itu dikerjain yang bener sidang kasasinya."


"Dean jadi males ngantor kalau kayak gini. Ibunya Dirja juga masih diem aja."


"Kan salah kamu, ya nikmati aja dulu."


Terdengar langkah Winarsih yang datang mendekati meja makan dengan membawa semangkuk besar nasi goreng yang baru selesai dimasak. Nasi goreng itu masih mengepulkan asap.


"Win... Nanti aku mau bawa bekal--" Belum lagi selesai apa yang diucapkan oleh Dean, Winarsih telah meletakkan sebuah bekal di depannya.


Dean kembali terdiam. Winarsih benar-benar menghindari untuk menjawab perkataannya secara langsung.


"Win, sini. Makan dulu," panggil Dean.


"Udah makan tadi pagi-pagi sekali. Bapak makan aja. Apa yang kurang biar saya ambilin lagi," jawab Winarsih seraya merapikan piring.


Kemudian Dean memandang punggung istrinya yang kembali pergi ke dapur untuk meletakkan mangkok kosong. Padahal biasanya Mbak Tina bisa membereskan seluruh meja itu setiap harinya.


"Ma, Dean males kerja hari ini. Mau di rumah aja, suasana hati Dean lagi nggak enak."


"Udah kayak anak sekolah kamu ya, mau bolos ngantor. Yang ganteng tapi pemalas, akan kalah dengan yang jelek tapi rajin," ujar Bu Amalia santai.


Merasa panggilannya tak ada tanggapan, Dean berjalan ke dapur.


"Itu masih ada kok nasi gorengnya di atas kompor, coba diambilkan Mba Tin. Mas Irman belum sarapan pagi kayaknya." Suara Winarsih tertangkap telinga Dean. Dia segera berjingkat melongok ke arah dapur untuk melihat apa yang sedang dikerjakan isterinya.


Irman sedang berdiri di dapur tak jauh dari Winarsih yang duduk di kursi kayu menghadapi bahan-bahan jamu yang akan diraciknya.


Dean melangkahkan kakinya memasuki dapur untuk menghampiri isterinya.


"Aku panggil-panggil nggak denger, lagi bikin jamu ternyata. Ini jamunya biar singset lagi ya?" tanya Dean mesra pada Winarsih yang sedikit terperangah menatapnya. Mba Tina dan Irman yang berada di dekat mereka seketika terdiam.


"Aku pergi dulu ya, aku cium ya..." Dean menangkupkan kedua tangannya pada pipi Winarsih dan menunduk untuk mencium bibir isterinya hingga menimbulkan suara.


"Hmmm--" gumam Dean masih menyesap bibir isterinya. "Mmmuuuaahh" Dean kemudian melepaskan ciumannya dengan wajah puas karena merasa mendapat panggung di dapur itu.


"Titip anakku ya Bu, aku pergi." Dean kemudian ngeloyor pergi sambil bersenandung tanpa menunggu sahutan isterinya.


Winarsih merasa wajahnya memerah. Dean baru saja mencium bibirnya di depan Irman dan Mba Tina yang sekarang pura-pura sibuk di depan setengah kuali nasi goreng.

__ADS_1


************


"Yan, tolong cek jadwal. Gua rencana mau ke luar siang ini." Dean yang baru saja meletakkan tablet dan ponselnya di atas meja kerja langsung memanggil Ryan ke ruangannya.


"Emang mau ke mana? Ini banyak urusan, ada dua klien baru. Trus ada meeting dengan penasehat hukum kantor lain untuk kasus Hartono Coil, hari ini padat." Ryan menggulir tabletnya mengecek jadwal Dean.


"Gua gelisah Yan, lu nggak tau balada apa yang sedang menimpa gua di rumah," tukas Dean.


"Emang kenapa? Pasti karena masalah cewe lagi," jawab Ryan sedikit sinis pada atasannya.


"Kadang-kadang ganteng itu membosankan dan bawa banyak masalah," gumam Dean.


"Halah, alesan aja. Doyan sih emang," ujar Ryan yang kemudian disambut tatapan sinis Dean.


"Kadang-kadang ada hal yang nggak bisa kita cegah. Kayak hari ini, masa Irman sih yang jadi supir bini gua ke salon. Entar kalo diliat orang, dikira Irman suaminya." Dean menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan elegan.


"Emang kenapa? Itu cewe-cewe yang deket Pak Dean juga pasti disangka istri ama orang. Bu Win kan jarang-jarang keluar, ya nggak apa-apalah sekali-sekali."


"Gua nggak mau dia keluar kalo nggak ama gua. Kerja juga nggak akan tenang. Nggak produktif gua di kantor. Percuma. Yang meeting untuk Hartono Coil batalin aja deh, besok aja. Gua mau buntutin bini gua," tukas Dean yang membuat Ryan terperangah.


"Ya ampun, serius?? Mau ngebuntutin? Kayak nggak ada kerjaan aja."


"Berisik! Sekarang lu telfon Novi tanya jadwal bini gua hari ini mau ke mana aja. Jangan-jangan salonnya sama ama salon gua biasa."


"Sebentar." Ryan mengambil ponselnya dan menelepon Novi. Tak lama sepasang kekasih yang bekerja pada majikan yang sama itu berbicara, Ryan kembali mengantongi ponselnya.


"Salon DD Kelapa Gading, abis dari salon mau ke toko baju, terus makan. Sendirian aja katanya. Bu Winar diminta Utinya Dirja untuk me time menghibur dirinya karena suaminya juga sering kelayapan sendirian nggak bawa bini. Itu yang dibilang Novi barusan." Ryan tersenyum sumringah menatap atasannya. Dia merasa puas berhasil menyampaikan hal itu pada Dean.


"Nggak mesti juga lu bilang semuanya ama gua." Dean kemudian meraih ponselnya untuk mengecek nama salon yang baru saja disebutkan Ryan padanya.


"Ketemu kliennya jam berapa sih? Apa nggak bisa besok juga?" tanya Dean lagi.


"Ya ampun Pak, sejak banyak masalah, klien kita sepi. ini ada klien malah dianggurin. Gimana sih? Udah bosen kaya?" Ryan menatap atasannya frustasi.


"Ini urusan rumah tangga juga penting. Lu belum ngerasain dikacangin semaleman gimana. Enggak enak Yan. Gw biasa tidur harus--ni gua didiemin aja. Mau nyentuh juga takut ditabok," gerutu Dean dengan dahi yang mengernyit sejak tadi.


Pagi ke siang itu Dean menghabiskan waktunya bertemu dengan kedua calon kliennya. Untuk urusan negosiasi pekerjaan, Dean adalah ahlinya. Dalam sekejab saja kedua klien mereka telah sepakat merekrut Badan Hukum mereka sebagai rekanan.


"Lu ikut gua sekarang," ajak Dean saat keluar dari ruangan.


"Saya ikut juga ngebuntutin?" tanya Ryan tergesa-gesa mensejajari langkah atasannya.

__ADS_1


"Harus. Gua nggak mau mati gaya. Kita ke toko bunga dulu. Kalo bini gua nggak luluh juga, jangan panggil gua Pengacara Dean." Dean berjalan tergesa-gesa seraya merapikan dasinya.


To Be Continued.....


__ADS_2