CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
55. Kau Adalah Sebuah Alasan


__ADS_3

Winarsih sudah berada di kamarnya, masih duduk memangku satu set jas putih yang tadi dilemparkan Bu Amalia kepada suaminya.


Hatinya terasa berdenyut sakit melihat Dean yang biasa selalu mendapat perlakuan istimewa dari ibunya kini harus menerima kekasaran itu.


Terlebih hal itu dilakukan di depannya. Dean meminta Winarsih untuk kembali ke kamar lebih dulu sementara dia kembali berbicara dengan ibunya.


Jas putih berbahan lembut dan sangat mewah itu digantungkannya pada kenop lemari pakaian. Sambil berbaring menghadap lemari pakaian, Winarsih sibuk bertanya kepada dirinya sendiri.


Bagaimana perasaannya melepas Dean pergi ke acara resepsi pernikahan itu?


Apakah dia sudah mencintai suaminya itu? Kalau dia mencintai Dean, sebesar apa rasa cintanya untuk suaminya itu? Apa rasa cinta saja cukup untuknya?


Karena pastinya, rasa cinta juga yang menyebabkan wanita itu hendak menampar Dean di mall tadi. Sorot mata perempuan yang sebenarnya sangat mencintai hingga ingin melukai.


Winarsih menghela nafas.


Tiba- tiba suara dering ponsel berbunyi, Winarsih melongok ke sana kemari mencari asal suara itu.


Setelah mengangkat sebuah paper bag yang masih berada di atas ranjang, Winarsih melihat foto Dean dan dirinya terlihat muncul di layar ponsel disertai tulisan "BAPAK".


"Halo?" jawab Winarsih.


"Bu Winar udah tidur?" tanya Dean di seberang telepon.


"Belum Pak, masih baring-baring,"


"Kalo Bu Winar udah ngantuk, tidur aja ya. Kayaknya mama harus dibawa ke rumah sakit. Tekanan darahnya naik," ujar Dean di seberang.


"Maaf ya Pak," lirih Winarsih.


"Kenapa Bu Winar yang minta maaf? Mama nggak apa-apa, tapi sementara ini memang baiknya dirawat di rumah sakit aja. Titip salam untuk anak kita ya, secepat mungkin bapaknya pulang,"


Tak berapa lama kemudian panggilan ditutup dan Winarsih kembali menatap setelan jas yang tergantung di kenop lemari.


Mustahil kalau dirinya mengatakan bahwa dia tak sakit hati melihat Dean bersanding di sebuah pelaminan dengan wanita yang jelas-jelas sangat mencintai suaminya itu.


Winarsih sudah jatuh cinta dengan suaminya. Dia sudah jatuh hati saat pria itu tengah malam memasak mi rebus untuknya.

__ADS_1


Hampir dua jam berbaring dan waktu tengah malam telah lama lewat tapi matanya yang sudah terpejam tak kunjung tertidur. Bayi yang berada di perutnya pun seperti tahu bahwa ibunya sedang khawatir.


Winarsih khawatir dengan kesehatan Bu Amalia. Dia juga khawatir posisi Dean akan semakin sulit karenanya.


Tok ! Tok !


Suara ketukan di pintu kamar.


Saat dibuka tampak wajah kantuk dan lelah Dean yang masih berpakaian sama sejak sore tadi.


"Ibu belum tidur?" tanya Dean.


"Bu Amalia bagaimana keadaannya Pak?" tanya Winarsih tanpa menjawab pertanyaan Suaminya.


"Mama nggak apa-apa. Tekanan darahnya naik lagi. Memang penyakit bawaannya. Udah ada yang nemenin kok. Tadi pas aku tinggalin udah tidur. Kamu ngga usah khawatir. Anak bapak gimana Bu? Udah tidur? Atau pengen dikunjungi bapak?" Dean yang duduk di tepi ranjang memeluk peluk Winarsih dan meletakkan telinganya di sana.


"Belum tidur, dari tadi gerak terus Pak." Winarsih menunduk menatap kepala Dean yang diam lama di perutnya.


Perlahan tangan kanan Winarsih terangkat membelai rambut Dean ragu-ragu.


Seperti terasa dengan hal yang baru saja dilakukan olehnya, Dean mendongak.


Dean meraih kedua tangan kanan istrinya dan meletakkannya di pipinya.


"Tangan kamu hangat Bu," gumam Dean memejamkan mata.


Kemudian Winarsih membelai kepala suaminya perlahan. Dean mengeratkan pelukannya.


"Maafin aku ya Bu, kalau sampai sekarang belum bisa buat kamu bahagia. Dari awal aku udah banyak buat kamu sedih. Aku mau pindah dari sini tapi keadaannya mustahil. Kamu tau sendiri mama gimana, mau ngajak kamu pindah ke kamarku, aku khawatir sewaktu-waktu mama bawa Disty ke rumah. Kamu masih mau bersabar jadi istriku 'kan Bu?" tanya Dean pelan seraya mendongak dan menaruh mulutnya di perut Winarsih.


"Bapak nggak usah khawatirkan kami, kami berdua sehat dan baik-baik aja. Kami lebih khawatir dengan Bapak karena akhir-akhir ini terlihat banyak pikiran. Kami takut Bapak sakit. Kami nggak mau Ibunya bapak malu karna kami, nanti Bapak juga pasti sedih. Jadi kami mau minta, Bapak pakai jas itu dan hadiri resepsinya." Suara Winarsih tercekat tapi tangannya masih membelai rambut Dean yang lurus dan hitam pekat.


"Win..." Dean sedikit terperanjat dengan hal yang baru saja dikatakan Winarsih. Dia mendongak masih dengan memeluk perut istrinya.


"Kami nggak apa-apa Pak. Pak Dean konsentrasi ke masalah itu dulu. Jangan terlalu pikirkan kami," sambung Winarsih lagi.


"Nggak mungkin aku nggak mikirin istri dan calon anakku," Dean menarik Winarsih ke pangkuannya.

__ADS_1


"Untuk kami, nanti pasti ada waktunya." Winarsih melingkarkan tangannya ke leher Dean dan mendekap wajah pria itu ke dadanya.


"Kamu percaya 'kan kalo aku saat ini sedang melakukan hal terbaik yang bisa aku lakukan?" tanya Dean memeluk pinggang istrinya.


Winarsih mengangguk dan tersenyum.


"Bapak makin sayang sama Bu Winar," ucap Dean sembari memijat lembut dada Winarsih.


"Kita cobain baju di paper bag itu satu yuk," Dean menegakkan tubuh Winarsih kemudian menunduk mencari-cari benda yang dimaksudnya.


"Baju yang mana Pak? Nggak besok aja? Ini udah lewat tengah malem,"


"Aku pengen kamu cobain baju yang--" Dean memilih salah satu paperbag yang masih terhampar di lantai.


"Nah, ini. Aku mau kamu nyobain yang ini," Dean menyodorkan sebuah lingerie seksi yang sejak dulu selalu dilihatnya tiap melintas di depan outlet pakaian dalam wanita itu.


"Itu gimana makenya Pak?" tanya Winarsih sambil melihat sepotong kain kelambu berbentuk aneh.


"Nanti Bapak yang ajarin. Tapi ngajarinnya nggak di sini. Malem ini kita nyoba di kamar aku yuk." Dean menggandeng tangan Winarsih ke luar kamar sembari menenteng sebuah paper bag berisi lingerie.


Dean membawa istrinya menyusuri jalan setapak menuju dapur utama dan langsung ke depan untuk naik ke tangga besar.


"Karena mama-papa lagi nggak di rumah, malem ini kita bulan madunya di kamar aku dulu. Kamu bebas teriak-teriak nggak akan ada yang denger," Dean terus melangkah menuju kamarnya.


Sedikit ingatan Dean terbang saat Winarsih memapahnya dalam keadaan mabuk menuju kamar. Winarsih yang malam itu menjadi sasarannya. Dia yang menerobos kelembutan wanita itu dengan cara paling kasar.


"Malam ini aku mau mengulanginya dengan lembut," ucap Dean pelan membuka pintu kamar.


Dean melolosi pakaian istrinya satu demi satu, dan menggantinya dengan sebuah lingerie baru.


Dean yang sejak tadi diam, mungkin akan lebih memikirkan soal istrinya yang sakit hati karena harus merelakan suaminya bersanding dengan wanita lain, meskipun itu hanyalah sebuah kebohongan.


Tapi Winarsih yang begitu tenang mampu meredam kekhawatirannya. Ya, saat ini Dean hanya membutuhkan kepercayaan Winarsih padanya.


Dan kini, sosok Winarsih yang sedang mengandung anaknya dan mengenakan sebuah lingerie seksi adalah sebuah pemandangan paling indah yang pernah dilihatnya.


Besok, Dean akan menyanggupi permintaan Disty untuk bertemu dengannya.

__ADS_1


 


To Be Continued...


__ADS_2