CINTA WINARSIH

CINTA WINARSIH
71. Baik-Baik Sayang


__ADS_3

Setelah memastikan bahwa seluruh hal yang ingin disampaikannya telah tertuang jelas dalam bentuk pesan teks kepada Novi, Dean menutup ponselnya dan meraih koper yang berada di lemari.


Satu-persatu pakaiannya yang tadi digantung oleh Winarsih, kini kembali dilipatnya dan dimasukkan ke dalam koper itu.


Winarsih sedang tertidur nyenyak setelah berhasil diyakinkan oleh Dean bahwa urusannya di Jakarta bukan sesuatu yang terlalu penting. Pak Hartono hanya ingin bertemu dengannya. Itulah yang bisa dikatakan oleh Dean kepada isterinya.


Setelah merapikan semua hal yang akan dibawanya esok hari, Dean kembali menyandarkan sebuah bantal pada kepala ranjang dan membelai rambut istrinya.


Winarsih tidur dalam posisi miring menghadapnya.


"Ngeliat wajah kamu tidur, sebenarnya bikin aku males untuk pergi besok win," lirih Dean sembari merapikan rambut di wajah istrinya.


"Semoga kamu kuat dan yakin untuk tetap berada disisiku dalam keadaan terburuk sekalipun. Jangan pernah terluka ya Win, jaga anak kita. Semoga Dean kecil itu itu sama kuat seperti ibunya,"


Dean mengecup dahi dan pipi istrinya berkali-kali.


Kemudian tangannya meraih ponsel dan kembali melihat potongan-potongan video yang kini menjadi headline berita.


Video di mana dia dalam keadaan mabuk dan setengah telanj*ng mencumbui seorang wanita yang tidak tampak wajahnya.


Video itu tak hanya menampilkan satu peristiwa tapi berupa kumpulan kejadian dari banyak tempat seperti hotel atau klub malam. Yang bahkan sebagian Dean tak ingat di mana lokasi saat dia direkam melakukan hal itu.


Sekarang namanya muncul dalam pencarian teratas.


Dean Danawira Hartono, Putra Menteri Sekaligus Pengusaha Kondang Terlibat Affair dan Dugaan Penggunaan Narkoba.


Pendiri The Danawira Law Firm, Dean Danawira Hartono, Terlibat Kasus Penyebaran Video Mesum dan Dugaan Penggunaan Narkoba.


Pewaris Cahaya Mas Grup dan Hartono Coil, Dean Danawira Diduga Terlibat Dalam Skandal Video Mesum.


Apa yang akan dirasakan isterinya saat melihat semua video-videonya itu nanti?


Apa dia bisa terus-terusan menyembunyikannya?


Bagaimana dengan nasib anak dan istrinya nanti kalau terjadi sesuatu dengannya? Kepada siapa Dean menitipkannya?


Dean meremas rambutnya.


Akhirnya, dosa yang diperbuatnya selama ini harus dibayarnya sekarang. Di saat kebahagiaannya sendiri nyaris tampak di depan mata.


**********


Saat hari baru tiba, bahkan langit masih sangat gelap, Dean telah berpakaian rapi dan sebisa mungkin meminimalisir suara agar isterinya tak terbangun.

__ADS_1


Saat Dean mengancingkan kopernya,


"Pak Dean, nggak berniat pergi diam-diam kan?" tanya Winarsih tiba-tiba dari atas ranjang.


Sedikit terkejut Dean tersenyum ke arah istrinya.


"Kamu kok udah bangun? Aku mau kamu istirahat lebih banyak," ujar Dean seraya mendekati tepi ranjang.


"Saya mau ketemu Pak Dean sebelum berangkat," ucap Winarsih kemudian bangkit.


"Nggak--nggak usah. Kamu lanjutkan tidur aja. Nanti jangan lupa sarapan yang banyak dengan Novi. Aku udah titip banyak pesan untuk dia. Ya udah, aku berangkat dulu ya. Ryan udah nunggu di bawah. Sini Win, aku cium dulu. Nanti aku pasti kangen," dengan merentangkan tangannya kepada Sang Istri.


"Saya baru bangun Pak, belum sikat gigi" ucap Winarsih memandang suaminya.


"Indera pengecapku udah ngerasain semua hal yang ada di tubuh kamu Win," gumam Dean sambil menarik wajah istrinya dan membenamkan ciuman dalam dan lama di bibir itu.


Sesaat pikirannya mengabur karena bunyi nafas dan erangan lirih yang didengarnya dari Winarsih, tapi menyadari pesawatnya akan berangkat sebentar lagi Dean segera mengakhiri ciuman itu.


**********


Penerbangan 1 jam lebih menuju Jakarta, dimanfaatkan Dean untuk terus menganalisa bahasa berita yang disampaikan oleh berbagai media dalam bentuk cetak maupun elektronik yang telah dikumpulkan Ryan.


Sebagai seorang Pengacara, Dean sedang mencari celah, bukti serta pernyataan yang akan mendukung kesaksiannya jika dia terpaksa harus berhadapan dengan pihak yang berwajib.


Dean menuliskannya dalam beberapa poin.


Kasus video mesum.


Terlibat affair dengan wanita yang tak dikenal.


Dugaan penggunaan narkoba.


Dari ketiga poin yang dituliskannya tadi, hanya satu poin yang membuat posisinya sedikit berat. Kasus video mesum.


Untuk berita 'Terlibat affair dengan wanita', Dean hanya bisa dipenjara jika ada delik aduan dari kedua belah pihak yang dirugikan. Yaitu istrinya atau suami wanita yang sedang melakukan Affair dengannya.


Untuk dugaan penggunaan narkoba, Dean tak mengkhawatirkannya karena darahnya pasti bersih. Dia tak pernah menyentuh benda haram itu.


Dan kasus video mesum, dia pasti membutuhkan waktu untuk sedikit membela diri meski video itu bukanlah video yang menunjukkannya tengah berhubungan badan. Itu hanya video cumbuan.


Tapi Winarsih bisa melihatnya sewaktu-waktu. Dia yang dalam keadaan setengah telanj*ng mencumbu seorang wanita.


Dean merasa seluruh tulang-tulangnya melunak seketika.

__ADS_1


**********


Lewat tengah hari mobil yang Dean dan sekretarisnya hampir tiba di depan gerbang saya matanya melihat iring-iringan mobil Patwal Pak Hartono baru saja tiba di depan teras.


"Jangan langsung masuk Yan, kita tunggu sebentar. Papa rupanya juga baru sampai di rumah. kita tunggu sampai iring-iringan patwal itu bubar. Gua nggak mau bikin masalah ini jadi makin runyam," perintah Dean pada Ryan yang duduk di kursi depan.


Beberapa saat lamanya mereka duduk di dalam mobil menunggu hingga barisan Patwal kembali keluar dari halaman rumahnya.


Tak sampai 5 menit, Dean sudah turun menginjakkan kaki di teras rumah sembari menggeret sebuah koper.


"Ngapain kamu pulang?" seru Bu Amalia ketika melihatnya datang.


"Ini rumah Dean juga Ma," jawab Dean singkat.


"Udah puas kamu bikin masalah seperti itu? Kamu yang membuat diri kamu dalam masalah. Berhari-hari pergi bikin wanita itu bertindak gila. Dia memang nggak ngeganggu Papa kamu. Dan meski kamu bisa melepaskan diri dari tuduhan itu, tapi namamu sudah jadi headline berita. Kalau kamu nggak malu, Mama yang malu Dean" hardik Bu Amalia yang berdiri melipat kedua tangannya di depan dada.


"Sekarang mana perempuan itu? Dean mau ketemu," tanya Dean tak mempedulikan apa kata orang tuanya.


"Mama juga nggak tau, kamu milih perempuan emang nggak ada yang bener. Yang satu perempuan gak jelas dari jalanan, yang satunya lagi pembantu. Emang selera kamu nggak bisa diperbaiki ya? salah apa sih Mama sama kamu De?" cecar Bu Amalia lagi.


"Dean udah berulang kali bilang ke mama, jangan bawa istri Dean dalam pertengkaran kita. terserah mama mau bilang apa aja soal Dean nggak papa ma tapi jangan hina istri dan anak Dean. Mama yang membawa perempuan itu sampe tinggal di rumah ini. Apa Mama nggak sayang sama Dean? apa arti Dean sekarang buat mama?" mata Dean merah amarah dan rasa sedihnya.


"De, udah sekarang kamu ke kamar aja," ujar Pak Hartono menepuk pundak Dean.


"Nanti sepulangnya dari Jambi, Dean akan membawa istri Dean tidur di kamar tempat di mana harusnya dia berada. Winarsih itu istri Dean Ma, bayi yang sebentar lagi akan lahir itu Cucu Mama, kalo mama nggak suka dengan Winarsih, setidaknya pandang aja Cucu Mama itu. Di dalam tubuhnya mengalir darah yang sama dengan Papa, Dean dan Mba Anggi," ucap Dean tercekat dan suara yang bergetar. Hatinya sedang rapuh sekali.


"Kalo kamu membawa pembantu itu sampai tidur di kamar kamu, Disty pasti bakal berbuat hal yang lebih mengerikan," potong Bu Amalia.


"Terserah dia mau bikin apa! Dean udah gak peduli. Dean mau liat, sampai kapan dia tahan ada di sini," balas Dean.


"Tapi ini rumah Mama. Mama yang berhak mengatur siapa yang bisa tinggal di sini!!" teriak Bu Amalia.


"Ma!! kamu nggak boleh sampai bilang begitu dengan anakmu. Dean itu anak kita Ma. Bukan perempuan itu"


"Mama kayaknya udah lupa ya? rumah ini udah Papa berikan atas nama Dean Ma. Dan sehari setelah menikah dengan Winarsih, Dean memberikan semua apa yang Dean miliki untuk istri Dean. Jadi Ma, rumah ini milik Winarsih. Dia berhak tinggal disini lebih dari siapapun. Termasuk kita. Maafin Dean Ma,"


Dean kemudian menyeret kopernya menuju kamar.


Pak Hartono yang berdiri menggelengkan kepalanya kepada Bu Amalia juga pergi dari ruang tamu itu menuju ruang kerjanya.


To Be Continued.....


Jangan lupa jejaks ya.... :*

__ADS_1


__ADS_2